Neh
Biar nggak bangun2x
Selamat menikmati
"Hell Boy's" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
11/03/2008 03:29 PM
Please respond to
[email protected]
To
"aga grup" <[email protected]>
cc
Subject
~ aga ~
wahh payahh
pade tidur semua he.e.e.e.e.e.e.e
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
ANDANI CITRA: KOST SI DIMAS
Dua mingguan setelah peristiwa Akibat Main Mobil Goyang aku sedang makan di
kantin mahasiswa bersama Ratna. Kami ngerumpi sambil menunggu jam kuliah
berikutnya, saat itu jam 12.00 jadi kantin sedang penuh-penuhnya. Waktu sedang
larut dalam canda tawa, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang dan orang itu
langsung duduk di sebelah kiriku.
Hallo girls, gabung yah, penuh nih! sapa orang itu yang ternyata si Dimas,
salah satu playboy kampusku yang dua minggu lalu terlibat bercinta denganku
(baca Akibat Main Mobil Goyang).
Penuh apa alasan buat bisa deketin kita, heh? goda Ratna padanya.
Iya nih, dasar, itu tuh disana aja kan ada yang kosong, hus.. hus..!! kataku
dengan nada bercanda.
Maunya sih.. cuma kalau saya disana takutnya ada yang merhatiin saya, jadi
mendingan saya deketin sekalian kelakarnya dengan gaya khas seorang playboy.
Gila nggak tahu malu amat, jijay loe! sambil kucubit lengannya.
Kami bertiga menikmati makan dan obrolan kami semakin seru dengan datangnya
pemuda ini. Harus kuakui Dimas memang pandai berkomunikasi dengan wanita dan
menarik perhatian mereka. Dalam empat sekawan geng-ku saja dia sudah pernah
menikmati petualangan sex dengan tiga diantaranya (termasuk aku), tinggal si
Indah yang belum dia rasakan.
Kuliah jam berapa lagi nih kalian? tanyanya
Saya sih masih lama, jam tiga nanti, pulang tanggung jawabku.
Kalau saya sih sebentar lagi jam satu masuk, BT deh kuliahnya Bu Dinah yang
killer itu jawab Ratna sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Halo Ci.. hai Nana (Ratna)! sapa Indah yang tiba-tiba nongol dari keramaian
orang lalu duduk di sebelah Ratna.
Hari itu Indah tampil dengan penampilan barunya yaitu rambutnya yang panjang
itu dicat coklat sehingga nampak seperti cewek indo. Dia terlihat begitu
menawan dengan baju pink yang bahunya terbuka dipadu celana panjang putih.
Kuperkenalkan Dimas pada Indah, berbeda dengan kami bertiga yang dari fakultas
yang sama, Sastra Inggris, Indah berasal dari Fakultas Ekonomi sehingga dia
belum mengenal Dimas. Begitu kenal dengan Indah, Dimas langsung beraksi dengan
kata-kata dan pujian gombalnya. Dengan sifat Indah yang gaul itu mereka cepat
akrab dan omongannya nyambung.
Dasar aligator darat, begitu gumamku dalam hati sambil menyedot minumanku.
Tak lama kemudian HP Ratna berdering lalu dia pamitan karena ada janji mau
mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di perpustakaan. Jadi sekarang
tinggallah kami bertiga.
Ngapain yah enaknya sambil nunggu, bosen kan disini terus? kata Indah setelah
menghabiskan kentang goreng dan minumnya. Ternyata dia sedang menunggu kuliah
jam tiga juga.
Ke kost saya gimana? Saya sih sudah beres nggak ada apa-apa lagi, usul Dimas.
Kami pun mengiyakan daripada menunggu dua jam lebih di kampus, di kostnya kan
banyak film jadi bisa nonton dulu. Kami pun berjalan ke gerbang samping yang
menuju ke kostnya setelah membayar makan.
Hanya dalam lima menit kami sudah tiba di tujuan. Kostnya cukup besar dan bagus
karena termasuk kost yang mahal di daerah sini, terdiri dari dua tingkat dengan
kamar mandi di kamar masing-masing. Penghuninya campur pria-wanita, tapi
menurut Dimas lebih dari setengahnya wanita, makannya dia betah di sini.
Welcome to my room, sori yah rada berantakan, dia membukakan pintu dan
mempersilahkan kami masuk ke kamarnya di tingkat dua.
Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, aku bahkan pernah bercinta disini saat
one night stand dengannya. Pada temboknya terpampang beberapa poster pemain
sepak bola, juga ada sebuah poster anime Kenshin. Foto pacarnya yang kuliah di
luar negeri dipajang diatas meja belajarnya yang sedikit acak-acakan. Kami
ngobrol-ngobrol sambil menikmati snack hingga akhirnya obrolan kami mulai
menjurus ke masalah seks. Dimas tanpa basa-basi menawarkan nonton film bokep
koleksinya, dipilihnya salah satu vCD bokep Jepang favoritnya. Aku tidak ingat
judulnya, yang pasti adegannya membuatku merinding. Kami bertiga hening
menatapi layar komputer seakan terhanyut dalam adegan yang pemerkosaan masal
seorang wanita oleh beberapa pria, sperma pria-pria itu berhamburan membasahi
si wanita.
Darahku serasa memanas dan selangkanganku mulai basah. Indah di sebelahku juga
mulai gelisah, dia terlihat menggesek-gesekkan kedua pahanya. Dan, si Dimas..
oh dia meremas-remas tangan Indah, dia juga mulai berani mengelus lengannya.
Melihat reaksi Indah yang malu-malu mau dan sudah terangsang berat, Dimas makin
berani mendekatkan mulutnya ke pundak Indah yang terbuka. Indah menggelinjang
kecil merasakan hembusan nafas Dimas pada leher dan pundaknya. Karena sudah
merasa horny, ditambah lagi Dimas dan Indah mulai beraksi, akupun tidak
malu-malu lagi mengekspresikan nafsuku pada Indah yang duduk paling dekat
denganku. Tanganku merayap lewat bagian bawah bajunya dan terus menyelinap ke
balik bra-nya. Aku dapat merasakan putingnya makin mengeras ketika
kumain-mainkan dengan jariku. Mulutku saling berpagutan dengannya, lidah kami
saling beradu dan bertukar ludah. Sementara di sebelah sana, Dimas mulai
menjilati leher dan pundaknya, disibakkannya rambut panjang itu lalu dihirupnya
wangi tubuhnya sebelum cupangannya berlanjut ke leher dan belakang telinganya.
Indah mendesah tertahan menikmati perlakuan ini, tangannya mulai bergerak
meraih penis Dimas yang masih tertutup celana jeansnya, diraba-rabanya benda
yang sudah mengeras itu dari luar. Ciuman Dimas menurun lagi ke bahu Indah
sambil menurunkan pakaian dengan bahu terbuka itu secara perlahan-lahan, suatu
cara profesional dan erotis dalam menelanjangi seorang wanita. Aku juga ikut
menurunkan pakaian Indah dari sebelah kiri sehingga pakaian itu sekarang
menggantung di perutnya. Dengan cekatan Dimas menurunkan cup BH kanannya dan
langsung melumatnya dengan rakus. Indah melenguh merasakan payudaranya dihisap
kuat oleh Dimas. Aku sekarang melepaskan pakaianku sendiri hingga bugil lalu
mendekati Dimas yang sudah merebahkan tubuh Indah di ranjangnya. Kupeluk
pinggangnya dari belakang dan melepaskan sabuknya disusul resleting celananya.
Dimas berhenti sejenak untuk membiarkanku melucuti dirinya, disaat yang sama
Indah juga melepasi pakaiannya. Kini kami bertiga sudah telanjang bulat. Kami
menyuruh Dimas rebahan di ranjang agar bisa menservis penisnya. Penis yang
sudah mengeras kukocok dan kujilati, lalu kumasukkan ke mulutku.
Bersama dengan Indah, kami bergantian melayani adik Dimas dengan jilatan dan
emutan. Indah melakukan aktivitasnya dengan terngkurap diatas tubuh Dimas
dengan kata lain mereka dalam posisi 69, jadi Dimas bisa menikmati vagina Indah
sementara kami berdua menikmati penisnya. Dimas sangat menikmati vagina Indah,
hal ini nampak dari cara dia menjilat dan menyedot liang itu, terkadang suara
hisapannya terdengar jelas sehingga membuat Indah mengerang pendek. Beberapa
menit kemudian Indah mengerang lebih panjang dan suara seruput Dimas terdengar
lebih jelas, ternyata Indah sudah mencapai orgasme pertama. Dimas mengganti
posisi, Indah disuruh telungkup di ranjang dan pantatnya diangkat menungging,
Dimas sendiri mengambil posisi di belakangnya dan mengarahkan senjatanya ke
vagina Indah. Indah merintih sambil meremas sprei menikmati penis Dimas melesak
masuk membelah bibir bawahnya. Ketika penis itu masuk sebagian, Dimas
menghentakkan pinggulnya dengan bertenaga sehingga penisnya amblas seluruhnya
dalam vagina Indah. Tubuhnya tersentak pelan dengan mata membelalak diikuti
dengan erangan nikmatnya.
Dimas memompa Indah dengan gerakan-gerakan yang mantap dan erotis sehingga
Indah tidak sanggup berkata apa-apa selain mengap-mengap keenakan. Kedua
tangannya menjelajahi payudara Indah yang berukuran sedang tapi padat, kedua
putingnya dipencet-pencet atau dipelintir. Aku sendiri yang tidak tahan hanya
menonton mengambil posisi berselonjor di depan Indah, kedua pahaku kubuka lebar
dan kudekatkan ke wajah Indah.
Ndah.. jilatin punya saya yah.. nggak tahan nih!
Indah mulai menjilati paha dan vaginaku, lidahnya menari-nari menggelikitik
klitorisku yang sudah menegang sementara tangannya meraih payudaraku dan
mencubit-cubit putingku. Lidah Indah memberi rangsangan tak terkira pada
kemaluanku sehingga aku tidak tahan untuk tak mendesah. Desahan kami bertiga
pun terdengar memenuhi kamar ini. Kami berganti posisi menjadi woman on top,
Indah bergoyang di atas penis Dimas dan aku naik ke wajah Dimas berhadapan
dengan Indah, kini vaginaku dilayani oleh Dimas dengan lidahnya.
Sambil terus bergoyang aku berciuman dengan Indah, aku kembali menikmati lidah
sesama jenisku, kami bercipokan sambil mengeluarkan desahan-desahan tertahan.
Ciuman Indah terus turun ke leherku hingga berhenti di payudara kananku, sebuah
gigitan kecil disertai hisapan pada daerah itu membuatku menggeliat, disusul
tangan Dimas menjulur dari bawah mencaplok yang kiri. Ooohh.. sepertinya bagian
sensitifku diserang semua, lidah Dimas yang dikeraskan itu melesak masuk lebih
dalam dan bergoyang menggelikitik dinding kemaluanku, tangannya yang satu
meremas dan sesekali menepuk pantatku yang sekal. Aku semakin erat mendekap
Indah sambil satu tanganku meremas payudaranya. Tak lama kemudian aku merasa
sesuatu yang mendesak keluar dari bawah sana, ahh.. aku tak sanggup lagi
menahan cairan cinta yang mulai membasahi vaginaku. Hal yang sama juga dialami
Indah tak lama kemudian, dia melepas emutannya pada putingku, nafasnya makin
memburu dan dia menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih cepat.
Tubuh kami berdua mengejang hebat dan erangan klimaks keluar dari mulut kami.
Dimas menusuk-nusukkan jarinya ke vaginaku membuat cairan itu makin membanjir
dan tubuhku makin tak terkendali, aku mendesah panjang tanpa mempedulikan rasa
sakit dari kuku Indah yang mencakar lenganku. Cairanku diseruput Dimas dengan
rakusnya, vagina Indah juga mengeluarkan banyak cairan sehingga menimbulkan
bunyi kecipak air. Goyangan kami mulai mereda, kami berpelukan menikmati
sisa-sisa orgasme barusan, kami menghimpun nafas kami yang kacau balau,
keringat seperti embun membasahi dahi dan tubuh kami. Akhirnya kujatuhkan
diriku ke samping dan Indah jatuh di dekapan Dimas. Dimas menoleh ke samping
bertatapan muka denganku lalu mengembangkan senyum, nampak mulutnya masih basah
oleh cairan cintaku. Hebat juga dia, bisa membuat dua wanita klimaks dalam
waktu hampir bersamaan, begitu pujiku dalam hati.
Gimana girls, ready for next round? Saya belum keluar nih, katanya sambil
mengelus rambut panjang Indah.
Hhh.. kamu duaan aja dulu deh, saya kumpul tenaga dulu. Heh sialan kamu Ndah,
pakai cakar-cakaran segala sakit tahu, nih! omelku memperlihatkan bekas
cakaran di lengan kiriku yang sedikit berdarah sambil mencubit lengannya.
Hihihi.. sory dong Ci, tadi kan kita lagi lupa daratan lagi, yang penting kan
enjoy juga, jawabnya santai sambil tersenyum kecil.
Sebentar kemudian Dimas sudah membalikkan tubuh Indah menjadi telentang
dibawahnya, lalu kembali penisnya dimasukkan ke vagina Indah diiringi
desahannya. Ranjang ini sudah mulai bergetar lagi oleh goyangan tubuh mereka.
Sambil menggenjot Dimas meraih payudaraku dan memencetnya lembut sebagai sinyal
mengajakku segera bergabung.
Ntar yah, saya mau minum dulu nih, haus, kataku sambil bangkit berdiri dan
mengambil sebuah gelas, aku membuka kran dispenser yang terletak di dekat
jendela untuk mengisi air.
Ketika sedang meneguk air tiba-tiba aku mendengar suara kresek-kresek di pintu.
Kutajamkan pendengaranku dan melihat ada seperti bayangan di celah bawah pintu,
pasti seseorang mengintip kami pikirku. Aku tadinya bermaksud memberitahu
mereka, tapi sebaiknya kuselidiki sendiri karena mereka sedang sibuk berpacu
dengan nafsu sampai tidak begitu menghiraukanku. Kusingkap sedikit tirai
jendela untuk melihat siapa di luar sana, ada seseorang pria sedang menempelkan
telinganya pada pintu, dia juga berusaha mencari-cari lubang untuk mengintip,
tapi wajahnya tidak jelas. Dalam pikiranku terbesit sebaiknya kuajak saja dia
untuk meramaikan, mumpung aku dari tadi belum dimasuki penis karena Dimas
sedang asyik menggumuli Indah. Maka sebelumnya aku melihat dulu sekeliling apa
ada orang lain lagi selain dia, letak kamar ini cukup strategis agak ujung dan
jauh dari keramaian, setelah yakin tidak ada siapapun lagi selain pengintip ini
kuberanikan diri membuka pintu mengejutkannya. Pelan-pelan gagang pintu kuputar
dan.. hiya.. orang itu terdorong masuk karena sedang menyandarkan tubuhnya pada
pintu, dengan cekatan pintu kembali kututup. Orang itu benar-benar terkejut,
bingung, dan terangsang melihat sekelilingnya bugil dan ada yang bersenggama
pula.
Dimas dan Indah yang sedang berasyik-masyuk kontan ikut terkejut, Indah
menyambar guling untuk menutupi tubuhnya dan menjerit kecil. Belakangan aku
tahu dia adalah kacung di kost ini, namanya Dadan, usianya masih 17 tahun,
anaknya tinggi kurus dan berkulit sawo matang. Tadinya dia cuma mau mengambil
barang di gudang yang kebetulan harus lewat kamar ini, ketika itulah dia
mendengar suara-suara aneh dan terpancing untuk mendengar dan mengintipnya. Dia
langsung tertunduk-tunduk minta maaf berkali-kali karena dimarahi Dimas yang
merasa gusar diintip olehnya. Namun ketika Dimas merenggut kerah baju pemuda
itu dan hendak memukulnya buru-buru aku mencegah dan menenangkan si Dimas yang
bertemperamen tinggi.
Ehh.. sudah-sudah, dia kan nggak sengaja tadi, kita juga yang salah terlalu
keras suaranya.. sudah kamu sana aja terusin pestanya sama Indah, biar dia,
saya yang urus, lagian di sini kurang cowoknya, bujukku mengedipkan sebelah
mata pada Dimas.
Kuelus-elus dada Dimas dan berusaha menenangkannya, setelah kubujuk-bujuk
akhirnya dia mundur juga.
Tenang Mas, kamu orang terusin aja, biar saya urus yang ini
Akupun tersenyum padanya mencoba mengajak bicara sambil memegangi kedua
lengannya, kurasakan tubuhnya masih agak gemetar dan tertunduk, entah karena
tegang, kaget, atau malu.
Nama kamu Dadan ya? tanyaku dengan lembut dan dijawab dengan anggukan
kepalanya.
kamu tadi sudah ngeliat apa aja Dan? tanyaku lebih lanjut
Belum liat apa-apa kok Non, sumpah.. saya cuma denger suara-suara terus saya
cari tahu jawabnya terbata-bata
Terus kamu tahu apa yang kita kerjain barusan itu? dijawab lagi dengan
anggukan kepala.
Kamu pernah ngerasain ngentot sebelumnya?
Nggak pernah Non, paling cuma liat di VCD sambil coli
Ya sudah Dan, berhubung kamu sudah disini gimana kalau Mbak ajarin kamu soal
gituan, aku tersenyum lagi dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, walaupun
gugup tapi matanya terus ke arah tubuhku yang polos, sebentar-sebentar juga
melihat ke arah Indah.
Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo.. jangan malu-malu disini semua
bugil kok! kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu
menutupi penisnya dengan tangan.
Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku
berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya
ke mulutku dan kuemut pelan. Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan
mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok
benda itu terasa makin keras dan besar, memang nggak jumbo size sih, namanya
juga ABG, tapi kerasnya lumayan.
Hmmhh.. Mbak.. geli Mbak! erangnya gemetaran.
sudah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan
kok jawabku.
Tiba-tiba terdengarlah suara musik heavy metal mengalun di kamar ini, sambil
terus menyepong kulirikkan bola mataku ke arah suara. Ternyata si Dimas
menyalakan MP3 di komputernya dan menyetel volume suaranya untuk meredam suara
kami. Kemudian mereka yang tadinya melongo memperhatikanku mengerjai anak muda
sudah mulai lagi dengan kesibukan mereka. Kini Dimas menaikkan kedua tungkai
Indah ke bahunya dan kembali melesakkan penisnya ke vaginanya. Setelah beberapa
kumainkan dalam mulutku, penis itu mulai berkedut-kedut, pemiliknya juga
mendesah makin tak karuan. Akupun semakin dalam menelan benda itu hingga
menyentuh daging lunak di tenggorokanku.
Mbak.. ohh.. enakk banget Mbak.. aahh! desahnya panjang bersamaan dengan
spermanya yang ngecret di dalam mulutku.
Pipiku sampai kempot mengisap dan menelan cairan itu dengan nikmat, tak setetes
pun tertinggal. Kemudian akupun bangkit berdiri sambil tetap menggenggam
penisnya yang masih ngaceng tapi agak berkurang tegangnya.
Gimana Dan, pernah diginiin nggak sama cewek sebelumnya, rasanya gimana?
tanyaku dengan senyum nakal.
Baru pertama kali Mbak.. he-eh emang enak banget, katanya masih dengan nafas
terengah-engah.
Ini baru pemanasan Dan, masih banyak yang lebih enak kok, yuk sini deh!
kataku seraya menaikkan pantat ke meja belajar dan mengangkangkan kedua belah
paha mulusku.
Kubimbing penisnya ke arah vaginaku yang terkuak lebar, setelah tepat sasaran
kusuruh dia menggerakkan pinggulnya ke depan. Bless.. terbenamlah penis itu ke
dalamku diiringi desahan nikmat kami. Tanpa kuajari lagi dia mulai
menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur, sodokannya walaupun terasa makin
mantap tapi rasanya masih ada yang kurang yaitu dia tidak memberi rangsangan
pada bagian sensitifku lainnya, maklumlah namanya juga perjaka, masih amatiran.
Aku harus terus berinisiatif mengajarinya, maka kutarik kepalanya mendekati
payudaraku yang membusung, kusuruh dia mengeyotnya sepuas hati. Barulah dia
mulai berani menjilati dan mengulum payudaraku, bahkan tangan satunya kini
aktif menggerayangi payudaraku yang lain.
Entah karena terlalu nafsu atau kelepasan dia gigit putingku yang kanan dengan
cukup keras, sampai aku menjerit.
Aakkhh.. Dan sakit, jangan keras-keras dong!
Di seberang sana Indah sudah dibuat orgasme entah yang keberapa kalinya. Tak
sampai lima menit berikutnya Dimas pun mendesah panjang mencapai klimaksnya,
dia mencabut penisnya dari vagina Indah dan menumpahkan isinya diatas perut
rata Indah. Merekapun roboh bersebelahan, Indah mengusap-ngusapkan sperma itu
ke tubuhnya dan menjilati sisa-sisanya di jari. Dadan masih terus menyodokku
dari depan, gairahku makin memuncak saja, vaginaku terasa makin panas akibat
gesekan dengan penisnya, suara erangan kami terlarut bersama dengan dentuman
musik rock dari komputer. Bosan dengan posisi ini, dia memintaku ganti gaya.
Sekarang kami melakukannya dengan gaya berdiri, aku berpegangan pada tepi meja
sambil disodok dari belakang, dengan posisi demikian tangannya lebih bebas
menggerayangi payudaraku yang bergantung, putingku dipencet dan dipilin-pilin
terkadang agak kasar sampai benda itu mencuat tegang.
Dan.. tambah cepet dong.. Mbak sudah mau nih..!! aku mengerang lirih saat
kurasakan klimaks sudah diambang.
Ooohh.. ahh.. saya juga.. kok rasanya tambah.. enak Mbak sahutnya dengan
menambah goyangannya.
Keluarin di.. dalam.. jangan cabut penis kamu.. ahh kataku dengan suara
bergetar.
Kamipun mencapai orgasme bersama, tubuhku menggelinjang hebat, aku berteriak
seolah mengiringi lagu di komputer, kepalaku terangkat dan mataku merem-melek.
Si Dadan juga mendesah nikmat merasakan orgasme pertamanya bersama seorang
wanita. Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan
kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke
pahaku. Tubuhku lemas bersimbah peluh dan jatuh terduduk di kursi terdekat.
Kubentangkan pahaku lebar-lebar agar bagian itu mendapat angin segar, soalnya
rasanya panas banget setelah begitu lama bergesekan. Liang kenikmatanku nampak
menganga dan sisa-sisa cairan persengamaan masih menetes sehingga membasahi
kursi di bawahnya.
Saya mau lagi dong Mbak, abis vagina Mbak legit banget sih, lagi yah Mbak!
pintanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang itu di dekat wajahku.
Iyah, tapi nanti yah, Mbak istirahat sebentar, jawabku sambil mengelap
keringat di wajahku dengan tisu.
Kulihat Dimas bangkit dan mendekatiku, senjatanya sudah dalam posisi siap
tempur lagi setelah cukup istirahat. Dia belai rambutku dan meraih tanganku
untuk digenggamkan pada penisnya.
Yuk, Cit.. sambil kumpulin tenaga, kasih senjata gua amunisi dulu dong!
pintanya.
Akupun memijati benda itu diselingi jilatan. Melihat si Dadan yang bengong aku
pun menarik tangannya menyuruh berdiri di sisi kananku. Maka dihadapanku
sekarang mengacunglah dua batang senjata yang saling berhadapan dan
masing-masing kugenggam dengan kedua tanganku. Kugerakkan tangaku mengocok
keduanya, mulutku juga turut melayani silih berganti.
Merasa cukup dengan pemanasan, Dimas menyuruhku berhenti, dan menyuruhku bangun
dulu, lalu dia duduki kursi itu baru menyuruhku duduk lagi di pangkuannya
(sepertinya mau gaya berpangkuan deh). Dengan agak kasar dia menyuruh Dadan
menyingkir
Heh, sana lo.. kali ini giliran gua tahu, jangan ganggu lagi!
Eee.. sudah jangan galak ah, gitu-gitu juga dia kan yang bantu-bantu kamu
orang di sini sahutku mengelus lengan Dimas.
Dan kamu minta Mbak yang itu aja buat ngajarin kamu, lanjutku, Ndah mau yang
ajarin dia bentar kan, masih pemula nih.
Sekarang Dadan tidak segrogi saat pertama main denganku barusan, dia menindih
tubuh Indah yang masih terbaring. Indah mengajarinya teknik berciuman,
nampaknya Dadan cepat dalam mempelajari teknik-teknik bercinta yang kami
ajarkan, sebentar saja dia sudah nampak beradu lidah dengan panasnya bersama
Indah, tangannya juga kini lebih aktif menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Indah
memberi rangsangan. Indah yang gairahnya sudah bangkit lagi merespon dengan tak
kalah hebat. Dia berguling ke samping sehingga dia kini di atas Dadan, lidahnya
tetap bermain-main dengan lidah lawannya sementara tangan lembutnya meraih
penis pemuda tanggung itu serta mengocoknya, Dadan mendesah-desah tak karuan
menghadapi keliaran Indah. Indah membimbing penis itu memasuki vaginanya,
dengan posisi berlutut dia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke
dalamnya. Kemudian mulailah dia menaik-turunkan tubuhnya dengan gencar membuat
pemuda tanggung itu kelabakan. Kedua tangan Dadan mencengkram kedua payudara
Indah dan meremasinya dengan bernafsu.
Di tempat lain aku sedang asyik menggoyangkan tubuhku di pangkuan Dimas.
Vaginaku dihujam penisnya yang sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa
berkontraksi makin cepat memijati miliknya. Tangannya yang mendekapku dari
belakang terus saja menggerayangi payudaraku dengan variasi remasan lembut dan
kasar. Kutengokkan wajahku agar bisa berciuman dengannya, lidah kami saling
membelit dan beradu dengan panasnya. Beberapa menit kemudian mulutnya merambat
ke telingaku, dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin
terbakar birahi. Mulutnya terus mengembara ke tenguk, leher, dan pundakku
meninggalkan bekas liur maupun bercak merah. Tanpa terasa goyangan tubuh kami
semakin dahsyat sampai kursinya ikut bergoyang, kalau saja bahannya jelek
mungkin sudah patah tuh kursi. Posisi ini berlangsung 20 menit lamanya karena
kami begitu terhanyut menikmatinya. Selama itu terdengar dua SMS yang masuk ke
ponselku namun tak kuhiraukan agar tak merusak suasana.
Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku, tubuhku kembali menggelinjang
dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Mengetahui aku akan segera
keluar, dia makin bergairah, tubuhku ditekan-tekan sehingga penisnya menusuk
lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremasi payudaraku.
Aaahhkk..! jeritku bersamaan dengan lagu mp3 yang hampir berakhir.
Kugenggam erat lengan Dimas dan menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu
melanda tubuhku. Aku merasakan cairan cinta yang mengalir hangat pada
selangkanganku. Akupun akhirnya bersandar lemas dalam dekapannya, penisnya
tetap menancap di vaginaku, nafas kami tersenggal-senggal dan keringatpun
bercucuran dengan derasnya. Kemudian dia angkat tubuhku hingga penisnya
tercabut, tangan satunya menyelinap ke lipatan pahaku. Diangkatnya tubuhku
dengan kedua lengan, aku menjerit kecil saat dia tiba-tiba menaikkanku ke
lengannya karena kaget dan takut jatuh. Dibawanya aku ke ranjang lalu
diturunkan di sana, nafasku belum teratur sehingga nampak sekali dadaku turun
naik seperti gunung mau meletus. Tepat disebelah kami Dadan sedang menindih
tubuh telanjang Indah dengan gerak naik-turun yang cepat. Indah hanya bisa
menggelinjang dan mendesah, rambut panjangnya sudah kusut tak karuan, matanya
menatap kosong pada kami.
Lagi yah Ci, dikit lagi tanggung gua belum keluar nih, pinta Dimas sambil
merenggangkan kedua pahaku.
Aku hanya pasrah saja mengikuti apa maunya. Dengan lancar penisnya yang sudah
basah dan licin itu meluncur ke dalam vaginaku, aku mendesis dan meremas sprei
saat dia hentakkan pinggulnya hingga seluruh penisnya masuk. Lagu dari komputer
entah sudah berganti berapa kali, kali ini yang mengalun adalah lagunya
Aerosmith yang dipakai soundtrack film Armageddonnya Bruce Willis. Lagu ini
mengiringi permainan kami dalam babak ini. Perkasa juga si Dimas ini, dia masih
sanggup menggenjotku dengan frekuensi tinggi sampai tubuhku terguncang hebat,
padahal sebelumnya dia sudah membuatku dan Indah orgasme, kekuatannya jauh
lebih meningkat dibanding ketika pertama kali one night stand denganku setahun
lalu. Aku menggenggam tangan Indah dan bertatapan wajah dengannya
Sudah berapa kali Ndah? tanyaku bergetar
Nggak tahu.. sudah aahh.. keenakan.. nggak hitung.. lagi, jawabnya dengan
mata merem melek.
Aku makin tak terkontrol, kepalaku kugelengkan ke kiri-kanan, sesekali aku
menggigit jari saking nikmatnya kocokan Dimas. Dia mempermainkan birahiku
dengan sengaja tidak menyentuh payudaraku membiarkannya bergoyang-goyang
seirama badanku, sehingga aku sendiri yang berinisiatif meraih tangannya dan
meletakkannya di payudaraku, barulah dia mulai memencet-mencet putingku
membuatku semakin terbakar. Akhirnya akupun sudah tidak kuat lagi, perasaan itu
kuekspresikan dengan sebuah erangan panjang dan menarik sprei di bawahku hingga
berantakan.
Sudah dulu dong, Mas.. gua gimana bisa kuliah ntar! pintaku dengan
terengah-engah.
Tubuhku basah seperti mandi saja, habis AC kamarnya lagi rusak sih, sementara
ini cuma ada kipas angin berukuran sedang, sedangkan iklim di Jakarta tahu
sendiri kan seperti apa gerahnya. Paham dengan kondisiku, dia biarkan aku
beristirahat, dikecupnya bibirku dengan lembut disertai sedikit kata-kata manis
dan pujian, setelah itu dia beralih ke Indah untuk menuntaskan hajatnya yang
tinggal sedikit lagi. Kuseka dahiku yang bercucuran keringat lalu kulirikkan
arlojiku, 20 menit lagi jam tiga, harus segera siap-siap kembali ke kampus.
Indah yang sedang dalam posisi dogie digarap dari dua arah oleh mereka. Dadan
yang menyodoknya dari belakang akhirnya klimaks, dia mengeluarkan penisnya dan
menyiramkan isinya di punggung dan pantat Indah. Si Dimas yang sedang
menyetubuhi mulut Indah juga tak lama kemudian menyusul, dia mengerang sambil
menahan kepala Indah pada penisnya. Indah sendiri hanya bisa mengerang tertahan
dan matanya merem melek menerima semprotan sperma Dimas, nampak cairan putih
itu meleleh sedikit di pinggir bibir mungilnya. Dimas ambruk di sisiku dengan
memeluk Indah yang menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, si Dadan terduduk
lemas di bawah ranjang (karena ranjang sudah penuh sesak). Setelah tubuhku
cukup stabil, pelan-pelan aku bangkit menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
Disana aku mencuci muka, dan membersihkan ceceran sperma di tubuhku dengan air.
Indah masuk ketika aku sedang duduk di toilet buang air kecil.
Huh.. ngagetin aja kamu Dah, rambut acak-acakan kaya kuntilanak gitu lagi!
ujarku.
Kuntilanak bajunya putih oi, nggak bugil gini, jawabnya asal, lalu menyalakan
kran wastafel.
Setelah selesai berbenah diri, kami mengenakan kembali pakaian kami untuk
kembali kuliah. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, maka itu kami
agak terburu-buru sampai aku melupakan ponselku sehingga pulang kuliah aku
harus balik lagi ke sini untuk mengambilnya. Kami berlari-lari kecil ke kampus,
mana ruang kuliahku di lantai tiga lagi, aku sampai ke kelas terlambat lima
menit, untung belum melebihi toleransi keterlambatan. Di kelas pun aku tidak
bisa fokus karena selain masih lelah, dosennya, Pak Iwan ngomongnya juga slow
motion, bikin ngantuk saja sehingga beberapa kali aku menguap. Temanku di
sebelah bahkan bertanya
Baru bangun tidur kamu Ci? Kok kusut gitu karena make up ku memang agak
luntur waktu cuci muka tadi.
Iyah nih masih ngantuk tadi di kost temen belum cukup tidurnya, jawabku
tersenyum dipaksa.
Lelah sekali hari itu sehingga begitu sampai di rumah aku langsung tiduran dan
bangun jam tujuh malam, baru mandi untuk bersiap-siap menunggu jemputan Verna
dan lainnya untuk nge-dugem di salah satu tempat favorit kami Seribu Satu
Anggie namaku, orang bilang aku cantik dengan tinggi 170 cm, berat 55 kg, dan
Bra-ku size 36. Usiaku kini 32 tahun, tapi katanya seperti umur 20-an, bagiku
itu karunia Tuhan. Kini aku sudah berkeluarga dengan seorang anak yang lucu &
manis usianya sudah 3 tahun.
Sebelum menikah aku pernah sekolah di Singapore selama 2 tahun, di sana aku
punya teman dekat(mungkin pacaran kali, padahal aku sudah punya pacar di kota
M) itupun hanya sebatas cium bibir saja. Dari dulu aku pacaran tidak pernah
melakukan hal yang lebih selain cium bibir, yang lainnya selalu aku jaga hingga
ke jenjang perkimpoian. Selesai sekolah aku kembali ke kota M, setahun kemudian
aku menikah dengan teman kuliahku yang sudah 6 tahun bersama-sama, hingga aku
lupa dengan teman dekatku di Singapore, tapi aku sempat mengundangnya ternyata
ia tak datang. Aku bahagia dengan keluargaku yang kini usia perkimpoian kami
meginjak tahun ke-5. Suamiku sangat bangga kepadaku.
Bunda, kamu tidak hanya cantik tapi sosok istri yang sempurna, wanita karier,
pintar masak, dan yang pasti sangat memuaskan di tempat tidur, kata suamiku
suatu hari.
Istri siapa dulu
, jawabku sambil tersenyum.
Memang aku sekarang bekerja di Perusahaan Asing sebagai Marketing Manager yang
kadang tugas keluar negeri, tapi aku tidak pernah melupakan kewajibanku sebagai
istri, aku selalu berusaha yang terbaik untuk keluargaku.
Pada bulan Februari tahun lalu aku ditugaskan ke Singapore selama 3 hari.
Disana aku menginap disalah satu Hotel di Orchard Road. Selepas kerja aku
jalan-jalan ingin membeli sesuatu di China Town, waktu aku hendak ke MRT
(kereta bawah tanah) aku bertabrakan dengan seorang pria.
Maaf, katanya. Ingin rasanya aku memarahinya tapi aku malah terkejut karena
pria itu adalah teman dekatku dulu.
Betulkah ini Anggie?, tanya. Abang Hanif yach?, aku balik tanya. Kami
bersalaman, selintas dimatanya kulihat ada kerinduan.
Abang patah hati mendengar Anggie menikah, tapi apa mau kata, tak apalah,
abangpun kini sudah menikah setahun yang lalu, katanya agak lirih.
Istri abang tak dibawa?, tanyaku.
Dia tinggal di KL (Kuala Lumpur) tak di sini, jawabnya.
Akhirnya Abang Hanif mengantarkanku jalan-jalan dan kita saling tukar cerita.
Pukul 8 malam aku kembali ke hotel. Abang hanya mengantarkanku sampai depan
pintu.
Besok Abang boleh sini?.
Bolehlah bang, jawabku.
Keesokan harinya selepas pulang kerja aku baru saja selesai mandi dan
berpakaian, bunyi ketukan pintu terdengar, ternyata abang benar-benar datang.
Kemudian kami ngobrol-ngobrol di sofa sambil nonton televisi. Abang mulai
memegang tanganku, gemetar rasanya (seumurku sekarang aku baru berpacaran 2
kali, dengan suamiku dan yang kini kuhadapi).
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, seorang pelayan mengantar minuman yang telah
aku pesan sebelumnya. Aku berdiri mengambil minumannya.
Bang, ini minuman kesukaan Abang.
Oh
, Sayangku (ia dulu selalu memanggilku sayang) kamu masih ingat yach?,
tanpa setahuku ia memelukku dari belakang, jantungku berdetak cepat.
Bang
, bang lepaskan nanti minumannya tumpah, ia mengambil gelas yang aku
pegang dan meminumnya sampai habis.
Haus apa suka, candaku.
Eehh
, ia malah memelukku erat, mengangkat mukaku, dikecupnya keningku,
mataku, kemudian bertemu dibibirku yang mulai bergetar, kami saling berpaut.
Oh
, Tuhan apa yang terjadi bisih hatiku.
Selanjutnya ia menggendongku ke tempat tidur di baringkannya, diusap-usap
rambutku sambil berkata Abang sangat merindukanmu
, sayangku, sambil ia kecup
keningku yang pada akhirnya kami saling melumat lagi, sebenarnya akupun
merindukannya tapi tak bisa terucapkan. Deru nafas kami mulai tak terarah,
tangannya mulai menyelusuri tubuhku.
Bang
, bang
, jangan kita sudah menikah, kataku lirih, tapi ia malah melumat
bibirku sehingga aku tak kuasa. Ia memasukkan tangannya kedalam bajuku dan
bersinggah di dua bukitku, dibukanya braku, bajuku hanya CD yang tersisa
kemudian ia buka sendiri bajunya.
Yang.., indahnya dadamu, diremas lembut dadaku, dihisapnya putingku, aku
bergelinjang kegelian. Ahh
, ahh
, ahh, itu saja yang terucap olehku. Sambil
menciumi dadaku tangannya mulai mengusap-usap pahaku, kini CD-ku sudah
ditanggalkannya, dan tangannya sudah bersarang di hutan yang lebat, ia mainkan
clitku yang mulai basah.
oohh
, ohh
oohh aku makin mengerang. Ciumannya perlahan turun ke perutku,
turun lagi ke pahaku dijilatnya bergantian sampai akhirnya hutan yang lebat itu
ia selusuri, dimainkannya clitku dengan lidahnya, dihisap, dijilat.
Ooh
, oohh
, ooh, bergetar seluruh tubuhku. Tanganku pun tak ambil diam aku
usap-usap senjatanya yang begitu besar dan kokoh, kuurut-urut, oohh
, ohh
, ia
mulai mengerang.
Tanpa kami sadari posisi kami kini 69, kami saling isap, saling jilat, hanya
erangan kenikmatan yang kami rasakan. Setelah kami merasa puas, ia baringkan
aku, dimasukannya senjatanya itu perlahan-lahan, gerakannya naik-turun membuat
kami tak menentu.
Ohh
, oohh
, ohh bang terus
, bang, aku putar-putar pantatku seirama
gerakkannya. oohh
, my girl I am coming.., Abang tak kuasa, katanya. Aku putar
badannya sehingga posisiku di atas dan ia terduduk. Kini aku yang naik-turun
sambil ia remas dan isap dadaku. OOhh.., oohh.., oohh
, ayo, augh, gerakan
kami kian lama kian mengencang dan akhirnya kami mencapai kenikmatan
bersama-sama. Terima kasih sayangku, sambil ia kecup keningku.
Kamu adalah wanita yang paling sempurna di mataku, katanya lagi. Tak ada kata
yang bisa kuucapkan, aku hanya terdiam lemas.
Keesokan harinya aku balik ke kota M. Abang antar aku ke changi airport,
sebelum aku naik pesawat aku bisikkan, Bang yang kemarin terjadi itu rahasia
kita berdua, yach?, ia mengangguk sambil mengecup keningku.
Itulah kejadian setahun yang lalu, aku coba untuk melupakannya yang bagiku
pertama dan terakhir, semoga abangpun di sana demikian.
andre pacarku
Pacarku bernama andre. dia cowok yang baek dan cakep [kata temen-temenku]. Aku
mengenalnya dari temanku, dia memperkenalkan kami sewaktu kegiatan mahasiswa.
Kami menyukai satu sama lain. kami sudah jalan selama satu tahun.
dia cinta pertama ku dan pertama juga aku kehilangan kegadisanku.
ceritanya kami pergi ke undangan teman andre.Andre mengajakku ke pesta
temannya, sekalian dia ingin memperkenalkanku kepada teman-temannya. Sebetulnya
aku tidak menyukai pesta, tapi karena demi dia, aku jadi mesti pergi
mendampinginya. Aku juga ingin mengetahui teman-teman Andre itu seperti apa.
sehabis pulang dari pesta ulang tahun temannya, karna larut malam, andre
berkata untuk mengantarkanku pulang besok hari. tapi aku menolaknya, dengan
alasan orang tuaku akan marah besar, jika aku tidak pulang. Dan lagi pula aku
menjaga etiketku, karena aku tidak mau dicap oleh orang tua ANdre, perempuan
murahan. Jadi aku memaksa ANdre mengantarkanku pulang.
akhirnya, andre mengiyakan aku untuk mengantar pulang ke rumahku. Setelah
berpisah satu dengan yang lain, Andre juga berpamitan ria dengan
teman-temannya, kami pun pulang. Aku sebenarnya cukup senang juga denga pesta
yang diadakan temannya. Banyak kenalan cowok-cowok cakep, dan aku setidaknya
malam ini tidak bosan di rumah setelah satu minggu mengikuti test di kampus.
SUntuk jugalah kalo di rumah terus, bener kan?
RUmah aku dan rumah ANdre itu jauh sekali. Kalau bisa dibilang dari utara ke
selatan. Maka dari itu ANdre juga tidak mau menangantarku pulang malam ini,
karna dari pesta saja sudah jam 11 malam. Dari rumah temannya itu ke rumahku
sangat jauh bisa makan waktu satu jam lebih. Aku hanya diam dan kadang-kadang
bercerita tentang pesta dengan ANdre. ANdre dengan tenang mengemudikan mobilnya
dan kadang-kadang menoleh ke arahku dengan tersenyum saat aku menatapnya mesra.
Akhirnya selama satu jam itu akan berakhir, betapa senang hatiku, aku capek
juga oleh perjalanan ini, pengen dong pulang ke rumah dan cepat-cepat ganti
baju dan tidur.
tiba-tiba jalan yang semestinya belok ke kanan menuju rumahku, andre
meneruskannya ke arah pegunungan.
aku menjadi bingung oleh sikapnyha.
"ANdre, kamu salah jalan sayang, kita harus berbelok ke kanan tadi. Kamu
melewatinya, sayang, " kataku lemah lembut.
Tiba-tiba di suatu belokkan, yang sepi, gelap dan rimbun oleh pohon, Andre
memberhentikan mobilnya dan berkata, "Ria, sayang..." tatapnya, dan dia
menciumku penuh ambisius dan birahi yg tinggi. Aku membalashnya.
TIba-tiba tangannya menuju ke arah susuku, meremasnya dengan keras. Aku
merasakan kalau pentilku ditarik-tarik olehnya, aku meringis kesakitan karna
aku hanya memakai bh yang berenda-renda.
"Andre, malu ah..." kataku.
"Kenapa malu, sayang, ga ada orang di sini, tempatnya sepi lagi, gelap juga,"
balasnyalemah lembut.
Tangannya turun ke bawah mengangkat rokku dan mulai menyentuh-nyentuh celana
dalamku. Dia menekan-nekan memekku perlahan-lahan.
"ANdre, kamu mau apa?"
Andre hanya dia tak menjawab, masih asyik dengan tangannya memainkan memekku
dari luar celana dalamku. Tangannyha tanpa berhenti menggosok-gosok memekku.
Aku merasakan memekku basah ketika lidahnya menjulur ke arah dadaku.
Lidahnya semakin turun ke arah susuku dan mulutnya menurunkan bhku yang tanpa
tali itu.
Aku mendorongnya, "ANdre kita pulang saja sayang,"pintaku .
Tapi dia menarik tanganku ke arah celana hitamnya, aku kaget dengan cepat aku
menarik tanganku. "Andre, kita pulang , sayang, kamu ga kasian nanti aku
dimarahin orang tuaku pulang kepagian?" pintaku cemas.
Tanpa menghiraukan k ata-kataku , Andre menggosok-gosok memekku dengan cepat,
membuatku belingsatan. Ini pertama kali dia melakukannya. "Andre....e.e..e.
jangan..."
Tanpa peduli lagi, dia buka celananya dan tarik kontolnya keluar dari celana
dalamnya. Sambil mendorong dirinya untuk menindihku, dia remas susuku dengan
kuat.
"Andre..jangan sayang.........."
Andre seolah tak menghiraukan ku lagi, dipelorotkannya celana dalamku, dengan
cepat...diubahnya kursi jok mobilnyake posisi tidur.
Dengan cepat, digosok-gosokkannya kontolnya di luar memekku sehingga memekku
mengeluarkan lendir.
"ah............ah.......Andreeeeee....sakitt....." seruku menggeliat-ngeliat
kesakitan.
Ini pertama kali aku merasakan kontolnyaa. "AH......ah..."
aku mereganggkan dan membuka lebar pahaku, sementara Andre mengulum susuku yang
lumayan untuk orang seumuranku, susuku lumayan montok 36b. Digigitnya pentilku,
sambil didorong keluar masuk tanpa menghiraukan rintihan kesakitanku.
Dengan cepat ANdre mendorong keluar masuk kontolnya yang lumayan montok dan
panjang. Sinar matanya mencerminkan birahinya yang kuat.
"AH...ah....ah....Andreeeee....ah...."
Aku merasakan...keenakan setelah mengalami kesakitan memekku diterobos oleh
kontolnya yang besar. Tiba-tiba aku merasakan memekku berdenyut-denyut mengulum
kontolnya.
"Ah Ria-ku, enak sekali, enak sekali jepitan memekmu," pejamnya . ANdre tidak
mau kalah didorongnya kontolnya keluar masuk memekku dengan cepat.
Tanpa aku pinta, tiba-tiba dikeluarkannya kontolnya dan menyemburlah spermanya
yang kental.
Croth...........crothhhhhhhh
"Ah...makasih sayang, " katanya lembut sambil mencium susuku.
Aku diam seribu bahasa dengan bengong menerima kehilangan kegadisanku di tengah
malam dengannya. Kemudian dia memakai celananya dan menjalankan mobilnya
memutar arah balik ke rumahku.
Sejak itu kami sering melakukannya entah itu di rumah dia atau di hotel ,
maupun di mobilnya, yang jelas bukan di rumahku.