----- Original Message ----- 
From: Yap Hong-Gie 




Sketsa XII Kematian David: Kloning Data dan Hendersen Waves.
Iwan Piliang.

Upaya mendapatkan data kloning laptop, hand phone, almarhum David. Adakah 
benang merah baru, macam di eksternal hard disknya? Juga pencarian saksi di 
waktu ketat melekat.

JUMAT 8 Mei 2009 di lobby kantor polisi Jurong West, Singapura. Sekitar dua 
puluh anak sekolah play group dibimbing seorang guru, mendengar penjelasan 
lika-liku kantor polisi dan tugas kepolisian. Sepasang polisi full senyum 
menjelaskan keberadaan mereka. Di ruang tengah, dua polisi muda berseragam 
biru-biru tua, menjadi penerima tamu. Agak ke kanan sekitar delapan layar datar 
komputer, lengkap dengan petugas, siap melayani masyarakat.

Saya menatap ke lobby ukuran dua kali lapangan basket, suasana seperti di ruang 
costumer service provider telepon selular di Jakarta. Kursi dan sofa berarak. 
Kenyataan ini kontras dengan perlakuan yang pernah kami terima 20 hari lalu.

Seharusnya kami dapat duduk menunggu ketika di saat keluarga Almarhum David 
diterima resmi di ruang rapat kepolisian Jurong West. Nyatanya kala itu, hanya 
ayah, ibu dan kakak David saja yang boleh masuk ke dalam lingkup pagar kantor 
polisi ini. Pihak luar hanya lawyer dan seorang wakil dari Kedubes RI saja 
boleh ke dalam. Kami yang mendampingi, bahkan termasuk pamannya David, Kusuma 
Wijaya,
harus menunggu berdiri di luar di ujung pagar di pinggir jalan Singapura 
bermentari terik.

"Saya heran mengapa kalian yang menemani harus menunggu di pinggir jalan, 
padahal lobby kantor polisi luas dan kursi banyak," ujar Tjhay Lie Khiun, 
ibunda David Hartanto Wijaya, kala itu.
Itulah salah satu "kejenakaan" Singapura men-seterap tamu di pinggir jalan di 
antara banyak kemeriahan lain negeri Merlion ini.
Hingga kini, setidaknya sudah empat kali Jumat saya di Singapura, dua kali 
Jumatan diseling pulang ke Jakarta. Jumat kali ini, saya bersama Ruby Zukri 
Alamsyah, ahli digital forensik satu-satunya milik bangsa Indonesia. Ia anggota 
High Technology Crime Investigation Association (HTCIA), sebuah badan 
independen dunia bermarkas di Amerika Serikat untuk urusan digital forensik 
profesional. Orang-orang di badan ini, dalam sejam kerja setidaknya dibayuar US 
$ 800.

Berdua Ruby, kami berharap cemas. Kami berdiri di pintu pagar ketika meminta 
izin ke bagian penerima tamu. Tujuan kami menemui Avadear., DSP, Senior 
Investigator kasus kematian David Hartanto Wijaya, mahasiswa tingkat akhir 
jurusan Electronica and Electrical Engineering (EEE), Nanyang Technological 
University (NTU) itu.

Untuk kedatangan kali ini, Ruby tentu sudah melebihi kapasitas job-nya. Ia 
membayar sikap proaktifnya, ketika sebulan lalu di suatu pagi yang cerah, 
berinisiatif menelepon saya, menjelaskan profesinya. Karena pernah membaca 
seluk-beluk digital forensik sekilas, kontak Ruby itu saya rasakan ibarat 
menerima durian runtuh. Apalagi setelah mendengar dia mau kerja probono untuk 
kasus David.

Biasanya dalam bekerja, Ruby tinggal mem-forensik data yang disediakan
polisi, seperti pada kasus Antazari Azhar, tersangka kasus pembunuhan
Nasrudin, direktur anak perusahaan kelompok usaha RNI itu. Dan Ruby tentulah 
beda dibanding Roy Suryo, "bintang" media infotaintment itu.
Kejutan tampaknya. Kami dipersilahkan menuju lobby kantor polisi.

Menjadi kesempatan "langka" rasanya, dibanding datang bersama keluarga almarhum 
David, di mana kami cuma dipersilakan berdiri di pinggir jalan. 
Kandati belum memiliki janji, nomor telepon genggam Avadear sudah kami miliki 
sehari sebelumnya. Adalah Yayan GH Mulyana, Sekretaris Pertama Kedubes RI, ia 
memberikan kontaknya. Namun setiap dihubungi oleh Ruby, yang bersangkutan tidak 
mengangkatnya, SMS juga tidak dibalas Avadear. Padahal dari komunikasi melalui 
jaringan ahli forensik global yang dimiliki aksesnya oleh Ruby, tidak ada alasan
pihak kepolisian tidak memberikan kloning hard disk kepada pihak keluarga 
almarhum.

Adalah Edwin Lim, Head of Technological Crime, kepolisian Singapura, merujuk 
Ruby ke kantor polisi Jurong West, meminta langsung perihal kloning data.
Tujuan kami datang ke kantor kepolisisan itu untuk meminta data kloning hard 
disk laptop David. Ia memiliki laptop IBM T-60, dengan Hard Disk 250 Giga. Di 
hard disk itulah kami menduga kelengkapan Final Year Project (FYP) atau tugas 
akhir David lengkap tersedia. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Mengingat, 
eksternal hardisk David yang setengah tera, setelah diforensik Ruby, terdapat 6 
halaman awal tugas akhir David. Perihal inis edang saya mintakan komentar dari
Dr. Ary Setiyadi, dosen Lab VIII, Lt.2 ITB, yang paham hal ihwal soal Open 
Computer Vission - - aplikasi yang bermuara kedua saja, entertainment dan 
militer, di mana dipakai David dalam tugas akhirnya itu.

Hingga Sketsa ini saya tuliskan kloning data belum kami dapatkan. Investigator 
Avadear menurut polisi penerima tamu bernama Carlos, mengatakan investigator 
itu sedang tak di tempat.
"Tapi tenang, melalui akses kami di HTCIA, akan ada pihak yang akan
menghubungi hand phone Anda, siapa tahu sumber ini dapat membantu, " ujar Ruby 
di balik telepon tadi malam.
Saya tentu sangat berharap.

Ruby sudah pulang ke Jakarta Sabtu petang. Ia telah dikejar tugas baru, urusan 
memforensik digital data gembong narkoba yang ditangkap Polri, juga tak 
ketinggalan data berkaitan urusan Antazari Azhar itu, misalnya.

Ketika menutupkan pintu taksi Ruby di depan Hotel Furama Riverfront, yang 
menuju Bandara Changi, benak saya tak habis pikir, kok 230 juta penduduk 
Indonesia, hanya ada satu saja ahli digital forensik yang bersertifikat 
dimilikinya? Saya melamun di jalanan ketika pindah menginap ke sebuah hostel 
backpackers.

DI SEBUAH malam yang cerah sebulan lalu, di sela kelelahan mencari kawan-kawan 
almarhum David, yang mau bicara tentang sosok anak jenius yang diberitakan oleh 
NTU, kampusnya sendiri, menusuk profesor, melukai nadi lalu bunuh diri, saya 
menyempatkan diri mengunjungi jembatan Hendersen, atau dikenal Hendersen Wave - 
sebuah landmark yang belum banyak dikunjungi orang Indonesia kini.
Jembatan yang bila malam ditingkah cahaya tampak melengkung macam badan ular 
itu berada pada ketinggian 36 meter. Ia menjadi jembatan pejalan kaki tertinggi 
di Singapura. Panjangnya 300 meter, menghubungkan taman di Mount Faber dan 
Telok Blangah Hill - - kawasan berbukit berpanorama gunung yang sengaja 
diciptakan bagi Singapura agar kian kinclong di mata pelancong.

Ketika melangkahkan kaki menyusuri jembatan yang lantainya kayu dengan
lengkungan sirap-sirap baja itu, tampak lampu berkerlap-kerlip berbinar-sinar.
Malam itu menjadi pengalaman tersendiri, menginjak lantai full kayu,
membayangkan Kalimantan dengan dengan kayu ulinnya. Terpikir di benak saya alam 
Indonesia yang kaya, jika saja dibangun macam Singapura, tidak akan ada duanya.
Tidak sedikit andil Indonesia membangun Singapura; mulai dari pasir, kayu, 
hingga gas. "Hampir 80 % kebutuhan gas Singapura dipasok Indonesia," ujar 
seorang staf Kedubes RI Singapura. Salah satu pemasok gas Singapura adalah 
Sembawang Cop., yang mengalirkan gas dari Natuna, Kepulauan Riau.

Saya merasa sumber daya alam negeri sendiri seakan tersia-siakan, karena tak 
kunjung mensejahterakan kebanyakan warga. Kini SDM pintar asal Indonesia 
diimingi bea siswa, diambil tugas akhirnya bagi kepentingan riset, kepentingan 
paten profesor sekolah penampungnya - - karena memang dari awal begitulah 
perjanjiannya.

Di negera sendiri, credential aset SDM itu dilepas berceceran, maka adalah hak 
anak bangsa merasai nasib dan peruntungannya. Adalah suatu yang wajar bila 
anak-anak jenius itu kemudian mati, segenap warga layak mempertanyakannya, apa 
dan mengapa bisa terjadi, bagaimana dengan nyawa yang hilang, kemudian dirusak 
pula nama baiknya?

Dalam keadaan menatap jauh ke gemerlapan Singapura di ketinggian Handersen 
itulah saya teringat akan tulisan saya tentang T. Wijaya Sendra, mantan 
direktur di Grup Usaha Kelompok Gajah Tjunggal, yang saya kenal. Ia sosok 
profesional yang punya rasa kebangsaan. Sebaliknya, pemilik Gajah Tunggal 
Group, Sjamsul Nursalim, yang menjadi tersangka kasus BLBI, hingga kini tak 
bisa dibawa pulang ke Indonesia dari Singapura dan kasusnya...?

Laku pengusaha macam Sjamsul Nursalim itu, pernah saya sebut sebagai sosok alpa 
diuntung. Mengawali berusaha di Indonesia, mulai dari pertanian, tumbuh ke 
Industri, memanfaatkan pengambilan kredit besar bank pemerintah dengan pejabat 
perbankan pemerintah yang memang mau berkolusi, menjadikan sosok macam Sjamsul 
pengusaha tambun. Di pola ini Sjamsul tak sendiri. Hampir semua konglomerasi di 
masanya, melanggamkan hal sama.

Terkait krisis penghujung 1997-an lalu, pabrik ban Sjamsul sempat
direstrukturisasi. Namun pasar global dan jaringan distribusi lokal, masih 
dalam genggaman Sjamsul dari Singapura. Laku demikian bukan milik Sjamsul 
pribadi, tetapi sudah berjamaah dibuat pengusaha kakap, yang ujung-ujungnya 
memang mau menang sendiri: persoalan warga dan anak bangsa kebanyakan bukan 
lagi kepentingannya. Semuanya uang, eranya money talk.

Di dalam buku-buku kapitalisme baru, saya tercenung membaca, bahwa uang memang 
tidak mengenal bangsa. Lama-lama kecerdasan anak bangsa juga tak perlu lagi 
berbangsa. Atas logika ini pula tampaknya, bila kematian David Hartanto Wijaya 
ini, tidak mendapatkan tempat di hati orang-orang tambun uangnya, karena 
kepentingannya diduga bakal terganggu di Singapura.
Padahal bargaining position para konglomerat Indonesia di Singapura, besar 
adanya. Toh lebih sepertiga properti orang Singapura, dimiliki pengusaha asal 
Indonesia kini. Dan mereka semua enggan bicara soal kasus terbunuhnya David.

Pada Sabtu, 10 Mei malam ada acara Promnite mahasiswa NTU di Kedubes di 
Singapura. Saya menitipkan membelikan tiket kepada teman almarhum David, agar 
saya bisa hadir di acara itu. Namun di saat acara berlangsung, saya memutuskan 
untuk tidak datang. Dari bulak-balik ke Singapura, saya rasakan, bahwa 
kawan-kawan David yang kuliah di NTU itu tidak semuanya sahabat sebangsa yang 
hangat. Waktu dan keadaan serta paradigma hidup, membuat segalanya berubah.
Saya memang sedang menginjak bumi Singapura.

Karenanya satu dua orang sahabat David di NTU, yang peduli kepada kebenaran 
terungkap, yang berkenan mencarikan fakta kebenaran: saya hormat lahir dan 
batin.

Di saat saya hendak meng-upload tulisan ini, gerimis jatuh di Singapura. Satu 
dua petir menggelegar. Jalanan basah. Pemilik hostel backpackers tempat saya 
menginap di halaman meletakkan di tasa meja sebuah Nenas segar, lima jeruk, dua 
piring nasi, dua kue mangkok kampung yang ditancapi bilah hio. Asap lamat-lamat 
mengepul. Di dalam blek di lantai berisi arang dibakar. Api nyala.
Kertas-kertas kuning dibakar.

Sebuah ibadah.
Air dari keran terasa kian dingin, di saat wudu Zuhur hendak saya tegakkan.
Saya mengajak Anda semua, yang peduli kepada kasus David ini, di waktu yang 
tersisa sembilan hari lagi, menjelang persidangan koroner, 20-26 Mei 2009, para 
saksi mata sigifikan yang melihat David dibunuh, nyata adanya. Amin.***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com



__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Database | Calendar 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
  a..  5New Members
Visit Your Group 
Give Back
Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar
Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups
Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.
. 

__,_._,___
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke