tqn  

[tqn] Seperti Gas, Beban Tergantung Wadahnya

David Sofyan
Mon, 16 Nov 2009 00:08:17 -0800

Seperti Gas, Beban Tergantung Wadahnya


Ahad pagi , sekitar jam enam sampai jam delapan,  jalanan tampak masih sepi di 
komplek perumahan yang sebagian warganya adalah karyawan pada suatu instansi 
baik itu swasta maupun negri. Tidak banyak terlihat aktifitas diluar rumah dan 
ini berbeda dengan hari kerja, dimana rutinitas telah menjadikan manusia 
bergerak secara otomastis menuju sumber matapencarian. " Bal main sepeda yuk " 
ajak Raihan kepada adiknya Iqbal. Baru saja mereka akan mengeluarkan sepeda 
dari dalam pagar tiba-tiba pot bunga yang agak besar terjatuh " Bal tolong 
pindahin pot bunga itu, biar aku yang ngeluarin sepedanya " Pinta Raihan. 
Beberapa saat kemudian tampak Iqbal berusaha memindahkan pot bunga tersebut 
dengan kesusahan. Didalam pagar kakaknya Raihan yang biasa di bantu adiknya 
Iqbal juga tampak kesusahan mengeluarkan sepeda. Berat pot bunga dan sepeda 
memang berbeda tapi kesulitan yang di timbulkannya sama karena kapasitas orang 
yang mengangkatnya hampir sama beratnya dengan benda yang diangkat.

Setiap manusia pernah menghadapi masalah dan tingkatan masalah setiap orangpun 
berbeda satu sama lain. Apa yang dianggap berat oleh seseorang bisa jadi mudah 
bagi orang lain. Beban pot yang diangkat oleh Iqbal pasti dianggap ringan oleh 
Raihan yang berusia 8 tahun, tetapi sebaliknya beban sepeda jika di pikulkan 
akan semakin berat bagi Iqbal yang masih berusia 5 tahun. Beban hidup yang 
menjadi masalah setiap orang terus berubah seiring dengan perubahan dirinya, 
baik itu perubahan fisik, perubahan pengetahuan, perubahan keimanan maupun 
perubahan ketrampilan. Tanpa beban seseorang tidak bisa merasakan perubahan 
yang ada pada dirinya. Tetapi dengan beban semua kendala tampak menjadi 
masalah, karena beban memang selalu terkondisi berada pada sisi negatif dalam 
hidup.

"priiiiiittt" tiupan pluit Pak Agus terus menemani hari-harinya sebagai polisi 
lalu lintas. " Sangat sulit membangun imej seorang diri, karena polisi adalah 
sebuah pekerjaan yang berada pada sebuah sistem. Jabatan ini di pandang begitu 
menakutkan. Setitik nila sudah bisa menghancurkan segelas susu, tetapi setitik 
susu tidak bisa merubah bentuk segelas nila " Kata Pak Agus sambil menarik 
nafas panjang memikirkan sikap sinis masyarakat dengan jabatan yang di 
pikulnya. Posisi ditakuti menjadi beban bagi polisi yang ingin mengabdi kepada 
masyarakat, sebaliknya sikap di takuti justru membanggakan bagi para preman 
yang banyak memeras dan meresahkan masyarakat. 

Kita beralih kesisi lain, beberapa tahun lalu Pak Ismet yang bekerja sebagai 
pedagang eceran kebutuhan rumah tangga mengeluh dengan beban biaya rumah tangga 
sewaktu dagangannya lesu, ketika usahanya menginjak usia sepuluh tahun Pak 
Ismet telah berubah menjadi distributor alat-alat rumah tangga dan sewaktu 
tertimpa krisis Pak Ismet mengeluh dengan modal yang terpakai untuk membayar 
gaji pegawai. Bebannya tidak lagi hanya menafkahi keluarga tetapi juga 
karyawan, sama besarnya dengan amanah yang di titipkan Sang pemberi beban.

Berbeda dengan Pak Agus dan Pak Ismet, Pak Beny yang pegawai swasta dan 
berpenghasilan dua juta rupiah sebulan sering mengeluh karena tidak bisa 
menabung untuk membeli rumah karena gajinya setiap bulan hanya pas untuk 
kebutuhan sehari-hari. Sewaktu terjadi krisis ekonomi, perusahan tempatnya 
bekerja gulung tikar dan Pak Beny berhasil mendapatkan pekerjaan di tempat lain 
dengan penghasilan lebih rendah, tetapi kebutuhan rumah tangganya tetap 
tertutupi, masalah yang dikeluhkannya tetap satu yaitu belum mampu membeli 
rumah. Ternyata kebutuhan sehari-harinya di pangkas dan disesuaikan dengan gaji 
yang di terimannya. Ketika saya tanya mengapa dahulu kebutuhannya tidak 
dipangkas sewaktu gajinya lebih baik dari sekarang buat tabungan membeli rumah, 
Pak beny hanya tersenyum dan mengatakan bahwa rasa cukup itu selalu 
berfluktuasi sesuai dengan penghasilan yang di pegang. Mungkin maksudnya rasa 
cukup dan mencukupkan itu berbeda. Apapun jawabannya Allah telah menetapkan 
beban seseorang itu sesuai dengan kemampuannya. Mudah untuk mengatakannya 
tetapi sulit itu menyakininya apalagi sewaktu kesulitan mendera kita.

"Yah mau ngajak Isa ke dokter atau mau melayat kerumah Pak Gusman kemaren sore 
istrinya meninggal dunia, dananya tinggal segini  nih " kata istri mengingatkan 
bahwa dana sangat minim dan tidak mungkin dibagi dua, karena kita pasti maklum 
biaya ke dokter anak cukup mahal mengingat penyakitnya adalah penyakit dalam 
yaitu ada flek di paru-paru. Teringat sedikit dana cadangan di Bank minggu lalu 
di pinjam teman untuk menikah " Ya sudah kita silaturahmi dulu ke rumah Pak 
Gusman lalu kerumah sakit, masalah menyumbang kita wakilkan saja lewat doa, 
bagaimana lagi kondisi belum memungkinkan " jawab saya sambil menghitung hari, 
ternyata gajian masih lama, sedangkan kita masih harus bertahan......ahhh... 
hidup memang pilihan.


Salam

David