Masa-masa hamil merupakan masa yang emosional (emosional di sini bukan marah-marah lho ya) bagi seorang ibu/calon ibu, apalagi buat saya yang baru mengalami pertama kali. Untungnya pada saat yang sama, tiga teman kantor saya juga hamil yang jaraknya cuman beda sebulan sajah, jadi selalu ada teman untuk berbagi :D Selain teman kantor, teman baik saya juga hamil (kelak ternyata kami sama-sama melahirkan di bulan April, dia awal saya akhir). Karena kami sama-sama nge-blog di Multiply yang kini sudah ditutup dengan sewenang-wenang alias secara sepihak oleh manajemennya L, saya banyak belajar dari dia yang selalu menuliskan cerita kehamilannya. Jadi, ketika saya mengalami suatu masalah dalam kehamilan saya, dan teman saya itu juga mengalami hal yang sama. Atau saya mendapat cerita tentang sesuatu hal yang kemudian saya rasakan, sebagai sesama bumil, dengan membaca blog dia. Serasa ada teman senasib….:D Akhirnya saya merasakan ikatan emosi yang kuat dengan dia, tentunya setelah sebelumnya kami pernah melewati beberapa hari saat berpetualang bersama (backpack) menjelajahi Angkor Wat, Kamboja, bertahun silam. Saya merasa anak kami, yang masih dalam perut, memiliki ikatan yang kuat juga. Saya merasakan mereka juga telah berteman akrab meski masih sama-sama dalam kandungan. Saya sering bicara dengan bayi dalam perut saya bahwa setelah sama-sama lahir, kelak akan saya pertemukan dia dengan saudari karibnya dan saya akan bercerita bahwa dulu mereka tumbuh bersama saat dalam kandungan. Haha..lucu juga ya kalau diingat-ingat. Maka, di hari teman saya melahirkan betapa saya ikut bahagia sekali, seolah-olah kembaran anak saya tengah lahir duluan. Saya ikuti kisah tentang bayi teman saya itu melalui blog-nya dan tentunya saya kirimkan juga ucapan ikut bersuka-cita. Kami bahwa pernah bermimpi bahwa kelak kami akan backpacker bersama bayi-bayi kami, hihihi..dasar emak-emak tukang jalan :D Sampai di suatu pagi di bulan yang sama, 10 April (teman saya melahirkan tanggal 3 April kalau tidak salah), saya mendapat kabar bahwa teman saya itu baru saja kehilangan bayinya! Brigitta, begitu nama panggilannya, telah diambil Sang Pemiliknya. Malaikat kecil itu mengalami gagal nafas setelah sempat menyusu ibunya. Saya menangis. Kami semua, teman satu jejaring dalam blog itu berduka sedalam-dalamnya. Shock mendengar kabar itu membuat saya tidak pernah berhenti memikirkan teman saya dan kesedihan yang tentunya ia rasakan. Kami sama-sama baru memiliki anak pertama, dan dia sudah kehilangan bayinya…. Dan sampai menjelang saya melahirkan, pikiran saya masih sering tertuju pada malaikat kecil itu, Brigitta. Bayi saya lahir tanggal 22 April dengan kelahiran Caesar. Betapa pun saya bersyukur dan berharap ia sehat. Beberapa saat setelah melahirkan saya kirim pesan ke teman saya sekaligus balasan darinya yang berisi ucapan turut bersuka cita atas kelahiran bayi saya. Isinya, saya minta ijin menyematkan dua penggal kata nama Brigitta menjadi nama tengah bayi saya. Maka selengkapnya menjadi Shefalika Dyah Ayu Prasetyo – sebagai kenangan indah akan bayi mungil teman saya Brigitta Dyah Ayu Simamora. Kelak saya akan ceritakan perihal malaikat kecil Brigitta pada Shefalika. Syukur kini teman saya itu tengah menanti kelahiran bayi keduanya. Semoga senantiasa dilindungi dan dijaga oleh Sang Pencipta dan Sang Pemilik segala semesta alam ini. Amiiiin.
