hmmm, bisa diterapkan di sini?

---------- Forwarded message ----------


  URL: http://asnugroho.wordpress.com/2008/11/19/budaya-instan/

Saat masih tinggal di Jepang dulu, saya punya seorang kawan. Dia orang
Jepang asli, studi di salah satu perguruan tinggi besar di Jepang.
Kami menyelesaikan studi doktoral pada saat yang sama, tetapi
berlainan bidang. Saya pada bidang komputasi, sedangkan kawan saya
tsb. pada bidang material. Untuk mudahnya sebut saja namanya Kenichi.
Setelah lulus saya bekerja di Chukyo Univ. sebagai dosen, sedangkan
Kenichi diterima di perusahaan besar JR, PJKA-nya Jepang. Fikir saya
dia akan bekerja di R&D, karena kemampuan intelektualnya yang tinggi.

Beberapa bulan berselang, Kenichi main ke rumah saya di Nagoya. Kami
saling bercerita kesibukan kerja masing-masing. Ternyata perjalanan
karir Kenichi diluar dugaan saya. Dia tidak langsung bekerja sebagai
peneliti di JR. Tetapi diharuskan untuk mengikuti berbagai pelatihan
berkaitan dengan perkeretaapian. "Aku harus mengikuti kursus
mengemudikan shinkansen (bullet train), To. Kami diwajibkan memiliki
unten-menkyo (SIM) shinkansen". Jadi sehari-hari dia berlatih dan ikut
praktek mengemudikan kereta shinkansen, yang kalau melaju dengan cepat
bisa mencapai 200-300 km/jam. Setelah berbulan-bulan akhirnya bisa
juga dia memperoleh menkyo. Setelah itu dia diputar ke bagian lain,
yaitu kebersihan. Dia harus mengikuti pelatihan dan turut bekerja
menyapu, mengelap, dan berbagai tugas kebersihan lain dalam kereta.
Usai bekerja di bagian itu, Kenichi diharuskan mempelajari ketrampilan
sebagai montir, memperbaiki berbagai kerusakan yang mungkin terjadi
pada sebuah kereta. Jadi bisa bayangkan kalau dia mungkin akan berbaju
yang serba kotor, pakai helm pengaman, dan mungkin wajahnya
tercoreng-moreng hitam sana-sini, serta basah oleh keringat. (Jadi
kalau anda sedang naik shinkansen di Jepang, bisa jadi supirnya atau
petugas kebersihan yang anda lihat itu mungkin PhD holder). Saya
penasaran dan tanya. Terus kapan kamu mulai bekerja sebagai peneliti ?
"Mungkin baru lima tahun lagi, To", begitu jawabnya.

Saya angkat topi untuk Kenichi dan pola kerja di perusahaan Jepang
tsb. yang tidak membedakan mana doktor, mana master, dsb. Dengan bekal
pengalaman yang demikian kaya, saya percaya kelak Kenichi akan menjadi
peneliti yang handal. Dia kelak bisa memformulasikan masalah dan
mendesain solusi yang tepat dengan kondisi lapangan. Misalnya
jalannya kereta terasa janggal, orang seperti dia tentu bisa
memperkirakan, bagian mana yang kurang beres, ataukah kurang minyak,
bautnya kurang kencang, dsb. Seorang peneliti yang sebelumnya telah
ditempa bertahun-tahun dengan pengalaman di lapangan atau
laboratorium, akan memiliki wawasan yang luas dan insting yang tajam.
Tema penelitian yang dibangun tentu akan menarik, bermanfaat dan
tepat guna, karena tidak dikerjakan secara instan.

Kalau kita ingin menjadi peneliti, konsultan yang berhasil, sudah
sewajarnya kalau kita memiliki pengalaman matang dan track record
terlebih dahulu di bidang tsb. Tanpa memiliki pengalaman matang, saya
khawatir kalau pendapat, solusi atau masukan yang kita berikan tidak
sesuai dengan kondisi di lapangan. Bisa jadi akan overestimate atau
mungkin malah underestimate terhadap satu problem. Untuk mendapatkan
pengalaman yang kaya dan track record yang cukup, memang memerlukan
waktu yang lebih lama. Tetapi itu yang harus ditempuh, agar tidak
jatuh pada budaya instan. Kelihatannya indah, tetapi tidak kena
sasaran karena fondasinya tidak kuat.

 __._,_.___


__,_._,___



-- 
best regards,

Astrid


"Hide the pain and fear far
The one who's right will win
Know that everything is in your hands"

RISE ~ Yoko Kanno, Origa

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[email protected]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[email protected]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke