tqn  

Re: [tqn] Seperti Gas, Beban Tergantung Wadahnya

is fattah
Mon, 16 Nov 2009 20:31:02 -0800

Salam,

Hidup memang pilihan, bahkan dalam menjalankan satu hal, kita menghadapi
banya pilihan sebelum mencapai 'hal' tersebut,.. dimana secara konsep
dasarnya adalah pilihan yg diambil adalah buah dari semua pemahaman dan
pengetahuan sekaligus tujuan hidup yg terakumulasi (tersimpan di alam bawah
sadar - sub conciousness) dalam mengambil keputusan tersebut. Inilah
definisi yg bisa disimpulkan secra umum.

Dalam hal lain, Allah berfirman : 91:8. "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu kefasikan dan ketakwaannya".
21:35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.  Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami lah kamu
dikembalikan.
Dari firman Nya, jelas sekali bahwa kebaikan dan keburukan berasalh dari
Yang Maha Berkehendak, Yang Maha Meliputi.

Kalau kita melihat dua hal tersebut, maka kita melihat 'singgungan' apakah
hidup itu 'pilihan' atau sudah 'ditentukan'?
Disinalh diperlukannya pemahaman agama yang benar2 kaffah (menyeluruh),
sehingga setiap langkah2 yg kita ambil, kita benar memahami dan tidak
bertentangan dg kehendakNya.

Dalam memahami langkah2 sehingga kita bisa memilih jalan yang "Allah ridho
dan bukan jalan orang2 yg sesat" (tercantum dalam Al Fatihah).

Jadi, apakah langkah2 (amal) kita selama ini telah sesuai dg pengharapan
kita atas ridhoNya? ataukan melulu dari nafsu?
Selama ini kita dipahami bahwa nafsu adalah sesuatu yg dalam pandangan
manusia buruk, padahal ibadahpun dilakukan dg nafsu apakah diterima Allah?

salam




2009/11/16 David Sofyan <d4v1d2...@gawab.com>

>
>
> *Seperti Gas, Beban Tergantung Wadahnya*
>
>
> Ahad pagi , sekitar jam enam sampai jam delapan,  jalanan tampak masih sepi
> di komplek perumahan yang sebagian warganya adalah karyawan pada suatu
> instansi baik itu swasta maupun negri. Tidak banyak terlihat aktifitas
> diluar rumah dan ini berbeda dengan hari kerja, dimana rutinitas telah
> menjadikan manusia bergerak secara otomastis menuju sumber matapencarian. "
> Bal main sepeda yuk " ajak Raihan kepada adiknya Iqbal. Baru saja mereka
> akan mengeluarkan sepeda dari dalam pagar tiba-tiba pot bunga yang agak
> besar terjatuh " Bal tolong pindahin pot bunga itu, biar aku yang ngeluarin
> sepedanya " Pinta Raihan. Beberapa saat kemudian tampak Iqbal berusaha
> memindahkan pot bunga tersebut dengan kesusahan. Didalam pagar kakaknya
> Raihan yang biasa di bantu adiknya Iqbal juga tampak kesusahan mengeluarkan
> sepeda. Berat pot bunga dan sepeda memang berbeda tapi kesulitan yang di
> timbulkannya sama karena kapasitas orang yang mengangkatnya hampir sama
> beratnya dengan benda yang diangkat.
>
> Setiap manusia pernah menghadapi masalah dan tingkatan masalah setiap
> orangpun berbeda satu sama lain. Apa yang dianggap berat oleh seseorang bisa
> jadi mudah bagi orang lain. Beban pot yang diangkat oleh Iqbal pasti
> dianggap ringan oleh Raihan yang berusia 8 tahun, tetapi sebaliknya beban
> sepeda jika di pikulkan akan semakin berat bagi Iqbal yang masih berusia 5
> tahun. Beban hidup yang menjadi masalah setiap orang terus berubah seiring
> dengan perubahan dirinya, baik itu perubahan fisik, perubahan pengetahuan,
> perubahan keimanan maupun perubahan ketrampilan. Tanpa beban seseorang tidak
> bisa merasakan perubahan yang ada pada dirinya. Tetapi dengan beban semua
> kendala tampak menjadi masalah, karena beban memang selalu terkondisi berada
> pada sisi negatif dalam hidup.
>
> "priiiiiittt" tiupan pluit Pak Agus terus menemani hari-harinya sebagai
> polisi lalu lintas. " Sangat sulit membangun imej seorang diri, karena
> polisi adalah sebuah pekerjaan yang berada pada sebuah sistem. Jabatan ini
> di pandang begitu menakutkan. Setitik nila sudah bisa menghancurkan segelas
> susu, tetapi setitik susu tidak bisa merubah bentuk segelas nila " Kata Pak
> Agus sambil menarik nafas panjang memikirkan sikap sinis masyarakat dengan
> jabatan yang di pikulnya. Posisi ditakuti menjadi beban bagi polisi yang
> ingin mengabdi kepada masyarakat, sebaliknya sikap di takuti justru
> membanggakan bagi para preman yang banyak memeras dan meresahkan masyarakat.
>
>
> Kita beralih kesisi lain, beberapa tahun lalu Pak Ismet yang bekerja
> sebagai pedagang eceran kebutuhan rumah tangga mengeluh dengan beban biaya
> rumah tangga sewaktu dagangannya lesu, ketika usahanya menginjak usia
> sepuluh tahun Pak Ismet telah berubah menjadi distributor alat-alat rumah
> tangga dan sewaktu tertimpa krisis Pak Ismet mengeluh dengan modal yang
> terpakai untuk membayar gaji pegawai. Bebannya tidak lagi hanya menafkahi
> keluarga tetapi juga karyawan, sama besarnya dengan amanah yang di titipkan
> Sang pemberi beban.
>
> Berbeda dengan Pak Agus dan Pak Ismet, Pak Beny yang pegawai swasta dan
> berpenghasilan dua juta rupiah sebulan sering mengeluh karena tidak bisa
> menabung untuk membeli rumah karena gajinya setiap bulan hanya pas untuk
> kebutuhan sehari-hari. Sewaktu terjadi krisis ekonomi, perusahan tempatnya
> bekerja gulung tikar dan Pak Beny berhasil mendapatkan pekerjaan di tempat
> lain dengan penghasilan lebih rendah, tetapi kebutuhan rumah tangganya tetap
> tertutupi, masalah yang dikeluhkannya tetap satu yaitu belum mampu membeli
> rumah. Ternyata kebutuhan sehari-harinya di pangkas dan disesuaikan dengan
> gaji yang di terimannya. Ketika saya tanya mengapa dahulu kebutuhannya tidak
> dipangkas sewaktu gajinya lebih baik dari sekarang buat tabungan membeli
> rumah, Pak beny hanya tersenyum dan mengatakan bahwa rasa cukup itu selalu
> berfluktuasi sesuai dengan penghasilan yang di pegang. Mungkin maksudnya
> rasa cukup dan mencukupkan itu berbeda. Apapun jawabannya Allah telah
> menetapkan beban seseorang itu sesuai dengan kemampuannya. Mudah untuk
> mengatakannya tetapi sulit itu menyakininya apalagi sewaktu kesulitan
> mendera kita.
>
> "Yah mau ngajak Isa ke dokter atau mau melayat kerumah Pak Gusman kemaren
> sore istrinya meninggal dunia, dananya tinggal segini  nih " kata istri
> mengingatkan bahwa dana sangat minim dan tidak mungkin dibagi dua, karena
> kita pasti maklum biaya ke dokter anak cukup mahal mengingat penyakitnya
> adalah penyakit dalam yaitu ada flek di paru-paru. Teringat sedikit dana
> cadangan di Bank minggu lalu di pinjam teman untuk menikah " Ya sudah kita
> silaturahmi dulu ke rumah Pak Gusman lalu kerumah sakit, masalah menyumbang
> kita wakilkan saja lewat doa, bagaimana lagi kondisi belum memungkinkan "
> jawab saya sambil menghitung hari, ternyata gajian masih lama, sedangkan
> kita masih harus bertahan......ahhh... hidup memang pilihan.
>
>
> Salam
>
> David
>
>
>
>
>
>
>  
>