baskara wrote:
> On 3/8/06, win_hadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > bagaimana kalau konsentrasinya di development untuk programming di
> > Indonesia fokusnya java ?  walau saya sendiri termasuk yg tidak suka
> > dng yg satu ini karena lambat dan makan resources banyak, tapi
> > perkembangan hardware yg selalu berkali lipat membuat nya semakin
> > bersinar, belum lagi kalo bicara portabilitas dan fleksibilitas.
>
> Setiap orang bebas memilih bidang konsentrasinya masing-masing. Bisa
> di application layer  (contohnya java programming ini), atau di
> network layer (ada yang mau konsentrasi di layer 0? :P). Terus terang,
> sumber daya yang langka itu sebenarnya yang kerjanya di network layer,
> tapi masalahnya jarang ada yang butuh di Indonesia (kecuali ISP dan
> enterprise network?). Sementara itu dari cerita2 Bang Carlos justru di
> SV lagi butuh orang2 yang kerjanya di network layer. Orang2
> application layer sudah kebanyakan di sana dan mudah dicari. ;-)

Wah replynya om Bas penting banget untuk dibahas.

Iya, perhatikan ini banget , kuncinya memang di "sumber daya yang
langka". Targetnya mau di lingkup R&D ala Silicon Valley atau "just IT
Developer" ?

Ingat di SV isinya adalah persh2 hitek R&D dan startups yang tujuanya
**membuat produk** ;  _bukan_membuat_aplikasi_.

Persh networking sebenarnya hanya satu jenis saja dari majoritas persh
di silicon valley, tapi seperti yang dikatakan om baskara memang
kebutuhan expert networking ini = (demand > supply * 10) jadi peluang
kerja untuk orang bagus selalu ada bahkan di masa susah sekalipun.

Kalau bicara networking , ada empat tipe jobs networking yang bisa
diisi orang Indonesia :

1. Hardware Design/Verification  (alumni ITB EE  di SV banyak di bidang
ini).
2. Software.   (butuh C/C++ , bsd socket dan real time o/s seperti
vxworks, tapi even linux kernel knowledge is ok).
3. Software QA Engineer (butuh kemampuan "selevel" CCIE , butuh org
yang punya knowledges networking in and out , programing/scripting
tcl/perl/python, butuh org yg punya creative thinking dan analytical
thinking yang bagus karena tujuan SQA Engineer adalah "breaking the
code").
4. Orang TAC alias Technical Support, ini juga reqsnya sama seperti #3
cuman karena perlu deal dengan customer tiap hari, mesti punya skill
komunikasi yg baik pula.

Kalau bicara jumlah , yang paling dibutuhkan sebenarnya nomor 2 , nomor
3 dan 4 mengikuti dari belakang.

Engineer indonesia kebanyakan bisa banget mengisi #3 dan#4 apalagi yang
CCIE,dst.
Kalau untuk #2, harus rajin2 sw development dari awal seperti Arya dan
om Baskara :)

By the way,

Nih ada satu rahasia India , kenapa Bangalore bisa maju dan dipilih ?
karena disono
talent pool yang menguasai ***real-time os*** seperti vxworks dan
embedded BUANYAK banget ,  BUKAN ....bukan karena disono banyak yang
mahir java programming. Nah point ini sangat penting dan diperhatikan
karena banyak yang tidak tahu !

Orang orang India ini memang pintar sekali melakukan intelejen , dia
tahu kemampuan apa yang bisa digunakan untuk "mengunci" kemampuan
dimana (demand > supply). orang Indonesia boleh sama dengan India ,
tapi org India lebih pintar ambil keputusan "apa yg harus
dipelajari,dilakukan,etc".

Makanya kalau semasa di kuliah sudah tahu gambaran seperti apa yang
harus dikuasai nantinya dengan _target_silicon_valley_ (bukan asal it
jobs) , nah itu sudah 1/2 jalan.



-mcp

Kirim email ke