Setiap cake yang dibuat, selalu ada kisah dibaliknya… Memotret dan meng-upload ke beberapa media adalah standard operational procedure yang wajib dilakukan sebelum akhirnya cake dikirim ke alamat pemesan. Dan itu menjadi sebuah ritual sendiri, apalagi rata-rata cake selesai didekor lewat tengah malam, dan di dini hari yang sunyi saya dan adik saya jumpalitan merekam hasil jerih payah dengan kamera digital jadul kami. Lalu setiap memandangi foto hasil pekerjaan kami itu, berbagai cake-cupcakes-cookies, saya selalu teringat dengan semua cerita dibaliknya. Mulai dari riwayat pemesanan, bahan-bahan yang dipakai sampai proses pengiriman dan feed back yang kami dapatkan tentu saja. Memandangi album foto cake kami, seperti membaca kumpulan cerita pendek. Misalnya ketika memandangi Rainbow Cake yang dibuat April tahun lalu untuk Alika, putri kedua ibu Titih Heryanti kami ingat bahwa itu adalah Rainbow Cake pertama kami. Makanya susunan warnanya juga belum ngikutin pakem yang umum dipakai. Tapi soal rasa sih jangan ditanya, saking lembutnya tu cake, ibu Titih sampai ngasih laporan bahwa nggak jadi kirim foto cake yang dipotong karena kue hampir hancur… OMG, mungkin perlu pemotong kue khusus biar slice-nya tetap cantik hihihi ngeles…(dari pengalaman itu kami memperbaiki resep supaya the next order, cake tetap lembut dan tetap kokoh saat dipotong). Jadi sebetulnya saat menerima pesanan Rainbow Cake itu kami cuma modal pede aja…hihihi Ada juga cake yang kami siapkan hanya dalam waktu 3 jam saja. Ceritanya suatu malam seorang customer bertanya apakah kami punya stok cake? Lalu kami jawab bahwa kami hanya made by order. Lalu dia tanya, apakah mungkin memesan sekarang (jam menunjukkan pukul 9 malam), dan kue akan dijemput pukul 12? Kami segera memeriksa persedian bahan, semua ada dan kami sedang tidak mengerjakan ‘deadline’ pesanan buat besok pagi. “Bisa!” Nekaaaaaad.. Akhirnya malam itu kerja cepat mempersiapkan segalanya. Jam 12 tepat cake selesai didekor. Ah untung yang jemput agak telat, sekitar jam 1-an pejemput datang (cake jadi sempat disimpan di kulkas dulu karena better dinikmati dingin). Kami bekerja sudah seperti acara Kitchen Stadium yang ditayangkan di teve tempo dulu. Sesekali liat jam, “Waktu tinggal 30 menit lagi!” haha..seru. Jadi kalau saya melihat cake cover putih dengan pita ungu bertuliskan “Happy Birthday, Selly”, langsung ingat kejadian malam itu. Cake untuk anak seorang bos berwarganegara Jepang (orang Jepang kok namanya Selly yak?) Begitu pun dengan cake-cake yang lain. Semua ada ceritanya dan mungkin kalau ditulis bisa jadi berpuluh-puluh tulisan Noon Coffee Break dengan seri The Cake Story…;-)
