Lusiana M. Hevita
Thu, 11 Feb 2010 22:30:24 -0800
Sabtu siang, perjalanan menuju Angkor Wat dimulai. Kami, saya dengan teman saya
(Dian) berangkat bareng dari Cengkareng ke LCCT, KL. Waktu tempuh menuju Siem
Reap (Cambodia) sekitar dua jam
dari bandara LCCT, Kuala Lumpur. Malam itu kami merencanakan menginap di
bandara. Daripada
menginap di hotel yang cuma 4 jam saja (pagi-pagi sudah harus check in),
mendingan
nginap di bandara kan…? Yang jelas jauh lebih irit pastinya :)
Tapi malam itu kami ternyata menghabiskan waktu di Stasiun Central
KL, karena sebelumnya sempat ketemuan dengan teman lama di Suria KLCC, lalu
diajak mengunjungi rumahnya di daerah Segambut.
Sebelum jam 12 malam, tuan rumah mengantarkan sampai stasiun (setelah dibujuk
untuk menginap, sayangnya kami sudah keburu janji dengan rekan yang lain
bermalam di bandara), berharap dari situ
kami kembali lagi ke bandara dengan bis terakhir atau kereta terakhir. Tapi
rupanya kami ketinggalan bis terakhir dan kereta KLIA terakhir pun sudah lewat,
lima menit yang lalu (pkl.00.05). Oalah… Daripada naik taksi yang biayanya bisa
selangit (kami mendengar kabar taksi di Malaysia milik perorangan dan
pemerintah sendiri tidak bisa mengendalikan tarifnya, jadi supir taksi
suka-suka aja menawarkan harga, dan itu tinggi sekali..), kami memutuskan
menunggu di stasiun sampai ada jadwal pemberangkatan pertama bis ke bandara
(sekitar jam 3 dini hari).
Stasiun Central KL lumayan nyaman (dibanding stasiun Gambir..hehehe), sayang
pintu mushala
dikunci..hehehe, jadi nggak bisa numpang tidur deh. Alhasil, ngobrol-ngobrol
menghabiskan waktu di kursi tunggu lantai 2, dekat restoran fast food yang
menyetel keras-keras lagu ST12 dan band sejenisnya sepanjang malam. Wuiiih
Indonesia sekaliii.. Jam 2 kami turun ke MacD yang buka 24 jam, bergabung
dengan banyak pelancong yang rupanya bernasib sama…nunggu bis pertama ke
bandara.
Sekitar pukul 4 kurang, kami sudah sampai ke LCCT, dan
segera mencari 2 rekan Indonesia lainnya yang akan bergabung ke Siem Reap.
Rencananya kami memang satu rombongan ada 6 orang, perempuan semua. Tapi yang
dua urung ikut karena sakit, tinggalah kami berempat. Satu berangkat jumat
malam, dua berangkat sabtu siang, dan satunya menyusul berangkat sabtu tengah
malam. ‘Meeting point’-nya MacD 24 jam di LCCT.
Pesawat Airasia ke Siem Reap dari LCCT setahu saya cuma satu
kali penerbangan, yaitu pukul 7 pagi. Perjalanan menempuh waktu sekitar 2 jam.
Sampai di Bandara Siem Reap masih pagi, jam 8 (KL dan Siem Reap beda 1 jam).
Hawa sejuk dan langit biru serta matahari yang masih bersinar lembut menyambut
kedatangan kami di bumi yang dulunya bekas wilayah Nusantara itu. Aura sekitar
terasa tidak asing…saya semakin penasaran.
Kami mengurus Visa On Arrival (VOA) dengan membayar 20 dolar.
Untuk itu perlu disiapkan juga pas foto ukuran 4X6. Para petugas yang menangani
VOA ramah-ramah, sekali lagi saya merasa begitu familiar dengan raut wajah
mereka. Tidak sampai 30 menit, kami berempat sudah memasuki wilayah Siem Reap
Kamboja bersama rombongan pelancong dari berbagai negara yang sudah tidak sabar
ingin segera melihat Angkor Wat.
“Kenapa ya di bandara tadi nyaman banget ngeliat bapak-bapak
petugasnya…” kata saya di dalam taksi menuju kota Siem Reap. Biasanya urusan
imigrasi sering membuat tidak nyaman sampai pada akhirnya semua urusan beres
dan diperbolehkan masuk ke negara mereka. Teman-teman tidak menjawab.
Belakangan saya baru ngeh, kalau wajah para bapak usia sekitar limapuluh tahun
itu mirip sekali dengan wajah Mbah Kakung, kakek saya, di mana saya
menghabiskan masa kecil bersama beliau di Yogyakarta. Apakah di kota Siem Reap
sana saya juga akan menjumpai 'wajah-wajah tidak asing' itu lagi?
(to be continue – Insya Allah..:) )