sobat-azzam  

sobat-azzam : Keluarga Asmara edisi XLI (Ailafyu)

Muhamad Rifki Setyadji
Sat, 04 Jun 2005 15:57:21 -0700

Ailafyu
Oleh: Pamusuk Eneste

PUKUL 16.30, Egon meninggalkan kantornya yang berlantai empat di Jalan 
Palmerah Barat. Rute tetapnya adalah menyusuri Jalan Palmerah Barat ke 
arah Pasar Palmerah, terus ke Jalan Palmerah Timur, menyeberangi Jalan 
Gelora 7, dan kemudian masuk Stasiun Kereta Api Palmerah.

Sebelum naik kereta api yang mengantarnya ke Serpong, ingin sekali Egon 
membeli hadiah ulang tahun bagi istrinya. Egon tak sudi disebut suami 
yang egois. Tak ingin disebut suami yang tak menghargai istri karena 
melupakan hari ulang tahun istrinya. Tak mau dibilang suami yang kurang 
perhatian, kurang gemati.

Keinginan itu sesungguhnya sudah lama dipendam Egon, namun ada-ada saja 
halangan sehingga sampai sekarang istrinya belum pernah menerima hadiah 
ulang tahun apa pun. Bersyukurlah Egon karena istrinya tidak bawel, 
cerewet, dan matre. Istri Egon tidak pernah mengungkit-ungkit hadiah 
ulang tahun. Apalagi merengek-rengek supaya dibelikan ini dan itu. 
Bahkan pada hari ulang tahunnya pun, istri Egon cuek saja; seakan-akan 
dia tak berulang tahun.

"Tapi itu tidak berarti istrimu tidak mengingat hari ulang tahunnya," 
kata teman kerja Egon.

"Perempuan itu pintar sekali menyembunyikan perasaan mereka. Lebih-lebih 
terhadap suaminya," kata yang lain.

"Kalau istrimu diam saja pada hari ulang tahunnya, itu tidak berarti dia 
tidak mengharapkan hadiah ulang tahun," kata yang lain lagi.

Egon mampir di toko emas Laris Manis di Pasar Palmerah.

"Selamat sore, Pak," sapa pedagang emas dengan ramah.

***

KEINGINAN Egon memberi hadiah ulang tahun kepada istrinya muncul pertama 
kali setelah setahun mereka berumah tangga. Seminggu setelah hari 
pernikahan, istri Egon kebetulan berulang tahun. Oleh karena itu, 
perayaan hari ulang tahun istrinya hitung-hitung sekaligus perayaan hari 
perkawinan Egon dan istrinya.

Pada waktu itu, Egon berpikir, alangkah bagusnya jika telinga istrinya 
yang berlekuk-lekuk mirip arena sirkuit F-1 di Monaco itu ditempeli 
anting-anting emas 24 karat. Jika tertimpa sinar matahari, anting-anting 
itu akan memantulkan sinar ke mata pemandangnya. Ah, alangkah bangganya 
Egon jika orang bertanya anting-anting siapa gerangan yang menyilaukan 
mata itu. Orang-orang pun akan melirik kuping istri Egon dan juga akan 
melirik wajah ayu istri Egon.

Egon membeli anting-anting 24 karat di toko emas Laris Manis di Pasar 
Palmerah.

"Biasanya, orang yang membeli emas di sini akan kembali lagi ke sini 
kapan-kapan," kata wanita pedagang emas--yang biasa disapa dengan 
"Encik" atau "Cik"--itu ketika Egon menyerahkan uang.

Egon tidak terlalu menyimak kata-kata terakhir itu karena ia harus 
mengejar kereta api ke Stasiun Palmerah. Sambil bergegas, Egon 
mengantongi anting-anting itu di saku celana sebelah kiri.

Egon hendak naik kereta api ekonomi Tanah Abang-Rangkasbitung yang 
bertolak pukul 17.00. Meski kereta ekonomi itu berjubel hingga ke atap, 
entah dengan kiat bagaimana, Egon masih bisa menyusup ke gerbong kereta.

Egon turun di Stasiun Serpong. Setelah berada di peron, Egon ingin 
memastikan anting-anting itu. Rogoh sana rogoh sini, ternyata 
anting-anting itu tak ada lagi di kantong kiri celana Egon. Sialan!

Sejenak Egon terpana. Jantungnya serasa hampir copot. Dengan loyo, Egon 
duduk di salah satu bangku panjang dalam stasiun. Egon mencoba 
mengingat-ingat, kapan anting-anting cincin itu diserobot si tangan 
jail. Mungkinkah waktu naik di Stasiun Palmerah? Waktu itu, Egon 
berusaha menerobos orang-orang yang berjubel di pintu masuk hingga 
lorong-lorong kereta. Atau, siapa tahu, dari sekian banyak orang yang 
naik-turun di Stasiun Kebayoran Lama, Stasiun Pondok Ranji, Stasiun 
Sudimara, dan Stasiun Rawabuntu ada yang berprofesi pencopet? Ataukah, 
anting-anting itu dicopet ketika berdempet-dempet turun di Serpong?

Egon merasa pusing memikirkannya.

Dengan gontai, Egon menuju tempat ojek. Ojek langganan Egon langsung 
mendekat dan kemudian mengantarkan Egon ke kawasan Bumi Serpong Damai. 
Dalam hati, Egon berjanji, tahun depan ia akan mengganti hadiah ulang 
tahun yang hilang itu.

Setahun kemudian, pada hari ulang tahun istrinya, Egon sudah berada di 
toko emas Laris Manis di Pasar Palmerah. Egon merasa, leher istrinya 
yang jenjang itu sangat anggun digantungi kalung. Alangkah eloknya kalau 
leher itu digantungi kalung, pikir Egon. Kalau kebetulan diterpa sinar 
matahari, kalung itu akan menyilaukan mata yang memandang. Amboi, betapa 
bangganya Egon jika orang bertanya-tanya, kalung siapa gerangan yang 
memantulkan cahaya itu, seraya melirik leher istrinya.

Egon pun membeli kalung emas 24 karat di toko emas langganannya di Pasar 
Palmerah itu.

"Lain kali beli emas di sini lagi ya, Pak?" kata Encik penjual emas.

Egon tak menjawab dan langsung bergegas menuju Stasiun Palmerah yang 
hanya berjarak sekitar 50 meter.

Pada saat naik kereta api ekonomi di Stasiun Palmerah pukul 17.10, Egon 
menaruh kalung itu di saku celana sebelah kanan. Sering tangannya 
merogoh kantongnya; sekadar memastikan, kalung itu masih tersimpan 
dengan baik di sana. Namun, ketika turun di Stasiun Serpong, kalung itu 
sudah raib entah ke mana. Egon meraba semua kantongnya, kalung itu tetap 
tak ditemukan. Brengsek!

Egon tak tahu persis, apakah kalung itu jatuh atau dicopet. Mungkin 
jatuh ketika ia berlari-lari mengejar kereta api yang sudah siap-siap 
berangkat di Stasiun Palmerah. Mungkin juga jatuh di kereta api ketika 
ia menerobos ke gerbong kereta api yang padat. Boleh jadi, Egon 
kecopetan ketika menerobos kerumunan penumpang yang berjubel di Stasiun 
Palmerah. Belum terhitung di Stasiun Kebayoran Lama, penumpang yang mau 
naik kereta api bak air bah yang menerjang gerbong-gerbong.

"Ke dalam dong," kata yang satu.

"Masuk dong, masuk," kata yang lain.

"Kasihan yang di pintu," teriak yang lain.

Merasa didorong-dorong, tergencet, dan kaki terinjak, para penumpang 
dalam gerbong kereta pun memprotes.

"Masuk ke mana? Berdiri saja sudah susah!"

"Naik kereta eksekutif saja, biar lega!"

"Jangan main dorong, dong! Kalau mau tempat kosong, naik ke atap!"

Betul. Bukan hanya di gerbong orang berjubel, atap kereta pun dipenuhi 
penumpang. Egon tak habis pikir, kenapa orang-orang itu naik ke atap 
kereta. Kenapa petugas kereta tidak melarangnya? Kenapa polisi kereta 
api tidak mengusir mereka? Kalau masinis mengerem mendadak, bagaimana 
nasib orang-orang di atap kereta? Egon tak mampu membayangkan....

Ketika tiba di rumah, Egon tak menceritakan kalung itu pada istrinya. 
Istrinya pun tak menagih apa-apa kepada Egon pada hari ulang tahunnya 
itu. Istri Egon memang selalu tahu diri. Tak mau merusuhi suaminya yang 
baru capek dari kantor dengan tetek bengek rumah tangga. Egon pun tak 
menunjukkan emosi yang meluap-luap di hadapan istrinya, meski dalam hati 
amat jengkel terhadap pencopet yang merogoh kantongnya tanpa izin itu.

Namun, keinginan Egon untuk membahagiakan istrinya tak pernah surut. 
Egon berjanji pada dirinya sendiri bahwa tahun depan ia akan memberi 
hadiah ulang tahun bagi istrinya.

Bukan dongeng, bukan khayalan. Tahun depannya lagi, Egon pun bermaksud 
memberi hadiah ulang tahun kepada istrinya. Egon sering terkesima 
melirik jari-jari istrinya yang halus dalam genggamannya. Alangkah 
moleknya kalau jari manisnya dihiasi cincin emas. Kalau terkena sinar 
matahari, cincin itu akan memantulkan cahaya ke mata pemandangnya. Ohoi, 
alangkah bangganya Egon kalau ada orang yang melirik pemakai cincin itu.

Egon pun membeli cincin emas 24 karat di toko emas langganannya di Pasar 
Palmerah.

Ketika hendak naik kereta rel listrik (KRL) dari Stasiun Palmerah, Egon 
menaruh cincin itu di saku atas kemejanya. Namun, Egon kaget setengah 
mati, ketika turun di Stasiun Serpong. Dirogohnya saku kiri kemejanya, 
Egon tak menemukan cincin emas 24 karat itu. Dirogohnya saku celana kiri 
dan kanan, cincin itu tak juga ada. Sadarlah Egon bahwa ia kecopetan 
lagi. Sontoloyo!

Egon tak menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Istri Egon pun 
tidak menyinggung-nyinggung bahwa hari itu ia berulang tahun. Diam-diam, 
Egon merasa bersyukur dengan sikap istrinya itu meski dalam hati ia 
mengutuk si pencopet.

Namun, tekad Egon tak bisa dibendung. Tahun depan, Egon masih ingin 
sekali menyenangkan istrinya pada hari ulang tahunnya. Tak boleh gagal 
lagi! Tak boleh kecopetan lagi!

Betul sekali. Tahun depannya lagi, sepulang kerja, Egon sudah berdiri di 
depan toko emas Laris Manis di Pasar Palmerah. Egon merasa, alangkah 
indahnya kalau pergelangan tangan istrinya yang bak marmer Italia 
diganduli gelang. Apalagi gelang emas. Jika sinar matahari mengenainya, 
gelang itu akan memantulkan cahaya kepada orang yang memandangnya. Ah, 
betapa bangganya Egon kalau orang-orang berkata, "Siapa sih yang memakai 
gelang itu?" Senang rasanya Egon, orang-orang melirik pergelangan tangan 
istrinya, sekaligus melirik wajah anggun istrinya.

Rupanya, penjual emas di Pasar Palmerah itu ingat betul Egon. Maklum, 
tiga tahun berturut-turut Egon membeli emas di toko itu.

"Anting-anting, kalung, dan cincin yang dulu bagus kan, Pak?"

Egon tak menyahut.

"Kalau tidak bagus, Bapak pasti enggak datang ke sini lagi."

Egon tak bereaksi.

"Dulu kan saya pernah bilang, Bapak pasti akan datang lagi ke toko saya. 
Betul kan, Pak?"

Egon membisu. Mematung.

"Bapak mau beli gelang, kan?"

Egon terperangah. Hebat betul Encik ini! Tahu saja dia membaca keinginan 
orang.

"Betul, Cik."

"Bapak cari gelang emas dua puluh empat karat, bukan?"

Seperti anak baru bisa berjalan, Egon mengangguk pelan. Yang membuat 
Egon tak habis pikir adalah kata-kata Encik penjual emas itu kemudian, 
"Bapak bakal bangga kalau gelang itu ditimpa sinar matahari dan 
pantulannya menyilaukan mata orang yang memandangnya, bukan?�

Ibarat dalam permainan catur, Egon mati langkah. Tak berkutik. Tak bisa 
komentar. Bingung. Galau. Bagaimana wanita itu bisa membaca pikiran Egon?

Setelah memilih satu dari beberapa gelang yang disodorkan pedagang emas 
itu, Egon buru-buru menuju Stasiun Palmerah. Dengan cermat, Egon 
menyimpan gelang itu dalam tas-kerjanya berwarna hitam. Ritsleting 
luarnya ditariknya pelan-pelan.

Kereta api yang meluncur dari Stasiun Palmerah sebetulnya tidak begitu 
berjubel. Namun, Egon tak kebagian tempat duduk. Di Stasiun Kebayoran 
Lama pun tak terlalu banyak penumpang yang naik. Di Stasiun Pondok Ranji 
ada penumpang yang turun meski tak banyak. Baru di Stasiun Sudimara 
banyak penumpang turun dan Egon bisa duduk.

Ketika turun di Stasiun Serpong, Egon kembali terkesiap. Kotak berisi 
gelang untuk istrinya raib dari tasnya. Rogoh sana rogoh sini, kotak 
gelang tetap saja tidak ditemukannya. Edan tenan! Siapa yang mengambil 
dari tasnya? Kapan diambilnya? Yang lebih mengherankan, tas Egon masih 
utuh. Tak ada tanda-tanda disilet. Ritsleting tas-kerjanya juga masih 
utuh alias tidak rusak. Bagaimana pencopet mengambil gelang itu? Adakah 
pencopetnya wanita yang mendempet-dempet Egon ketika hendak turun di 
Stasiun Serpong? Atau, laki-laki perlente di samping Egon yang 
mengambilnya? Egon tak bisa memastikan.

Namun, Egon bukanlah Egon kalau niatnya belum kesampaian. Meski telah 
empat kali kehilangan hadiah ulang tahun, Egon belum jera dan kapok. 
Tahun depan, Egon berjanji akan memberikan hadiah ulang tahun bagi istrinya.

***

KALI ini merupakan ulang tahun kelima istri Egon setelah mereka berumah 
tangga. Egon ingin sekali membahagiakan istrinya dengan hadiah ulang tahun.

Menjelang pukul 17.00, Egon sudah berdiri di depan toko emas Laris Manis 
di Pasar Palmerah.

"Silakan, Pak," kata Encik langganannya. "Nah, Bapak datang lagi, kan?"

Egon masih tetap berdiri di depan si pedagang emas.

"Betul kan, Pak? Sekali orang beli emas di toko saya, orang itu pasti 
datang lagi kemari."

Egon tak ingin gagal lagi kali ini. Ia akan menyimpan hadiah ulang tahun 
itu sebaik mungkin sehingga tak mungkin dicopet orang. Egon akan 
menyimpannya dalam sepatu. Atau dalam kaus singletnya di balik kemeja. 
Atau dalam kantong-rahasia celananya.

Namun, dalam hati kecilnya, sebetulnya Egon masih bingung. Hadiah apa 
yang pas bagi istrinya? Apa hadiah yang disukai istrinya? Anting-anting, 
kalung, cincin, atau gelang?

Jauh di lubuk hatinya, sesungguhnyalah Egon pun tak tahu pasti apakah 
istrinya senang dihadiahi anting-anting, kalung, cincin, dan gelang emas 
meski terbuat dari emas 24 karat sekalipun. Kalau suka emas-emasan itu, 
tentulah istrinya sudah berusaha membelinya dari dulu. Kalau tidak bisa 
secara tunai, mungkin istrinya akan mencicilnya. Akan tetapi, itu tidak 
pernah dilakukan istri Egon sampai sekarang. Kalaulah istri Egon 
menginginkan perhiasan emas, pada saat omong-omong santai, ia toh bisa 
menyampaikannya kepada Egon. Itu pun tidak terjadi. Ah, jangan-jangan 
istriku tak suka memakai perhiasan di telinga, leher, jari-jari, dan 
pergelangan tangannya. Jangan-jangan istriku sudah merasa cukup dengan 
lekuk-lekuk kupingnya, lehernya yang jenjang, jarinya yang lentik, dan 
pergelangan tangan yang mulus. Tak perlu diimbuhi ini itu lagi! Justru 
itu salah satu rahasia yang tak diketahui istrinya sampai sekarang. Egon 
menikahi istrinya justru karena perempuan itu senang tampil polos. Tak 
suka pakai perhiasan ini dan itu!

Egon masih berdiri di depan toko emas di Pasar Palmerah. Ia belum tahu 
harus membeli apa.

"Pilih yang mana, Pak?" kata Encik agak mendesak.

Egon bergeming.

"Bapak dulu sudah beli anting-anting, kalung, cincin, dan gelang. 
Mestinya sekarang yang lain dong, Pak."

Tiba-tiba dari arah Stasiun Palmerah terdengar lengkingan kereta api. 
Egon seperti dipanggil. Kalau tidak berangkat sekarang, Egon akan 
ketinggalan kereta.

Egon melangkah. Menjauhi toko emas Laris Manis.

"Jadi beli enggak, Pak?" kata Encik.

Sambil berjalan buru-buru, Egon berkata,

"Lain kali saja, Cik."

Betul dugaan Egon. KRL pukul 17.25 sudah siap berangkat di Stasiun 
Palmerah. Entah kenapa, gerbong-gerbong kereta terlihat lengang. Egon 
masih bisa memilih tempat duduk.

Ketika sudah duduk, Egon masih terus berpikir tentang hadiah ulang tahun 
bagi istrinya. Egon masih tetap ingin memberi hadiah ulang tahun buat 
istrinya. Namun, Egon juga belum tahu harus membeli apa. Kalau Egon 
serius, sebetulnya masih ada waktu. Para pedagang banyak berseliweran 
dalam kereta menawarkan aneka ragam barang. Egon bisa saja membeli 
sesuatu. Egon pun masih ada waktu membeli sesuatu di Stasiun Serpong 
guna dihadiahkan kepada istrinya. Kalau tak ada yang cocok, Egon masih 
bisa mencari sesuatu di Pasar Serpong untuk diberikan kepada istrinya. 
Bahkan kalau mau, Egon masih bisa ngelencer ke ITC BSD atau BSD Plaza 
atau ke WTC Matahari Serpong untuk mencari hadiah ulang tahun.

Petugas kereta api Stasiun Palmerah mengangkat bulatan hijau. Pertanda 
kereta aman berangkat ke arah Kebayoran Lama.

Karena masih bingung hendak menghadiahkan apa bagi istrinya dan harus 
beli di mana, antara sadar dan tak sadar, tangan Egon meraih HP dari 
kantongnya. Ditekannya berturut-turut tombol Pesan, SMS, Tulis Baru, dan 
dipencetnya huruf-huruf sehingga menghasilkan kata-kata Selamat ulang 
tahun, Sayang. Ailafyu. Lalu, Egon menekan Buku Telepon, kemudian 
Istriku, dan terakhir Kirim.

Egon seperti tersadar, serasa lima abad kelima kata itu tak diucapkannya 
pada istrinya--baik secara lisan maupun secara tertulis. Ah, betapa 
dungunya aku selama ini. Jangan-jangan, istriku lebih suka kelima kata 
itu daripada lima perhiasan emas 24 karat. Jangan-jangan, dia lebih sreg 
dengan ciuman mesra di pipi atau ciuman prancis di bibirnya daripada 
perhiasan emas. Alangkah bodohnya aku.

Ketika peluit petugas stasiun terdengar, pelan-pelan KRL Tanah 
Abang-Serpong pun bergerak menjauhi Stasiun Palmerah. Saat itu, jam 
menunjukkan pukul 17.25.

Jakarta, 4 Mei 2005


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/ZtTslB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~

--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
Contact : admin at sobat dash azzam dot info 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sobat-azzam/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



  • sobat-azzam : Keluarga Asmara edisi XLI (Ailafyu) Muhamad Rifki Setyadji