-
Alfin arifin 














السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها 
SEMOGA BERMANFAAT 
SALAM...ZAINAL 
Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga 

Hidup ini tidak pernah lepas dari cobaan dan ujian. Bahkan ia merupakan 
sunnatullah dalam kehidupan manusia, yang mau tidak mau akan dialaminya. 
Terkadang cobaan dan ujian yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia, ada 
yang berupa kenikmatan atau kebaikan, seperti: Kekayaan; Kehormatan; 
Kesehatan; Kesuksesan dan lain-lain. Ada pula ujian dan cobaan tersebut 
yang diberikan kepada manusia berupa keburukan, seperti: Kemiskinan; 
Kehinaan; sakit; Kebangkrutan dan lain-lain. Sebagaimana hal tersebut 
difirmankan oleh Allah Ta’ala, 
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan 
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebebenar-benarnya). Dan hanya 
kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35) 
Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian merupakan suatu yang niscaya dan akan 
ditimpakan kepada setiap manusia. karena itu, kita hendaknya mempersiapkan 
diri untuk menghadapinya. Sehingga tidak terbetik sedikit pun di dalam 
diri kita untuk berburuk sangka terhadap Allah Ta’ala akan ujian yang kita 
alami. Apa yang Allah berikan kepada kita pasti merupakan sesuatu yang 
terbaik. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Boleh jadi kamu membenci 
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai 
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak 
mengetahui.” (Al-Baqarah: 216) 
Seorang mukmin tatkala menghadapi ujian atau cobaan hendaknya bersikap 
sabar dan meyakini, bahwa di balik semua itu terdapat kebaikan dan pahala 
yang besar dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam 
bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, 
‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah Berilah aku 
pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya,’ 
melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang 
lebih baik darinya.” (HR. Muslim). 
Rasulullah Ta’ala memuji orang yang beriman yang semua urusannya 
mendatangkan kebaikan, lantaran sikap sabarnya ketika menyikapi dan 
menghadapi ujian dan cobaan yang menimpanya. Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wasallam ;bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan orang yang 
beriman. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan. Dan hal itu 
tidak akan didapati kecuali hanya pada diri seorang yang beriman. Jika dia 
diberikan kelapangan/ kemudahan, dia mensyukurinya, maka itulah kebaikan 
baginya. Dan jika keburukan menimpanya, dia menyikapinya dengan sabar, 
maka itulah kebaikan baginya.” (HR. Muslim) 
Allah Ta’ala dan RasulNya Ta’ala juga menghibur orang-orang yang 
mendapatkan musibah, bencana, dan sesuatu yang tidak dia senangi, seperti 
Penyakit, kemiskinan, kebangkrutan, kecelakaan, bahwa semua itu dapat 
menghapuskan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Allah Ta’ala berfirman, 
artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan 
oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari 
kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30) 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin 
tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kegundahan, dan tidak pula 
kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya, Allah 
akan mengapuskan dosa-dosanya.” (Muttafaq ‘alaih). 
Kenyataannya, tidak setiap orang dapat menyikapi musibah atau ujian Allah 
Ta’ala dengan sabar, mengharap kebaikan/ ganti yang lebih baik, dan 
ampunan dari Allah Ta’ala. Karena itu tidak sedikit di antara kita yang 
mengambil cara dan jalan “pintas” untuk menghilangkan musibah dan ujian 
tersebut. Cara dan jalan yang diharamkan dan mengundang murka Allah 
Ta’ala. Bahkan ironisnya, baru-baru ini terdapat berita yang sangat miris 
sekaligus menunjukkan betapa banyak kaum muslimin yang lemah aqidahnya dan 
tidak mampu bersabar atas musibah dan cobaan tersebut. Mereka 
berbondong-bondong mendatangi seorang dukun cilik yang konon memiliki batu 
ajaib yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit –wal ‘iyadzu billah- 
keadaan itu diperparah lagi dengan munculnya fatwa-fatwa sesat sebagian 
“ustadz” yang membolehkan perbuatan yang demikian itu dan menyatakan, 
bahwa hal tersebut bukanlah kesyirikan, melainkan hanya sebab yang dapat 
mendatangkan kesembuhan, yang dengan itu orang-orang miskin dapat berobat 
dengan biaya yang relatif terjangkau. Hal itu merupakan syubhat dan virus 
yang perlu segera diklarifikasi sebelum menjangkit di dalam diri kaum 
muslimin. Bagaimana mungkin perbuatan tersebut tidak dianggap perbuatan 
syirik? Padahal mendatangi “dukun” saja merupakan perbuatan yang dilarang 
keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabda 
beliau Ta’ala, “Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu dia 
percaya dengan apa yang disampaikannya, maka sungguh dia telah kufur 
(murtad) terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 
‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani). 
Kemudian mempercayai suatu benda seperti batu memiliki kemampuan atau 
keistimewaan –padahal dia hanya sebuah benda mati- yang tidak dimiliki 
oleh siapa pun, kecuali hanya Allah Ta’ala, seperti mendatangkan 
kesembuhan yang merupakan kekhususan Allah Ta’ala, maka ini jelas 
merupakan kesyirikan yang besar, yang menyebabkan pelakunya keluar dari 
Islam. Karena berarti dia telah mensejajarkan kedudukan Allah Ta’ala 
dengan batu yang hina tersebut yang tidak mendatangkan manfaat dan tidak 
pula mampu menolak mudharat Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan mereka 
menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan 
kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu 
adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah 
kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan 
tidak (pula) di bumi.’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang 
mereka mempersekutukan (itu).” (Yunus: 18). 
Kalau seandainya ada batu yang boleh diagungkan oleh kaum Muslimin dan 
boleh bagi mereka mengharapkan berkah darinya, tentu batu tersebut 
hanyalah “Hajar Aswad”, ketika kaum Muslimin disunnahkan oleh Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengecupnya saat melakukan Thawaf, 
sebagaimana dicontohkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernah 
suatu ketika Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad seraya 
berkata, “Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak 
mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudharat. Seandainya aku 
tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam m enciummu, maka aku 
pun tidak akan menciummu.” (HR. al-Bukhari). Beliau mencium Hajar Aswad 
semata-mata karena kepasrahan beliau terhadap syariat yang ditetapkan oleh 
Allah Ta’ala dan RasulNya. Dan semata-mata ingin mencontoh apa yang 
diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dengan 
mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam inilah didapatkan 
barokah. Lain halnya dengan beberapa kaum muslimin yang justru malah 
mengusap baju-baju mereka di Hajar Aswad untuk mencari berkah! Atau 
mempercayai ada batu-batu tertentu yang memiliki keistimewaan yang menjadi 
kekhususan bagi Allah Ta’ala. 
Sungguh telah jelas, bahwa perbuatan di atas merupakan kesyirikan yang 
nyata, perbuatan yang beresiko sangat tinggi. Pelakunya tidak akan pernah 
diampuni oleh Allah Ta’ala, jika dia mati dan tidak bertobat dari 
kesyirikan yang dilakukannya. Bahkan Allah Ta’ala mengharamkan pelakunya 
masuk ke dalam surgaNya alias kekal di neraka selama-selamanya, serta 
tidak seorang pun yang mampu menolong atau mengeluarkannya dari neraka 
Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni 
dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, 
bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, 
maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa: 48) 
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka 
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, 
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 
72). 
Semoga buletin yang singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi hujjah bagi 
kaum muslimin untuk berhati-hati dari kesyirikan yang dewasa ini menjadi 
hal yang dianggap biasa dan wajar dilakukan oleh setiap orang. Dan tentu 
bagi yang terlanjur melakukannya baik dilakukan secara sengaja, ataupun 
karena ketidaktahuan untuk segera bertaubat darinya sebelum ajal tiba. 
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufikNya kepada kami dan seluruh kaum 
muslimin untuk dapat menjauhi dan meninggalkan kesyirikan, serta 
mengingatkan kaum muslimin dari bahaya kesyirikan dan konsekuensi yang 
diterima oleh para pelakunya. Wallahu a’alam. 
Oleh : Abu Nabiel 
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber. 


 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke