http://www.dakwatuna.com

Alqur'anul Karim
9/9/2008 | 08 Ramadhan 1429 H 
Kekuatan Itu Ada Pada Al Qur’an 
Oleh: Tim dakwatuna.com 

dakwatuna.com - “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. 

Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu 

diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85)

Terdapat lebih dari 19 ayat yang menyebut kata “ruh” dalam 

Al-Qur’an. Maksud yang terkandung dari istilah ini tidak keluar 

dari arti malaikat Jibril yang biasanya ditambah dengan istilah 

Ruhul Quds atau Ar-Ruhul Amin dan maksud yang kedua adalah 

Al-Qur’an. Dan hanya satu ayat yang bermaksud roh dalam arti yang 

sebenarnya, yaitu pada ayat ini. Meskipun demikian terdapat juga 

ulama tafsir seperti yang dinukil oleh Imam Al-Qurthubi yang 

memahami ruh dalam arti analogis yaitu Al-Qur’an. Maka pengertian 

ayat ini menurut Al-Qurtubi secara analogis adalah:

“Dan mereka bertanya, “Darimanakah Al-Qur’an yang di tanganmu 

ini?”. “Katakanlah: Sesungguhnya ia diturunkan sebagai mukjizat 

atas perintah Allah swt.”

Analogi kedua makna ini sangat jelas. Roh merupakan alat kehidupan 

manusia secara fisik materil. Manakala Al-Qur’an adalah roh yang 

bisa memberi kekuatan dan kehidupan manusia secara psikologis 

ruhiyah. Hal ini bertepatan dengan ungkapan Malik bin Dinar tentang 

roh Al-Qur’an:

“Wahai Ahlul Qur’an!, apa yang telah ditanam oleh Al-Qur’an ke 

dalam lubuk hatimu?. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah penyubur hati 

sebagaimana hujan yang menyuburkan bumi.”

Dalam konteks ruh yang memiliki pengertian Al-Qur’an, terdapat 

empat ayat membahasnya, yaitu surah An-Nahl: 2, Ghafir: 15, 

Asy-Syura: 52 dan Surah Al-Isra’: 58 yang dipahami secara analogis. 

Tentunya, penamaan Al-Qur’an dengan ruh bukan kebetulan dan tanpa 

hikmah yang perlu digali oleh hamba-Nya yang merindukan keberkahan 

dan kekuatan dari Al-Qur’an, seperti juga nama dan sifat lain yang 

dimiliki oleh Al-Qur’an yang mencerminkan fungsi dan perannya yang 

komprehensif dan universal. Betapa hanya Al-Qur’an yang bisa 

diandalkan menyelesaikan masalah kemanusiaan dalam segala 

bentuknya.

Sayyid Qutb menyatakan pandangannya tentang penamaan Al-Qur’an 

dengan ruh berdasarkan firman Allah: “(Dialah) Yang Maha Tinggi 

derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang memberi ruh dengan 

(membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya di antara 

hamba-hambaNya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari 

pertemuan (hari kiamat).” (Ghafir: 15) bahwa ini merupakan kinayah 

tentang wahyu. Redaksi yang digunakan dalam ayat ini mengisyaratkan 

dua hal: pertama, bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah ruh dan kehidupan 

bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup dengan 

baik dan benar. Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang 

tinggi kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini 

bertepatan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Selanjutnya beliau juga menafsirkan ruh dalam ayat-ayat ini sebagai 

sebuah kekuatan yang menggerakkan, mempertahankan kehidupan di 

dalam hati, bahkan di dalam kehidupan nyata sehari-hari.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan 

perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab 

(Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami 

menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa 

yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya 

kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” 

(Asy-Syura: 52)

Kekuatan besar dari sentuhan Al-Qur’an ini dirasakan benar oleh 

para sahabat Rasulullah karena memang mereka menerima Al-Qur’an ini 

dengan segenap hati, pikiran dan kemauan mereka. Seperti yang 

diriwayatkan oleh Ath-Thobroni dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr 

bin Ash bahwa ia berkata:

“Ketika turun surah Az-Zalzalah, maka serentak Abu Bakar yang 

sedang duduk waktu itu menangis. Maka Rasulullah saw. pun 

menghampirinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis 

wahai Abu Bakar?”. Surah inilah yang membuat aku menangis”. Maka 

Rasulullah menenangkan dengan sabdanya:

“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka Allah 

akan menciptakan kaum lain yang mereka itu melakukan salah dan dosa 

kemudian mereka bertaubat dan Allah mengampuni mereka.”

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Hanthob bahwa Rasulullah saw. 

pernah membacakan surah ini dalam satu majlis di mana seorang Arab 

Badui ikut serta duduk bersama. Setelah mendengar ini, lelaki itu 

lantas keluar sambil menyesali dirinya “alangkah buruknya aku”. 

Maka Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya, “sungguh iman 

telah masuk ke dalam hati lelaki badui tadi.”

Maka sangat tepat ungkapan Dr. Yusuf Al-Qaradlawi yang menegaskan 

bahwa:

“Al-Qur’an adalah “ruh Rabbani” kekuatan Rabbani yang akan mampu 

menghidupkan dan menggerakkan akal fikiran dan hati. Sebagaimana 

Al-Qur’an juga undang-undang Allah yang mengatur kehidupan manusia 

sebagai individu dan bangsa secara kolektif.”

Syekh Muhammad Al-Ghazali menyebutkan:

“Al-Qur’an inilah kitab yang membentuk jiwa, membangun umat dan 

kebudayaan mereka. Inilah sesungguhnya kekuatan Al-Qur’an. Namun 

yang sangat disayangkan bahwa cahaya ini tidak nampak di depan umat 

Islam karena mata-mata mereka sudah tertutup sehingga aib dalam 

konteks sekarang ini bukan aib Al-Qur’an, tetapi aib pandangan 

manusia yang lebih mengagungkan kekuatan lain selain Al-Qur’an. 

Padahal Allah sudah berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah 

datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al 

Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. 

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab 

yang menerangkan, dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang 

yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan 

kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap 

gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan 

menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16)

Karenanya esensi seluruh perintah dan petunjuk Al-Qur’an adalah 

dalam rangka memelihara kehidupan manusia, baik secara fisik maupun 

psikis. Tanpa panduan dan pedoman ini, kehidupan manusia semakin 

tidak menentu dan jelas arahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan 

Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi 

kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah 

membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah 

kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)

Kekuatan lain yang seharusnya kita sadari dari Al-Qur’an yang mulia 

ini bahwa Al-Qur’an merupakan sistem hidup yang mengarahkan 

orang-orang yang beriman untuk mewujudkan kehidupan dalam bingkai 

keimanan. Sebuah hakikat kehidupan yang meliputi segenap komponen 

yang ada pada diri manusia; menghidupkan fisik, perasaan, getaran 

jiwa, kemauan, pikiran dan kehendaknya.

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang 

hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap 

orang-orang kafir.” (Yaasin: 70)

Ibnu Qutaibah dalam kitab “Tafsir Gharibil Qur’an” memahami kalimat 

“Hayyan” di dalam ayat ini dengan pengertian seorang mukmin yang 

hidup karena memperoleh petunjuk Allah swt. demikian juga dengan 

firman Allah swt.:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan 

Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu 

dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa 

dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang 

sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami 

jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka 

kerjakan.” (Al-An’am: 122).

Yang dimaksud dengan orang yang hidup dalam ayat ini adalah orang 

yang beriman dan orang yang mati adalah orang kafir. Makanya Allah 

membedakan keduanya dengan menggunakan istilah ini juga di dalam 

firman-Nya: “Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan 

orang-orang yang mati.” (Fathir: 22)

Sesungguhnya, berbagai ujian yang mengejutkan bangsa ini semakin 

membuktikan hakikat yang tidak terbantahkan akan kelemahan manusia 

dan hajat mereka akan pertolongan Allah swt. bahwa sesungguhnya 

sumber kekuatan satu-satunya adalah Allah yang menciptakan 

segalanya dan kita akan meraih kekuatan itu dengan menjadikan 

Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber kehidupan dan kekuatan kita.

Sekali lagi, Allah swt. mengingatkan kita akan kekuatan Al-Qur’an.

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (Al-Qur’an) 

dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara 

hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya 

tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu 

bertakwa kepada-Ku.” (An-Nahl: 2)

Memang sudah saatnya bagi kita untuk menerima Al-Qur’an dengan 

segenap perasaan, pikiran dan kehendak kita dan tidak mengharap 

atau menggantungkan kekuatan lain di luar dari kekuatan firman-Nya.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk 

tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah 

turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang 

yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian 

berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi 

keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang 

fasik.” (Al-Hadid: 16).

Selama kita masih mengharap datangnya kekuatan lain, maka selama 

itu pula kita tidak akan meraih kehidupan yang mulia di bawah 

bimbingan dan naungan Al-Qur’an.

-------------------------

Tafsir Ayat
29/8/2008 | 26 Syaban 1429 H | Hits: 1.341
Mereview Pemaknaan Ayat-Ayat Shaum 
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA 

dakwatuna.com - “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa”. (Al-Baqarah: 183)

Merupakan satu rahmat Allah swt. bahwa Ayatus Shiyam, yaitu ayat-ayat
yang berbicara tentang puasa dalam berbagai pembahasannya dapat dengan
mudah ditemukan karena berada pada satu surah secara berurutan di dalam
surah Al-Baqarah dari ayat 183 hingga ayat 187. Dan ayat di atas
merupakan ayat pertama yang menjadi landasan qath’i –pasti- atas
kewajiban puasa bagi seluruh umat Islam. 

Dari kelima ayat yang berada dalam susunan ayatus shiyam, ternyata
terdapat satu ayat yang berbeda dari segi pembahasannya. Ayat ini justru
berbicara tentang kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya, “Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran”. (Al-Baqarah: 186). Meskipun demikian,
masih tetap dapat ditemukan korelasi ayat ini dengan keempat ayatus
shiyam.

Bulan Ramadhan yang dikenal juga dengan syahrul ibadah dan syahrud du’a
merupakan bulan yang sangat tepat dan memang diperuntukkan oleh Allah
swt. kepada seluruh hamba-Nya untuk menjalin dan memperkuat komunikasi
dan hubungan yang baik dengan-Nya. Betapa pernyataan kedekatan Allah
swt. dengan hamba-hamba-Nya pada susunan ayatus shiyam harus dijadikan
sebagai kekuatan motivasi untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya yang
selama ini terasa sangat jauh dan kurang harmonis. Inilah salah satu
rahasia kenapa ayat 186 ini mengapit ayatus shiyam sebagai bagian dari
makna ta’abbudi –nilai peribadatan- yang bisa digali daripadanya.

Secara aplikatif dalam menjalankan seluruh paket Ramadhan; dari
berpuasa, sholat tarawih dan qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, sampai
dengan puncaknya i’tikaf tentu sangat membutuhkan pertolongan Allah
swt., maka Allah swt. membuka pintu lebar-lebar bagi hamba-hamba-Nya
untuk memohon pertolongan kepada-Nya agar senantiasa berada dalam jalan
kebenaran “La’allahum Yarsyudun”. Apalagi dalam konteks makna ta’abbudi
seperti yang disebutkan oleh Syekh Musthafa Masyhur dalam bukunya Fiqh
Da’wah bahwa salah satu prinsip yang sangat mendasar dan harus
senantiasa dijaga adalah memberi perhatian terhadap masalah tarbiyah
–pendidikan- dan aspek ibadah ritual. Kedua hal ini ibarat ruh yang ada
pada tubuh manusia, baik dalam skala individu maupun dalam skala
kelompok atau jama’ah. Pengabaian akan interaksi dan makna ta’abbudi
dalam bulan Ramadhan bisa menjauhkan seseorang dari target yang telah
ditetapkan Allah “La’allakum Tattaqun”.

Makna lain yang bisa digali dari ayatus shiyam seperti yang dituturkan
oleh Dr Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya “Al-Ibadah fil Islam” adalah
makna “Al-Imsak” yaitu menahan dan mengendalikan diri dengan segenap
pengertian yang terkandung di dalamnya. Dan inilah inti dan hakikat dari
ibadah puasa yang menghantarkan seseorang kepada derajat muttaqin.
Karena diantara sifat yang menonjol dari seorang muttaqin ada pada
pengendalian dirinya. Allah swt. menegaskan, “Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu)
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
(Ali Imran: 133-134). Hanya orang yang mampu menahan dirinya dari
keinginan kepada harta yang berlebih yang siap memberikan infaknya dalam
keadaan lapang dan sempit. Demikian juga, hanya orang yang mampu
mengendalikan emosinya yang bisa bersabar dan memaafkan orang lain.
Bahkan dalam keadaan ia mampu melampiaskan amarahnya. Wajar jika Allah
menganugerahkan balasan yang cukup tinggi kepada siapa yang mampu
mengendalikan dirinya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Barangsiapa yang
mampu menahan amarahnya, padahal ia mampu melampiaskannya, maka ia akan
dipanggil oleh Allah di depan para mahklukNya yang mulia dan ia diberi
kesempatan untuk memilih diantara bidadari yang ia inginkan”.

Secara korelatif juga, ayat yang mendampingi sesudah ayatus shiyam
ternyata berbicara dalam konteks menahan diri, terutama dari harta orang
lain yang bukan miliknya, 

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di
antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa
(urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian
daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal
kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188).

Demikian juga dengan ayat yang mendampingi sebelumnya yaitu ayat 181-182
yang berbicara tentang harta pusaka yang dikhawatirkan terjadi
penyelewengan padanya.

Makna lain yang cukup fenomenal yang bisa disaksikan sepanjang bulan
puasa adalah makna ukhawi, dalam arti kebersamaan dan solidaritas. Dr.
Sayyid Nuh dalam bukunya, Al-Fardhiyah wal-Jamaa’iyah fil-Insan
menyatakan:

“Ibadah puasa adalah bentuk ibadah kebersamaan umat Islam, sekaligus
persamaan dalam menahan rasa lapar dan dahaga pada waktu tertentu.”.

Dalam skala keluarga, pembiasaan bangun malam yang diteruskan dengan
sahur bersama seluruh anggota keluarga di bulan Ramadhan harus menjadi
agenda harian dari makna ukhawi yang berkesinambungan. Ditambah dengan
momen silaturahim yang banyak berlangsung sepanjang bulan Ramadhan dalam
bentuk buka bersama misalnya merupakan nilai yang luhur dari pemaknaan
Ramadhan.

Rasulullah saw. sendiri merupakan contoh ideal sepanjang zaman:

“Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah, terlebih lagi di bulan
Ramadhan. Bulan dimana beliau selalu ditemui oleh Jibril. Jibril
menemuinya setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al-Qur’an.
Sungguh bila Rasulullah bertemu dengan Jibril, beliau lebih pemurah lagi
melebihi hembusan angin kencang.” (H.R. Muttafaq Alaih)

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa beberapa sahabat pernah mengadu
kepada Nabi saw.,

“Wahai Rasulullah, kami makan tapi tidak kenyang?” Beliau berkata,
“Semoga ini karena kalian makan sendirian”. Mereka berkata, “ya.”
Rasulullah bersabda, “Berkumpulah pada makanan kalian (makan bersama)
dan sebutlah nama Allah, semoga Dia akan memberi berkah kepada kalian.”
(Muttafaq Alaih).

Bahkan belajar suatu ilmu dan mengajarkannya tidak ada berkah padanya
kecuali dilakukan dengan bersama. Nabi saw. Bersabda:

“Tidaklah berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah ta’ala
dengan membaca Kitabullah dan mempelajarinya satu sama lain antara
mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, mereka
diselimuti rahmat dan malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut
mereka di sisi-Nya.” (HR. Abu Daud)

Demikian, Islam memandang kebersamaan umat Islam merupakan suatu
tuntutan yang sangat urgen. Karena manusia jika tidak bersama dalam
kebenaran, maka mereka akan bersama dalam kebatilan. Begitu pula, jika
mereka tidak berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, mereka
pasti akan bersaing dalam mendapatkan perhiasan dunia. Berulang kali
perintah Allah swt. tidak ditujukan secara redaksional kepada individu
(perorangan), baik dalam bentuk perintah maupun larangan. Tetapi
ditujukan kepada seluruh orang yang beriman, dengan bentuk pengajaran
dan petunjuk. Termasuk dalam perintah puasa, “Wahai sekalian orang-orang
yang beriman”.

Mudah-mudahan semakin banyak pemaknaan yang kita lakukan terhadap Ayatus
shiyam, maka akan semakin dapat memperkuat motivasi kita untuk
melaksanakan seluruh paket Ramadhan dengan baik dan berkesinambungan
sehingga kita termasuk di antara golongan yang mampu meraih predikat
takwa yang dijanjikan Allah swt. Amin. Allahu a’lam


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke