dari tetangga neeeeh...

Just share...

Kamis, 14/05/2009 08:30 WIB 
Heboh! BlackBerry Kloning 

Penulis: Ventura Elisawati : 
detikInet  detikcom - Jakarta, 

Sejak akhir minggu lalu, sejumlah pengguna BlackBerry di tanah air 
terusik. Karena tiba-tiba mereka tidak bisa lagi menggunakan layanan 
BlackBerry (BB)-nya. Mendadak PIN (Personal Identification Number)-nya 
tidak dikenali, dan otomatis layanan data yang biasanya dinikmati melalui 
handheld buatan RIM (Research In Motion) ini jadi mandul.

Dita, misalnya, harus menelan kejengkelan karena BB yang selama ini jadi 
alat bekerja maupun teman setianya baik untuk berkomunikasi maupun 
bersosialisasi melalui Facebook jadi bisu. "PIN yang di status beda dengan 
yang di body," jelas Dita yang mengaktifkan layanan BB-nya sejak 4 bulan 
lalu.

Saat ini ada banyak pengguna BB yang terjebak kasus seperti dialami Dita: 
PIN-nya tiba-tiba kena suspend. Bisa jadi mereka termasuk korban kloning 
PIN, yang terpikat membeli BB karena harganya jauh lebih murah daripada 
yang ditawarkan sejumlah operator telekomunikasi, partner resmi RIM dalam 
menjual BB di Indonesia, atau para pedagang yang menjadi rekanan operator.

Meskipun hal tersebut belum sepenuhnya benar. Karena ada sebuah toko 
penjualan handheld yang cukup terkenal dan reseller resmi penyedia layanan 
BB, menjadi korban juga. Untunglah sang toko berani memberikan solusi yang 
baik. Sepanjang konsumen bisa menunjukkan kuitansi pembelian di toko 
tersebut, maka dia memberikan pengganti dengan handled baru.

Memang bukan rahasia, ketika pasar BB marak di Indonesia, suplai resmi 
handheld tersebut tak bisa memenuhi permintaan pasar. Sehingga tak heran 
jika banyak juga reseller resmi yang kemudian belanja dari pelbagai sumber 
termasuk importir non-operator.

Fenomena Blackberry

BlackBerry memang jadi fenomenal sejak dua tahun belakangan ini. Siapa 
nyana handheld buatan Kanada ini -- yang 5 tahun lalu masih susah dijual 
di Indonesia-- kini laris bak sepatu Crocs.

Seperti booming Communicator sekian tahun lalu: banyak pengguna BB yang 
nyatanya hanya menggunakan alatnya hanya untuk menelepon dan kirim SMS. 
Ketika ditanya berapa nomor PIN-nya, mereka pun kebingungan. "PIN apa ya?" 
Begitu kerap terdengar.

Padahal BB bukanlah handphone biasa, tapi telepon genggam 'super'. Dan PIN 
adalah salah satu yang membedakan BB dengan handheld yang lain.

Sesuai hukum pasar, ada permintaan maka pasokanpun melimpah. Dalam hal ini 
harus diakui, kemampuan Indosat, Excelcomindo Pratama (XL), dan Telkomsel 
melayani pasar BB tidak sebanding dengan permintaan pasar, bahkan untuk 
kawasan Asia di mana permintaan lebih tinggi di bandingkan pasokannya.

Yang terjadi, BB pun mengalir deras masuk, memenuhi kebutuhan pasar yang 
sedang haus. Kerap disebut-sebut sebagai BB black market (BM) yang artinya 
tidak dilengkapi dengan garansi operator atau reseller resmi.

Bahkan ditemukenali jumlahnya lebih banyak dari yang dijual secara resmi 
oleh operator, yang total ada 200 ribuan. Ihwal lahirnya PIN atau IMEI 
(International Mobile Equipment Identity) 'palsu' itu kabarnya berawal 
dari raibnya sejumlah handheld BB dari gudang sejumlah operator dunia 
seperti Rogers, AT&T, dan beberapa operator lainnya beberapa waktu lalu.

Seperti yang diumumkan pihak T-Mobile pada 22 Januari 2008, "T-Mobile 
loses US$8.2 million in mobile phone robbery-warehouse burgled for 36,000 
cellphones". Ketika itu dengan sigap, RIM memang telah memblokir PIN 
handheld yang hilang tersebut.

BlackBerry Aspal

Hal lain yang bisa dianggap memicu maraknya BB dengan PIN atau IMEI 
jadi-jadian adalah masuknya barang-barang rekondisi (refurbish), dan 
barang-barang yang di negara asalnya di katakan garansi 14 hari (14 days 
Warranty).

Barang-barang ini mungkin saja sudah bermasalah dari negara asalnya 
sehingga diperlukan kosmetik PIN dan IMEI untuk dapat menjadikannya 
'hidup' dan layak untuk dijual kembali. Namun, bisa diduga, barang-barang 
'haram' tersebut masuk ke pasar, dan memikat pembeli.

Soal IMEI dan PIN? Tak masalah. Karena di negeri China, kabarnya, banyak 
yang ahli mengkloning IMEI dan PIN persis dengan aslinya. Sehingga bisa 
jadi ketika pembeli BB aspal (asli tapi palsu) tersebut meregistrasi 
layanan BB-nya ke sistem RIM, diterima dengan mulus, dan semua fungsi BB 
berjalan normal.

Heboh PIN aspal yang melanda akhir pekan ini memang kabarnya dipicu oleh 
upaya pihak RIM untuk memperbaiki sistem sekuriti mereka. 
Mengindentifikasi paduan IMEI, PIN dan BSN (Board Serial Number) setiap BB 
yang sesuai dengan data RIM.Jika ternyata ada BB yang ditemu kenali 
paduannya (nyawanya) tidak sesuai, otomatis akan diblokir. Sebuah upaya 
yang baik dari produsen handheld kaliber dunia. Hanya sayangnya, upaya ini 
memakan banyak korban, mereka yang tak tahu bahwa BB yang mereka pakai 
ternyata 'nyawanya' merupakan hasil kloning.

Solusinya

Sialnya, kasus ini, sepertinya hanya terjadi di Indonesia. Dan sangat 
disayangkan pihak RIM -- yang hingga saat ini tak memiliki cabang ataupun 
service center di Indonesia -- tak terdengar suaranya.

Di saat para pengguna BB yang merasa dirugikan kebingungan, maka salah 
satu yang jadi 'sasaran' adalah para operator seluler penyedia layanan BB 
seperti XL, Indosat dan Telkomsel. Padahal, mereka tak bisa memberikan 
solusi apapun dalam kasus ini. Sebab sistem yang bisa mendeteksi sebuah 
handheld BB valid atau tidak, ya hanya sistemnya RIM, bukan sistem 
operator.

Jika selama ini terkesan RIM masih bersikeras dengan sikap untuk tidak 
peduli dengan BB BM. Namun, dengan kasus ini mestinya RIM tak lagi bisa 
cuek. Para operator penyedia layanan BB, tak boleh hanya mementingkan 
pengembangan pasar, dan dengan terus bersaing memainkan harga layanan.

Kali ini mereka harus berkolaborasi, duduk bareng bersama RIM, menjelaskan 
kepada publik, bahwa mereka hanya menjamin 'kelangsungan hidup' layanan BB 
terhadap handheld yang dibeli melalui jalur resmi mereka.

RIM juga mesti memvalidasi produk yang diditribusikan melalui jalur 
resminya, serta memberikan garansi atas produk tersebut. Tidak seperti 
sekarang, garansi yang ada hanyalah keluaran toko. Regulator pun mestinya 
juga tak tinggal diam.

Semisal, dia bisa membuat aturan, setiap produk yang beredar di pasar 
Indonesia, harus memiliki perwakilan, atau minimal service center, 
sehingga konsumen juga punya kepastian terhadap layanan purna jual semua 
produk.Sambil menanti respon nyata RIM untuk memelihara pasar di 
Indonesia, tak ada salahnya para peminat handheld BB lebih waspada lagi, 
saat berbelanja BB.

1. Jangan tergiur tawaran BB harga murah.
2. Membeli BB ke operator atau ke reseller resminya.
3. Cek apakah IMEI dan PIN yang ada di bodi sama dengan yang ada di status 
(bukan tempelan tambahan).
4. Atau bisa juga menanyakan ke operator tentang ke absahan nomor IMEI dan 
PIN BB yang akan dibelinya.
5. Untuk mendapatkan info tentang pengalaman penggunaan BB bisa diperoleh 
di sejumlah milis BB, misalnya [email protected].

Sejatinya, BB yang dijual di pasar semuanya asli. Yang perlu dicek adalah 
apakah PIN dan IMEI-nya asli atau hasil kloning. Dan itulah yang perlu 
diwaspadai
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke