tqn  

[tqn] Investasi Pada Sebuah Doa

David Sofyan
Sun, 08 Nov 2009 23:59:46 -0800

Investasi Pada Sebuah Doa

Hujan yang mengguyur desa Tirta Sari selama beberapa hari telah membuat Pak 
Somad berhenti berdagang es krim keliling dan berganti menjadi penjual bajigur 
hangat. Hempasan angin dingin disertai hujan pada sore hari membuat desa 
tersebut seperti desa mati karena tidak seorangpun terlihat keluar rumah. Pak 
Somad masih terus mendorong gerobak bajigurnya yang masih tersisa separuh 
setelah berjualan di desa Ambara sekitar satu kilometer dari desa Tirta Sari. " 
Masih jualan kang ? hari udah mau gelap tuh, apalagi hujan belum berhenti dari 
tadi " sahut Arman tetangga Pak Somad yang baru pulang dari warung Pak Rangga, 
satu-satunya warung yang masih buka saat itu. " Yah mau gimana lagi Man, 
dagangan masih sisa banyak nih " jawab Pak Somad samabil terus mendorong 
gerobaknya kearah warung. 

Sebuah mobil Honda CRV berhenti tepat didepan warung Pak Rangga, dimana Pak 
Somad sedang duduk santai untuk melepas lelah disana. "Assalamu'alaikum" sahut 
seorang Bapak seusia dengan Pak Somad dan Pak Rangga. " Wa'alaikum Salam" jawab 
mereka serempak. " Wah , wajah Pak Rangga dan Pak Somad tidak banyak berubah 
nih , masih kelihatan awet muda" sapa Bapak tadi. " Pak Rahmat ya, apa khabar 
juga hampir lima tahun tidak pulang kampung ternyata banyak yang berubah, 
tambah makmur rupanya" sahut Pak Rangga disertai anggukan Pak Somad tanda 
setuju. " Kok istri dan anaknya gak di bawa Pak " tanya Pak Somad. Walaupun 
umur mereka hampir sama tapi penampilan Pak Rahmat jauh lebih tua dengan rambut 
yang sudah hampir memutih semua. " Istri saya sudah meninggal tiga bulan yang 
lalu sedangkan anak-anak sudah menikah semua, yang satu jadi dokter dan yang 
satu tinggal bersama suaminya di Kanada, dapat orang luar Pak" jawab Pak Rahmat 
pelan. " Kalo Pak Somad gimana nih, dengar-dengar anaknya ada tiga yah , sudah 
nikah semua belum ?" balas Pak rahmat bertanya " Dua sudah, yang satu masih 
sekolah, mungkin tahun depan lulus. Kakaknya yang sudah menikah dua-duanya jadi 
guru agama, maklumlah dua-duanya tamatan pesantren " Jawab Pak Somad sambil 
tersipu malu membandingkan dengan kedua anak Pak Rahmat. " Wah Pak Rahmat an 
Pak Somad beruntung mempunyai anak, saya sampai sekarang belum juga di amanahi 
anak sama Allah" sahut Pak Rangga yang dari tadi hanya mendengar. Ketiga orang 
itupun larut dalam perbincangan sambil minum bajigur hangat milik Pak Somad. 

Hujan terus mendera bumi tanpa henti, suaran halilintar mulai saling sahut 
menyahut berpacu dengan terbenamnya matahari. Malam itu setelah sholat Maghrib 
Kiayi Lutfi memberikan wejangan karena hampir semua jama'ah tidak ada yang 
pulang dari musholah. Di kampung tersebut memang sehabis sholat Maghrib, warga 
telah terbiasa memanfaatkan waktu untuk berdzikir dan membaca Al Qur'an sambil 
menunggu waktu sholat Isya, apalagi hujan semenjak siang belum juga berhenti. 
Wajah Pak Rahmat yang baru terlihat setelah lama menghilang menjadi perhatian 
jama'ah yang rata-rata adalah teman seangkatannya. Kiayai Lutfi sebagai guru 
ngaji mereka dulu menjadi tempat curhat Pak Rahmat. Berbagai pertanyaan 
mengenai kehidupannya di tanyakan kepada guru ngajinya tersebut. 

" Anak-anak saya memang berhasil karena hidup berkecukupan tetapi mereka jarang 
mengerjakan perintah agama, mereka larut dalam keduniaan. Sewaktu istri saya 
meninggal sekitar tiga bulan yang lalu, jenazah istri saya di sholatkan dan 
didoakan oleh orang lain dan bukan oleh anaknya sendiri, sejak itulah saya 
merasa telah salah mendidik anak, tidak banyak yang bisa saya harapkan dari 
mereka ketika saya harus mengahiri hidup saya nanti, karena sekarang mereka 
telah hidup dengan keluarga masing-masing, nasehat sayapun jarang didengar" 
keluh Pak Rahmat. Suasana jadi hening, Kiayai Lutfi mulai berbicara " Para 
jama'ah semua apa tujuan kita hidup ?"

"Untuk beribadah kepada Allah" jawab jama'ah mushollah serempak, " Benar, 
seperti itulah yang disyariatkan oleh agama kepada kita dan jenis ibadah itu 
ada dua yaitu ibadah mahdoh dan ghairu mahdoh, atau bersifat ritual dan 
bersifat muamalah , umum dan kemasyarakatan dan yang harus di tekankan karena 
banyak yang lupa bahwa ibadah muamalah bertujuan agar supaya ibadah ritual 
semakin khusyuk. Kita di suruh berusaha mencari nafkah dan jika di niatkan hal 
itu adalah ibadah tetapi tujuan dari mencari nafkah adalah untuk menjadikan 
ibadah ritual seperti sholat jadi nyaman bukan malah melalaikan apalagi 
melupakan sholat, sangat tegas Allah mengatakan dalam surat Thaaha ayat 14, 
innani anallahu laaila haillaa ana fa'budini aqimissolata li dzikri , 
'sesungguhnya Aku ini Allah tiada Tuhan Selain Aku maka sembahlah Aku dirikan 
sholat untuk mengingatKu', selanjutnya kelebihan hasil dari penafkahan tersebut 
digunakan untuk ibadah zakat dan ibadah haji, begitu seterusnya" kata kiayi 
Lutfi dengan mimik muka serius.

"lalu kesimpulannya untuk apa kita mencari nafkah ?" tanya kiayi Lutfi kembali 
menegaskan, karena dia merasa ada yang tidak menangkap dari apa yang baru saja 
di paparkannya " Agar bisa membahagiakan keluarga " sahut salah seorang jama'ah 
di belakang. Kiayi Lutfi kembali menarik nafas panjang, "ehmmm seperti saya 
duga kalian masih belum mengerti, tujuan mencari nafkah adalah agar memudahkan 
kita beribadah kepada Allah, seperti menafkahi keluarga , memberi makan fakir 
miskin, mengayomi anak yatim, berkurban, berzakat , bersedekah, berhaji, karena 
jika hanya untuk membahagiakan keluarga itu berarti kita telah mempersempit 
rezeki Allah dan memaknai kebahagian hanya dari harta semata, hampir sama 
seperti kita menanyakan kepada anak kita , untuk apa mereka sekolah ? lalu ada 
yang menjawab agar mudah mendapat pekerjaan, padahal mendapatkan pekerjaan 
hanyalah dampak dari ilmu yang yang dimiliki yang didapatkan dengan bersekolah" 
kata kiayi Lutfi menerangkan dengan tenang.

Pak Rahmat yang dari tadi hanya diam mulai bertanya, " Pak Kiayi, tujuan kita 
punya anak buat apa pak, kemaren saya tanya sama teman katanya untuk meneruskan 
keturunan, nah meneruskan keturunan untuk apa ? , maksudnya manfaatnya apa 
setelah kita tiada ? jika dikatakan untuk bisa merawat kita ketika sudah tua , 
saya dengan tabungan yang saya miliki bisa mencari perawat yang bisa merawat 
saya untuk menghabiskan sisa umur saya, apakah hanya sekedar untuk 
berbangga-bangga ? " tanya Pak rahmat yang lebih mirip pernyataan ketimbang 
pertanyaan, mungkin wujud kekecewaannya dengan anaknya yang meninggalkan ajaran 
agama.


Kiyai Lutfi hanya tersenyum karena menyadari kondisi yang dialami Pak Rahmat 
"mari kita lihat surat Al Hadiid ayat 20 yang hampir senada dengan surat Al 
Kahfi ayat 46, 'Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah 
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu 
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang 
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering 
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) 
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan 
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu, (QS 57:20)" Kiayi Lutfi 
kemudian diam sesaat, dia berusaha mencari kata yang tepat untuk disampaikan 
kepada jama'ah agar mudah di pahami .

" Secara umum kita dianjurkan memperbanyak keturunan agar bisa memperkuat 
barisan dalam menegakkan panji-panji agama Allah, menjadikan Islam sebagai 
agama rahmatan lil 'alamin, secara khusus mempunyai keturunan adalah untuk 
membela dan mendo'akan kita kepada Allah, bukankah hadist bekal menuju pintu 
kubur sudah sangat terkenal, bahwa amalan yang sampai kepada ahli kubur hanya 3 
yaitu ilmu yang bermanfaat, shodaqah jariyah yang masih terasa manfaatnya 
sampai kita telah tiada dan yang terakhir adalah doa dari anak yang sholeh, 
didalam bahasa arab anak berarti keturunan seperti bani Adam , yaitu anak 
keturunan Adam artinya anak yang sholeh tidak hanya anak kandung tetapi juga 
cucu, cicit  dan terus kebawah yang jelas ada andil kita dalam menghujamkan 
kalimatullah didada mereka, atau kasarnya kita turut dalam menumbukan keimanan 
di hati mereka" kata Kiayi Lutfi menutup pengajian malam itu karena waktu 
sholat Isya telah masuk.

Hujan baru berhenti keesokan harinya. Sawah milik petani banyak yang tergenang 
air hujan, sungai-sungai meluap sampai kejalanan. Musibah mengalami Pak Somad, 
jembatan yang dilalui sewaktu berkeliling jualan bajigur hanyut terbawa air 
sungai, Pak Somad tidak sempat menghidar dan ikut terbawa hanyut oleh derasnya 
air. Pak Somad meninggal dunia setelah kelelahan melawan arus yang menyeretnya 
ketengah sungai, para penolong yang melihat kejadian tersebut tidak sempat 
menyelamatkan nyawanya.

Jenazah Pak Somad di bawa kerumah dan anak-anaknyalah yang kemudian menyiapkan 
prosesi pemakaman mulai dari memandikan jenazah sampai mensholati nya. Kiayi 
Lutfi memimpin doa terakhir bagi jenazah sekaligus muhasabah bagi calon-calon 
penghuni kubur didepannya. Pemakaman pun berlangsung khidmat. Setelah selesai 
prosesi pemakaman Pak Rahmat mendatangi kedua anak Pak Somad yang tertua untuk 
minta ijin membiayai sekolah adik mereka yang masih belum selesai, bahkan Pak 
Rahmat berjanji setelah selesai sekolah maka biaya kuliah di kota semua akan di 
tanggung olehnya. Pak Rahmat menjadikan anak Pak Somad sebagai anak asuhnya , 
anak yang diharapkan bisa menyisakan doa untuknya disamping doa untuk kedua 
orang tuanya.

Salam 


David
  • [tqn] Investasi Pada Sebuah Doa David Sofyan