Neh 

Biar nggak bangun2x

Selamat menikmati




 




"Hell Boy's" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
11/03/2008 03:29 PM
Please respond to
[email protected]


To
"aga grup" <[email protected]>
cc

Subject
~ aga ~






wahh payahh
 
pade tidur semua he.e.e.e.e.e.e.e



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

ANDANI CITRA: KOST SI DIMAS

Dua mingguan setelah peristiwa ‘Akibat Main Mobil Goyang’ aku sedang makan di 
kantin mahasiswa bersama Ratna. Kami ngerumpi sambil menunggu jam kuliah 
berikutnya, saat itu jam 12.00 jadi kantin sedang penuh-penuhnya. Waktu sedang 
larut dalam canda tawa, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang dan orang itu 
langsung duduk di sebelah kiriku.

“Hallo girls, gabung yah, penuh nih!” sapa orang itu yang ternyata si Dimas, 
salah satu playboy kampusku yang dua minggu lalu terlibat ‘bercinta’ denganku 
(baca Akibat Main Mobil Goyang).
“Penuh apa alasan buat bisa deketin kita, heh?” goda Ratna padanya.
“Iya nih, dasar, itu tuh disana aja kan ada yang kosong, hus.. hus..!!” kataku 
dengan nada bercanda.
“Maunya sih.. cuma kalau saya disana takutnya ada yang merhatiin saya, jadi 
mendingan saya deketin sekalian” kelakarnya dengan gaya khas seorang playboy.
“Gila nggak tahu malu amat, jijay loe!” sambil kucubit lengannya.

Kami bertiga menikmati makan dan obrolan kami semakin seru dengan datangnya 
pemuda ini. Harus kuakui Dimas memang pandai berkomunikasi dengan wanita dan 
menarik perhatian mereka. Dalam empat sekawan geng-ku saja dia sudah pernah 
menikmati petualangan sex dengan tiga diantaranya (termasuk aku), tinggal si 
Indah yang belum dia rasakan.
“Kuliah jam berapa lagi nih kalian?” tanyanya
“Saya sih masih lama, jam tiga nanti, pulang tanggung” jawabku.
“Kalau saya sih sebentar lagi jam satu masuk, BT deh kuliahnya Bu Dinah yang 
killer itu” jawab Ratna sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
“Halo Ci.. hai Nana (Ratna)!” sapa Indah yang tiba-tiba nongol dari keramaian 
orang lalu duduk di sebelah Ratna.
Hari itu Indah tampil dengan penampilan barunya yaitu rambutnya yang panjang 
itu dicat coklat sehingga nampak seperti cewek indo. Dia terlihat begitu 
menawan dengan baju pink yang bahunya terbuka dipadu celana panjang putih.

Kuperkenalkan Dimas pada Indah, berbeda dengan kami bertiga yang dari fakultas 
yang sama, Sastra Inggris, Indah berasal dari Fakultas Ekonomi sehingga dia 
belum mengenal Dimas. Begitu kenal dengan Indah, Dimas langsung beraksi dengan 
kata-kata dan pujian gombalnya. Dengan sifat Indah yang gaul itu mereka cepat 
akrab dan omongannya nyambung.
“Dasar aligator darat,” begitu gumamku dalam hati sambil menyedot minumanku.
Tak lama kemudian HP Ratna berdering lalu dia pamitan karena ada janji mau 
mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di perpustakaan. Jadi sekarang 
tinggallah kami bertiga.
“Ngapain yah enaknya sambil nunggu, bosen kan disini terus?” kata Indah setelah 
menghabiskan kentang goreng dan minumnya. Ternyata dia sedang menunggu kuliah 
jam tiga juga.
“Ke kost saya gimana? Saya sih sudah beres nggak ada apa-apa lagi,” usul Dimas.
Kami pun mengiyakan daripada menunggu dua jam lebih di kampus, di kostnya kan 
banyak film jadi bisa nonton dulu. Kami pun berjalan ke gerbang samping yang 
menuju ke kostnya setelah membayar makan.

Hanya dalam lima menit kami sudah tiba di tujuan. Kostnya cukup besar dan bagus 
karena termasuk kost yang mahal di daerah sini, terdiri dari dua tingkat dengan 
kamar mandi di kamar masing-masing. Penghuninya campur pria-wanita, tapi 
menurut Dimas lebih dari setengahnya wanita, makannya dia betah di sini.
“Welcome to my room, sori yah rada berantakan,” dia membukakan pintu dan 
mempersilahkan kami masuk ke kamarnya di tingkat dua.
Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, aku bahkan pernah ‘bercinta’ disini saat 
one night stand dengannya. Pada temboknya terpampang beberapa poster pemain 
sepak bola, juga ada sebuah poster anime Kenshin. Foto pacarnya yang kuliah di 
luar negeri dipajang diatas meja belajarnya yang sedikit acak-acakan. Kami 
ngobrol-ngobrol sambil menikmati snack hingga akhirnya obrolan kami mulai 
menjurus ke masalah seks. Dimas tanpa basa-basi menawarkan nonton film bokep 
koleksinya, dipilihnya salah satu vCD bokep Jepang favoritnya. Aku tidak ingat 
judulnya, yang pasti adegannya membuatku merinding. Kami bertiga hening 
menatapi layar komputer seakan terhanyut dalam adegan yang pemerkosaan masal 
seorang wanita oleh beberapa pria, sperma pria-pria itu berhamburan membasahi 
si wanita.

Darahku serasa memanas dan selangkanganku mulai basah. Indah di sebelahku juga 
mulai gelisah, dia terlihat menggesek-gesekkan kedua pahanya. Dan, si Dimas.. 
oh dia meremas-remas tangan Indah, dia juga mulai berani mengelus lengannya. 
Melihat reaksi Indah yang malu-malu mau dan sudah terangsang berat, Dimas makin 
berani mendekatkan mulutnya ke pundak Indah yang terbuka. Indah menggelinjang 
kecil merasakan hembusan nafas Dimas pada leher dan pundaknya. Karena sudah 
merasa horny, ditambah lagi Dimas dan Indah mulai beraksi, akupun tidak 
malu-malu lagi mengekspresikan nafsuku pada Indah yang duduk paling dekat 
denganku. Tanganku merayap lewat bagian bawah bajunya dan terus menyelinap ke 
balik bra-nya. Aku dapat merasakan putingnya makin mengeras ketika 
kumain-mainkan dengan jariku. Mulutku saling berpagutan dengannya, lidah kami 
saling beradu dan bertukar ludah. Sementara di sebelah sana, Dimas mulai 
menjilati leher dan pundaknya, disibakkannya rambut panjang itu lalu dihirupnya 
wangi tubuhnya sebelum cupangannya berlanjut ke leher dan belakang telinganya.

Indah mendesah tertahan menikmati perlakuan ini, tangannya mulai bergerak 
meraih penis Dimas yang masih tertutup celana jeansnya, diraba-rabanya benda 
yang sudah mengeras itu dari luar. Ciuman Dimas menurun lagi ke bahu Indah 
sambil menurunkan pakaian dengan bahu terbuka itu secara perlahan-lahan, suatu 
cara profesional dan erotis dalam menelanjangi seorang wanita. Aku juga ikut 
menurunkan pakaian Indah dari sebelah kiri sehingga pakaian itu sekarang 
menggantung di perutnya. Dengan cekatan Dimas menurunkan cup BH kanannya dan 
langsung melumatnya dengan rakus. Indah melenguh merasakan payudaranya dihisap 
kuat oleh Dimas. Aku sekarang melepaskan pakaianku sendiri hingga bugil lalu 
mendekati Dimas yang sudah merebahkan tubuh Indah di ranjangnya. Kupeluk 
pinggangnya dari belakang dan melepaskan sabuknya disusul resleting celananya. 
Dimas berhenti sejenak untuk membiarkanku melucuti dirinya, disaat yang sama 
Indah juga melepasi pakaiannya. Kini kami bertiga sudah telanjang bulat. Kami 
menyuruh Dimas rebahan di ranjang agar bisa menservis penisnya. Penis yang 
sudah mengeras kukocok dan kujilati, lalu kumasukkan ke mulutku.

Bersama dengan Indah, kami bergantian melayani ‘adik’ Dimas dengan jilatan dan 
emutan. Indah melakukan aktivitasnya dengan terngkurap diatas tubuh Dimas 
dengan kata lain mereka dalam posisi 69, jadi Dimas bisa menikmati vagina Indah 
sementara kami berdua menikmati penisnya. Dimas sangat menikmati vagina Indah, 
hal ini nampak dari cara dia menjilat dan menyedot liang itu, terkadang suara 
hisapannya terdengar jelas sehingga membuat Indah mengerang pendek. Beberapa 
menit kemudian Indah mengerang lebih panjang dan suara seruput Dimas terdengar 
lebih jelas, ternyata Indah sudah mencapai orgasme pertama. Dimas mengganti 
posisi, Indah disuruh telungkup di ranjang dan pantatnya diangkat menungging, 
Dimas sendiri mengambil posisi di belakangnya dan mengarahkan senjatanya ke 
vagina Indah. Indah merintih sambil meremas sprei menikmati penis Dimas melesak 
masuk membelah bibir bawahnya. Ketika penis itu masuk sebagian, Dimas 
menghentakkan pinggulnya dengan bertenaga sehingga penisnya amblas seluruhnya 
dalam vagina Indah. Tubuhnya tersentak pelan dengan mata membelalak diikuti 
dengan erangan nikmatnya.

Dimas memompa Indah dengan gerakan-gerakan yang mantap dan erotis sehingga 
Indah tidak sanggup berkata apa-apa selain mengap-mengap keenakan. Kedua 
tangannya menjelajahi payudara Indah yang berukuran sedang tapi padat, kedua 
putingnya dipencet-pencet atau dipelintir. Aku sendiri yang tidak tahan hanya 
menonton mengambil posisi berselonjor di depan Indah, kedua pahaku kubuka lebar 
dan kudekatkan ke wajah Indah.
“Ndah.. jilatin punya saya yah.. nggak tahan nih!”
Indah mulai menjilati paha dan vaginaku, lidahnya menari-nari menggelikitik 
klitorisku yang sudah menegang sementara tangannya meraih payudaraku dan 
mencubit-cubit putingku. Lidah Indah memberi rangsangan tak terkira pada 
kemaluanku sehingga aku tidak tahan untuk tak mendesah. Desahan kami bertiga 
pun terdengar memenuhi kamar ini. Kami berganti posisi menjadi woman on top, 
Indah bergoyang di atas penis Dimas dan aku naik ke wajah Dimas berhadapan 
dengan Indah, kini vaginaku dilayani oleh Dimas dengan lidahnya.

Sambil terus bergoyang aku berciuman dengan Indah, aku kembali menikmati lidah 
sesama jenisku, kami bercipokan sambil mengeluarkan desahan-desahan tertahan. 
Ciuman Indah terus turun ke leherku hingga berhenti di payudara kananku, sebuah 
gigitan kecil disertai hisapan pada daerah itu membuatku menggeliat, disusul 
tangan Dimas menjulur dari bawah mencaplok yang kiri. Ooohh.. sepertinya bagian 
sensitifku diserang semua, lidah Dimas yang dikeraskan itu melesak masuk lebih 
dalam dan bergoyang menggelikitik dinding kemaluanku, tangannya yang satu 
meremas dan sesekali menepuk pantatku yang sekal. Aku semakin erat mendekap 
Indah sambil satu tanganku meremas payudaranya. Tak lama kemudian aku merasa 
sesuatu yang mendesak keluar dari bawah sana, ahh.. aku tak sanggup lagi 
menahan cairan cinta yang mulai membasahi vaginaku. Hal yang sama juga dialami 
Indah tak lama kemudian, dia melepas emutannya pada putingku, nafasnya makin 
memburu dan dia menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih cepat.

Tubuh kami berdua mengejang hebat dan erangan klimaks keluar dari mulut kami. 
Dimas menusuk-nusukkan jarinya ke vaginaku membuat cairan itu makin membanjir 
dan tubuhku makin tak terkendali, aku mendesah panjang tanpa mempedulikan rasa 
sakit dari kuku Indah yang mencakar lenganku. Cairanku diseruput Dimas dengan 
rakusnya, vagina Indah juga mengeluarkan banyak cairan sehingga menimbulkan 
bunyi kecipak air. Goyangan kami mulai mereda, kami berpelukan menikmati 
sisa-sisa orgasme barusan, kami menghimpun nafas kami yang kacau balau, 
keringat seperti embun membasahi dahi dan tubuh kami. Akhirnya kujatuhkan 
diriku ke samping dan Indah jatuh di dekapan Dimas. Dimas menoleh ke samping 
bertatapan muka denganku lalu mengembangkan senyum, nampak mulutnya masih basah 
oleh cairan cintaku. Hebat juga dia, bisa membuat dua wanita klimaks dalam 
waktu hampir bersamaan, begitu pujiku dalam hati.

“Gimana girls, ready for next round? Saya belum keluar nih,” katanya sambil 
mengelus rambut panjang Indah.
“Hhh.. kamu duaan aja dulu deh, saya kumpul tenaga dulu. Heh sialan kamu Ndah, 
pakai cakar-cakaran segala sakit tahu, nih!” omelku memperlihatkan bekas 
cakaran di lengan kiriku yang sedikit berdarah sambil mencubit lengannya.
“Hihihi.. sory dong Ci, tadi kan kita lagi lupa daratan lagi, yang penting kan 
enjoy juga,” jawabnya santai sambil tersenyum kecil.
Sebentar kemudian Dimas sudah membalikkan tubuh Indah menjadi telentang 
dibawahnya, lalu kembali penisnya dimasukkan ke vagina Indah diiringi 
desahannya. Ranjang ini sudah mulai bergetar lagi oleh goyangan tubuh mereka. 
Sambil menggenjot Dimas meraih payudaraku dan memencetnya lembut sebagai sinyal 
mengajakku segera bergabung.
“Ntar yah, saya mau minum dulu nih, haus,” kataku sambil bangkit berdiri dan 
mengambil sebuah gelas, aku membuka kran dispenser yang terletak di dekat 
jendela untuk mengisi air.

Ketika sedang meneguk air tiba-tiba aku mendengar suara kresek-kresek di pintu. 
Kutajamkan pendengaranku dan melihat ada seperti bayangan di celah bawah pintu, 
pasti seseorang mengintip kami pikirku. Aku tadinya bermaksud memberitahu 
mereka, tapi sebaiknya kuselidiki sendiri karena mereka sedang sibuk berpacu 
dengan nafsu sampai tidak begitu menghiraukanku. Kusingkap sedikit tirai 
jendela untuk melihat siapa di luar sana, ada seseorang pria sedang menempelkan 
telinganya pada pintu, dia juga berusaha mencari-cari lubang untuk mengintip, 
tapi wajahnya tidak jelas. Dalam pikiranku terbesit sebaiknya kuajak saja dia 
untuk meramaikan, mumpung aku dari tadi belum dimasuki penis karena Dimas 
sedang asyik menggumuli Indah. Maka sebelumnya aku melihat dulu sekeliling apa 
ada orang lain lagi selain dia, letak kamar ini cukup strategis agak ujung dan 
jauh dari keramaian, setelah yakin tidak ada siapapun lagi selain pengintip ini 
kuberanikan diri membuka pintu mengejutkannya. Pelan-pelan gagang pintu kuputar 
dan.. hiya.. orang itu terdorong masuk karena sedang menyandarkan tubuhnya pada 
pintu, dengan cekatan pintu kembali kututup. Orang itu benar-benar terkejut, 
bingung, dan terangsang melihat sekelilingnya bugil dan ada yang bersenggama 
pula.

Dimas dan Indah yang sedang berasyik-masyuk kontan ikut terkejut, Indah 
menyambar guling untuk menutupi tubuhnya dan menjerit kecil. Belakangan aku 
tahu dia adalah kacung di kost ini, namanya Dadan, usianya masih 17 tahun, 
anaknya tinggi kurus dan berkulit sawo matang. Tadinya dia cuma mau mengambil 
barang di gudang yang kebetulan harus lewat kamar ini, ketika itulah dia 
mendengar suara-suara aneh dan terpancing untuk mendengar dan mengintipnya. Dia 
langsung tertunduk-tunduk minta maaf berkali-kali karena dimarahi Dimas yang 
merasa gusar diintip olehnya. Namun ketika Dimas merenggut kerah baju pemuda 
itu dan hendak memukulnya buru-buru aku mencegah dan menenangkan si Dimas yang 
bertemperamen tinggi.
“Ehh.. sudah-sudah, dia kan nggak sengaja tadi, kita juga yang salah terlalu 
keras suaranya.. sudah kamu sana aja terusin pestanya sama Indah, biar dia, 
saya yang urus, lagian di sini kurang cowoknya,” bujukku mengedipkan sebelah 
mata pada Dimas.
Kuelus-elus dada Dimas dan berusaha menenangkannya, setelah kubujuk-bujuk 
akhirnya dia mundur juga.
“Tenang Mas, kamu orang terusin aja, biar saya urus yang ini”

Akupun tersenyum padanya mencoba mengajak bicara sambil memegangi kedua 
lengannya, kurasakan tubuhnya masih agak gemetar dan tertunduk, entah karena 
tegang, kaget, atau malu.
“Nama kamu Dadan ya?” tanyaku dengan lembut dan dijawab dengan anggukan 
kepalanya.
“kamu tadi sudah ngeliat apa aja Dan?” tanyaku lebih lanjut
“Belum liat apa-apa kok Non, sumpah.. saya cuma denger suara-suara terus saya 
cari tahu” jawabnya terbata-bata
“Terus kamu tahu apa yang kita kerjain barusan itu?” dijawab lagi dengan 
anggukan kepala.
“Kamu pernah ngerasain ngentot sebelumnya?”
“Nggak pernah Non, paling cuma liat di VCD sambil coli”
“Ya sudah Dan, berhubung kamu sudah disini gimana kalau Mbak ajarin kamu soal 
gituan,” aku tersenyum lagi dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, walaupun 
gugup tapi matanya terus ke arah tubuhku yang polos, sebentar-sebentar juga 
melihat ke arah Indah.

“Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo.. jangan malu-malu disini semua 
bugil kok!” kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu 
menutupi penisnya dengan tangan.
Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku 
berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya 
ke mulutku dan kuemut pelan. Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan 
mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok 
benda itu terasa makin keras dan besar, memang nggak jumbo size sih, namanya 
juga ABG, tapi kerasnya lumayan.
“Hmmhh.. Mbak.. geli Mbak!” erangnya gemetaran.
“sudah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan 
kok” jawabku.

Tiba-tiba terdengarlah suara musik heavy metal mengalun di kamar ini, sambil 
terus menyepong kulirikkan bola mataku ke arah suara. Ternyata si Dimas 
menyalakan MP3 di komputernya dan menyetel volume suaranya untuk meredam suara 
kami. Kemudian mereka yang tadinya melongo memperhatikanku mengerjai anak muda 
sudah mulai lagi dengan kesibukan mereka. Kini Dimas menaikkan kedua tungkai 
Indah ke bahunya dan kembali melesakkan penisnya ke vaginanya. Setelah beberapa 
kumainkan dalam mulutku, penis itu mulai berkedut-kedut, pemiliknya juga 
mendesah makin tak karuan. Akupun semakin dalam menelan benda itu hingga 
menyentuh daging lunak di tenggorokanku.
“Mbak.. ohh.. enakk banget Mbak.. aahh!” desahnya panjang bersamaan dengan 
spermanya yang ngecret di dalam mulutku.
Pipiku sampai kempot mengisap dan menelan cairan itu dengan nikmat, tak setetes 
pun tertinggal. Kemudian akupun bangkit berdiri sambil tetap menggenggam 
penisnya yang masih ngaceng tapi agak berkurang tegangnya.

“Gimana Dan, pernah diginiin nggak sama cewek sebelumnya, rasanya gimana?” 
tanyaku dengan senyum nakal.
“Baru pertama kali Mbak.. he-eh emang enak banget,” katanya masih dengan nafas 
terengah-engah.
“Ini baru pemanasan Dan, masih banyak yang lebih enak kok, yuk sini deh!” 
kataku seraya menaikkan pantat ke meja belajar dan mengangkangkan kedua belah 
paha mulusku.

Kubimbing penisnya ke arah vaginaku yang terkuak lebar, setelah tepat sasaran 
kusuruh dia menggerakkan pinggulnya ke depan. Bless.. terbenamlah penis itu ke 
dalamku diiringi desahan nikmat kami. Tanpa kuajari lagi dia mulai 
menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur, sodokannya walaupun terasa makin 
mantap tapi rasanya masih ada yang kurang yaitu dia tidak memberi rangsangan 
pada bagian sensitifku lainnya, maklumlah namanya juga perjaka, masih amatiran. 
Aku harus terus berinisiatif mengajarinya, maka kutarik kepalanya mendekati 
payudaraku yang membusung, kusuruh dia mengeyotnya sepuas hati. Barulah dia 
mulai berani menjilati dan mengulum payudaraku, bahkan tangan satunya kini 
aktif menggerayangi payudaraku yang lain.

Entah karena terlalu nafsu atau kelepasan dia gigit putingku yang kanan dengan 
cukup keras, sampai aku menjerit.
“Aakkhh.. Dan sakit, jangan keras-keras dong!”
Di seberang sana Indah sudah dibuat orgasme entah yang keberapa kalinya. Tak 
sampai lima menit berikutnya Dimas pun mendesah panjang mencapai klimaksnya, 
dia mencabut penisnya dari vagina Indah dan menumpahkan isinya diatas perut 
rata Indah. Merekapun roboh bersebelahan, Indah mengusap-ngusapkan sperma itu 
ke tubuhnya dan menjilati sisa-sisanya di jari. Dadan masih terus menyodokku 
dari depan, gairahku makin memuncak saja, vaginaku terasa makin panas akibat 
gesekan dengan penisnya, suara erangan kami terlarut bersama dengan dentuman 
musik rock dari komputer. Bosan dengan posisi ini, dia memintaku ganti gaya. 
Sekarang kami melakukannya dengan gaya berdiri, aku berpegangan pada tepi meja 
sambil disodok dari belakang, dengan posisi demikian tangannya lebih bebas 
menggerayangi payudaraku yang bergantung, putingku dipencet dan dipilin-pilin 
terkadang agak kasar sampai benda itu mencuat tegang.

“Dan.. tambah cepet dong.. Mbak sudah mau nih..!!” aku mengerang lirih saat 
kurasakan klimaks sudah diambang.
“Ooohh.. ahh.. saya juga.. kok rasanya tambah.. enak Mbak” sahutnya dengan 
menambah goyangannya.
“Keluarin di.. dalam.. jangan cabut penis kamu.. ahh” kataku dengan suara 
bergetar.
Kamipun mencapai orgasme bersama, tubuhku menggelinjang hebat, aku berteriak 
seolah mengiringi lagu di komputer, kepalaku terangkat dan mataku merem-melek. 
Si Dadan juga mendesah nikmat merasakan orgasme pertamanya bersama seorang 
wanita. Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan 
kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke 
pahaku. Tubuhku lemas bersimbah peluh dan jatuh terduduk di kursi terdekat. 
Kubentangkan pahaku lebar-lebar agar bagian itu mendapat angin segar, soalnya 
rasanya panas banget setelah begitu lama bergesekan. Liang kenikmatanku nampak 
menganga dan sisa-sisa cairan persengamaan masih menetes sehingga membasahi 
kursi di bawahnya.

“Saya mau lagi dong Mbak, abis vagina Mbak legit banget sih, lagi yah Mbak!” 
pintanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang itu di dekat wajahku.
“Iyah, tapi nanti yah, Mbak istirahat sebentar,” jawabku sambil mengelap 
keringat di wajahku dengan tisu.
Kulihat Dimas bangkit dan mendekatiku, senjatanya sudah dalam posisi siap 
tempur lagi setelah cukup istirahat. Dia belai rambutku dan meraih tanganku 
untuk digenggamkan pada penisnya.
“Yuk, Cit.. sambil kumpulin tenaga, kasih senjata gua amunisi dulu dong!” 
pintanya.
Akupun memijati benda itu diselingi jilatan. Melihat si Dadan yang bengong aku 
pun menarik tangannya menyuruh berdiri di sisi kananku. Maka dihadapanku 
sekarang mengacunglah dua batang senjata yang saling berhadapan dan 
masing-masing kugenggam dengan kedua tanganku. Kugerakkan tangaku mengocok 
keduanya, mulutku juga turut melayani silih berganti.

Merasa cukup dengan pemanasan, Dimas menyuruhku berhenti, dan menyuruhku bangun 
dulu, lalu dia duduki kursi itu baru menyuruhku duduk lagi di pangkuannya 
(sepertinya mau gaya berpangkuan deh). Dengan agak kasar dia menyuruh Dadan 
menyingkir
“Heh, sana lo.. kali ini giliran gua tahu, jangan ganggu lagi!”
“Eee.. sudah jangan galak ah, gitu-gitu juga dia kan yang bantu-bantu kamu 
orang di sini” sahutku mengelus lengan Dimas.
“Dan kamu minta Mbak yang itu aja buat ngajarin kamu,” lanjutku, “Ndah mau yang 
ajarin dia bentar kan, masih pemula nih.”

Sekarang Dadan tidak segrogi saat pertama main denganku barusan, dia menindih 
tubuh Indah yang masih terbaring. Indah mengajarinya teknik berciuman, 
nampaknya Dadan cepat dalam mempelajari teknik-teknik bercinta yang kami 
ajarkan, sebentar saja dia sudah nampak beradu lidah dengan panasnya bersama 
Indah, tangannya juga kini lebih aktif menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Indah 
memberi rangsangan. Indah yang gairahnya sudah bangkit lagi merespon dengan tak 
kalah hebat. Dia berguling ke samping sehingga dia kini di atas Dadan, lidahnya 
tetap bermain-main dengan lidah lawannya sementara tangan lembutnya meraih 
penis pemuda tanggung itu serta mengocoknya, Dadan mendesah-desah tak karuan 
menghadapi keliaran Indah. Indah membimbing penis itu memasuki vaginanya, 
dengan posisi berlutut dia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke 
dalamnya. Kemudian mulailah dia menaik-turunkan tubuhnya dengan gencar membuat 
pemuda tanggung itu kelabakan. Kedua tangan Dadan mencengkram kedua payudara 
Indah dan meremasinya dengan bernafsu.

Di tempat lain aku sedang asyik menggoyangkan tubuhku di pangkuan Dimas. 
Vaginaku dihujam penisnya yang sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa 
berkontraksi makin cepat memijati miliknya. Tangannya yang mendekapku dari 
belakang terus saja menggerayangi payudaraku dengan variasi remasan lembut dan 
kasar. Kutengokkan wajahku agar bisa berciuman dengannya, lidah kami saling 
membelit dan beradu dengan panasnya. Beberapa menit kemudian mulutnya merambat 
ke telingaku, dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin 
terbakar birahi. Mulutnya terus mengembara ke tenguk, leher, dan pundakku 
meninggalkan bekas liur maupun bercak merah. Tanpa terasa goyangan tubuh kami 
semakin dahsyat sampai kursinya ikut bergoyang, kalau saja bahannya jelek 
mungkin sudah patah tuh kursi. Posisi ini berlangsung 20 menit lamanya karena 
kami begitu terhanyut menikmatinya. Selama itu terdengar dua SMS yang masuk ke 
ponselku namun tak kuhiraukan agar tak merusak suasana.

Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku, tubuhku kembali menggelinjang 
dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Mengetahui aku akan segera 
keluar, dia makin bergairah, tubuhku ditekan-tekan sehingga penisnya menusuk 
lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremasi payudaraku.
“Aaahhkk..!” jeritku bersamaan dengan lagu mp3 yang hampir berakhir.

Kugenggam erat lengan Dimas dan menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu 
melanda tubuhku. Aku merasakan cairan cinta yang mengalir hangat pada 
selangkanganku. Akupun akhirnya bersandar lemas dalam dekapannya, penisnya 
tetap menancap di vaginaku, nafas kami tersenggal-senggal dan keringatpun 
bercucuran dengan derasnya. Kemudian dia angkat tubuhku hingga penisnya 
tercabut, tangan satunya menyelinap ke lipatan pahaku. Diangkatnya tubuhku 
dengan kedua lengan, aku menjerit kecil saat dia tiba-tiba menaikkanku ke 
lengannya karena kaget dan takut jatuh. Dibawanya aku ke ranjang lalu 
diturunkan di sana, nafasku belum teratur sehingga nampak sekali dadaku turun 
naik seperti gunung mau meletus. Tepat disebelah kami Dadan sedang menindih 
tubuh telanjang Indah dengan gerak naik-turun yang cepat. Indah hanya bisa 
menggelinjang dan mendesah, rambut panjangnya sudah kusut tak karuan, matanya 
menatap kosong pada kami.

“Lagi yah Ci, dikit lagi tanggung gua belum keluar nih,” pinta Dimas sambil 
merenggangkan kedua pahaku.
Aku hanya pasrah saja mengikuti apa maunya. Dengan lancar penisnya yang sudah 
basah dan licin itu meluncur ke dalam vaginaku, aku mendesis dan meremas sprei 
saat dia hentakkan pinggulnya hingga seluruh penisnya masuk. Lagu dari komputer 
entah sudah berganti berapa kali, kali ini yang mengalun adalah lagunya 
Aerosmith yang dipakai soundtrack film ‘Armageddon’nya Bruce Willis. Lagu ini 
mengiringi permainan kami dalam babak ini. Perkasa juga si Dimas ini, dia masih 
sanggup menggenjotku dengan frekuensi tinggi sampai tubuhku terguncang hebat, 
padahal sebelumnya dia sudah membuatku dan Indah orgasme, kekuatannya jauh 
lebih meningkat dibanding ketika pertama kali one night stand denganku setahun 
lalu. Aku menggenggam tangan Indah dan bertatapan wajah dengannya
“Sudah berapa kali Ndah?” tanyaku bergetar
“Nggak tahu.. sudah aahh.. keenakan.. nggak hitung.. lagi,” jawabnya dengan 
mata merem melek.

Aku makin tak terkontrol, kepalaku kugelengkan ke kiri-kanan, sesekali aku 
menggigit jari saking nikmatnya kocokan Dimas. Dia mempermainkan birahiku 
dengan sengaja tidak menyentuh payudaraku membiarkannya bergoyang-goyang 
seirama badanku, sehingga aku sendiri yang berinisiatif meraih tangannya dan 
meletakkannya di payudaraku, barulah dia mulai memencet-mencet putingku 
membuatku semakin terbakar. Akhirnya akupun sudah tidak kuat lagi, perasaan itu 
kuekspresikan dengan sebuah erangan panjang dan menarik sprei di bawahku hingga 
berantakan.
“Sudah dulu dong, Mas.. gua gimana bisa kuliah ntar!” pintaku dengan 
terengah-engah.
Tubuhku basah seperti mandi saja, habis AC kamarnya lagi rusak sih, sementara 
ini cuma ada kipas angin berukuran sedang, sedangkan iklim di Jakarta tahu 
sendiri kan seperti apa gerahnya. Paham dengan kondisiku, dia biarkan aku 
beristirahat, dikecupnya bibirku dengan lembut disertai sedikit kata-kata manis 
dan pujian, setelah itu dia beralih ke Indah untuk menuntaskan hajatnya yang 
tinggal sedikit lagi. Kuseka dahiku yang bercucuran keringat lalu kulirikkan 
arlojiku, 20 menit lagi jam tiga, harus segera siap-siap kembali ke kampus.

Indah yang sedang dalam posisi dogie digarap dari dua arah oleh mereka. Dadan 
yang menyodoknya dari belakang akhirnya klimaks, dia mengeluarkan penisnya dan 
menyiramkan isinya di punggung dan pantat Indah. Si Dimas yang sedang 
menyetubuhi mulut Indah juga tak lama kemudian menyusul, dia mengerang sambil 
menahan kepala Indah pada penisnya. Indah sendiri hanya bisa mengerang tertahan 
dan matanya merem melek menerima semprotan sperma Dimas, nampak cairan putih 
itu meleleh sedikit di pinggir bibir mungilnya. Dimas ambruk di sisiku dengan 
memeluk Indah yang menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, si Dadan terduduk 
lemas di bawah ranjang (karena ranjang sudah penuh sesak). Setelah tubuhku 
cukup stabil, pelan-pelan aku bangkit menuju kamar mandi dengan langkah gontai. 
Disana aku mencuci muka, dan membersihkan ceceran sperma di tubuhku dengan air. 
Indah masuk ketika aku sedang duduk di toilet buang air kecil.
“Huh.. ngagetin aja kamu Dah, rambut acak-acakan kaya kuntilanak gitu lagi!” 
ujarku.
“Kuntilanak bajunya putih oi, nggak bugil gini,” jawabnya asal, lalu menyalakan 
kran wastafel.

Setelah selesai berbenah diri, kami mengenakan kembali pakaian kami untuk 
kembali kuliah. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, maka itu kami 
agak terburu-buru sampai aku melupakan ponselku sehingga pulang kuliah aku 
harus balik lagi ke sini untuk mengambilnya. Kami berlari-lari kecil ke kampus, 
mana ruang kuliahku di lantai tiga lagi, aku sampai ke kelas terlambat lima 
menit, untung belum melebihi toleransi keterlambatan. Di kelas pun aku tidak 
bisa fokus karena selain masih lelah, dosennya, Pak Iwan ngomongnya juga slow 
motion, bikin ngantuk saja sehingga beberapa kali aku menguap. Temanku di 
sebelah bahkan bertanya
“Baru bangun tidur kamu Ci? Kok kusut gitu” karena make up ku memang agak 
luntur waktu cuci muka tadi.
“Iyah nih masih ngantuk tadi di kost temen belum cukup tidurnya,” jawabku 
tersenyum dipaksa.
Lelah sekali hari itu sehingga begitu sampai di rumah aku langsung tiduran dan 
bangun jam tujuh malam, baru mandi untuk bersiap-siap menunggu jemputan Verna 
dan lainnya untuk nge-dugem di salah satu tempat favorit kami ‘Seribu Satu’
Anggie namaku, orang bilang aku cantik dengan tinggi 170 cm, berat 55 kg, dan 
Bra-ku size 36. Usiaku kini 32 tahun, tapi katanya seperti umur 20-an, bagiku 
itu karunia Tuhan. Kini aku sudah berkeluarga dengan seorang anak yang lucu & 
manis usianya sudah 3 tahun.

Sebelum menikah aku pernah sekolah di Singapore selama 2 tahun, di sana aku 
punya teman dekat(mungkin pacaran kali, padahal aku sudah punya pacar di kota 
M) itupun hanya sebatas cium bibir saja. Dari dulu aku pacaran tidak pernah 
melakukan hal yang lebih selain cium bibir, yang lainnya selalu aku jaga hingga 
ke jenjang perkimpoian. Selesai sekolah aku kembali ke kota M, setahun kemudian 
aku menikah dengan teman kuliahku yang sudah 6 tahun bersama-sama, hingga aku 
lupa dengan teman dekatku di Singapore, tapi aku sempat mengundangnya ternyata 
ia tak datang. Aku bahagia dengan keluargaku yang kini usia perkimpoian kami 
meginjak tahun ke-5. Suamiku sangat bangga kepadaku.
“Bunda, kamu tidak hanya cantik tapi sosok istri yang sempurna, wanita karier, 
pintar masak, dan yang pasti sangat memuaskan di tempat tidur”, kata suamiku 
suatu hari.
“Istri siapa dulu…”, jawabku sambil tersenyum.
Memang aku sekarang bekerja di Perusahaan Asing sebagai Marketing Manager yang 
kadang tugas keluar negeri, tapi aku tidak pernah melupakan kewajibanku sebagai 
istri, aku selalu berusaha yang terbaik untuk keluargaku.

Pada bulan Februari tahun lalu aku ditugaskan ke Singapore selama 3 hari. 
Disana aku menginap disalah satu Hotel di Orchard Road. Selepas kerja aku 
jalan-jalan ingin membeli sesuatu di China Town, waktu aku hendak ke MRT 
(kereta bawah tanah) aku bertabrakan dengan seorang pria.
“Maaf”, katanya. Ingin rasanya aku memarahinya tapi aku malah terkejut karena 
pria itu adalah teman dekatku dulu.
“Betulkah ini Anggie?”, tanya. “Abang Hanif yach?”, aku balik tanya. Kami 
bersalaman, selintas dimatanya kulihat ada kerinduan.
“Abang patah hati mendengar Anggie menikah, tapi apa mau kata, tak apalah, 
abangpun kini sudah menikah setahun yang lalu”, katanya agak lirih.
“Istri abang tak dibawa?”, tanyaku.
“Dia tinggal di KL (Kuala Lumpur) tak di sini”, jawabnya.

Akhirnya Abang Hanif mengantarkanku jalan-jalan dan kita saling tukar cerita. 
Pukul 8 malam aku kembali ke hotel. Abang hanya mengantarkanku sampai depan 
pintu.
“Besok Abang boleh sini?”.
“Bolehlah bang, jawabku.
Keesokan harinya selepas pulang kerja aku baru saja selesai mandi dan 
berpakaian, bunyi ketukan pintu terdengar, ternyata abang benar-benar datang. 
Kemudian kami ngobrol-ngobrol di sofa sambil nonton televisi. Abang mulai 
memegang tanganku, gemetar rasanya (seumurku sekarang aku baru berpacaran 2 
kali, dengan suamiku dan yang kini kuhadapi).

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, seorang pelayan mengantar minuman yang telah 
aku pesan sebelumnya. Aku berdiri mengambil minumannya.
“Bang, ini minuman kesukaan Abang”.
“Oh…, Sayangku (ia dulu selalu memanggilku sayang) kamu masih ingat yach?”, 
tanpa setahuku ia memelukku dari belakang, jantungku berdetak cepat.
“Bang…, bang lepaskan nanti minumannya tumpah, ia mengambil gelas yang aku 
pegang dan meminumnya sampai habis.
“Haus apa suka”, candaku.
“Eehh…, ia malah memelukku erat, mengangkat mukaku, dikecupnya keningku, 
mataku, kemudian bertemu dibibirku yang mulai bergetar, kami saling berpaut. 
Oh…, Tuhan apa yang terjadi bisih hatiku.

Selanjutnya ia menggendongku ke tempat tidur di baringkannya, diusap-usap 
rambutku sambil berkata “Abang sangat merindukanmu…, sayangku”, sambil ia kecup 
keningku yang pada akhirnya kami saling melumat lagi, sebenarnya akupun 
merindukannya tapi tak bisa terucapkan. Deru nafas kami mulai tak terarah, 
tangannya mulai menyelusuri tubuhku.
“Bang…, bang…, jangan kita sudah menikah”, kataku lirih, tapi ia malah melumat 
bibirku sehingga aku tak kuasa. Ia memasukkan tangannya kedalam bajuku dan 
bersinggah di dua bukitku, dibukanya braku, bajuku hanya CD yang tersisa 
kemudian ia buka sendiri bajunya.
“Yang.., indahnya dadamu”, diremas lembut dadaku, dihisapnya putingku, aku 
bergelinjang kegelian. Ahh…, ahh…, ahh, itu saja yang terucap olehku. Sambil 
menciumi dadaku tangannya mulai mengusap-usap pahaku, kini CD-ku sudah 
ditanggalkannya, dan tangannya sudah bersarang di hutan yang lebat, ia mainkan 
clitku yang mulai basah.
“oohh…, ohh…’ oohh aku makin mengerang. Ciumannya perlahan turun ke perutku, 
turun lagi ke pahaku dijilatnya bergantian sampai akhirnya hutan yang lebat itu 
ia selusuri, dimainkannya clitku dengan lidahnya, dihisap, dijilat.
“Ooh…, oohh…, ooh, bergetar seluruh tubuhku. Tanganku pun tak ambil diam aku 
usap-usap senjatanya yang begitu besar dan kokoh, kuurut-urut, “oohh…, ohh…, ia 
mulai mengerang.

Tanpa kami sadari posisi kami kini 69, kami saling isap, saling jilat, hanya 
erangan kenikmatan yang kami rasakan. Setelah kami merasa puas, ia baringkan 
aku, dimasukannya senjatanya itu perlahan-lahan, gerakannya naik-turun membuat 
kami tak menentu.
“Ohh…, oohh…, ohh bang terus…, bang, aku putar-putar pantatku seirama 
gerakkannya. oohh…, my girl I am coming.., Abang tak kuasa”, katanya. Aku putar 
badannya sehingga posisiku di atas dan ia terduduk. Kini aku yang naik-turun 
sambil ia remas dan isap dadaku. “OOhh.., oohh.., oohh…, ayo, augh”, gerakan 
kami kian lama kian mengencang dan akhirnya kami mencapai kenikmatan 
bersama-sama. “Terima kasih sayangku”, sambil ia kecup keningku.
“Kamu adalah wanita yang paling sempurna di mataku”, katanya lagi. Tak ada kata 
yang bisa kuucapkan, aku hanya terdiam lemas.

Keesokan harinya aku balik ke kota M. Abang antar aku ke changi airport, 
sebelum aku naik pesawat aku bisikkan, “Bang yang kemarin terjadi itu rahasia 
kita berdua, yach?”, ia mengangguk sambil mengecup keningku.
Itulah kejadian setahun yang lalu, aku coba untuk melupakannya yang bagiku 
pertama dan terakhir, semoga abangpun di sana demikian.
andre pacarku
Pacarku bernama andre. dia cowok yang baek dan cakep [kata temen-temenku]. Aku 
mengenalnya dari temanku, dia memperkenalkan kami sewaktu kegiatan mahasiswa. 
Kami menyukai satu sama lain. kami sudah jalan selama satu tahun. 
dia cinta pertama ku dan pertama juga aku kehilangan kegadisanku. 

ceritanya kami pergi ke undangan teman andre.Andre mengajakku ke pesta 
temannya, sekalian dia ingin memperkenalkanku kepada teman-temannya. Sebetulnya 
aku tidak menyukai pesta, tapi karena demi dia, aku jadi mesti pergi 
mendampinginya. Aku juga ingin mengetahui teman-teman Andre itu seperti apa. 

sehabis pulang dari pesta ulang tahun temannya, karna larut malam, andre 
berkata untuk mengantarkanku pulang besok hari. tapi aku menolaknya, dengan 
alasan orang tuaku akan marah besar, jika aku tidak pulang. Dan lagi pula aku 
menjaga etiketku, karena aku tidak mau dicap oleh orang tua ANdre, perempuan 
murahan. Jadi aku memaksa ANdre mengantarkanku pulang. 

akhirnya, andre mengiyakan aku untuk mengantar pulang ke rumahku. Setelah 
berpisah satu dengan yang lain, Andre juga berpamitan ria dengan 
teman-temannya, kami pun pulang. Aku sebenarnya cukup senang juga denga pesta 
yang diadakan temannya. Banyak kenalan cowok-cowok cakep, dan aku setidaknya 
malam ini tidak bosan di rumah setelah satu minggu mengikuti test di kampus. 
SUntuk jugalah kalo di rumah terus, bener kan? 

RUmah aku dan rumah ANdre itu jauh sekali. Kalau bisa dibilang dari utara ke 
selatan. Maka dari itu ANdre juga tidak mau menangantarku pulang malam ini, 
karna dari pesta saja sudah jam 11 malam. Dari rumah temannya itu ke rumahku 
sangat jauh bisa makan waktu satu jam lebih. Aku hanya diam dan kadang-kadang 
bercerita tentang pesta dengan ANdre. ANdre dengan tenang mengemudikan mobilnya 
dan kadang-kadang menoleh ke arahku dengan tersenyum saat aku menatapnya mesra. 


Akhirnya selama satu jam itu akan berakhir, betapa senang hatiku, aku capek 
juga oleh perjalanan ini, pengen dong pulang ke rumah dan cepat-cepat ganti 
baju dan tidur. 

tiba-tiba jalan yang semestinya belok ke kanan menuju rumahku, andre 
meneruskannya ke arah pegunungan. 
aku menjadi bingung oleh sikapnyha. 

"ANdre, kamu salah jalan sayang, kita harus berbelok ke kanan tadi. Kamu 
melewatinya, sayang, " kataku lemah lembut. 

Tiba-tiba di suatu belokkan, yang sepi, gelap dan rimbun oleh pohon, Andre 
memberhentikan mobilnya dan berkata, "Ria, sayang..." tatapnya, dan dia 
menciumku penuh ambisius dan birahi yg tinggi. Aku membalashnya. 
TIba-tiba tangannya menuju ke arah susuku, meremasnya dengan keras. Aku 
merasakan kalau pentilku ditarik-tarik olehnya, aku meringis kesakitan karna 
aku hanya memakai bh yang berenda-renda. 

"Andre, malu ah..." kataku. 
"Kenapa malu, sayang, ga ada orang di sini, tempatnya sepi lagi, gelap juga," 
balasnyalemah lembut. 

Tangannya turun ke bawah mengangkat rokku dan mulai menyentuh-nyentuh celana 
dalamku. Dia menekan-nekan memekku perlahan-lahan. 

"ANdre, kamu mau apa?" 
Andre hanya dia tak menjawab, masih asyik dengan tangannya memainkan memekku 
dari luar celana dalamku. Tangannyha tanpa berhenti menggosok-gosok memekku. 
Aku merasakan memekku basah ketika lidahnya menjulur ke arah dadaku. 

Lidahnya semakin turun ke arah susuku dan mulutnya menurunkan bhku yang tanpa 
tali itu. 

Aku mendorongnya, "ANdre kita pulang saja sayang,"pintaku . 
Tapi dia menarik tanganku ke arah celana hitamnya, aku kaget dengan cepat aku 
menarik tanganku. "Andre, kita pulang , sayang, kamu ga kasian nanti aku 
dimarahin orang tuaku pulang kepagian?" pintaku cemas. 

Tanpa menghiraukan k ata-kataku , Andre menggosok-gosok memekku dengan cepat, 
membuatku belingsatan. Ini pertama kali dia melakukannya. "Andre....e.e..e. 
jangan..." 

Tanpa peduli lagi, dia buka celananya dan tarik kontolnya keluar dari celana 
dalamnya. Sambil mendorong dirinya untuk menindihku, dia remas susuku dengan 
kuat. 

"Andre..jangan sayang.........." 
Andre seolah tak menghiraukan ku lagi, dipelorotkannya celana dalamku, dengan 
cepat...diubahnya kursi jok mobilnyake posisi tidur. 

Dengan cepat, digosok-gosokkannya kontolnya di luar memekku sehingga memekku 
mengeluarkan lendir. 

"ah............ah.......Andreeeeee....sakitt....." seruku menggeliat-ngeliat 
kesakitan. 

Ini pertama kali aku merasakan kontolnyaa. "AH......ah..." 
aku mereganggkan dan membuka lebar pahaku, sementara Andre mengulum susuku yang 
lumayan untuk orang seumuranku, susuku lumayan montok 36b. Digigitnya pentilku, 
sambil didorong keluar masuk tanpa menghiraukan rintihan kesakitanku. 

Dengan cepat ANdre mendorong keluar masuk kontolnya yang lumayan montok dan 
panjang. Sinar matanya mencerminkan birahinya yang kuat. 

"AH...ah....ah....Andreeeee....ah...." 
Aku merasakan...keenakan setelah mengalami kesakitan memekku diterobos oleh 
kontolnya yang besar. Tiba-tiba aku merasakan memekku berdenyut-denyut mengulum 
kontolnya. 

"Ah Ria-ku, enak sekali, enak sekali jepitan memekmu," pejamnya . ANdre tidak 
mau kalah didorongnya kontolnya keluar masuk memekku dengan cepat. 

Tanpa aku pinta, tiba-tiba dikeluarkannya kontolnya dan menyemburlah spermanya 
yang kental. 

Croth...........crothhhhhhhh 

"Ah...makasih sayang, " katanya lembut sambil mencium susuku. 

Aku diam seribu bahasa dengan bengong menerima kehilangan kegadisanku di tengah 
malam dengannya. Kemudian dia memakai celananya dan menjalankan mobilnya 
memutar arah balik ke rumahku. 

Sejak itu kami sering melakukannya entah itu di rumah dia atau di hotel , 
maupun di mobilnya, yang jelas bukan di rumahku. 

Kirim email ke