tqn  

[tqn] CAHAYA LANGIT: MERASA DIRI PALING MERANA

bobby herwibowo
Thu, 28 Jan 2010 19:32:53 -0800

MERASA DIRI PALING MERANA
 
Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan 
saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita 
dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat 
bermanfaat ini.
Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. 
Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia 
idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat 
Ra'fat mengalami penyakit di atas.
Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia 
kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak 
waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh 
juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti 
seorang pesakitan.
Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke 
sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat 
ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka 
saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi 
segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter 
menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.
"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil 
mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.
Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau 
operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara 
saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya 
kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya 
banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian 
sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.
Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda 
tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya 
tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali 
dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda 
akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."
Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo 
itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi 
berangkat menuju tanah airnya.
Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang 
yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk 
meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat 
yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah 
dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."
Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka 
menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka 
cintai dan kagumi ini.
Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak 
berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan 
kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling 
merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia 
membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak 
yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada 
yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada 
guna... semuanya sia-sia!"
Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah.  Ia hanya mampu 
perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir 
kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia 
yang paling merana di dunia.
Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan 
memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil 
itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan 
berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan 
terlupakan untuk Ra'fat.
Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita 
berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah 
berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung 
plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi 
mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara 
tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di 
pinggiran tulang.
Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa 
ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita 
itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka 
ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.
Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang 
wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya 
membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan 
tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.
Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut 
namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut 
dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"
Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak 
peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi 
hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil 
daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku 
ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun 
hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah 
yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan 
untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging 
yang lezat buat mereka...."
Subhanallah....! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan 
kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia 
yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko 
daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas 
toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam 
seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"
Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan 
kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. 
Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat 
sorot pandang.
Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun 
berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak 
cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun 
penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi 
lalu ia serahkan kepada petugas tadi.
Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah 
langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil 
mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:
"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan 
karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan 
akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu 
yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan 
batin.....dst"
Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu 
terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas 
doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai 
merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan 
sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah 
kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran 
air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., 
apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.
Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap 
dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, 
keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan 
gagah seperti manusia sehat sediakala!!!
Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di 
atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang 
wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.
Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan 
meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit 
liver akut yang diderita.
Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, 
"Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu 
ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."
Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk 
menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan 
kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.
Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya 
kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah 
disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. 
Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya 
keheranan kepada Ra'fat dan keluarga: 
"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan 
harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini 
menjadi sempurna lagi?!"
Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali 
terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. 
Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan 
begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun 
akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan 
merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!
Cahaya Langit, 
Bobby Herwibowo
www.kaunee.com
0817200456