pengaruh masturbasi terhadap kesehatan jiwa
Posted in kesehatanon May 15, 2008 by sepsis
Oleh sebagian orang, masturbasi dianggap sebagai sebuah kebiasaan yang
menyenangkan. Tetapi pada kelompok lain justru dianggap merupakan aktivitas
penodaan diri atau "zelfbevekking" yang dapat menimbulkan kelainan
psikosomatik dan aneka dampak buruk lainnya. 2
Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu
seksual dengan jalan tanpa bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat
memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang
dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan,
kebahagiaan, dan keasyikan bersama. 3
Pada senggama, rangsangan tidak begitu perlu dibangkitkan secara tiruan,
karena hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan merupakan suatu hal
yang alami. Dalam masturbasi satu-satunya sumber rangsangan adalah khayalan
diri sendiri. Itulah yang menciptakan suatu gambaran erotis dalam pikiran.
Masturbasi merupakan rangsangan yang sifatnya lokal pada anggota kelamin.
Hubungan seks yang normal dapat menimbulkan rasa bahagia dan gembira,
sedangkan masturbasi malah menciptakan depresi emosional dan psikologis.
Dalam tulisan ini akan dibahas pengaruh atau dampak kegiatan masturbasi
terhadap kesehatan mental seseorang. 3
DEFENISI
Istilah masturbasi berasal dari kata latin "manasturbo" yang berarti rabaan
atau gesekan dengan tangan (manu). Masturbasi secara umum didefenisikan
sebagai rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk
memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. 3
Namun pada kenyataannya, banyak cara untuk mendapatkan kepuasaan diri
(self-gratification) tanpa mempergunakan tangan (frictionless masturbation),
sehingga istilah masturbasi menjadi kurang mengena. Oleh karena itu, istilah
"autoerotism" adalah istilah yang lebih mengena untuk menggambarkan fenomena
ini. 1
Ada beberapa istilah masturbasi yang dikenal di masyarakat, antara lain
onani atau rancap, yang berarti melakukan suatu rangsangan organ seks
sendiri dengan cara menggesek-gesekkan tangan atau benda lain ke organ
genital kita hingga mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme.
Dalam ajaran Islam, masturbasi dikenal dengan nama ; al-istimna',
al-istima'bilkaff, nikah al-yad, al-I'timar, atau 'adtus sirriyah. Sedangkan
masturbasi yang dilakukan oleh wanita disebut al-ilthaf. 4
Di masyarakat istilah onani lebih dikenal. Sebutan ini, menurut berbagai
ulasan yang ditulis Prof. Dr. Dr. Wimpie Pangkahila Sp, And, Ketua Pusat
Studi Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana,
berasal dari nama seorang laki-laki, Onan, seperti dikisahkan dalam Kitab
Perjanjian Lama Tersebutlah di dalam Kitab Kejadian pasal 38, Onan disuruh
ayahnya, Yehuda, mengawini isteri almarhum kakaknya agar kakaknya mempunyai
keturunan.
Onan keberatan, karena anak yang akan lahir dianggap keturunan kakaknya.
Maka Onan menumpahkan spermanya di luar tubuh janda itu setiap berhubungan
seksual (coitus interruptus). Dengan cara yang kini disebut sanggama
terputus itu, janda kakaknya tidak hamil. Namun akibatnya mengerikan. Tuhan
murka dan Onan mati.
Onani atau masturbasi dalam pengertian sekarang bukanlah seperti yang
dilakukan Onan. Masturbasi berarti mencari kepuasan seksual dengan
rangsangan oleh diri sendiri (autoerotism), dan dapat pula berarti menerima
dan memberikan rangsangan seksual pada kelamin untuk saling mencapai
kepuasan seksual (mutual masturbation). Yang pasti pada masturbasi tidak
terjadi hubungan seksual, tapi dapat dicapai orgasme.5
Freud (1957) mengatakan ada 3 fase dari masturbasi, yaitu (1) pada bayi; (2)
pada fase perkembangan yang paling tinggi dari perkembangan seksual
infantile yaitu pada kisaran umur 4 tahun, dan (3) pada fase pubertas.
Menurut Freud, naluri seksual sudah terdapat pada permulaan kehidupan dan
berkembang secara progressif sampai umur 4 tahun. Setelah ini berhenti maka
tidak ada lagi perkembangan berikutnya (masa laten) sampai tiba saatnya masa
pubertas pada kisaran umur 11 tahun.
Teori psikoanalisis memandang bahwa terdapat hambatan-hambatan psikologis
pada proses pematangan psikoseksual yang normal, sehingga dapat timbul
regresi ke fase perkembangan sebelumnya atau fiksasi dapat timbul pada salah
satu fase-fse di atas dan perkembangan psikoseksual berhenti. Kebanyakan
"penyimpangan seksual" berakar pada regresi dan fiksasi pada tingkat
perkembangan seksual yang infantil ini. 1,2,5
Berdasarkan cara melakukannya, masturbasi dapat dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu : (1,2)
1. Masturbasi sendiri (auto masturbation); stimulasi genital dengan
menggunakan tangan, jari atau menggesek-gesekkannya pada suatu objek
2. Masturbasi bersama (mutual masturbation); stimulasi genital yang
dilakukan secara berkelompok yang biasanya didasari oleh rasa bersatu,
sering bertemu dan kadang-kadang meluaskan kegiatan mereka pada pencurian
(stealing) dan pengrusakan (vandalism)
3. Masturbasi psikis; pencapaian orgasme melalu fantasi dan rangsangan
audio-visual.
Sedangkan ahli psikologi lainnya, Caprio (1973), menggolongkan kegiatan
masturbasi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu : 1
1. Masturbasi yang normal, meliputi pembebasan psikologik ketegangan seksual
pada masa anak-anak muda yang normal; dilakukan tidak berlebihan; masturbasi
yang dilakukan oleh seseorang yang belum kawin; masturbasi yang dilakukan
antar pasangan-pasangan suami-istri sebgai selingan dari intercourse yang
konvensional
2. Masturbasi yang neurotic, meliputi masturbasi yang dilakukan terlalu
banyak dan bersifat konvulsif; masturbasi antara pasangan-pasangan yang
lebih menyukai cara ini daripada intercourse, masturbasi dengan
gejala-gejala kecemasan, rasa salah/dosa yang amat sangat, masturbasi
pemuasan yang berhubungan dengan penyimpangan seksual dan yang dapat diancam
dipersalahkan oleh hukum. 1,2
Masturbasi adalah ungkapan seksualitas yang alami dan tidak berbahaya bagi
pria dan wanita, dan cara yang sangat baik untuk mengalami kenikmatan
seksual. Bahkan, beberapa pakar berpendapat bahwa masturbasi bisa
meningkatkan kesehatan seksual karena meningkatkan pemahaman seseorang akan
bagian-bagian tubuhnya dan dengan cara bagaimana memuaskannya, membangun
rasa percaya diri dan sikap dapat memahami diri sendiri. 1,6
Pengetahuan ini selanjutnya bisa dibawa untuk memperoleh hubungan seksual
yang memuaskan di masa depan, baik dengan cara masturbasi bersama-sama
pasangan, atau karena bisa memberitahukan pasangannya apa-apa saja yang bisa
memuaskan diri mereka. Ini adalah usul yang bagus bagi setiap pasangan untuk
membicarakan perilaku masturbasi mereka dan juga untuk menenangkan pasangan
jika sewaktu-waktu salah satu di antara mereka lebih memilih untuk melakukan
masturbasi daripada senggama. 1,2,6

DAMPAK TERHADAP KESEHATAN MENTAL
Impuls-impuls autoerotic (masturbasi) terdapat pada semua manusia.
Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana cara kita menyelesaikan
dorongan-dorongan tersebut. Beberapa dari kita merepresikan dorongan
tersebut untuk memuaskan dirinya, sementara yang lain mengekspresikan
keinginannya untuk mendapatkan pemuasan seksual. 2,7
Salah satu dorongan manusia yang sering menyebabkan manusia mendapat
kesulitan pribadi dan sosial adalah dorongan seksual, yang pada kenyataannya
sering menghadapkan manusia kepada suatu keadaan yang mendesak dan sangat
membujuk untuk memperoleh pemuasan seksual dengan segera. Adanya persoalan
seksual pada individu dapat menyebabkan individu yang bersangkutan sering
dihadapkan pada keadaan yang seolah-olah ada kecenderungan untuk jatuh ke
tingkat yang immature atau infantil dan setiap usaha untuk bertingkah laku
seksual yang matur terhambat karenanya. 7
Masturbasi memunculkan banyak mitos tentang akibatnya yang merusak dan
memalukan. Citra negatif ini bisa dilacak jauh ke belakang ke kata asalnya
dari bahasa Latin, mastubare, yang merupakan gabungan dua kata Latin manus
(tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti "penyalahgunaan
dengan tangan".1,6
Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur tertanam disebabkan karena
porsi "penyalahgunaan" pada kata itu hingga kini masih tetap ada dalam
terjemahan moderen - meskipun para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa
masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental. Tidak juga
ditemukan bukti bahwa anak kecil yang melakukan perangsangan diri sendiri
bisa mengalami celaka.
Yang terjadi adalah, sumber kepuasan seksual yang penting ini oleh beberapa
kalangan masih ditanggapi dengan rasa bersalah dan kecemasan karena
ketidaktahuan mereka bahwa masturbasi adalah kegiatan yang aman, juga karena
pengajaran agama berabad-abad yang menganggapnya sebagai kegiatan yang
berdosa. Terlebih lagi, banyak di antara kita telah menerima pesan-pesan
negatif dari para orang tua kita, atau pernah dihukum ketika tertangkap
basah melakukan masturbasi saat kanak-kanak. 2,5,7
Pengaruh kumulatif dari kejadian-kejadian ini seringkali berwujud
kebingungan dan rasa berdosa, yang juga seringkali sukar dipilah. Saat di
mana masturbasi menjadi begitu berbahaya adalah ketika ia sudah merasuk jiwa
(kompulsif). Masturbasi kompulsif - sebagaimana perilaku kejiwaan yang lain
- adalah pertanda adanya masalah kejiwaan dan perlu mendapatkan penanganan
dari dokter jiwa. 8
Fase akhir jika masturbasi konfulsif tidak diselesaikan dengan tepat adalah
munculnya fenomena sexual addicted, sebuah ketagihan akan kegiatan-kegiatan
seksual.
Secara fisik, masturbasi dapat menyebabkan kelecetan atau rusaknya mukosa
dan jaringan lain dari organ genitalia yang bersangkutan, baik akibat
penggunaan alat bantu masturbasi atau hanya dengan menggunakan tangan dan
jemari. 2,6,10

EPIDEMIOLOGI
Insiden dan frekuensi masturbasi sangat bervariasi. Faktor-faktor biologik
seperti umur dan faktor-faktor sosial seperti pekerjaan, pendidikan, status
orang tua dan anak, dasar rural-urban, faktor agama sangat mempengaruhi
epidemiologi masturbasi.
Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95 persen pria dan 89 persen wanita
dilaporkan pernah melakukan masturbasi. Ini adalah perilaku seksual pertama
yang dilakukan oleh sebagian besar pria dan wanita, meskipun lebih banyak
wanita daripada pria yang telah melakukan senggama bahkan sebelum mereka
pernah melakukan masturbasi. 2, 6
Penelitian Kinsey di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa hampir semua pria
dan tiga-perempat dari semua wanita melakukan masturbasi pada suatu waktu
dalam hidup mereka. Penyelidikan Orebio mendapatkan bahwa 83% dari anak
laki-laki dan 38% dari anak wanita melakukan masturbasi. Penyelidikan
lainnya menunjukkan angka yang berbeda-beda pada setiap level umur
responden, misalnya pada masa anak-anak (infantile sex play), adolescent,
umur pertengahan dan kategori lainnya. 8
Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih
sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung menyatakan 'selalu' atau
'biasanya' mengalami orgasme ketika bermasturbasi (80 : 60). Ini adalah
perilaku seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bahkan bagi
mereka yang telah memiliki pasangan seksual tetap. 3
Menurut penelitian, mereka yang biasanya melakukan masturbasi berumur antara
tiga belas hingga dua puluh tahun. Pada umumnya yang melakukan masturbasi
adalah mereka yang belum kawin, menjanda, menduda atau orang-orang yang
kesepian atau dalam pengasingan. 1
Anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi daripada anak perempuan.
Penyebabnya antara lain, pertama, nafsu seksual anak perempuan tidak datang
melonjak dan eksplosit. Kedua, perhatian anak perempuan tidak tertuju kepada
masalah senggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan sperma (ihtilam)
lebih banyak dialami laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan orgasme pada
perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan terjaga.
5

ETIOLOGI
Etiologi masturbasi pada setiap kelompok umur sangat bervariasi.
Perkembangan psikoseksual dan lingkungan tempat hidup sangat mempengaruhi
terjadinya praktek masturbasi.
(1) Masturbasi pada anak-anak 1, 2, 5
Pada bayi dan anak kecil, sexual self-stimulation adalah fenomena yang
sangat umum, suatu hal yang tidak data dielakkan seperti halnya perasaan
ingin tahu dan belajar mengeksplorasi bagian-bagian badannya. Perkembangan
seksual pada anak telah mulai sebelum lahir dan tingkah laku seksual segera
mulai setelah lahir.
Spitz (1919) mendapatkan bahwa permainan genital sangat umum dan normal pada
15 bulan pertama kehidupan dari lingkungan rumah yang normal.
Pada masa bayi, masturbasi dapat berupa gesekan-gesekan paha (thigh
friction) atau gesekan serupa yang dapat mengenai genitalianya dan jelas
menunjukkan suatu kesenangan yang disusul dengan ketenangan, kecapaian dan
sering terus tertidur.
Setelah masa bayi, masturbasi lebih jelas berhubungan dengan perkembangan
kegiatan seksual. Banyak anak-anak mempunyai perhatian besar pada persoalan
seksual, lalu berkurang, dan kemudian perhatiannya kemudian timbul kembali
dan mereka akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang mempunyai arti
penting dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya di kemudian hari.
Pada anak-anak yang lebih besar, pengalaman masturbasi mungkin ditemukan
secara kebetulan karena kegiatan-kegiatan yang dapat menyentuh genitalianya,
seperti naik kuda goyang, memanjat pepohonan, meluncurdari tangga rumah dan
sebagainya.
Oliven (1955) mengatakan bahwa masturbasi adalah gejala umum dari banyak
kesukaran anak, berkisar dari gangguan bimbingan yang ringan sampai gangguan
emosi yang berat dan menahun. Masturbasi seringkali terjadi jika terdapat
deprivasi kasih sayang orang tua, dan dilakukan pada saat anak-anak dalam
ketegangan dan kecemasan.
(2) Masturbasi pada remaja1
Pada masa remaja hormon sex meningkat dan berkembanglah sifat-sifat seksual
sekunder. Pada masa ini keinginan seksual menjadi diperkuat dan masturbasi
(mungkin) bertambah.
Usia remaja sesungguhnya sudah memiliki kesanggupan coitus dan orgasme,
tetapi biasanya dihambat oleh larangan-larangan sosial, sehingga sering
terjadi konflik akibat pmbentukan identitas seksual dan control terhadap
larangan-larangan seksualnya. Meningkatnya ketegangan seksual secara
fisiologik menuntut pembebasan (demand release) dan masturbasi adalah cara
normal untuk mengurangi ketegangan seksual ini. Pada usia remaja, kegiatan
masturbasi selalu disertai dengan adanya fantasi-fantasi coital. Fantasi
biasanya normal bersifat heteroseksual dan bentuknya ditentukan oleh
pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Hal-hal yang bersifat pornografi dapat merangsang seorang remaja ke arah
perbuatan seksual. Aktivitas remaja yang selalu terpapar dengan berbagi
produk kebudayaan yang tanpa filter seperti tayangan-tayangan porno, film
dan buku-buku bertema sex ikut memberi kontribusi berkembangnya kebiasaan
masturbasi pada remaja. Pada beberapa kasus, kebiasaan masturbasi pada
remaja diawali oleh rasa penasaran dan keingintahuan yang kuat bagaimana
melakukan masturbasi, mungkin karena menapatkan cerita dari rekan sebayanya
atau menapati temannya melakukan masturbasi.
Tanpa adanya sexual outlet, seperti pada masa remaja, memungkinkan seseorang
untuk melakukan masturbasi. Pada beberapa orang tertentu, rangsangan seksual
ini sangat berarti dan dapat menjadikan seseorang menjadi habitual
masturbator.
Masturbasi pada usia remaja mesti mendapat perhatian yang bijaksana dari
orang tua. Jika respon orang tua terlalu negative terhadap proses ini, maka
kemungkinan kegiatan masturbasi justru akan semakin menjadi-jadi pada remaja
dan dapat bersifat psikotik/neurotik.
(3) Masturbasi pada orang dewasa/tua1
Pada individu yang lebih tua, masturbasi masih dianggap normal jika sexual
outlet yang lain tidak terdapat atau terkendala akibat banyak factor teknis.
Pada beberapa psikosa dan psikoneurosa, sering terjadi masturbasi yang
abnormal. Ini adalah gejala dari penyakit tersebut dan bukan penyebabnya.
Masturbasi meningkat pada wanita berusia 50-70 tahun terutama setelah
menopause, karena beberapa alasan, seperti wanita yang tidak kawin dan
meneruskan pola ini sejak muda dan akibat suami sakit/impotensia/meninggal
dunia atau bercerai.
Masturbasi bisa terjadi pada laki-laki yang sudah tua. Ini mungkin akibat
kemampuan seksualnya yang mulai menurun menyebabkan kurangnya reaksi
terhadap istri dank arena sudah tua, dia menjadi tidak menarik lagi dan
tidak ada wanita yang mau berhubungan seks dengannya.
Kadang-kadang juga masturbasi dilakukan dengan tujuan tertentu seperti untuk
mendapatkan efek analgesik pada penyakit-penyakit tertentu, atau akibat
penyakit tertentu, misalnya pada penderita epilepsy lobus temporalis akibat
berhentinya aktivitas neuroal pada bagian limbus dari lobus temporalis paska
serangan.

PENATALAKSANAAN
Usaha-usaha pencegahan
1. Sikap dan pengertian orang tua
Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal
diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua
terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu,
orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga
kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka. Orangb tua perlu mengawasi
secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang
terpapar pada anak.
Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman
hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk
mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan
menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini; dan
kebiasaan ini bias jadi akan menetap.
Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan
terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan
perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dn
fenomena sexual secunder lainnya.
Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya
kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan
utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi
kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu.
Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan
menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi
sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia
kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga
ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.
Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga
diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari
melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah
anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan
kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi
kepemudaan dan keolahragaan. 1,5, 6
2. Pendidikan seks
Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada
kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang
seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan
sekolah diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan
pelajaran-pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual
yang sederhana dan informatif.
Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih
bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai
bidangnya.
Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak
ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan
wajar terhadap seks. 1,5, 6
Pengobatan
Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter,
kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan
hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak
tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan,
ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa
yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun
psikosa. 1,5
A. Farmakoterapi:
1. Pengobatan dengan estrogen (eastration)
Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak
terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah.
Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.
2. Pengobatan dengan neuroleptik
a. Phenothizine
Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral.
b. Fluphenazine enanthate
Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih
dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25
mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan.
3. Pengobatan dengan trnsquilizer
Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan
rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat
menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat
neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk
pendekatan psikologik. 1, 10

B. Psikoterapi
Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang
cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh
pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita
dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan
awal psikoterapi.
Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya
sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita
pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi.
Pad kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan
memungkinkan dilakukan semacam interview sex education.
Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan
penderita. 1, 10
C. Hypnoterapi
Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan
masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita
dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi. 1
D. Genital Mutilation (Sunnat)
Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara
medis.Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan
mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan mutilasi
genital dengan model yang beraneka macam. 7
E. Menikah
Bagi remaja/adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah dianjurkan
untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah terjadinya kebiasaan
masturbasi.

KESIMPULAN
Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital
untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Normalnya, hal ini
sekali-sekali dilakukan oleh sebagian besar pria maupun wanita. Dalam
kondisi abnormal, masturbasi dapat dilakukan secara kompulsif.
Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95 persen pria dan 89 persen wanita
dilaporkan pernah melakukan masturbasi. Ini adalah perilaku seksual pertama
yang dilakukan oleh sebagian besar pria dan wanita, meskipun lebih banyak
wanita daripada pria yang telah melakukan senggama bahkan sebelum mereka
pernah melakukan masturbasi. Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi
cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka
cenderung menyatakan 'selalu' atau 'biasanya' mengalami orgasme ketika
bermasturbasi.
Masturbasi memunculkan banyak mitos tentang akibatnya yang merusak dan
memalukan. Citra negatif ini bisa dilacak jauh ke belakang ke kata asalnya
dari bahasa Latin, mastubare, yang merupakan gabungan dua kata Latin manus
(tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti "penyalahgunaan
dengan tangan".
Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur tertanam disebabkan karena
porsi "penyalahgunaan" pada kata itu hingga kini masih tetap ada dalam
terjemahan moderen - meskipun para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa
masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental.
Masturbasi menjadi patologik jika dilaakukan secara konfulsif sehingga
merupakan sebuah gejala gangguan jiwa, bukan karena aktivitas seksualnya
tetapi karena sifatnya yang kompulsif.
Penatalaksanaan masturbasi dapat dilakukan melalui upaya pencegahan dengan
melibatkan orang tua dan memberikan pendidikan seks yang dapat diterima oleh
kalangan remaja. Pengobatannya dengan farmakotherapi, psikoterapi,
hypnotherapy dan genital mutilation (tidak dianjurkan).



Peace


Dee

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke