H. M. Nur Abdurahman
Sat, 13 Mar 2010 18:45:37 -0800
HMNA:
Kalau Arcon pintar membaca, maka dalam Seri 656 di bawah, ada pendapat saya
yang menyatakan tidak sependapat dengan Luxenberg
***********************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
656 Menjawab Tangan-Tangan Gurita
Sebermula, perlu kiranya pembaca menengok kembali Seri 655 yang baru lalu.
Metode yang termaktub dalam Al Quran, yaitu metode yang eksak secara matematis,
sistem keterkaitan 19, seperti yang sering dibahas dalam Serial ini:
-- 'ALYHA TS'At 'ASyR, (S. ALMDTSR, 74:30), dibaca: 'alayha- tis'ata 'asyara,
artinya: Padanya sembilan belas, lebih "sophisticated" dari metode
hermeneutika. Mengapa? Karena metode hermeneutika hanya sampai membicarakan
kata, akan tetapi metode Al Quran bukan hanya sampai pada kata, tetapi sampai
kepada huruf dan bilangan, sedangkan pada Bible orang tidak bisa bicara huruf,
dalam bahasa apa dan huruf mana dari Bible yang akan diambil jadi obyek
pembahasan?
Perkara para penafsir Injil (bukan Injil saja, melainkan Bible secara
keseluruhan -HMNA-) sudah berdamai dengan metode hermeneutika, maka mengapa
para penafsir Al Quran tidak mau legowo berdamai pula dengan metode
hermeneutika ini, seperti dikehendaki oleh Ari Condro, maka dengan tegas saya
jawab: Itu urusan ummat Nashrani mau berdamai dengan hermeneutika, tetapi para
penafsir Al Quran tidak perlu dan tidak ada gunanya berdamai dengan
hermeneutika dengan argumentasi seperti berikut:
-- pertama, ketiadaan bahasa asal Bible dewasa ini(*), maka mau tidak mau, suka
atau tidak suka para theolog Yahudi dan Nashrani mencari jalan dan metodologi
untuk memahami kembali Bible melalui hermeneutika, sedangkan bahasa asal Al
Quran tetap exist, bahkan bahasa Arab itu hidup karena pengaruh yang dihidupkan
oleh bahasa Al Quran (bandingkan dengan nasibnya bahasa yang dipakai dalam
Taurah, yaitu bahasa 'Ibriyyah (Hebrew) kuno yang telah mati, nasibnya bahasa
yang dipakai dalam Injil, yaitu bahasa Aram yang telah mati, dan nasibnya
bahasa yang dipakai dalam Veda, yaitu bahasa Sangsekerta yang telah mati).
-- kedua, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus berdamai, berhubung di
dalam Bible tidak ada termaktub tentang metode yang menentang metode
hermeneutika ini, sedangkan seperti dikemukakan di atas dalam Al Quran ada
termaktub metode yang eksak secara matematis, yaitu metode sistem keterkaitan
19 untuk melawan metode hermeneutika yang antara lain berupaya dengan sia-sia
untuk membongkar keotentikan mushhaf (teks) Al Quran Rasm 'Utsmaniy, seperti
yang diupayakan oleh Taufik Adnan Amal MA (TAA), dalam karya otaknya berjudul
"Al Quran Antara Fakta dan Fiksi" tersebut.
-- ketiga, tidak sama dengan Bible yang memfokus pada teks, maka dalam Al-Quran
(dari QRA=bacaan) titik tolaknya adalah hafalan yang dibaca, teks mengacu pada
bacaan, dan ini di luar domein hermeneutika.
Maka asas paralelisme Abu Zayd dan Ari Condro yang memparalelkan Al Quran
dengan Bibel tersungkurlah sudah dengan ketiga argumentasi di atas itu.
Akan diberikan sebuah contoh di antara sekian banyak contoh yang telah
dikemukakan dalam Kolom yang saya asuh ini. Khusus untuk menjawab bahasa
gaulnya Muh Syafei yang nyleneh tersebut, saya ulang menulisnya: Apa iya kritik
matan Hadits bisa dibawa ke tingkat yg lebih tinggi (Quran)? Mestinya sih bisa
ya .. cuman, resistensinya itu lho .. mana tahan. Maka ini jawaban saya: Bukan
mana tahan, tetapi ditahan oleh sistem keterkaitan matematis 19. Memang ada
perbedaan antara Al Quran dengan Hadits, pertama dari segi balaghah bahasa Al
Quran lebih tinggi dari bahasa yang dipakai dalam Hadits, kedua dalam hal Al
Quran substansi dan redaksionalnya (teks) otentik, sedangkan dalam hal Hadits
substansinya yang otentik, tetapi teksnya tidak, sehingga adab mengucapkan atau
menuliskan Hadits dianjurkan ditambah dengan aw kamaa qaala (atau seperti yang
dikatakan). Mengapa saya katakan kritik matan (teks) Al Quran bukan mana tahan
tetapi ditahan?
Mari kita kritik kata BSM (bismi) dalam BSM ALLH ALRHMN ALRHYM. Sebenarnya
BSM harus terdiri dari 4 huruf, bukan tiga huruf, yaitu seharusnya BASM, oleh
karena kata ini terdiri dari huruf jar B (bi) dan ism ASM (ismun), jadi dalam
menuliskan BSM sebenarnya telah dicopot Alif, dari BASM menjadi BSM. Namun
kritik ini ditahan (bukan: mana tahan) oleh alat kontrol sistem keterkaitan
matematis 19. Coba lihat hasil kritik teks, yaitu BSM menjadi BASM, yakni BASM
ALLH ALRHMN ALRHYM, silakan dihitung sendiri 20 jumlah huruf bukan? Dan coba
hitung sendiri teks yang asli: BSM ALLH ALRHMN ALRHYM, 19 huruf bukan? Jadi
bukan mana tahan tetapi ditahan oleh alat kontrol sistem keterkaitan matematis
angka 19.
Contoh Basmalah di atas juga untuk menjawab olah akal TAA: "Rincian perjalanan
historis kitab suci ini, terutama pada tahapan awalnya, telah ditempa serta
dijalin dengan sejumlah fiksi dan mitos yang belakangan diterima secara luas
sebagai fakta sejarah. Bagi rata-rata sarjana Muslim, 'keistimewaan' rasm
utsmani merupakan misteri ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi,
pandangan ini lebih merupakan mitos ketimbang prasangka dogmatis." Wahai TAA,
ini bukan fiksi dan mitos, melainkan fakta sejarah dan karakter kemu'jizatan Al
Quran, karena keotentikan "teks" Rasm 'Utsmaniy diperkuat oleh data numerik
yang eksak.(**)
Yang terakhir kritik TAA atas teks "ibil" dalam Rasm 'Utsmany dengan pendekatan
qiraah, bahwa bacaan "ibil" (unta, 88:17) dalam konteks 88:17-20, sangat tidak
koheren dengan ungkapan "al-sama'" (langit), "al-jibal" (gunung-2), dan
"al-ardl" (bumi). Dalam bacaan Ibn Mas'ud, Aisyah, Ubay, kerangka grafis yang
sama dibaca dengan mendobel "lam", yakni "ibill" (awan). Bacaan pra-utsmani
ini, jelas lebih koheren dan memberikan makna yang lebih logis ketimbang bacaan
mutawatir ibil.
Perkataan "ibil" (takhfif) mempunyai dua makna: pertama unta, dan yang kedua
awan yang membawa hujan. Maka rasm "ibil" itu bisa memuat makna unta dan awan
sekaligus, sedangkan rasm "ibill" (tatsqil) ia hanya memuat makna awan
semata-mata. Lagi pula menurut Imam Al Qurthubi perkataan "ibil" itu muannats
(gender perempuan), sesuai dengan pemakaian fi'il mabniy majhul "khuliqat",
dalam ayat:
-- AFLA YNZHRWN ALY ALABL KYF KHLQT (S. ALGHASYYt, 88:17), dibaca: afala-
yanzhuru-na ilal ibili kayfa khuliqat (s. algha-syiyah), artinya: Tidakkah
mereka memperhatikan ibil bagaimana (ia) diciptakan.
Jadi Rasm 'Utsmaniy "ibil" yang berarti awan yang mengandung hujan dan unta
lebih komprehensif ketimbang qiraah "ibill" yang hanya berarti awan, yang
dikemukakan TAA sebagai penyambung lidah Luthfi tersebut. Alih-alih mau
mengkitik/meluruskan rasm "ibil" dengan qiraah "ibill", TAA dan sekaligus
Luthfi jadinya tersungkur.
Tulisan Masdar Farid Mas'udi "Meninjau Ulang Waktu Pelaksanaan Haji", telah
dibahas panjang lebar dalam Seri 614, berjudul "Masalah Lempar Jamrah di Mina
Tidak Perlu Fiqh Baru", jadi yang berminat silakan dibaca Seri 614 tersebut.
WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 26 Desember 2004
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2007/07/656-menjawab-tangan-tangan-gurita.html
------------------------------
(*)
Septugiant yang berbahasa Yunani adalah rujukan asal Perjanjian Lama. Mengapa
Septugiant berbahasa Yunani, karena Septugiant adalah terjemahan dalam bahasa
Yunani dari bahasa Ibrani, yang teks aslinya sekarang sudah hilang.
(Septuagiant [Lat.,=70], oldest extant Greek translation of the Hebrew Bible
made by Hellenistic Jews, from Alexandria, c.250 B.C. The Septuagint was
translated from texts now lost. No copy of the original translation exists;
textual difficulties abound. The symbol for the Septuagint is LXX." =>
http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Septugiant).
(**)
Tabulasi jumlah huruf alif+lam+mim dalam 8 surah yang dibuka dengan 3 huruf
[alif, lam, mim] setelah Basmalah yang diikat oleh bilangan interlock 19, itu
menunjukkan:
1. mu'jizat Al Quran, karena tidak mungkin jalinan interlock 19 itu buatan
manusia.
2. keotentikan teks Rasm 'Utsmaniy, sebab kalau tidak otentik, tentu saja
tabulasi itu tidak dapat bertahan terhadap mengalirnya sang waktu.
3. teks Rasm 'Utsmaniy bukan mitos, karena siapa bilang data numerik itu mitos.
4. teks Rasm 'Utsmaniy kebal terhadap hermeneutika.
Surah mim lam alif
Al Baqarah 2195 3204 4592
Ali 'Imran 1251 1885 2578
Al A'raf 1165 1523 2572
Ar Ra'd 260 479 625
Al 'Ankabut 347 554 784
Ar Rum 318 396 545
Luqman 177 298 348
As Sajadah 158 154 268
____________________
Jumlah 5871 + 8493 + 12312 = 26676 = 1404 x 19
----- Original Message -----
From: "Ari Condro" <masar...@gmail.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, March 14, 2010 07:30
Subject: Re: [wanita-muslimah] Misteri Sungai di Dalam Laut Mexico
sebenarnya aku ndak perduli masalah anggur apa bidadari houri ini.
yg ane pengen tahu, si abah setuju ama anggur atau setuju ama bidadari ?
sepanjang yg ane baca, si abah ndak setuju ama bidadari. apa ini bisa
disimpulkan kalau si abah setuju dengan si anggur putih ?
* kagak dijawab juga, mbulet mbulet terus kemana mana. *
#####################################################################
Inikan pertanyaaan Arcon:
jadi kesimpulannya : abah hmna setuju dengan luxenberg ?
kalo pak samsudin arief gimana ?
Kedua pertanyaan itu saya sudah jawab, cuma Arcon tidak bisa baca, karena kedua
pertanyaan itu jawabannya ada di bawah ini (yang telah saya posting)
WDS::
Luxenberg starts with Q 44:54 ?? ????????????? ???????
????? wa zawwajnahum bi hur 'in, 'We shall wed them to maidens with
large, dark eyes'. For ??????? zawwajnahum, 'we shall wed them' he has
a different, and purely Arabic, alternative: ??????? rawwahnahum 'we
shall let them rest'. It's a difference of only two diacritical dots
and in rasm it's identical.
*****************************************************************
HMNA:
It's a difference of only two diacritical dots and in rasm it's identical.
Luxenberg pakai prinsip bacaan mengacu pada teks/tulisan/rasm
Inilah yang dibantah Syamsudin Arief:
Ini cuplikan dari tulisannya:
Pada prinsipnya Al-Qur'an bukanlah 'tulisan' (rasm atau writing) tetapi
merupakan 'bacaan' (qira'ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan.
Baik proses turun-(pewahyuan)-nya maupun penyampaian, pengajaran dan
periwayatan-(transmisi)-nya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan.
Dari dahulu, yang dimaksud dengan 'membaca' Al-Qur'an adalah "membaca dari
ingatan (qara'a 'an zhahri qalbin; to recite from memory)."
Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Qur'an
dicatat-yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun,
dan lain sebagainya-berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah
tertera dalam ingatan sang qari'muqri'. Proses transmisi semacam ini, dilakukan
dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil
menjamin keutuhan dan keaslian Al-Qur'an sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat
Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada
para Sahabat, demikian hingga hari ini.
Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan-manuscript evidence dalam
bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya-memegang peran utama dan berfungsi
sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.
Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini.
Orang-orang seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin (dan Luxenberg -HMNA-),
misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Qur'an sebagai
'dokumen tertulis' atau teks, bukan sebagai 'hafalan yang dibaca' atau
recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking "the Qur'an as Text") mereka lantas
mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian
Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan
textual criticism.
################################################################################
* kok malah lempar decoy, mengalihkan perhatian, dari urusan costeau *
salam,
Ari
[Non-text portions of this message have been removed]