Karena Ilmu dan Keyakinan
Ada seseorang yang butuh kejadian sesuatu, yang kemudian  engantarkannya 
kepada Allah. Ada juga yang cukup dengan ilmu dan keyakinan yang 
mendorongnya beribadah, tunduk dan patuh kepada Allah. Dua-duanya 
istimewa. Yang salah adalah yang tidak bergeming, tidak beribadah; baik 
dengan ilmunya, maupun pengalamannya.
Berikutnya, kisah seorang yang melakukan ibadah, sebab didahului oleh ilmu 
dan keyakinan. Adalah Iwan, sebut begitu, seorang karyawan di sebuah 
perusahaan otomotif. Ia mendengar kuliah dhuha pagi itu di kantornya, 
bahwa shalat Dhuha 6 rakaat punya fadhilah,
“Allah akan mencukupkan rezekinya.”
Saya yang menjadi guru tetap di pengajian bulanan tersebut bertutur 
kira-kira begini, “Kalo kita percaya sama Allah, kita kudu percaya akan 
petunjuk-Nya. Salah satunya ketika Allah dan Rasul-Nya bicara tentang 
petunjuk bagaimana mencari rezeki. Dalam banyak bab “Mencari Rezeki”, 
salah satu yang dijadikan jalan pembuka pintu rezeki adalah shalat Dhuha. 
Allah bilang lewat Rasul-Nya dalam sebuah hadits qudsi,
“Dari Rasulullah Saw, Allah Swt berfirman, ‘Wahai anak Adam, shalatlah 
untuk-Ku
empat rakaat di awal siang (dhuha), maka akan Aku cukupkan bagimu 
siangmu.” (Hadits qudsi diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
Begitulah saya memotivasi para mustami’ (pendengar majelisnya) agar mereka 
mau berkenan shalat Dhuha. Saya yang menyodorkan janji Allah dan Rasul-Nya 
sebagai dorongan beribadah mengatakan, bahwa tidak usah takut mengerjakan 
shalat Dhuha lantaran janji dan dorongan Allah dan Rasul-Nya ini. Inilah 
yang disebut KEUTAMAAN. Bukankah orang yang percaya sama Allah dan 
Rasul-Nya disebut orang yang beriman? Sedangkan iman itu apa sih? Iman 
itu’kan percaya. Maka ketika Allah dan Rasul-Nya menyeru dengan memberi 
dorongan sejumlah keutamaannya, maka inilah kiranya kebaikan Allah dan 
Rasul-Nya dan kebaikan seseorang yang beriman yang percaya sama kalam 
Allah dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan shalat Dhuha, di dalam majelis di 
kantor tersebut, saya kemudian mengatakan ini, “Ketika seseorang shalat 
Dhuha 6 rakaat, Allah punya kalam lain,
 “Siapa yang shalat Dhuha 6 rakaat, Allah akan mencukupkan kebutuhannya 
hari itu.”
Selanjutnya saya memotivasi, “Jika di antara saudara yang hadir di sini 
percaya,  lalu punya kebutuhan, punya hajat, dan dia berkenan shalat Dhuha 
6 rakaat, percayalah insya Allah janji Allah ini benar-benar akan 
terwujud.” Alhamdulillah. Di antara jamaah yang hadir, ya Iwan itu.
Iwan mendengar perkataan saya, “Kejar target, kejar kebutuhan yang 
diperlukan dengan mendirikan shalat Dhuha 6 rakaat. Sisihkan waktu. 
Daripada cape enggak karuan, mending ngorbanin waktu sedikit untuk 
mengundang janji Allah terbukti di masalah dan hajat kita.” Rupanya 
termotivasi betul Iwan mendengar hal demikian. Tidak sabar ia menunggu 
waktu pulang. Waktu itu hari Jum’at. Pengajian saya di sana, saban hari 
Jum’at pagi keempat tiap bulannya. Ia pengen cepat-cepat pulang. Pengen 
mengabarkan kepada istrinya ini. Pengajian tadi seakan menjadi solusi 
baginya, yaitu bagi bayangan kesulitan yang sedang ada di depan matanya.
Memangnya apa kesulitannya Iwan ini?
2 bulan lagi ia punya kebutuhan 7,5 juta untuk biaya studi 3 anaknya. 
Sebagai karyawan biasa, angka ini besar sekali buat dia. Apalagi dia punya 
satu dua cicilan utang. Tapi ia tadi pagi mendengar saya berkata, “Dulu, 
sebelum tahu ilmu dhuha ini, seseorang begitu punya kesulitan, sudah 
berancang-ancang mencari bantuan dan pertolongan orang lain. Sekarang, 
enggak usah. Cari saja pertolongan lewat sisi Allah ini. Nanti Allah yang 
menyediakan jalanjalan- Nya.”
Iwan mengamini. Memang begitu. Ia dulu bukan saja sekadar berancang-ancang 
mencari bantuan. Tapi ia bahkan sudah berjalan mencari bantuan itu! Ke 
sana kemari. Ketemu enggak?
Enggak! 
Makanya, ketika dapat pencerahan pagi itu, ia bahagia sekali. Ia tahu 
kesalahannya kini. Ia cari bantuan orang lain tapi tidak mencari Allah, 
Pemilik segala bantuan yang diinginkan. Ia tahu kesalahannya. Langkah ia 
tetapkan untuk mencapai dan mengejar apa yang menjadi kebutuhannya. Tapi 
karena ia mencari tanpa ilmu, tanpa pengetahuan bahwa ada cara mudah dan 
cepat, yaitu menyandarkan pada kekuatan Allah, ia punya langkah tak jelas. 
Kini, dengan shalat Dhuha ia percaya langkahnya ini menjadi jelas. Sebab 
jelas juga yang ia tuju; ridha dan pertolongan Allah melalui shalat Dhuha.
”Katakanlah, ‘Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya 
kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. 
az- Zumar: 44)
Subhanallah! Mudah-mudahan kita berkeyakinan seperti yakinnya Iwan ini. 
Sesampainya di rumah, bertuturlah Iwan kepada istrinya sebagaimana saya 
bertutur untuk dirinya. Iwan lalu meminta istrinya itu menemaninya shalat 
Dhuha. Ia shalat di kantor di selasela kesibukannya. Istrinya shalat di 
rumah. Dhuha yang diambilnya 6 rakaat, dengan keyakinan bahwa inilah cara 
yang benar yang insya Allah menjadi jalannya menutup 7,5 juta. Saudaraku, 
kita coba berhenti sejenak. 
Sampe sini, banyak orang yang menyalahkan dengan mengeluarkan ungkapan, 
“Shalat Dhuha kok untuk uang…? Untuk kebutuhan... ?” Begitu’kan?
Banyak yang menyalahkan pencari pertolongan Allah lewat ibadah. 
Tapi terserahlah. Masing-masing punya pendapat. Yang penting, jika saudara 
hanya berdebat, maka kebesaran Allah tidak akan terjadi. Silahkan sibuk 
saja terus berdebat. Tidak usah melakukan. Akan halnya Iwan, karena ia 
melakukannya dengan segenap keyakinan atas informasi (ilmu) yang 
didapatnya, maka ilmu dan keyakinannya, bekerja! Keajaiban pertolongan 
Allah benar-benar terjadi!
Hanya selang dua minggu ia melakukan, jawaban untuk dana yang ia butuhkan 
ia dapati. Ya, hanya 2 minggu! Unbelieveable!
Iwan lapor kepada saya di pengajian Jum’at berikutnya, alias di empat 
pekannya kemudian. Bahwa ia tidak berhenti sampe di situ. Ia terus meminta 
istrinya meneruskan riyadhah lewat shalat Dhuha ini untuk masalahnya yang 
lain, di luar masalah yang 7,5 juta untuk anggaran pendidikan 
anak-anaknya.
Hebat! Saya mengatakan hebat. Banyak orang yang tidak percaya, Iwan 
percaya. Ketika seseorang melakukan apa yang diseru Allah dan Rasul-Nya, 
lalu tatkala Allah membuktikan kebenaran janji-Nya, orang tersebut 
berhenti sampai di situ, alias tidak meneruskan lagi menjadi sebuah 
pekerjaan yang di-dawam-kan. Sedangkan Iwan? Dia malah meneruskan.
Hebat! Ya hebat.
Memang apa masalahnya Iwan yang lain? Ada lagi?
Namanya juga manusia. Kalau mau jujur, masalahnya pasti banyak. Rupanya 
Iwan punya utang 50 juta. Ia lumayan pening dengan urusan ini. Otaknya 
enggak aja memikirkan yang 50 juta ini. Sebab sebelumnya, yang 7,5 juta 
enggak tahu bagaimana ngurusinnya. Karenanya ketika ia berdecak kagum akan 
dhuha ini, untuk urusan 7,5 jutanya, ia meneruskan dhuhanya tersebut untuk 
urusan 50 jutanya. Ia yakin, kali ini pun ia pasti berhasil. Caranya sama, 
Tuhannya sama, masa iya enggak berhasil. Di depan jamaah lain yang 
mendengar testimoni Iwan, lagi-lagi saya mengatakan hebat.
“Seseorang yang melakukan tanpa ilmu dan tanpa keyakinan saja, insya Allah 
ia akan tetap merasakan fadhilah (keuntungan) amal, apalagi yang 
melakukannya sebab ilmu, sebab yakin, dan sebab pengalaman. Pasti 
bertambah subhanallah dah,” tutur saya menimpali. Itulah yang memang 
terjadi. Iwan bercerita, bahwa 50 juta itu ia dapatkan sebelum genap ia 
ketemu Jum’at yang keempat. Alias ia mendapatkan jawaban atas kebutuhannya 
itu, juga dalam waktu kurang 2 minggu! Jarak tempuh pencapaian target 
hanya 2 minggu sejak ia tetapkan dirinya untuk menempuh jalan shalat Dhuha 
6 rakaat.
Untuk yang satu ini, saya memiliki komentar yang menarik. Kata saya, 
percepatan itu terjadi sebab Iwan mengerjakannya tidak sendirian, 
melainkan bersama-sama istrinya. Ibarat memakai kaki untuk berjalan, Iwan 
memakai kaki yang lengkap, kiri dan kanan. Jelas lebih cepat dibandingkan 
dengan mereka yang berjalan dengan satu kaki. “Jadi, buat saudara yang 
kepengen mencapai target kebutuhan rumah tangga dan usahanya, jangan 
lakukan sendirian. Jalankan bersama-sama istri atau suami masing-masing. 
Kalau perlu, bersama-sama satu tim, satu divisi, satu kelompok, bersama 
karyawan, dan seterusnya. Pokoknya jangan sendirian.” “Buat yang hidupnya 
memang sendirian gimana Ustadz?” tanya salah satu jamaah. “Pikirkan saja 
cara-cara yang ia bisa melakukannya bersama yang lain. Misalnya, menjamu 
kawan kosnya yang beda tempat, sarapan bersama. Lalu utarakan tentang 
fadhilah dhuha 6 rakaat, dan kemudian lakukan bersama-sama. Atau undang 
anak-anak yatim sekitar yang sekolahnya siang. Jamu mereka, dan lakukan 
shalat Dhuha bersama. Insya Allah larinya bakal cepat.”
Tidak lupa saya mengingatkan walau bersama-sama, tapi tetap dengan niat 
“sendirisendiri”, bukan berjamaah.
Nah, di akhir cerita, Iwan mengaku, “Insya Allah Ustadz, saya akan tetap 
menjaga niat, untuk melakukan dhuha bukan karena masalah dan keinginan, 
tapi karena Allah semata.” Terhadap kalimat yang kayak begini, Luqman 
mengoreksi, “Jangan berkurang keyakinan Wan. Yakini apa yang sudah terjadi 
sebagai sebuah kebenaran. Banyak orang yang tidak tahu, Iwan tahu. Banyak 
orang yang tidak yakin, Iwan yakin. Banyak orang yang gelap bagaimana 
menyelesaikan masalahnya, bagaimana menjawab keinginannya, Iwan mengetahui 
kunci-kuncinya. Masa’kan lalu Iwan membungkusnya dengan kalimat “yang 
benar” tapi “tidak tepat” seperti itu. Tidak Wan. Tidak ada yang salah 
dengan yang Iwan lakukan sehingga Iwan perlu mengatakan bahwa Iwan akan 
menjaga niat untuk melakukan hanya karena Allah. Tidak perlu! Itulah 
kepercayaan orang yang beriman. Kepercayaannya bekerja. Bekerja menjadi 
keajaiban. Satu yang Iwan perlu lakukan adalah tambah rasa syukurnya 
dengan tetap melakukan ibadah dhuha 6 rakaat tersebut tanpa perlu ada 
masalah dan keinginan. Sedangkan bila Iwan ada lagi masalah dan keinginan, 
maka itulah yang disebut iman, yaitu Iwan membawanya lagi kepada Allah 
dengan cara melakukan petunjuk- Nya.” 
Saudaraku, tulisan bagian ini ditulis dan dimasukkan ke dalam buku “THE 
MIRACLE”. Di mana di buku ini dikupas secara mendalam filosofi amal 
perbuatan yang dilakukan dengan berdasarkan ilmu, keyakinan, dan 
pengalaman, hingga kemudian diistiqamahkan atau didawam- kan. Maka ketika 
saudara tidak menghentikan riyadhah saudara, maka percayalah, keajaiban 
akan terus menerus terjadi! Insya Allah.
Percaya dengan janji dan kalam Allah dan Rasul-Nya, inilah yang disebut 
iman yang
sempurna. Tambah sempurna dengan menyempurnakan iman menjadi berwujud
amal shaleh.?
***
Percuma mencari segala teori penyelesaian hidup, jika Yang Maha Segala 
tidak
menghendaki.
***
Bentuk konritnya tentu saja ada. Di antaranya saya berusaha keras 
memperbaiki rundown hidup saya dulu yang selama ini salah. Ya, urut-urutan 
kita menjalani hidup ini, salah. Dan emang urusan sama Allah mah kayak 
tebalik balik. Mestinya tengah malam atau di penghujung malam enak-enak 
tidur, kita disuruh bangun. Pagi-pagi disuruh ngegetolin nyari duit, ini 
merilekskan badan dan pikiran dulu buat dhuha. Di saat-saat sedang sibuk, 
ada zuhur sama ashar. Ketika dapat duit, maka disuruh ngeluarin lagi 
sebagiannya. Padahal di saat yang sama, kita malah kepengennya kan 
bertambah, bukan berkurang. Beginilah hidup seorang mukmin, seorang yang 
percaya sama Allah. Dia tunduk dan patuh kepada Allah dan terhadap 
aturan-aturan- Nya, dan inilah Islam; aslama yuslimu, islaaaman, berserah 
diri, tunduk dan patuh kepada Allah dan ajaran-ajaran- Nya. Pelakunya 
disebut muslim (faa’il/subject). Nyatanya? Di kehidupan sehari-hari? Kita 
kurang ikhlas ngejalanin hidup ini. Kita ga sabar ngejalanin ibadah. Kita 
pun malah menjadikan ibadah-ibadah menjadi beban. Ada yang hanya kemudian 
menjalankan wajibnya saja, dan wajib itupun dijalankan tidak dengan 
sepenuh hati. 
Saya menyebut saya menjalani kehidupan yang salah, sebab itu hidup saja 
jadi jauh dari Allah.
Bagaimana salahnya? Di mana salahnya?
Begini, setiap mukmin, mestinya memulai harinya dari bangun di pertengahan 
malam, di dua pertiga malam, atau di sepertiga malam yang terakhir. Bangun 
untuk apa? Untuk tahajjud, untuk sujud kepada Allah Yang Maha Rahman. 
Allah menyebut mereka sebagai hamba-Nya jika kemudian kita semua bisa “
yabiituuna lirobbihim sujjadaw wa qiyaamaa”, di tengah malam bisa sujud 
dan ruku di hadapan Allah. Wadz-kurisma rabbika bukrataw washiilaa, kita 
bisa mengingat Allah di saat pagi dan petang. Coba saja benahin 
tahajjudnya, niscaya garis hidup akan lurus lagi dengan sendirinya. 
-Ust Yusuf Mansyur.-
kuliah onlinse wisatahati

New Email addresses available on Yahoo! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 

__._,_.___ 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages 
[H W] is brought by hanyawanita.com [ http://www.hanyawanita.com ] 
MARKETPLACE
From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods 

Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format 
to Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 
Recent Activity
 61
New Members
Visit Your Group 
Yahoo! Health
Achy Joint?
Common arthritis
myths debunked.
Meditation and
Lovingkindness
A Yahoo! Group
to share and learn.
Drive Traffic
Sponsored Search
can help increase
your site traffic.
.

__,_._,___ 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke