-

"Nugroho, Eko Sasmito " 

To
<[EMAIL PROTECTED]>
cc

Subject
[PengajianEmail] Hikmah Perbedaan ( Sholat )






 
-----Original Message-----
From: Rizka Novia [mailto:rizka.novia@ ...]
Sent: Thursday, March 27, 2008 3:56 PM
To: Nugroho, Eko Sasmito [GCG-AP_IDN]
Subject: Hikmah Perbedaan

 
Mengapa Tatacara Sholat Begitu Memusingkan ?
Selasa, 25 Mar 08 16:43 WIB
 
Ustadzt, 
Saya adalah orang Islam  
dan Insya Allah tidak akan mati dalam keadaan bukan Islam.  
Saya memang awam agama, tapi saya punya keyakinan bahwa Islam adalah Agama 
yang paling baik dan satu-satunya.
Terus terang, mengenai sholat, saya sholat sebagaimana orang orang yang 
sholat bersama saat itu ( menyesuaikan lingkungan, asalkan tidak terlalu 
menyimpang dari ukuran saya sendiri ),  
karena hati yang dalam saya mengatakan, Allah Maha Tahu dan Maha 
Bijaksana.
 
Sepengetahuan saya, tata cara ( rukun ) sholat tidak diatur begitu rinci 
di Al-Qur'an sebagaimana hukum Warisan ( saya juga tidak tahu mengapa dan 
apa rahasia di balik itu ).
Yang saya ketahui selama ini, hanya terdapat dalam Hadist dan itupun tidak 
secara rinci langsung diuraikan oleh Nabi Muhammmad SAW ( saya juga tidak 
tahu mengapa demikian dan apa rahasia di balik itu ).
Beliau hanya bersabda kira-kira begini " Sholatlah sebagaimana aku 
Sholat."  
Orang-orang yang pernah melihat atau mengalami sholat bersama Nabi, baru 
menceritakan bagaimana Beliau sholat.
Hal yang terjadi kemudian adalah,  
bahwa banyak sekali perbedaan yang ada selama ini ( mulai gerakan secara 
pisik maupun bacaan-bacaannya apakah diucapkan atau tidak, dikeraskan atau 
tidak, dan sebagainya ).
Jika Nabi Sholat bersama umatnya hanya sekali atau dua kali saja, mungkin 
terjadinya perbedaan-perbedaan dapat segera dimaklumi.  
Tapi nyatanya khan tidak begitu.  
Yang menjadi lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa Islam dikenal sebagai 
Agama yang paling lengkap dalam perunutan hukum-hukumnya ( penulisan 
Hadist dan menjaga kemurnian Al-Qur'an ).  
" Mencontoh sholat yang dikerjakan Nabi sebanyak puluhan ribu kali kok 
masih ada perbedaannya."
Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten.
Bagaimana keterangan Ustazd.
NB. Ini adalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan saya ke pada Ustazd, 
yang mana sebagian besar belum terjawab.
susilo.poromarto@ ... 
 
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Kami mohon maaf bila Anda selama ini telah mengirimkan pertanyaan, namun 
belum mendapatkan jawaban. Kami tetap merasa bersalah bila belum dapat 
memenuhi apa yang menjadi kebutuhan para pembaca.
Untuk itu kami sedang memikirkan metode yang sekiranya dapat membantu 
menyelesaikan masalah seperti ini ke depan. Doakan agar kami menemukan 
metode itu dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Mengenai apa yang anda tanyakan saat ini, memang kami setuju sekali.  
Seharusnya tata cara shalat itu simple, praktis dan sederhana.  
Tidak harus menguras otak, apalagi harus sampai menimbulkan silang 
sengketa, saling caci maki, bahkan ada yang sampai merasa harus memboikot 
saudaranya, hanya lantaran urusan beda tempat meletakkan tangan saat 
shalat.
 
Beberapa Faktor Penyebab
Kalau coba kita renungkan mengapa seolah shalat itu jadi urusan yang 
berbelit, barangkali ada benarnya beberapa hal berikut ini:
1. Ada Perbedaan Dari Sumber
Banyak dari kita yang masih berpikir seharusnya shalat nabi SAW itu 
merupakan sesuatu yang konsisten, termasuk dalam hal ini anda. Dalam 
bagian akhir pertanyaan anda itu, jelas sekali anda menyebutkan, "Yang 
jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten."
Padahal boleh jadi Rasulullah SAW tidak melakukan apa yang anda katakan 
sebagai ' kekonsistenan ' itu.  
Dalam kitab Sifat Shalat Nabi tulisan SyeikhAl-Albani, seringkali 
menyebutkan istilah " kadang-kadang "  
Kadang-kadang Nabi SAW melakukan ini dan kadang kala lainnya beliau 
melakukan itu.  
Itu artinya beliau tidak selalu konsisten seperti yang anda duga.
Jadi boleh dibilang bahwa beliau SAW sendiri sebagai sumber rujukan shalat 
tidak selalu konsisten dengan gerakan atau bacaan tertentu.  
Sebaliknya, beliau seringkali bergonta-ganti gerakan dan juga bacaan.  
Dan nyatanya memang tidak ada dalil dari beliau SAW sendiri, yang 
menegaskan keharusan untuk konsisten dalam gerakan dan bacaan shalat.
Sekedar untuk perbandingan saja, dahulu di masa khalifah Utsman bin 
Al-Affan radhiyallahu 'anhu, pernah terjadi perselisihan antara beberapa 
qari' atau pembaca Al-Quran. 
Titik pangkal masalahnya adalah karena masing-masing merasa bacaannya 
adalah bacaan yang benar dan bersikeras untuk menyalahkan bacaan 
saudaranya, yang dianggapnya salah dan bid'ah ( mengada-ada ).
Setelah dikumpulkan oleh para shahat yang senior, menjadi jelaslah titik 
pangkalnya.  
Ternyata Al-Quran itu sendiri dahulu turun dengan lughah ( dialek ) yang 
berbeda.  
Bahkan kita mengenal ada qiraah sab'ah.  
Di mana bacaan yang satu boleh jadi sangat berbeda dengan bacaan yang 
lain.  
Padahal semuanya adalah ayat Al-Quran, semua turun dari Malaikat Jibril 
'alaihissalam serta diriwayatkan secara mutawatir kepada kita.
Maka kalau dalam shalat Rasulullah SW ada ' ketidak-konsistenan ', sangat 
logis dan masuk akal.  
Memang jarang di antara kita yang pernah mendengar qiraat yang berbeda.  
Cobalah sesekali belajar qiraat dengan metode talaqgi kepada ustadz atau 
qari' yang punya sanad sampai ke Rasulullah SAW, maka kita akan tahu bahwa 
ternyata bacaan Quran itu begitu banyak versinya. 
 
2. Perbedaan Interpretasi Shahabat Yang Melihat Rasulullah SAW Shalat
Ada beberapa riwayat yang kelihatan sepintas berbeda, namun ternyata 
kejadiannya sama. Kenapa jadi berbeda ?  
Ternyata beberapa shahabat memiliki interpratasi atau penafsiran yang 
berbeda atas suatu kejadian.
Ambil contoh yang paling sering kali sebutkan, tentang shalat Ashar di 
Perkampungan Bani Quraidhazh.  
Rasulullah SAW berpesan kepada para shahabat untuk tidak shalat Ashar 
kecuali di perkampungan yang berisi orang yahudi itu.
Namun ketika matahari hampir tenggelam dan mereka belum shalat Ashar, 
sebagian dari mereka turun dari kuda dan melakukan shalat Ashar di jalan, 
tanpa mempedulikan pesan nabi untuk tidak shalat Ashar kecuali setelah 
sampai.
Sementara kelompok shahabat yang lainnya, meneruskan perjalanan tanpa 
shalat Ashar, meski sudah masuk waktu Maghrib.  
Maka pendapat para shahabat nabi yang mendengar langsung pesan itu tetap 
terpecah dua.
Ketika akhirnya dikonfrontir kepada Rasulullah SAW, hasilnya ajaib !.  
Ternyata beliau SAW tidak menyalahkan salah satu pihak. Keduanya dianggap 
benar dan tidak ada yang salah.
Dan ketika ada riwayat menyebutkan bahwa ketika duduk tasyahhud Rasulullah 
SAW menggerakkan jarinya, ada yang menilainya itu merupakan bagian dari 
ritual ibadah shalat. Tapi ada juga yang mengatakan gerakan jari itu 
semata-mata karena suasana sangat dingin, sehingga telunjuk nabi sampai 
bergetar.
Perbedaan itu pasti terjadi, bahkan sejak dari level shahabat ketika 
meriwayatkan sudah muncul perbedaan. 
 
3. Faktor Perbedaan Logika
Masih ingat hadits tentang mana duluan yang harus menyentuh tanah ketika 
sujud, apakah tangan dulu atau lutut lebih dahulu ?
Di dalam masalah itu para ulama berbeda pendapat tanpa ada habisnya.  
Yang satu bilang tangan dulu. Yang lain bilang lutut dulu.  
Dan ternyata keduanya punya dalil masing-masing. Dan anehnya, kedua belah 
pihak memakai hadits yang itu-itu juga.
Yang satu bilang bahwa hadits itu mengatakan jangan seperti unta mau 
duduk. Dan disebutkan bahwa kalau unta mau duduk, ternyata yang menyentuh 
tanah kaki belakangnya terlebih dahulu.
Yang satu tidak mau kalah, mereka bilang bahwa pendapat itu tidak benar. 
Yang benar adalah kalau unta mau duduk, yang lebih dahulu menyentuh tanah 
adalah kedua kaki depannya terlebih dahulu.
Maka perbedaan pendapat itu bukan pada haditsnya, tapi pada cara kita 
memahaminya. Ada yang mengira bahwa kalau unta mau duduk, yang menyentuh 
tanah terlebih dahulu adalah kedua kaki belakangnya, dan ada yang 
berpendapat sebaliknya.
Jadi mana yang benar ?
Yah, mari kita tanya kepada si unta yang tidak berdosa itu. 
" Pak Unta, mohon maaf nih, kami mau tanya. Ente kalau duduk, duluan mana 
kaki depan apa kaki belakang ? "  
Untanya bingung ditanya begitu, terus dia jawab, " Emang gue pikirin." 
 
4. Faktor Mental
Tapi yang paling mengenaskan dari apa yang anda alami sebagai kecemasan, 
sebenarnya bukan karena faktor-faktor di atas, melainkan justru faktornya 
ada pada diri kita sendiri sebagai umat Islam. Banyak dari kita sering 
memaksakan kehendak dan pendapatnya sendiri dalam masalah furu'iyah dan 
ritual shalat.
Faktor ini kami rasakan merupakan faktor yang paling dominan untuk membuat 
umat semakin bingung. Mohon maaf kalau kami katakan banyak ustadz yang 
sambil mengajar, sambil memenangkan satu pendapat saja.  
Dan sayangnya beliau-beliau yang terhormat dan jadi panutan umat itu 
terjebak untuk melecehkan pendapat yang lain. Sengaja atau tidak sengaja.
Terkadang kita harus mengurut dada, karena yang kita saksikan bukan 
sekedar melecehkan, tapi sampai menuduh sesat, bid'ah, khurafat bahkan 
sampai di bilang tidak akan masuk surga. Laa haula wala quwwaa illa billah
.
Kayaknya surga itu milik bapak moyangnya sendiri, orang lain tidak boleh 
masuk kecuali bila jadi muridnya dulu.
Padahal urusannya cuma antara jari telunjuk bergoyang atau tidak 
bergoyang. Bayangkan, urusan goyang-goyang bisa jadi masuk neraka.  
Pantas saja umat pada bingung, sudah mereka jarang ngaji, eh begitu ngaji, 
langsung diberi kisah-kisah 'horor' yang menakutkan. Akhirnya, muncul 
pertanyaan prihatin kayak anda ini, kok mau shalat saja susah sekali ya, 
sampai pakai masuk neraka segala ?
Mungkin kalau kami kutipkan bahwa ada ulama yang tega-teganya memvonis 
orang yang shalat tarawih lebih dari 11 rakaat sebagai pelaku bid'ah dan 
masuk neraka, boleh jadi rambut anda akan berdiri semua, saking kagetnya.  

Iki piye tho, lha wong tidak shalat tarawih saja tidak apa-apa, kok orang 
sudah shalat malah dibilang masuk neraka ? Aneh bin ajaib. 
 
Padahal kalau kita pinjam argumentasi teman-teman yang shalat tarawihnya 
20 rakaat, mereka akan bilang,  
" Justru di zaman shahabat, belum pernah ada yang shalat tarawih hanya 11 
rakaat, semua shalat tarawih 20 rakaat."
Atau ada yang nyeletuk, "Opo sampeyan mau bilang kanjeng sayyidina Umar, 
Utsman dan Ali serta semua shahabat nabi SAW itu ahli bid'ah dan semuanya 
masuk neraka ? Kesahalahannya hanya karena mereka shalat tarawih 20 rakaat 
?
Dan akhirnya semua ribut lagi, masing-masing datang dengan argumentasinya, 
dan tidak selesai-selesai.
Padahal sebenarnya kalau setiap perbedaan pendapat itu kalau disikapi 
dengan elegan, dewasa, wawasan luas dan beretika santun, tidak harus 
menimbulkan kecemasan seperti yang anda alami.
Intinya, alangkah indahnya kalau para ustadz yang selalu dijadikan sebagai 
sumber rujukan agama itu tidak terlalu mudah mengeluarkan vonis mematikan. 
 
Sehingga terkesan muncul anggapan bahwa beliau mau menangnya sendiri.  
Kenapa tidak dikatakan bahwa ada begitu banyak pendapat dalam suatu 
masalah, silahkan pilih yang mana, asalkan masih ada jejak ijtihad yag 
dilakukan oleh seorang yang punya kapasitas sebagai mutahid.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika mengetahui bahwa para shahabat nabi 
radhiyallahu 'anhum banyak berbeda pendapat, justru beliau bersyukur dan 
berterima kasih.  
Bukannya malah sempit hati dan marah-marah. Karena dengan begitu banyaknya 
pendapat, agama ini menjadi luas sekaligus luwes.  
Mana saja yang mau kita pakai, ada rujukannya dari para shahabat nabi SAW 
yang telah Allah SWT ridhai.
Terakhir, mari kita belajar agama ini dari berbagai sumber, sekiranya bisa 
dari berbagai kalangan ulama, maka akan semakin baik, karena wawasan kita 
akan semakin kaya. Dan tidak mudah menyalahkan orang lain.
Tapi kalau tidak mampu belajar perbandingan mazhab, bisanya cuma dari satu 
ustadz saja, tidak apa-apa juga. Asalkan jangan mudah menyalahkan ijtihad 
orang lain. Sebab pendapat yang kita pakai itu sebenarnya juga hanya 
ijtihad, tidak lebih.
Maka sesama ijtihad dilarang saling mendahului, pinjam istilah bus kota. 
 
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Ahmad Sarwat, Lc 
 
 
 
 
__._,_.___ 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke