-
Thank's to "Sri Haryati" 






 
 
Menarik untuk dibaca ................

Bismillahirrahmanirrahim
 Pulau Monyet
Oleh : Farabi Al Mishri
Tersebutlah sebuah pulau yang dihuni oleh banyak monyet. Selain monyet, 
pulau tersebut juga memiliki hamparan pohon kelapa yang melimpah, sehingga 
monyet telah dijadikan sebagai pemetik buah kelapa menggantikan peran 
manusia. Harga seekor monyet awalnya hanya senilai $10/ekor, namun 
belakangan terus meningkat terutama sejak Mr. Greedy berani membayar 
seekor monyet dengan harga dua kali lipat.
Melihat peluang bisnis dan dalih jasa pemetikan kelapa, Mr. Greedy 
terdorong untuk memiliki monyet dalam jumlah yang lebih banyak. Perburuan 
monyetpun dilakukan, setiap penduduk yang memiliki monyet ditawarkan harga 
yang menarik, yaitu $20 per ekor. Kini masyarakat ramai-ramai menjualnya 
dengan harga di atas pasaran, dan bahkan menembus harga $40/ekor.
Mr. Greedy belum puas, dikala populasi monyet semakin berkurang dan 
penduduk sudah tidak memiliki monyet lagi, ia menawarkan harga dua kali 
lipat lebih, yaitu $95 untuk setiap monyet. Penduduk pun ramai-ramai 
mencari sumber monyet dari berbagai tempat termasuk di pulau lain, namun 
sayang di pulau-pulau lain tersebut, monyet sulit ditemui. Kalaupun 
didapat ongkosnya tidak sebanding dengan biaya perolehan.
Melihat peruntungan yang menarik, apalagi Mr. Greedy bersedia membayar $95 
per ekor, maka penduduk semakin bernafsu memperolehnya. Melihat situasi 
demikian, Mr. Cunning, si licik, kepercayaan Mr. Greedy mulai mengatur 
siasat. Ia membobol kandang monyet milik Mr. Greedy seolah-olah dicuri 
maling, kemudian menjualnya kepada para pencari monyet seharga $55 per 
ekor. Maka mereka pun berbondong-bondong membeli monyet di harga itu, 
dengan harapan Mr. Greedy akan membelinya senilai $95.
Hitung-hitungan kasar dari spekulasinya, para pembeli itu akan memperoleh 
keuntungan $40 per ekor ($95 - $55). Namun yang terjadi adalah sebaliknya, 
Mr. Greedy enggan membayar monyet-monyet itu dengan harga penawaran 
terakhir, yaitu $95, karena menurutnya monyet-monyet itu adalah miliknya 
yang diambil oleh maling. Bersamaan dengan peristiwa itu, Mr. Cunning 
sudah raib ditelan bumi, ia pergi meninggalkan pulau itu dan tidak jelas 
rimbanya lagi.
Pemilik monyet-monyet itu nasibnya kini sama persis dengan pemegang 
Collateralized Debt Obligations (CDOs), surat/sekuritas subprime mortgage. 
Harga monyetnya tidak lebih dari $10, sama seperti harga sebelum dibeli 
oleh Mr. Greedy. Sementara Mr. Greedy dan patnernya, Mr. Cunning meraup 
keuntungan per ekor monyet tertinggi sebesar $45 ($55 - $10),  $35 ($55 - 
$20), dan keuntungan terendah, $15 ($55 - $40). Penduduk pulau monyet 
hanya gigit jari, keuntungan besar yang diharapkan dari spekulasi tersebut 
berbuntut kerugian yang menyesakkan dada. Sementara Mr. Greedy dan Mr. 
Cunning kabur menikmati dolarnya.
Kisah pulau monyet itulah yang barangkali terjadi di belantara bisnis CDOs 
di negeri Paman Sam. Dikala Federal Reserves (Fed), Bank Sentral AS, 
menurunkan suku bunganya menjadi 1%-1,75% pada awal tahun 2000-an, 
menyebabkan bisnis sektor perumahan menggelembung, bahkan debitur yang 
berpenghasilan pas-pasan atau sebenarnya tidak layak (subprime) bisa 
memperoleh mortgages atau seperti kredit pemilikan rumah di negeri ini. 
Analoginya seperti kasus pemegang kartu kredit yang berasal dari golongan 
berpendapatan rendah, namun memiliki banyak kartu kredit.
Bank pemberi mortgage (KPR) kemudian menjual subprime mortgage yang 
berisiko tinggi tersebut melalui proses sekuritisasi, yaitu mengubah 
obligasi mortgage menjadi sekuritas (surat berharga) baru yang disebut 
Collaterized Debt Obligations (CDOs) atau sebagai Mortgage Back Securities
, surat berharga beragun KPR. CDO tersebut tercipta melalui pemilahan dari 
beberapa mortgage yang potensial/kurang potensial dengan financial asset 
lain, kemudian produk derivasinya (turunan) diasuransikan serta 
memasukkannya dalam lembaga pemeringkat (Rating Agency), sehingga bank 
dapat menjual pada harga rating AAA (berisiko rendah), BBB (sedang), dan 
CCC (tinggi).
Rekayasa tersebut sebenarnya syarat dengan kolusi dan moral hazard dari 
berbagai pihak, antara lain mortgage lender (bank), broker mortgage, 
maupun agen pemeringkat. Hasil rekayasa tersebut telah mampu membangun 
image kepercayaan, sehingga CDOs tersebut menyebar tidak saja di AS tetapi 
juga ke belahan dunia, seperti daratan Eropa, dan Australia yang saat ini 
paling terasa dampaknya. 
Pada tahun 2000 – medio 2005 harga pasar rumah meningkat lebih dari 10%, 
sehingga pengembangan sektor perumahan menjadi sangat pesat, bahkan 40% 
rumah yang dibeli merupakan investasi atau rumah kedua. Martin Feldstein, 
mantan penasehat ekonomi AS, mengestimasikan bahwa selama tahun 1997 – 
2007, konsumen membelanjakan lebih dari USD 9 triliun untuk home equity
-nya. Dibarengi dengan dikeluarkannya instrumen Adjustable Rate Mortgage 
(ARMs) oleh Menteri Keungan AS, yaitu pengenaan bunga lebih rendah dari 
pasar selama 2 tahun pertama, dan pada tahun selanjutnya mengikuti tingkat 
bunga yang berlaku, yang menyebabkan bank menikmati penambahan hasil.
Secara bertahap sejak Juni 2004 Fed mulai menaikkan suku bunga hingga 
5,25% pada Agustus 2007, kredit-kredit ini mulai menuai masalah, sehingga 
banyak perusahaan penerbit mortgage (investment banks) mengalami kerugian 
besar dan tidak bisa membayar kewajibannya kepada pemegang CDO. Hal itu 
karena, para debitur KPR banyak yang menunggak alias mengalami gagal bayar 
termasuk subprime mortgage, dan terjadilah penyitaan rumah secara 
besar-besaran. Menurut Reality Trac (perusahaan penyedia data penyitaan 
rumah di AS) mencatat tidak kurang dari 2,5 juta rumah disita, hal ini 
mengakibatkan harga rumah turun tajam apalagi di daerah yang memiliki 
excess supply (kelebihan penawaran).
Dampaknya bisa diterka, investor besar seperti Lehman Brothers misalnya 
yang membeli CDO mengalami kerugian besar, dan hal ini mengakibatkan harga 
saham atau nilai aktiva bersih dari investor yang memiliki CDO harganya 
turun, yang berantai kepada investor besar/retail lainnya. Kebanyakan 
investor menjual portfolio (termasuk sahamnya) secara besar-besaran di 
berbagai pasar dunia, dan efek dominonya secara keseluruhan pasar modal 
(bursa saham) dunia mengalami penurunan sangat tajam.
Beberapa perusahaan yang terkena dampak dan mengalami tekanan keuangannya 
antara lain adalah Lehman Brothers, dan WaMu (bangkrut), Fannie Mac, 
Freddie Mac, AIG, Fortis, Bradford & Bingley, dan GLINTNIR 
(dinasionalisasi), Merrill Lynch, HBOS, dan WACLIOVIA (diambil alih (take 
over) oleh pemerintah federal), dan Hypo Real Estate (paket penyelamatan).
Kondisi tersebut menyebabkan penurunan Index Dow Jones dan lainnya yang 
biasa dijadikan referensi para investor. Krisis subprime mortgage di AS 
tersebut kemudian menjalar ke negara lain secara langsung seperti Inggris, 
Perancis, Jerman, Belgia, Icelandia, China, dan Australia. Secara 
teoritis, alhamdulillah perbankan di Indonesia tidak terkena dampaknya, 
karena Peraturan Bank Indonesia tidak memperkenankan bank-bank membeli 
surat hutang berisiko tinggi. Namun dari pasar modal, investor Indonesia 
banyak yang mengalami kerugian akibat turunnya saham perusahaan lokal 
apalagi yang terkait dengan Lehman Brothers. Tetapi peran pasar modal di 
Indonesia kurang dari 10% (Dr. Faisal Basri), sedangkan 80% peran dalam 
sistem keuangan ada pada sektor perbankan.
Jadi secara teoritis aneh jika kita harus cemas dan kalut menghadapi 
situasi ini, kecuali mereka yang bermain saham, bukankah hal itu memang 
sudah menjadi resikonya?. Senyatanya dunia ini selalu ada orang-orang 
seperti Mr. Greedy (serakah) dan Mr. Cunning (licik). Bukankah para Yahudi 
(tidak semua Yahudi. red) memang lebih senang berbisnis di sektor abstrak 
(maya) daripada sektor riil. Pasar uang, pasar modal, dan bursa berjangka 
(komoditi) adalah bidang-bidang yang banyak mereka geluti, sebutlah salah 
satunya George Soros.
Allah SWT berfirman, "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) 
yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini," 
(QS. Al A'raaf, 7:169). Sejatinya mereka malas bekerja di sektor riil 
menjadi petani misalnya atau yang berhubungan dengan aktivitas bisnis 
riil. Oleh karenanya ketika sore kemarin kurs dolar terhadap rupiah 
ditutup pada harga Rp11.000 an, dari kurs beberapa hari sebelumnya di 
Rp9.000-an, saya bertanya-tanya, apakah mereka seperti orang-orang yang 
tinggal di Pulau Monyet, yang tertipu oleh konspirasi Mr. Cunning dan 
sepak terjang Mr. Greedy?.
Jika mereka membeli US Dolar pada harga Rp10.000 dengan harapan menjadi 
Rp15.000, apakah itu tidak ada bedanya dengan mereka yang membeli monyet 
pada harga $55 dengan harapan bisa dijual pada harga $95?. Bukankah itu 
spekulasi?, ya. Itu namanya spekulasi karena mengharapkan nilai lebih 
tanpa transaksi yang mendasari (Underlying Transactions). Jika seseorang 
membeli dolar karena ada kewajiban dalam waktu dekat yang harus dipenuhi, 
mungkin hal itu bisa diterima syari'at atau untuk membayar uang kuliah 
anaknya yang sekolah di AS misalnya. Tetapi kalau hanya untuk mencari 
untung, secara kaidah ekonomi tentu sah-sah saja, tetapi bukankah itu 
spekulasi, dan spekulasi itu Judi?.
Dahulu, ketika Al Qur'an diturunkan memang belum ada bursa efek, dan pasar 
uang (foreign exchange), tetapi berbisnis dengan maksud mengadu nasib 
melalui spekulasi dan sekedar mencari peruntungan bukankah itu sama halnya 
dengan mengundi dengan anak panah?. Dalam pemahaman saya, membeli saham 
atau valuta asing tanpa underlying transactions adalah sama halnya dengan 
mengadu nasib. Untuk itu Allah SWT telah mengingatkan kita semua, "Dan 
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan 
anak panah itu) adalah kefasikan." (QS. Al Maaidah, 5:3).
Sama halnya dengan para penduduk di Pulau Monyet, jika mereka membeli 
monyet dengan maksud untuk dijadikan tenaga pemetik kelapa, mengacu pada 
ayat diatas tentu dibolehkan. Namun ketika tujuannya menjadi spekulasi 
atau sekedar mencari keuntungan, itulah yang dinamakan mengundi nasib. 
Atau ketika seseorang membeli US dolar dengan harapan kursnya naik menjadi 
USD/Rp16.000 misalnya – tentu tidak ada bedanya. Selain mengundi nasib, 
bukankah akibat naiknya dolar akibat sentimen pasar (direkayasa) akan 
menyebabkan harga-harga barang membumbung ke langit, yang pada gilirannya 
menyusahkan orang banyak?.
Mungkin kita mempunyai uang banyak, tetapi apakah itu bijak, jika karena 
daya beli tinggi, maka kita bisa sesuka hati melakukan sesuatu yang 
menyimpang dari tujuan kita dititipi harta (uang) yang melimpah. Disadari 
bahwa di balik titipan itu, ada sebuah amanat  di dalamnya, yaitu untuk 
kemanfaatan dan kemaslahatan orang banyak. Allah SWT pun telah 
mengingatkan hal itu melalui firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, 
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) 
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, 
sedang kamu mengetahui." (QS. Al Anfaal, 8:27). Kita memang bukan penduduk 
Pulau Monyet, dan kitapun tidak akan berperilaku seperti penduduk di pulau 
itu, yang mau begitu saja dibodohi. Sehingga negeri ini selamat dari tipu 
daya dan perilaku manusia-manusia seperti Mr. Greedy dan Mr. Cunning. 
Insya Allah (fam).
__._,_.___ 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
Forum Pesan Hari Ini (PHI) 
MARKETPLACE
From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods 

Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format 
to Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 
Recent Activity
 11
New Members
Visit Your Group 
Y! Messenger
Quick file sharing
Send up to 1GB of
files in an IM.
Healthy Living
Learn to live life
to the fullest
on Yahoo! Groups.
Real Food Group
Share recipes
and favorite meals
w/ Real Food lovers.
.

__,_._,___ 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke