Potensi Gunung Lumpur di Sepanjang Pulau Jawa
    <http://www.kompas.com/data/photo/2008/01/24/141556p.jpg>
Kompas/Setiyawan,
Iwan<http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/29/19595488/potensi.gunung.lumpur.di.sepanjang.pulau.jawa#>
Luberan lumpur panas dari dekat lokasi pengeboran milik PT Lapindo Brantas
makin meluas melalui pemantauan udara menggunakan helikopter jenis Bolcow
milik Badan SAR Nasional yang diterbangkan penerbang Skuadron 400 Pusat
Penerbangan TNI AL Juanda pada senja hari, Kamis (10/8).
   /


Jumat, 29 Agustus 2008 | 19:59 WIB

*BANDUNG, JUMAT* - Para ahli geologi menyatakan bahwa potensi gunung lumpur
(*mud vulcano*) membentang luas di daratan Pulau Jawa. Dengan demikian,
wilayah yang rentan terjadi semburan lumpur seperti yang terjadi di
Sidoarjo, Jatim bisa dikatakan luas.

""Kejadian ini sebenarnya sangat alami, bahkan beberapa pakar telah
memetakan Indonesia sebagai wilayah yang rentan terhadap gangguan alam
seperti itu," ujar Staf Ahli geologi BP Migas, Awang Harun Satyana.Ia
mengatakan, terdapat jalur rentetan gunung lumpur yang terbentang luas dari
Bogor hingga Sidoarjo.

Awang menjelaskan, beberapa juta tahun lalu, tepatnya di wilayah Kubah
Sangiran terjadi hal serupa. Berdasarkan penelitian, Sangiran merupakan
tempat hidup manusia purba pertama di Pulau Jawa dua juta tahun lalu.

"Kubah Sangiran kemudian tererosi pada bagian puncaknya, sehingga membentuk
sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara
alamiah," ujarnya. Bahkan, kata dia, gunung lumpur ini telah menenggelamkan
sebuah kerajaan di Jawa Timur sekitar 400 tahun silam.

Sedangkan Edi Sunardi, Ketua Pengembangan Ilmu IAGI, yang juga dosen Geologi
Unpad, berpendapat, secara geografis, daerah Jatim memiliki peta geologi
yang spektakuler karena memiliki kandungan minyak, gas, serta gunung lumpur.
Bahkan, terdapat satu jalur dari arah Barat ke Timur sampai dengan Selat
Madura yang dipenuhi dengan gunung lumpur.

Hal senada dikatakan Prof Sukendar Asikin, ahli tektonik dan geologi
struktur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa tidak menutup
kemungkinan fenomena Kubah Sangiran terulang kembali di beberapa wilayah di
Pulau Jawa. Menurut dia, erupsi Kubah Sangiran terjadi akibat beratnya beban
gunung api yang menjulang di wilayah itu, yang mengakibatkan keluarnya
cairan dari dalam perut bumi.

"Artinya, kejadian itu bisa terulang kembali jika beban di atas permukaan
tanah di beberapa wilayah di Pulau Jawa terlalu berat, misalnya oleh
kepadatan kota," ujarnya. Dia mengatakan, pesatnya pembangunan tanpa
diimbagi dengan kajian geologi, berpotensi membuat kejadian seperti lumpur
Sidoarjo terulang kembali.

Kekhawatiran ini, lanjutnya, memang beralasan karena saat ini terlihat
pesatnya pembangunan kota, dan bahkan terjadinya eksploitasi tanah secara
besar-besaran untuk menghasilkan batu bara dan timah. Di sisi lain, kata
Asikin, kesadaran akan penghijauan lingkungan semakin berkurang, akibat
tidak pahamnya masyarakat mengenai musibah yang mengancam.

"Kurangnya pengetahuan pemerintah dan masyarakat mengenai geologi diduga
sebagai penyebab awal terjadinya bencana. Pemerintah memberikan izin
eksplorasi, dan masyarakat melaksanakannya tanpa berbekal pengetahunan
geologi," ujarnya. Namun, kata dia, hal itu mungkin tidak menjadi masalah
jika setiap lapisan tanah yang mengandung kekayaan alam tidak berpotensi
menimbulkan bencana.

Pada kenyataannya, kekayaan bumi itu kerap berdampingan letaknya dengan
potensi bencana, seperti kejadian lumpur Sidoarjo. Bagi ahli geologi,
kejadian seperti Lumpur Lapindo merupakan salah satu contoh tidak tepatnya
perlakuan manusia terhadap alam karena kurangnya pengetahuan terhadap
kegeologian.

"Ini memang unik, di wilayah yang termasuk jalur gunung lumpur itu ternyata
terkandung minyak yang cukup besar, kondisi ini mirip dengan kejadian
pengeboran minyak di wilayah Azerbaijan dan Iran," jelasnya. Menurut dia,
pengeboran minyak di wilayah itu menghasilkan sedikitnya 1,5 juta barel per
hari, namun juga menyemburkan lumpur dari perut bumi mirip dengan kejadian
di Sidoarjo.

Pihaknya melihat, atas beberapa peristiwa alam yang terjadi, sudah
selayaknya perhitungan geologi menjadi pertimbangan sebelum melakukan
eksplorasi. Pada dasarnya pengebor itu tidak salah, karena wilayah itu
mengandung minyak. Permasalahan utamanya ialah, masih rendahnya kesadaran
terhadap kelestarian lingkungan sebagai basis pembangunan.

Saat ini, kata dia, setelah terjadi bencana lumpur Sidoarjo, pengetahuan
mengenai kegeologian menjadi penting, khususnya berkaitan dengan penemuan
sedikitnya 20 cekungan baru di Indonesia.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke