*Dear All,*


*Sehubungan dengan mewabahnya kembali penyakit flu singapore atau dalam
dunia kedokteran dikenal sebagai **Hand, Foot, and Mouth Disease* (*HFMD**)
atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM ), pada saat ini di beberapa
tempat di wilayah jakarta dan sekitarnya, mari  kita senantiasa waspada
dan mencegah agar penyakit ini tidak menghampiri anak-anak kita, saudara,
atau kerabat. Di bawah ini terlampir informasi tentang flu singapore, terutama
yang disebabkan oleh enterovirus 71 yang sangat berbahaya, dan beberapa tips
pencegahannya. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terima
kasih.*



*Salam,*

*Clinic team.*



 *Hand, Foot, and Mouth Disease** (Flu Singapore)*


Kementerian Kesehatan Cina mengeluarkan perintah siaga nasional karena
merebaknya virus maut yang telah merenggut jiwa 23 anak-anak di satu kota
dengan cepat. Peningkatan kesiagaan dilakukan karena melonjaknya kasus
penyakit yang disebabkan virus Enterovirus 71 atau EV-71, satu jenis
penyakit kaki, mulut dan tangan. Fenomena ini tampaknya harus diantisipasi
dengan cermat dan cepat oleh masyarakat khususnya pihak departemen
kesehatan.

Bukankah penyakit SARS dan flu burung juga diawali terjadinya di daratan
Asia tersebut ? Tetapi justru selanjutnya di Indonesia penyakit yang
berpotensi pandemi itu sering lebih sulit dikendalikan di Indonesia.



Bagi masyarakat Indonesia kejadian luar biasa tersebut sebenarnya mungkin
merupakan hal yang biasa. Karena, infeksi kaki, tangan dan mulut adalah
suatu yang sering terjadi di Indonesia. Yang menjadi tidak biasa adalah
penyebabnya enterovirus 71, yang cukup mematikan. Dalam era globalisasi
dimana tranportasi serta perpindahan penduduk antar negara yang demikian
pesat bukan tidak mungkin penyakit yang sangat cepat penyebarannya itu
nantinya berpotensi mengancam masyarakat Indonesia. Kejadian luar biasa yang
ditemukan di bagian selatan Cina memicu kekhawatiran bahwa virus itu
kemungkinan akan menyebar, karena bulan Juni dan Juli dianggap sebagai musim
puncak penyakit ini



*Infeksi Kaki, Tangan dan Mulut*



*Dalam masyarakat infeksi virus tersebut sering disebut sebagai* *"Flu
Singapore".* *Dalam dunia kedokteran dikenal sebagai **Hand, Foot, and Mouth
Disease (HFMD)** atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM ).* Penyakit KTM
ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam
famili Picornaviridae, Genus Enteroviru. Genus yang lain adalah Rhinovirus,
Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A
virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus. Penyebab KTM yang
paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang
sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada
komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71.



*Satu kelompok dengan infeksi KTM adalah vesicular stomatitis dengan
eksantema (KTM)- Cox A 16, EV 71, vesikular faringitis (Herpangina) - EV 70
dan Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10.*



Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah
penyakit umum yang biasa terjadi pada kelompok masyarakat yang sangat padat
dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun. Orang dewasa umumnya
kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang
ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur, tinja, cairan dari vesikel
atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju,
peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak
ada vektor tetapi ada pembawa penyakit seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM
ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh
virus strain Enterovirus lainnya. Penyakit tangan, kaki dan mulut adalah
penyakit umum dan penyebarannya dapat terjadi di antara kelompok anak,
misalnya di sekolah atau di tempat penitipan anak. Penyakit tangan, kaki dan
mulut biasanya tersebar melalui hubungan sesama manusia. Virus ini tersebar
dari kotoran seorang yang terkena ke mulut orang lain lewat tangan tercemar,
tapi bisa juga disebarkan lewat lendir mulut atau sistem pernapasan dan
sentuhan langsung dengan cairan di dalam lepuhnya. Sesudah berhubungan
dengan orang yang terkena, biasanya makan waktu di antara 3-5 hari baru
lepuhnya timbul. Selama masih ada cairannya, lepuh ini bisa menulari. Virus
ini bisa berminggu-minggu berada di dalam kotoran.



*Manifestasi klinis/Gejala*

**

Penyakit tangan, kaki dan mulut yang ringan biasanya disebabkan oleh
Coxsackievirus. Anak usia di bawah 5 tahun sering terkena infeksi virus ini,
meskipun pada orang dewasa dapat juga terjadi. Infeksi Coxsackievirus
mungkin sama sekali tidak menunjukkan gejala atau hanya ringan



*Gejala penyakit* diawali dengan demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti nyeri
tengorokan atau infeksi tengorokan (faringitis), sulit makan dan minum
karena nyeri akibat luka di mulut dan lidah. Kadang disertai sedikit pilek
atau gejala seperti flu. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus
atau luka dimulut seperti sariawan di sekitar lidah, gusi, pipi sebelah
dalam, terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu
timbul rash atau ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan
rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.
Kadang-kadang rash atau ruam (makulopapel) ada dibokong.



Pada bayi atau anak usia di bawah 5 tahun yang timbul gejala berat harus
dirujuk ke rumah sakit.. Gejala yang dianggap berat adalah hiperpireksia
(suhu lebih dari 39oC) atau demam tidak turun-turun, denyut jantung sangat
cepat (Tachicardia), sesak, malas makan minum, muntah atau diare dengan
dehidrasi, badan sangat lemas, kesadaran turun atau kejang-kejang.



Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini adalah infeksi selaput otak
atau meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa atau non bakterial),
infeksi otak atau encefalitis (bulbar), infeksi otot jantung atau
miokarditis (Coxsackie Virus Carditis) dan perikarditis, paralisis akut
flasid (Polio-like illness), infeksi paru atau pneumonia. Resiko untuk
terjadi ancaman jiwa lebih sering terjadi pada infeksi enterovirus 71,
sedangkan virus Coxsackie sangat jarang terjadi ancaman jiwa kecuali pada
penderita dengan kondisi daya tahan tubuh yang menurun.



*Diagnosis Laboratorium *



*Diagnosis laboratorium adalah dengan mendeteksi virus melalui Immuno
histochemistry (insitu) Imunofluoresensi antibodi (indirek), Isolasi dan
identifikasi virus.* Pemeriksaan lain dengan mendeteksi RNA seperti RT-PCR
Primer, partial DNA sekuensing (PCR Product). Sebenarnya secara klinis atau
tanpa pemeriksaan laboratorium sudah cukup untuk mendiagnosis KTM. Sedangkan
melalui pemeriksaan penunjang tersebut dapat diketahui apakah penyebabnya
Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.



*Penanganan*



Penanganan penyakit ini tidak ada yang khusus, karena merupakan penyakit
“self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam 7-10 hari.
Penderita perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Obat golongan
paracetamol atau penurun panas digunakan dalam penganan demam yang terjadi.
Dalam keadaan tertentu dapat diberikan Immunoglobulin IV (IGIV) pada pasien
dengan daya tahan tubuh yang menurun seperti pada bayi. Pemberian cairan
cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan demam.



*Pencegahan dan Antisipasi*

**

Perilaku hidup sehat dan bersih adalah pencegahan dan perlindungan terbaik.
Sebaiknya mencuci tangan dengan sabun dan air sesudah ke WC, sebelum makan,
sesudah membuang ingus dan sesudah mengganti popok atau pakaian kotor.
Pinjam-meminjam cangkir, sendok garpu, alat kebersihan pribadi misalnya
handuk, lap muka, sikat gigi dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki
adalah perilaku yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit ini. Mencuci
pakaian kotor harus dengan baik dan higienis. Perilaku batuk dan bersin,
sebaiknya harus menutup mulut dan hidung dengan baik. Bersihkanlah hidung
serta mulut dengan tisu wajah, sesudah dipakai sekali buanglah, kemudian
cucilah tangan. Anak yang terkena penyakit tangan, kaki dan mulut seyogyanya
jangan dulu ke sekolah atau tempat penitipan anak sampai lepuhnya mengering.
Penyakit ini sebaiknya dilaporkan kepada pengurus tempat penitipan anak atau
kepala sekolah untuk dilakukan pencegahan dengan baik.



Seperti halnya infeksi virus pandemi lainnya seperti SARS atau flu burung,
fenomena infeksi enterovirus 71 di bagian selatan Cina tersebut sangat
berpotensi menyebar di Negara Indonesia bila tidak dilakukan antisipasi
dengan baik. Meskipun diakui untuk melakukan skrening atau deteksi manusia
yang masuk dari negera tersebut ke Indonesia sulit dilakukan. Paling tidak
departemen kesehatan dan berbagai jajarannya termasuk tenaga medis di
Indonesia nantinya harus cepat dalam mengantisipasinya. Tindakan yang
mungkin segera dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan “traveller
warning” kepada masyakat Indonesia dalam berkunjung ke daerah yang
berpotensi terjadi penularan. Nantinya harus lebih dicermati apakah infeksi
KTM yang terjadi di dalam masyarakat adalah Coxsackie A 16 atau Enterovirus
71. Untuk itu diperlakukan penemuan kasus dan pelaporan yang baik dan
terkoordinasi bila terjadi. Jangan sampai infeksi enterovitrus 71 sudah
banyak mengancam nyawa anak Indonesia, tetapi tindakan antisipasi baru
dilakukan.









*Tips Menghindari Virus EV71*



Enterovirus 71 (virus EV71) kini sudah menyerang Indonesia. Namun, penularan
penyakit itu sebenarnya bisa dihindari dengan melakukan beberapa tips
sederhana.



Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Departemen Kesehatan
(Depkes) Dr Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, *penularan virus EV71 bisa
melalui ludah, tinja, dahak, sekret hidung, dan cairan vesikel. Metode
penularan virus tersebut antara lain bisa melalui barang yang terkontaminasi
seperti piring dan gelas.***



*Tips untuk mencegah virus biang hand foot and mouth disease itu adalah cuci
tangan secara yang benar dan bersihkan alat-alat bermain dengan air dan
sabun untuk menghindari penularan melalui alat bermain kepada anak lain.*



Cara tersebut juga perlu dilakukan para orang tua, guru dan pegawai TPA,
karena mereka juga *dapat terinfeksi melalui tangan dari tinja yang berasal
dari popok bayi atau balita saat menceboki atau mengganti popok.***



Selain itu, *anak yang sakit dianjurkan tidak boleh masuk sekolah dulu*.
Sebab, pasien sangat menular pada minggu pertama sakit.





*Daftar Pustaka*



1.   Cherry JD. Enteroviruses: polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses
and enteroviruses. In: Textbook of Pediatric Infectious Diseases. 5th ed.
2005:2007.

2.   Chang LY, Tsao KC, Hsia SH, et al. Transmission and clinical features
of enterovirus 71 infections in household contacts in Taiwan. JAMA. Jan 14
2004;291(2):222-7.

3.   Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. Viral infections of skin and mucosa.
In: Fitzpatrick's Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology. 5th ed.
New York, NY: McGraw-Hill; 2005:790-92.

4.   Chen KT, Chang HL, Wang ST, Cheng YT, Yang JY. Epidemiologic features
of hand-foot-mouth disease and herpangina caused by enterovirus 71 in
Taiwan, 1998-2005. Pediatrics. Aug 2007;120(2):e244-52.

5.   Wang CY, Li Lu F, Wu MH, et al. Fatal coxsackievirus A16
infection. Pediatr
Infect Dis J. Mar 2004;23(3):275-6.



Sumber: PdPersi




  **
**

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image001.jpg>>

<<inline: clip_image002.jpg>>

Kirim email ke