Thank's for "Askin Tohari"
apik mas, nggo pangeram-eram dan koco benggolo. di posisi mana kita sebenarnya. nuwun, askin t From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of Dr. Imron Khazim MS. SPOK Sent: Mon 12/1/2008 5:55 AM To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [NWPB] KEMURAHHATIANAN DALAM BERQURBAN Entah sudah berapa kali kisah indah ini direproduksi. Momen idul qurban 1429 H kali inipun mendorongku menuturkan kembali dalam versiku sendiri. Silakan mencicipinya. Eksekutif muda turun dari mobil dan segera mendekati kandang hewan qurban yang mulai menjamur di setiap sudut pinggiran Jakarta. Ia mampir setelah mengganti ban mobil senilai Rp. 3 juta lebih (plus balancing-spooring) di bengkel langganan. Dari penampilan (kaca mata hitam, T-Shirt, Jean plus gasper, cincin, jam tangan, dan sepatu) dan merk & nomor polisi mobilnya (B-satu angka-dua huruf) bisa ditebak take homenya, di atas 30 juta (belum termasuk bonus). Penjual segera menawarkan dagangannya: “Kambing Super 3 juta, di bawahnya kelas A sampai F. Yang termurah 1 juta, Mas pilih yang mana?”. “Bang, yang kelas F tujuh setengah saja”, Ia mencoba menawar. “Mas, harga segitu masih ditawar !!”, sergap penjual ketus. Walhasil, aksekutif muda kita jadi membeli kambing qurban kelas F. Penjual tiba-tiba menghampiri calon pembeli lain. Lelaki jelang 60 tahun, berpeci hitam terpasang serikit miring, berbaju KORPRI orde baru yang sudah kusam, celana hitam setinggi antara lutut dan mata kaki, dan bersandal jepit. Belum usai memarkir sepeda ontelnya, penjual sudah menyapanya dengan akrab: “Assalamu’alaikum Be! Kambing pesanan Babe yang putih mengkilat dan bertanduk melingkar lagi nongkrong di pojok kanan kandang. Tuu…. sebelah yang coklal”. Rupanya mereka sudah saling kenal, karena Babe adalah pelanggan rutin setiap idul qurban. Sambil mengelus kepala, leher dan badan kambing “bandot” kelas super, Babe bertanya singkat: “Berapaan?”. “Tahun ini naik dikit. 3 juta. Pan bensin dan dollar sudah pada naik”, penjual berargumen. Kemudian Babe membuka plastik kresek hitam, mengeluarkan isinya: uang agak lusuh bervariasi dari mulai ribuan sampai dengan seratus ribuan. Sudah diikat karet, tiga ikatan: pas 3 juta. “Alhamdulillah. Sebelum ke sini Babe keliling nagih kontrakan. Dapet segitu, ya sekalian untuk bayarin kambing qurban dah”. Sambil “nyelonong” pergi naik sepedanya Babe agak sedikit berteriak: “Jangan lupe, abis Ashar sebelum lebaran haji, anterin kambing Babe ke rumah ya ….” Sambil menyerahkan 10 lembar saratus ribuan yang masih licin, bersih dan wangi eksekutif muda kita bertutur lirih: “Kambing saya kapan diantar?”. Langsung saja disambar penjual: “yang harga segituan mah kagak pakai diantar, Mas !!!”. ***** Kita tidak bisa menebak suasana hati eksekutif muda ketika dipertontonkan kearifan lokal tokoh sekaliber Babe dengan segenap atribut kesederhanannya: sepeda ontel, baju korpri kusam, sandal jepit, dan kantong plastik berisi uang lusuh 3 juta. Sebagaimana anda tidak bisa menebak suasana hatiku, dan sebaliknya!!! Kita tidak tahu apakah gaya “EGP” Babe bisa mengispirasi perubahan “madzhab minimalis” eksekutif muda kita. Selama ini, sesuai fatwa Kyainya (berdasarkan hadits shahih), ia setiap tahun berqurban seeokor kambing untuk berempat orang (ia, istri dan dua putra-putri). Bahkan mungkin ia tidak peduli nilai nominalnya yang “hanya” setara dengan uang jajan ketika jalan bareng keluarga ke Mal atau tiket main golf di executive club papan atas. Terkadang, bahkan sering kali kemurahhatian dan hasrat untuk berbagi justru menjadi kerja harian komunitas yang kurang berkecukupan, tetapi kaya hati. Mereka mengalami “orgasmus sosial” justru ketika bisa mengulurkan tangan meringankan beban sesama. Kebahagian = berbagi. Dan itu hampir sulit ditemui pada komunitas penganut ideologi hedonis, pemuja pernik-pernik asesori kemewahan hidup, tetapi hatinya papa. Kebahagian = mendapat/menerima. Aku dan anda berada di posisi mana? Ya Allah, ya Lathif. Bimbing kami agar senantiasa ingat kepada-MU, syukur atas Nikmat-MU, dan berhidmat kepada-MU melalui sebaik-baik persembahan. Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Al-Quran Surat Ali Imran (3): 180 Wallahu’alam bish shawab. Jakarta, 1 Dzulhijjah 1429 H Al-fakir: imron khazim __._,_.___ Messages in this topic (8) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar Tidak banyak orang yang dapat membangun PERTAMINA ... YAKINKAN bahwa Saudara adalah SALAH SATU dari MEREKA ... Let make PERTAMINA better !!! MARKETPLACE From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity Visit Your Group Search Ads Get new customers. List your web site in Yahoo! Search. Y! Messenger Want a quick chat? Chat over IM with group members. Moderator Central Get answers to your questions about running Y! Groups. . __,_._,___ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
