On Tue, Mar 15, 2005 at 06:42:17PM +0700, Dudi Gurnadi wrote: > tapi inti permasalahannya kan tetap iklan?, > berapapun jumlahnya tetap aja adalah iklan. Dan iklan itu jelas > ditujukan pembacanya.
setiap situs, entah itu pribadi, entah itu komersial/tidak, selalu dibangun atas tujuan/motif tertentu. kalau itu situs komersial, selalu akan menjawab pertanyaan: bagaimana situs ini bisa sustain, selanjutnya, bagaimana kita bisa menarik keuntungan dari situ. dst..dst.. intermeso: kalau kita melakukan riset dan terpaksa harus mengukur fenomena tertentu, biasanya kita menghindari dikotomisasi, karena dengan dikotomisasi, banyak sekali informasi yang akan terlewat (kecuali tidak ada alternatif, maksudnya adanya ya itu .. harus didikotomi, atau untuk alasan keperluan praktis). untuk menjual satu situs berita komersial, biasanya orang (sales) akan berusaha memperkenalkan nature dari situs tsb., target audiens, audiens yang dicapai (pageviews, whatever). istilahnya, usaha ini mengacu pada 'pakem' yang sudah ditetapkan saat situs dibangun. berikut calon pembeli (pemasang iklan), tentu akan mempertimbangkan, apakah iklan yang akan dipasang cocok dipasang di satu situs. dst..dst..dst.. baca soal intermeso dan soal motif di atas, melakukan dikotomisasi terkesan terlalu naif, karena sebenarnya orang bisa memperkirakan ratio utilisasi bandwidth untuk penyampaian (delivery) iklan, dibanding dengan content itu sendiri. dari ratio ini, orang kuantitatif (marketer, whatever) akan bisa tahu motif mengapa satu situs dibangun. sedang analogi 'sisa stand' yang bisa dipakai kurang mengena. karena, on-topic, itu sama saja dgn membandingkan iklan dengan content (benar bukan?) atau sebenarnya untuk bisa menampilkan tulisan disitu orang harus bayar? :-) lihat soal motif di atas, coba kita kaji sendiri bagaimana sih slashdot. dan coba jawab pertanyaan ini (ingat bagaimana motif/tujuan dibangun suatu situs): "kalau iklan sudah segedhe gambreng dan orang perlu kaca pembesar u/ bisa membaca berita di slashdot, apakah orang akan masih tetap menulis dan *membaca* slashdot? di atas, sebenarnya saya lebih menyoroti dari satu sisi saja. ada banyak kok alasan untuk tetap menulis di detikinet. somehow, saya pikir, pakai jurus tai chi, seperti yang mas dudi bilang, bisa sekali akan membawa keberuntungan. oche deh .. ntar saya dituduh melakukan pelintiran. astaga naga, kayak politisi ajah he..he.. padahal saya ngomong kan demi rakyat (ups.. hi..hi..). tapi kalau toh dibilang gitu, yo wis, over and out. Salam, P.Y. Adi Prasaja
