unair
UNAIR: Bhinneka Tunggal Ika dan"Passing Over" Spiritualitas Bung Karno
- Dari: W P
- Judul: UNAIR: Bhinneka Tunggal Ika dan"Passing Over" Spiritualitas Bung Karno
- Tanggal: Sat, 02 Jun 2001 17:17:48 -0700
An archive of all of the messages sent to the UNAIR List is available at:
http://www.mail-archive.com/unair@itb.ac.id/
From: "W P" <[EMAIL PROTECTED]>
Bhinneka Tunggal Ika dan"Passing Over" Spiritualitas Bung Karno
Bambang Noorsena
Setelah dahulu pada zaman-zaman sebelumnya Brahma-Wishnu-Ishwara menjelma
dalam berbagai raja-raja di dunia, kini pada zaman kaliyuga turunlah Sri
Jinapati (Buddha) untuk meredakan amarah Kala. Sebagaimana Sidharta Gautama,
sebagai titisan Sri Jinapati, Sutasoma putra Mahaketu raja Hastina,
keturunan Pandawa, meninggalkan kehidupan istana dan memilih hidup sebagai
seorang pertapa.Pada suatu hari, para pertapa mendapat gangguan dari
Porusada, raja raksasa yang suka menyantap daging manusia. Mereka memohon
kepada Sutasoma untuk membunuh raksasa itu, tetapi permintaan itu
ditolaknya. Setelah dalam olah spiritualnya Sutasoma mencapai kemanunggalan
dengan Buddha Wairocana, akhirnya ia kembali ke istana dan dinobatkan
menjadi Raja Hastina. Sementara itu, Porusada yang ingin disembuhkan dari
sakit parah pada kakinya, bernazar akan mempersembahkan seratus raja sebagai
santapan Bathara Kala. Tetapi, Sutasoma menyediakan diri disantap oleh Kala,
asalkan seratus raja itu dibebaskan. Kerelaan ini sangat menyentuh hati
Kala, bahkan Porusada pun menjadi terharu. Dewa Siwa yang menitis pada
Porusada akhirnya meninggalkan tubuh raksasa itu, karena disadarinya bahwa
Sutasoma adalah Buddha sendiri. Mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal,
Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa (Hakikat Buddha dan hakikat
Siwa adalah satu, berbeda-beda dalam perwujudan eksoterisnya tetapi secara
esoteris satu. Tidak ada dualisme dalam kebenaran agama).
SUATU malam di tahun 1962, bertempat di Pura Ubud, tatkala langit Pulau
Dewata cerah bermandikan cahaya purnama. "Saya sangat terkesan dengan ucapan
Sutasoma tadi," kata Bung Karno usai pementasan wayang sambil menghampiri I
Nyoman Granyam, seorang dalang dari Sukawati, yang khusus diundangnya untuk
melakonkan Porusaddhasanta (Porusada yang ditenangkan) atau yang lebih
dikenal dengan lakon Sutasoma itu.
Lalu Bung Karno mensitir ungkapan bahasa Jawa kuno yang dimaksud, "Nanging
hana pamintaku uripana sahananing ratu kabeh" (Tetapi permohonanku,
hidupkanlah raja-raja itu semua). Itulah ucapan Sutasoma kepada raksasa
Porusada, sambil menyerahkan dirinya sebagai santapan Kala, asal seratus
raja itu dibebaskan.
Ada dua hal yang perlu digarisbawahi dari penggalan karya Mpu Tantular ini.
Pertama, dari karya Tantular ini berasal dari istilah "mahardhika" (yang
menjadi asal kata merdeka), "Pancasila" dan seloka "bhinneka tunggal
Ika"-ungkapan yang menurut Dr Soewito dalam tulisannya Sutasoma, A Study in
Javanese Wajrayana (1975)- "is a magic one of great significance and it
embraces the sincere hope the whole nation in its struggle to become great,
unites in frame works of an Indonesian Pancasilaist community".
Kedua, perhatian yang diberikan Bung Karno pada ucapan Sutasoma yang rela
mengorbankan dirinya sendiri demi kesejahteraan umat manusia. Yang kedua ini
juga tidak kurang penting, sebab ternyata jalan yang sama akhirnya ditempuh
oleh Bung Karno demi menyelamatkan bangsanya dari pecahnya "perang saudara"
pasca-Gestok (Gerakan 1 Oktober) 1965. Jadi, yang pertama terkait erat
dengan pandangan religi Bung Karno, khususnya dalam melacak
pandangan-pandangan dasar keagamaannya, sedangkan yang kedua menyangkut
religiusitas atau penghayatan keagamaannya.
Memang, kini ungkapan Bhinneka Tunggal Ika tercantum sebagai seloka dalam
lambang negara kita dalam makna kebangsaan yang lebih kompleks. Akan tetapi,
makna semula ungkapan ini penting kita kedepankan kembali, justru karena
secara khusus kita kaitkan dengan wacana religi dan religiusitas Bung Karno
di atas. Begitu juga, istilah Pancasila yang juga tercantum dalam karya
Tantular ini, aslinya berasal dari kelima hukum moral Buddhis: "Pancasila ya
gegen den teki away lupa" (Pancasila harus dipegang teguh jangan sampai
dilupakan). Salah satu sila dari Pancasila Buddhis adalah larangan untuk
membunuh sesama makhluk hidup (Panapati vermanai sikkapadam samadiyami) yang
kiranya menjiwai kisah Sutasoma dan mengilhami pilihan moral Bung Karno
untuk lebih baik dirinya sendiri tenggelam demi keutuhan bangsa dan negara
yang sangat dicintainya.
Bung Karno di mata kawan dan lawan politiknya
Bung Karno adalah sosok yang total kontroversial. Di mata lawan-lawan
politiknya di Tanah Air-nya sendiri, ia dianggap mewakili sosok politisi
kaum abangan yang "kurang islami". Mereka bahkan menggolongkannya sebagai
gembong kelompok "nasionalis sekuler". Akan tetapi, di mata Syeikh Mahmud
Syaltut dari Cairo, penggali Pancasila itu adalah Qaida adzima min quwada
harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan
kemerdekaan di negeri-negeri Islam). Malahan, Demokrasi Terpimpin, yang di
negerinya sendiri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh al-Azhar itu
sebagai, "lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa' allatiy ja'alha
al-Qur'an sya'ana min syu'un al-mu'minin" (tidak lain hanyalah salah satu
gambaran dari permusyawaratan yang dijadikan oleh Al Quran sebagai dasar
bagi kaum beriman).
Di mata lawan politiknya di Barat, seperti tampak dari ucapan Willard A
Hanna, Bung Karno adalah "politisi tanpa identitas dan tanpa prinsip, yang
berpadu dalam dirinya nabi dan playboy, tukang sulap dan tukang obat".
Tetapi, orang-orang Arab menamakannya ra'is, dan orang-orang Mesir di Kota
Cairo menjulukinya al-hakim. Tak seorang pun meragukan popularitasnya di
negeri-negeri Islam itu. Nama besar Bung Karno diabadikan antara lain dalam
Qamus al-Munjid. Konon, hanya dua tokoh Indonesia yang dicatat dalam kamus
karya Louise Ma'louf, seorang Arab-Kristen itu. Soekarno, dan satunya lagi
Syeikh Nawawi al-Bantani.
Tatkala memuncaknya ketegangan antara Israel dan negara-negara Arab soal
status Palestina, pers sensasional Arab yang salah paham dengan pencabutan
sebutan Deicidium (pembunuh Tuhan) kepada kaum Yahudi, menyambut Bung Karno,
"Juara untuk kepentingan-kepentingan Arab telah tiba". Pada pihak lain,
Tahta Suci Vatikan sendiri memberikan kepadanya tiga gelar penghargaan
kepada presiden pertama dari Republik yang mayoritas Muslim itu.
Gaya religius Bung Karno
Relevansi mengemukakan faham keagamaan Bung Karno ini, minimal terkait erat
dengan pertanyaan: Seberapa jauhkah peranannya dalam menentukan masa depan
Indonesia, berangkat dari pluralisme agama yang merupakan problem tersendiri
apabila tidak diberikan perhatian khusus dalam membangun sebuah bangsa?
Kenyataan ini dikemukakan, dengan sepenuhnya menyadari bahwa mengemukakan
spiritualitas Bung Karno adalah juga merupakan bagian dari kontroversi itu
sendiri.
"Gaya religius Soekarno adalah gaya Soekarno sendiri," tulis Clifford Geertz
dalam Islam Observed (1982). Betapa tidak? Kepada Louise Fischer, Bung Karno
pernah mengaku bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu. Di mata
pengamat seperti Geertz, pengakuan semacam itu dianggap sebagai "bergaya
ekspansif seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia". Sebaliknya, ungkapan
semacam itu-pada hemat BJ Boland dalam The Struggle of Islam in Modern
Indonesia (1982)-"hanya merupakan perwujudan dari perasaan keagamaan
sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya Jawa". Bagi penghayatan spiritual
Timur, ucapan itu justru "merupakan keberanian untuk menyuarakan berbagai
pemikiran yang mungkin bisa dituduh para agamawan formalis sebagai bidah".
Ungkapan Bung Karno ini, di mata para penghayat tasawuf bukanlah hal yang
asing. Dengarlah, Ibn Al-'Arabi (1076-1148) mendendangkan kesadaran yang
sama. "Laqad shara qalbiy qabilan kulla shuratin, famar'a lighazlanin wa
diir liruhbanin wa baytun li autsanin wa ka'batu thaifi wal wahu tawrati wa
mushafu qur'anin (Hatiku telah siap menerima segala simbol, apakah itu biara
rahib-rahib Kristen, rumah berhala, Kabah untuk thawaf, lembaran Taurat atau
mushaf Al Quran).
"Panteis-monoteisme" Bung Karno?
Ketika menerima gelar doctor honoris causa (doktor kehormatan) di
Universitas Muhammadiyah, Jakarta, Bung Karno menyebut bahwa tauhid yang
dianutnya sebagai Panteis-monoteis. Bung Karno yakin bahwa Tuhan itu satu,
tetapi Ia hadir dan berada di mana-mana. Tentu saja di kalangan Islam dan
Kristen, istilah panteisme ini bisa mengundang salah paham. Kontan saja,
orang langsung menghubungkannya dengan sosok legendaris Syekh Siti Jenar,
"Al-Hallaj"-nya orang Jawa.
Di satu pihak, dalam berbagai kesempatan Bung Karno mengritik paham kalam
asy'ariyah mengenai ketidakcukupan 20 sifat Allah, berbareng dengan
kritiknya terhadap paham taqlid dan kejumudan-kejumudan kaum tradisionalis
pada zamannya. Kritik Bung Karno ini bisa dilacak dari kegandrungannya pada
paham rasionalisme Islam klasik Mu'tazilah dan pemikiran-pemikiran pembaru
Islam khususnya Jamaluddin al-Afghani. Tetapi pada pihak lain, Bung Karno
tidak bisa melepaskan diri dengan warisan keagamaan Jawa yang sangat kental
berciri mistik.
Karena itu, menarik sekali dalam deskripsinya mengenai tauhid, Bung Karno
merujuk juga Baghawad Gita. "The Gospel of Hinduism" itu pun dikutipnya
begitu bebas, sambil di sana-sini membuat penekanan dengan frasa-frasa
buatannya sendiri. Tuhan ada di mana-mana. Bahkan juga, Bung Karno mengutip
sabda Khrsna:
"I am in the smile of the girl" (pada pidato di tempat lain, "Ik ben in de
glimlach van het meisje"-Aku ada dalam senyum simpul gadis yang cantik).
Tetapi, frasa ini ternyata ciptaan Bung Karno sendiri, dari kata aslinya
dalam bahasa Sansekerta: "tejas tejaswinam aham". Di antara semua keindahan,
Akulah kecantikan" (Bhagawad Gita X,36). Menurut saya, Bung Karno belum
sampai menjadi seorang panteis tulen, atau menganut monisme radikal-menurut
istilah PJ Zoetmulder SJ-yang sama sekali menyangkal bahwa segenap realitas
itu lebur menyatu tanpa dualitas.
Sebab di mata Bung Karno, penekanan pada aspek tasybih (imanensi) Tuhan,
sama sekali tidak menghapuskan aspek tanzih (transendensi)-Nya. Barangkali,
istilah yang tepat untuk menggambarkan keyakinan Bung Karno adalah
"panentheisme" (pan, "segala sesuatu"; en, "dalam" dan theos, "Tuhan").
Jadi, segala sesuatu ada dalam Tuhan. Maksudnya, totalitas segenap realitas
yang diciptakan ada dalam Tuhan, tetapi Tuhan sendiri melebihi totalitas
tersebut. Kita dapat membandingkannya dengan ucapan Imam al-Ghazali (wafat
1111), At Tauhid al-khalis an layaraha fii kulli syai'in ilallah (Tauhid
sejati adalah penglihatan atas Allah dalam segala sesuatu). Juga, menurut
Ibn al-'Arabi, segenap alam semesta adalah tajjali atau penampakan dari
Allah.
Indonesia sebagai sebuah mitos
Akan tetapi, apa pun rincian dari perkembangan legitim dalam faham
teologisnya, yang jelas dengan latar belakang pandangan teologisnya itu,
Bung Karno sangat mengakrabi alam semesta. Dan kunci untuk mengerti hal itu
adalah Tat Twam Asi (Aku adalah dia, dia adalah aku). Mencintai sesama
berarti mencintai Tuhan, bahkan mencintai alam berarti mencintai
Pencipta-Nya. Dan cinta Bung Karno terhadap kosmos itu diawali dari Bumi
tempat kakinya berpihak, Bumi pertiwi Indonesia yang disapanya dengan takjub
dan hormat sebagai "Ibu". Bagi Bung Karno, Indonesia telah menjadi sebuah
mitos. Mungkin karena itu, Agus Salim dan A Hassan mengkhawatirkan
nasionalisme Bung Karno akan jatuh kepada faham ashabiyah (spirit of clan),
yang menjurus kepada tindakan syirk atau pemberhalaan.
Lebih jelas lagi, kita bisa mengikuti deskripsi Bung Karno mengenai
nasionalisme Indonesia yang diungkapkan begitu berapi-api: "Bukan saya
berkata Tuhan adalah Indonesia", kata Bung Karno, "tetapi Tuhan bagiku
tercermin pula dalam Indonesia". Sang Putra Fajar itu tidak dapat menahan
hentakan-hentakan gelora jiwa dalam dadanya yang begitu mencintai negerinya,
sampai harus bercakap akrab dan berdendang takjub dengan sungai-sungainya,
pohon-pohonnya, langit biru dan awan gemawannya, ombak laut dan
pantai-pantainya. Singkat kata, di mata Bung Karno, Indonesia adalah satu
totaliteit daripada segala perasaan yang terkandung dalam kalbu yang
membuatnya rela untuk berjuang.
Gambaran ini, seperti pernah ditulis Bung Karno sendiri, mengingatkan kita
pada sebuah seloka dari Ramayana karya pujangga Valmiki, mengenai cinta dan
bakti kepada Janani Janmabhumi- yaitu agar setiap orang mencintai Tanah
Airnya seperti ia mencintai ibu kandungnya sendiri. Meskipun sikap ini bisa
ditafsirkan secara ekstrem, seperti pembelaan Kumbakarna terhadap negeri
Alengka yang diteladankan dalam Serat Tripama (karya Mangkunegara IV).
Ksatria berwujud raksasa ini ketika terjadi perang antara Rama dengan
Rahwana, akhirnya tetap membela Tanah Airnya. Alasannya, bukan karena ia
mendukung kejahatan Rahwana, tetapi karena ia tidak tega melihat Tanah
Airnya: yang sumur dan ladangnya sehari-hari ia makan dan minum itu,
diinjak-injak oleh pasukan musuh, sekalipun musuhnya itu berada di pihak
yang benar. Sikap Kumbakarna ini, bisa saja diartikan sebagai sikap right or
wrong my country. Namun, Bung Karno tidak akan sampai menafsirkan
nasionalisme dalam makna seekstrem itu, karena penolakannya yang tegas
terhadap chauvinisme, dan sebagai gantinya Bung Karno menawarkan sebuah
"nasionalisme yang tumbuh subur dalam tamansari perikemanusiaan". My
Nasionalism is humanity, begitu ucapan Gandhi yang acap dikutipnya.
Spiritualitas Bung Karno juga berciri "sakramentalis". Sebagaimana nabi-nabi
semitis dari zaman dahulu, Bung Karno "believed in the beauty of holiness"
(percaya kepada kecantikan dari keagungan), berbeda dengan orang-orang
Yunani yang "believed in the holiness of beauty" (percaya pada keagungan
dari kecantikan) sehingga memberhalakan alam itu (Max I. Dimont, 1995).
Sebagaimana "jiwa kosmis" Fransiskus dari Asisi, alam raya dinilainya bukan
hanya bernilai profan, melainkan sekalian makhluk adalah sakramen Sabda
Ilahi yang menunjuk kepada pribadi Ilahi. Dalam diri Bung Karno, gaya
religiusnya yang unik ini: "religius intelektual artistik"-menurut istilah
Clifford Geertz-tidak dapat dilepaskan dari warisan tradisionalisme Jawa dan
darah seni Bali dari ibunya. "Ingat, aku adalah anak Ida Ayu Nyoman Rai,
keponakan Raja Singaraja, wanita dari Bali", kata Bung Karno pada suatu
saat.
Tak ayal, Bung Karno, seperti para pujangga Jawa kuno (yang karya-karyanya
masih dilestarikan di Bali)-"berbakti kepada keindahan" (ahyun ing
kalangwan) karena keyakinan bahwa Tuhan sendirilah "tattwa ning lango" (inti
segala keindahan). Bukankah para sufi mendendangkan tembang yang sama? Tidak
seorang pun dari mereka yang berzikir mengagungkan asma-Nya, kecuali
bersenandung dengan syair-syair mereka. Kullu jamilun min jamalullah (Semua
keindahan adalah berasal dari keindahan Allah). Juga, Inallaha jamilun wa
yahibuj jamal (Allah itu mahaindah dan mencintai keindahan).
"Passing over" spiritualitas Bung Karno
Latar belakang warisan keluarga Soekarno seperti yang diuraikan di atas,
sudah barang tentu membentuk dan menentukan sosialisasi pemikiran keagamaan
selanjutnya. "Spiritualitas semesta" (holistic spirituality) Bung Karno
itu-untuk tidak menyebutnya sinkretisme (percampuran) agama-agama, suatu
istilah yang sama sekali tidak tepat dalam menggambarkan kecenderungan dasar
pemikiran Jawa yang sebenarnya-khususnya tampak dari bahasa teologisnya yang
"melintas batas" (passing over) berbagai agama dan tradisi spiritual. Hal
itu tampak dari pidato-pidato tanpa teks, ketika ia mengemukakan
perbandingan-perbandingan dari berbagai agama, tamsil-tamsil dari ajaran
Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha. Ayat-ayat suci itu dikutipnya bahkan di
luar komunitas agama yang menganutnya. Misalnya, tanpa ragu-ragu ia mengutip
Injil atau Bhagawad Gita di forum Islam.
Warisan keberagaman itu bukan diterimanya sebagai kontradiksi atau
pertentangan, sebaliknya sebagai suatu kekayaan rohani berdasarkan
kesadarannya akan kesatuan transendental agama-agama. Dalam menggembleng
rakyatnya, Bung Karno, misalnya sering mengutip Al Quran. ar Ra'd 11:
Innallaha laa yughayiru maa bi qaumin hatta yughayiru ma bi anfusihim (Allah
tidak mengubah nasib sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah sendiri
nasibnya). Tetapi kita juga mendengar dari Bung Karno kutipan dari Bhagawad
Gita (II,47) ketika menekankan prinsip yang sama: Karmany ewadhikaras te
maphalesu kadacana (Berjuanglah dengan tanpa menghitung-hitung untung rugi
bagimu).
Bahkan Bung Karno pernah membuat terperanjat Mr Siegenbeek van Heukelom yang
mengadilinya di Landraad Bandung tahun 1930. "Ik ben een revolutionaire"
(Saya seorang revolusioner), tegas Bung Karno. Tetapi kata dia selanjutnya:
"Ik werk niet met bommen en granaten" (Saya bekerja tanpa bom dan granat).
Hakim kolonial itu sangat kaget, karena Bung Karno menyebut bahwa Yesus
adalah seorang yang revolusioner, meskipun Ia bekerja tanpa kekerasan.
"Revolusi", kata Bung Karno, adalah "eine Umgestaltung von Grundaus"
(perubahan sampai ke akar-akarnya), baik dalam hal politik maupun dalam
ajaran keagamaan. Dalam suatu pidatonya, Bung Karno di luar kepala dapat
menghapal Injil Yohanes Pasal 1 dalam bahasa Belanda.
Sebagai seorang Muslim, Bung Karno meyakini petunjuk-petunjuk wahyu dalam
Al Quran dan Hadits, tetapi ayat-ayat suci berbagai agama tersebut juga
turut memperkaya spiritualitasnya. Hal itu dapat dimengerti, sebagaimana
ditulis Cindy Adams, karena kesadaran Bung Karno bahwa kebenaran itu tunggal
dan satu-satunya suara kemanusiaan adalah Kata dari Tuhan (Sukarno An
Autobioghraphy, 1965).
Menariknya, seperti diungkapkannya sendiri, spiritualitasnya yang begitu
luas dan "melintas batas" agama-agama itu, lahir dari "mi'raj-nya dunia
pemikiran", sebagaimana pendakian seorang salik juga disebut "uruj mir'raj".
Hua al-khuruj 'an kulli syai'in siwallah (Keluar dari segala sesuatu yang
bukan Allah). Bung Karno memakai ungkapan sejajar, "Saya naik ke langit,
mi'raj dalam dunianya pemikiran. Bung Karno, in the world of the mind,
bertemu dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Thomas Jefferson, Garibaldi,
Mustafa Kemal Atarturk, Mustafa Kamil, Karl Marx, Engel, Stalin, Trosky,
Dayananda Saraswati, Krisna Ghokale dan Aurobindo Gosye. Kalau ada hadits
Nabi berbunyi Utlubul ilma' wa lau bissin (Tuntutlah ilmu sampai ke negeri
Cina), Bung Karno juga in the world of the mind pergi ke Tiongkok "minum teh
bersama Sun Yat Sen", atau mengalami saat-saat "duduk bersila dengan
Gandhi".
Meskipun Bung Karno menimba, menimba dan menimba dari tokoh-tokoh "negeri
seberang" itu, namun akhirnya Bung Karno kembali ke realiteit-nya Indonesia,
tatkala pada saatnya ia harus menentukan masa depan dan kelangsungan bangsa
menghadapi kenyataan pluralisme yang menjadi warisan sejarah beratus-ratus
tahun, termasuk di dalamnya pluralisme agama.
Ketika Ernest Renan mengucapkan pidatonya yang terkenal di Sorbone tahun
1882, "Qu'est ce qu'une Nation" (Apakah suatu bangsa itu?), salah satu aspek
yang ditekankannya adalah bahwa nasionalisme modern tidak dapat lagi
didasarkan atas kesamaan agama. Pada zaman itu, agama masih menjadi unsur
perekat negara Belgia yang berdiri tahun 1830. Dari pidato Renan ini,
bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia, telah menggali konsepnya tentang
hakikat suatu bangsa. Meskipun Bung Karno menimba konsep nasionalisme dari
Renan, namun nasionalisme Indonesia mendapat pijakan historis yang lebih
kokoh. Bukan hanya baru abad ke-19, tetapi sejak zaman Majapahit, Mpu
Tantular, tidak hanya telah diletakkan landasan politis bagaimana mengatasi
pluralisme agama, melainkan malah sudah dikembangkan landasan teologis yang
lebih memadai.
Bung Karno juga "berdialog spiritual" dengan Mpu Tantular, lalu
dikembangkanlah kesadaran yang kini oleh teolog agama-agama acap disebut
sebagai philosophia perennis yang meyakini bahwa kebenaran abadi berada di
pusat semua tradisi spiritual, apakah itu sanatha dharma dalam Hinduisme,
al-hikmah al-khalidah dalam istilah sufi Islam, atau logos spermatikos
(benih sabda Ilahi) dalam pemikiran patristik Kristen. Sesungguhnya
kebenaran itu satu dan tidak terbagi, meskipun mewujud dalam simbol-simbol
yang secara eksoteris berbeda-beda. Prinsip kasunyatan Tantular ini, oleh
Bung Karno diterjemahkan secara politis dalam sila "Ketuhanan Yang Maha Esa"
dalam Pancasila, berbareng dengan dibabtisnya seloka Bhinneka Tunggal Ika
dalam lambang negara. Dengan sila pertama itu, Bung Karno telah membebaskan
bangsanya dari "keharusan menantikan pesawat penyelamat dari Moskwa atau
seorang kalifah dari Istanbul". Maksudnya, Indonesia tidak menjadi negara
Islam, karena bertentangan dengan realitas kemajemukan bangsa, tetapi juga
bukan negara sekuler, karena melawan degup hati sanubari rakyat yang sangat
religius.
Relung-relung religiusitas Bung Karno
Bukan rahasia lagi, Bung Karno dijatuhkan oleh sebuah creeping coup d'etat
(kudeta merangkak) yang dirancang sangat sistematis. Pada hari-hari
terakhirnya, Bung Karno harus menjalani via dolorosa (jalan sengsara) di
sebuah "karantina politik". Sendiri dan sepi. Bung Karno tetap menjadi Bapak
yang mencintai semua rakyatnya, meskipun orang-orang di sekelilingnya telah
mengkhianatinya. Saat itu, di tengah-tengah badai fitnah dan ancaman
pecahnya perang saudara, ibu pertiwi laksana harimau lapar hendak memangsa
anaknya sendiri. Dan seperti Sutasoma, Bung Karno justru menyerahkan dirinya
sendiri, rela tenggelam demi keutuhan bangsa dan negaranya. "Cak Ruslan,
saya tahu saya akan tenggelam. Tetapi ikhlaskan Cak, biar saya tenggelam
asalkan bangsa ini selamat, tidak terpecah belah", tegasnya kepada Ruslan
Abdulgani.
Bung Karno sadar, pilihan moral itu ibarat salib yang harus dipikulnya
menuju "puncak Kalvari politik yang kejam". Masih menurut Cak Ruslan, Bung
Karno terakhir kali menerima delegasi mahasiswa dari GMKI dan PMKRI pada
tahun 1967. Pada waktu itu Bung Karno mengutip sabda Yesus: "Lihat, Aku
mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah
kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati". Juga, "Mereka akan
menyesah kamu, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja"
(Injil Matius 10:16-18). Maka Bung Karno menempuh jalan ahimsa (tanpa
kekerasan), ketika drama pengalihan kekuasaan itu bahkan hanya berlangsung
2-3 babak saja. Semua berjalan begitu cepat dan rapi. Sang Penyambung Lidah
Rakyat pun akhirnya tenggelam, meskipun Orde Baru yang "menjambret"
kekuasaannya tidak pernah mampu menguburkan pengaruhnya yang besar. Demikian
jiwa kenegarawanan Bung Karno. Sejarah juga mencatat, dengan
spiritualitasnya yang lapang, terbuka, inklusif dan toleran itu, Bung Karno
telah berhasil mempersatukan bangsa yang majemuk ini menjadi satu.
Kini di tengah-tengah fenomena politisasi agama pada tahun-tahun terakhir,
kita diingatkan dengan semboyan kaum sufi yang kiranya dapat kita terapkan
untuk Bung Karno: "ash Shufi laa madzaba lahu ila madzab al-haqq"-seorang
sufi tidak mempunyai religi kecuali religi Kebenaran.
* Bambang Noorsena Penulis buku Religi dan Religiusitas Bung Karno, pendiri
Institute for Syriac Christian Studies (ISCS).
Kompas CyberMedia
Jumat, 1 Juni 2001
----------------------------------------------------------------------------
----
© C o p y r i g h t 1 9 9 8 Harian Kompas
"What sets worlds in motion is the interplay of differences, their
attractions and repulsions; life is plurality, death is uniformity."
- Octavio Paz
__________________________________________
Unsubscribe: mailto:[EMAIL PROTECTED]
with "unsubscribe UNAIR" in the body of message
Admin: mailto:[EMAIL PROTECTED]
- UNAIR: Bhinneka Tunggal Ika dan"Passing Over" Spiritualitas Bung Karno,
W P