-
Alfin arifin 







السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها 
SEMOGA BERMANFAAT
WASS,ZAINAL 
Agar Amal Tidak Sia-Sia 
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA 
 “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, juga taatlah 
kalian kepada RasulNya, dan janganlah kalian mensia-siakan (pahala) amal 
kalian“. (Muhammad: 33)
Memang Ramadhan dalam konteks waktu dan salah satu dari bulan Allah sudah 
berlalu meninggalkan kita. Namun semangat dan nilai Ramadhan sepatutnya 
tetap hadir menyertai keseharian kita. Ramadhan bukan “satu-satunya” bulan 
untuk beramal dan bertaqarub kepada Allah. Ramadhan hanya momentum untuk 
meningkatkan dan memaksimalkan kebaikan kita sebagai bekal menghadapi 
sebelas bulan berikutnya. Untuk itu, Ramadhan akan senantiasa hadir 
menyambangi kita pada setiap tahunnya. Alangkah rugi dan pelitnya 
seseorang yang hanya mau bersemangat beribadah dan beramal shalih hanya di 
bulan tertentu. Demikian juga tidaklah baik seseorang yang hanya mampu 
beribadah dengan baik dan maksimal di tempat tertentu yang mengandung 
nilai pahala lebih, seperti di Mekkah misalnya ketika menunaikan ibadah 
umrah atau haji, namun setelah pulang ke tanah air, kelesuan beribadah 
kembali terjadi di mana-mana.
Ayat ini oleh sebagian mufassir dijadikan dasar akan hilangnya pahala amal 
kebaikan yang berhasil dilakukan oleh seseorang jika setelah kebaikan itu 
ia kembali terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan, atau jika ia tidak 
mampu mempertahankan kebaikan tersebut di waktu berikutnya. Ayat ini juga 
secara korelatif memiliki hubung kait yang erat dengan ayat sebelumnya: 
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan 
Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka 
tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. dan Allah akan 
menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 32).
Kontens kedua ayat tersebut intinya berbicara tentang perilaku yang dapat 
menyia-nyiakan amal kebaikan, Perbedaannya, pada ayat 32 ini ancaman Allah 
ditujukan kepada mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan 
memusuhi Rasulullah saw, sehingga pada ayat 33 Allah mengingatkan 
orang-orang yang beriman agar tidak menyia-nyiakan amal ketaatan mereka 
dengan apapun bentuknya seperti yang diancamkan oleh Allah kepada golongan 
yang ingkar sebelum mereka. Di sini bentuk kasih sayang Allah terhadap 
kekasih-Nya dari orang-orang beriman sangat ketara agar mereka tetap ta’at 
kepad-aNya kapanpun dan di manapun, tanpa ada batasan waktu dan tempat, 
apalagi alasan sempat dan tidak sempat.
Ayat ketiga yang berbicara tentang perilaku yang dapat mensia-siakan amal 
baik seseorang adalah surah Al-Hujurat: 2 yang bermaksud:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi 
suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, 
sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, 
supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” 
(Al-Hujurat: 2).
Adab kepada Rasulullah saw. dalam berbicara yang disebutkan oleh ayat ini 
langsung diperintahkan oleh Allah sawt. yang ditujukan secara langsung 
juga kepada orang yang beriman, karena pada hakikatnya taat kepada 
Rasulullah adalah taat kepada Allah, “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, 
sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari 
ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi 
mereka.” (An-Nisa’: 80).
Justeru tidak berakhlak baik kepada Rasulullah dalam segala bentuknya 
dapat mengakibatkan hapusnya pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang 
yang beriman.
Terdapat banyak pendapat para ulama tentang sikap dan perilaku yang 
mengakibatkan terhapusnya amal baik seseorang.
Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi misalnya menyebutkan bahwa 
mensia-siakan amal adalah dengan melakukan kaba’ir (dosa-dosa besar. 
Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Hasan Al-Bashri dengan 
berhujjah dengan surat Al-Hujurat: 2, bahwa tidak beradab kepada 
Rasulullah merupakan dosa besar yang dapat menghapus pahala amal shalih 
seseorang.
Imam Qatadah pula berpendapat bahwa amal kebaikan akan sia-sia apabila 
setelah itu diiringi dengan kembali melakukan dosa dan kemaksiatan. 
Sedangkan Ibnu Abbas berpandangan bahwa amal kebaikan itu dikhawatirkan 
akan hapus pahalanya jika disertai dengan riya’ dan ‘ujub (berbangga 
diri).
Secara umum pendapat mereka berkisar pada segala jenis kemaksiatan dan 
dosa, apapun bentuknya dikhawatirkan akan menghapus dan mensia-siakan amal 
taat yang pernah dilakukan oleh seseorang.
Pandangan para ulama di atas diperkuat oleh sebab turun ayat ini seperti 
yang diriwayatkan oleh Abul Aliyah. Abul Aliyah menukil riwayat tentang 
sebab turun ayat ini bahwa para sahabat sebelum turun ayat ini memandang 
tidak masalah berbuat dosa karena mereka telah beriman, seperti juga 
mereka menganggap bahwa tidak ada gunanya amal jika disertai dengan 
syirik. Maka turunlah ayat ini yang menegur mereka agar berhati-hati 
dengan setiap dosa karena dapat mensia-siakan amal.
Oleh karena itu, seorang muslim “yang cerdas” adalah seorang yang mampu 
meneruskan musim ketaatan pasca Ramadhan. Demikian pula, sejatinya orang 
yang telah mengukir prestasi dengan beramal dan menjalankan ketaatan yang 
maksimal di bulan Ramadhan, sangat disayangkan jika setelah melewatinya 
kembali masuk dalam kelompok pelaku maksiat. Sebagaimana orang-orang yang 
sudah berhasil merasakan lezatnya ketaatan, indahnya ibadah, sangat 
disayangkan jika harus kalah dan kembali pada kesengsaraan karena 
berlumuran dosa dan kemaksiatan. Padahal di antara tanda diterimanya suatu 
amal ibadah seseorang adalah jika dia dapat konsisten dan lebih banyak 
lagi melakukan amal tanpa melihat waktu atau bulan tertentu dan tempat 
tertentu yang memiliki keutamaan. “Jadilah hamba Rabbani, dan bukan hamba 
Ramadhani.” Dan itulah makna hakiki dari firman Allah swt, “Dan sembahlah 
Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (Al-Hijr: 99).
So, jangan sia-siakan kebaikan ini dan jadikan “musim Ramadhan” terus 
mengisi waktu-waktu kita. Amin
 

 

 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[email protected]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[email protected]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke