[email protected] to [email protected] From: Lasykar Diponegoro <[email protected]> Subject: [PKS] Deklarasi SBY Berbudi To: [email protected], [email protected], [email protected] Date: Saturday, May 23, 2009, 6:08 AM
Deklarasi SBY-Berbudi Dalam Bahasa Simbol (1) Senin, 18/05/2009 08:10 WIB Cetak | Kirim | RSS Sebuah iklan teve berbunyi: “Soal lidah bisa bohong, tapi soal (cita)rasa gak bisa bohong.” Slogan ini agaknya pas sekali jika ditarik ke ranah politik di negeri ini. Sebuah iklan teve berbunyi: “Soal lidah bisa bohong, tapi soal (cita)rasa gak bisa bohong.” Slogan ini agaknya pas sekali ika ditarik ke ranah politik di negeri ini, di mana antara omongan para pejabat dengan kenyataan terdapat fakta yang saling bertentangan. Di mulut para pejabat menyatakan “A”, sedangkan faktanya “Z”, di mulut para pejabat mengatakan menolak, namun faktanya menerima. Munafik, mungkin ini istilah yang terlalu sarkastis. Tapi mungkin diperlukan bagi bangsa yang sudah terbiasa dengan eufimisme yang sesungguhnya mengaburkan kesejatian. Sebab itu, untuk mendapatkan makna yang hakiki, bahasa simbol diperlukan untuk bisa mengungkap apa adanya. Dan alangkah jauh lebih baik jika lidah juga membenarkan apa yang diungkap oleh simbol tersebut. Dan alhamdulillah, acara Deklarasi SBY-Budiono yang digelar Jum’at sore, 15 Mei 2009, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, telah menyingkap kepada kita semuatentang jati diri mereka. Inilah beberapa bahasa simbol yang terjadi saat itu: Hamba Washington Sejak di pintu gerbang hingga ke dalam ruangan utama, kain merah-putih- biru mendominasi tema acara Deklarasi PasanganCalon Presiden dan Calon Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Budiono. Hal ini mengingatkan kita kepada acara serupa yang digelar Obama dan Joe Biden saat deklarasi capres-cawapres di Amerika beberapa bulan lalu. Cita rasa Amerika dalam acara deklarasi SBY-Berbudi ini juga tampak dalam slogan-slogam yang dicetak di kaos, spanduk, maupun pin, seperti slogan “One Vote One Nation”. Ini jelas milik Partai Demokratnya Obama. Apakah dengan demikian Partai Demokrat-nya SBY membenarkan jika mereka merupakan “branch” alias kepanjangan tangan Partai Demokrat yang di AS? SBY dan para pejabat Partai Demokrat yang ada di Jakarta tentu menolaknya. Namun bahasa simbol yang mereka perlihatkan justru mengatakan yang lain. Apalagi dengan nada penuh kebanggaan, Sekjen Partai Demokrat (PD) Ahmad Mubarrok kepada wartawan menyatakan jika acara deklarasi tersebut mengingatkannya pada acara deklarasi pasangan Obama-Biden di AS. Siapa pun yang menghadiri atau memirsa tayangan acara tersebut yang disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun teve swasta akan mengakui jika deklarasi “SBY Berbudi” memang menjiplak habis tema acara deklarasi Obama dan Biden.Seorang pembaca KOMPAS (16 Mei 2009) dalam Rubrik “Kata Kita” mengirim pesan singkat yang berbunyi, “Kenapa bangsa ini jadi plagiat terus? Ternyata enggak cuma musisi aja, eh SBY juga malah niru pesta Obama. Enggak kreatif.” (Mueng, Bekasi, +6281376145XXX) Sebenarnya, SBY sendiri memang telah lama akrab dan merasa “bagaikan di rumah sendiri” dengan Amerika Serikat, bahkan menganggapnya sebagai “negeri keduanya”, setelah Indonesia. Dalam tulisan berjudul “Sebuah Imperium Menunggu Rubuh” yang dimuat dalam situs Hidayatullah. com ( http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6650&Itemid=84 ), Amran Nasution yang merupakan mantan Redaktur Majalah Gatra dan Tempo dan sekarang bergiat di Institute for Policy Studies (IPS) Jakarta,menulis, “Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Amerika teramat sulit dilupakan. Betapa tidak? Dalam merintis karir militer, ia mondar-mandir menuai ilmu di negeri itu. Ia sempat dua kali mengikuti program latihan militer di Fort Benning, Georgia, di tahun 1976 dan 1982. Lalu, sekolah staf dan komando, 1991, ia tempuh di Fort Leavenworth, Kansas, tempat penggodokan para perwira yang amat bergengsi itu. Gelar S2, ia raih di universitas di sana. Tentu tak banyak perwira Indonesia yang begitu intens menimba ilmu dari negeri yang punya pemenang nobel terbanyak di dunia. Maka dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003, sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ‘’I love the United State, with all its faults. I consider it my second country’’. Terjemahan bebas penulis: “Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negeri kedua saya.” (lihat Al Jazeera English – Archive, 6 Juli 2004).” Link di Al Jazeera English adalah http://english.aljazeera.net/English/archive/archive?ArchiveId=4965 dimana SBY mengatakan, “‘I love the United State, with all its faults. I consider it my second country.’’ Bentuk kecintaannya kepada AS salah satunya dituangkan ke dalam themes acara deklarasi dirinya, yang jika mau jujur sebaiknya dinamakan “The Washington Taste”. Hal ini diperkuat dengan dipilihnya sosok Budiono,saat itu baru saja mengundurkan diri dari Gubernur Bank Indonesia,seorang ekonom yang oleh banyak kalangan diidentikan sebagai ikon ekonom Indonesia yang berkiblat ke Washington. Dalam bahasanya Amien Rais, Budiono merupakan ikon dari gerakan Neo-Liberal. Kelompok inimerupakan anak cucu dari Mafia Berkeley yang pada November 1967 menjual sebagian besar kekayaan alam Indonesia kepada jaringan korporasi Yahudi Dunia yang berpusat di AS. Kelompok inilah yang membuat bangsa kaya raya ini sekarang menjadi bangsa paria dan dicemooh dunia. Track-Record Budiono pun memperkuat ini. Di antaranya adalah mengucurkan dana BLBI saat dia menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, dan saat menjabat sebagai Ketua Bappenas, Budiono melakukan langkah Privatisasi sejumlah BUMN Strategis yang sangat merugikan bangsa ini. SBY telah memilih sosok ini sebagai cawapresnya. Dan seluruh partai pendukungnya yakni PKB, PAN, PPP, PKS,PDS, dan puluhan partai kecil lainnya, diakui atau tidak, sesungguhnya turut mendukung sikap SBY ini sebagai “Cheerleader”. Agar rakyat dalam Pemilu 2014 mendatang tidak bingung, alangkah indahnya jika semua parpol ini nanti meleburkan diri ke dalam Partai Demokrat. Bukankah Indomie, Sarimie, Salamie, dan sebagainya itu sama-sama dimiliki oleh satu perusahaan, Salim Group? http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/deklarasi-sby-berbudi-dalam-bahasa-simbol-1.htm Deklarasi SBY-Berbudi Dalam Bahasa Simbol (Tamat)Jumat, 22/05/2009 06:16 WIB Cetak | Kirim | RSS Peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per tahun. Angka ini mengalahkan utang di era Soeharto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun. Selain sangat Americanized, acara deklarasi SBY-Boediono juga menyampaikan pesan lain lewat bahasa simbolik mereka.Acara yang sebenarnya sangat biasa saja ini, dan bisa diselengarakan dengan biaya yang murah, oleh Partai Demokrat (PD)dikemas dalam kemasan yang sangat mahal, mewah, dan megah. Apa artinya? Tidak Berpihak Pada si Miskin Acara Deklarasi SBY-Boediono yang digelar Jum’at sore, 15 Mei 2009, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung menelan biaya tidak kurang dari 1,5 miliar rupiah. Ini sungguh suatu pameran kemewahan yang luar biasa di tengah-tengah penderitaan ratusan juta rakyat Indonesia yang untuk makan saja sangat sulit. Seorang pembaca KOMPAS (16 Mei 2009) dalam Rubrik “Kata Kita” yang lainnya mengirim pesan singkat: “Deklarasi SBY-Boediono menghamburkan uang dan tak merakyat. Event Organizer-nya ngesok benar!” (Kusmulyadi, Bandar Lampung, +6285697514XXX) Sejumlah pengamat politik juga menyesalkan mengapa SBY-Boediono tega-teganya menggelar hajatan mewah tersebut di saat jutaan rakyatnya masih berkubang di lumpur kesengsaraan yang amat parah. Beberapa orang bahkan menganggap pasangan ini takabur dan terlalu percaya diri, seolah-olah mereka sudah pasti menang, padahal belumlah tentu. Setiap orang pastilah menyadari jika di balik setiap tema acara, terdapat makna filosofis yang menggambarkan jatidiri yang punya hajat. Dan acara mewah tersebut dengan sangat baik menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia: “Kami tidak memiliki empati terhadap nasib kalian.” Hal ini tentu dibantah oleh yang punya hajat.Namun bahasa simbol bicara dengan jujur dan setiap orang yang memiliki nurani pasti merasakan hal itu. Pakar komunikasi politik Dr. Effendi Ghazali dalam beberapa kesempatan di sejumlah acara teve juga menyatakan jika acara mewah tersebut mengirim pesan jika mereka tidak pro-rakyat miskin. “Beda dengan pasangan Mega Pro yang menggelar acara deklarasi di Gunung Sampah Bantar Gebang. Yang ini jelas, lewat komunikasi politik yang ada, mereka hendak menyatakan bersungguh-sungguh berdiri di belakang rakyat miskin.” Entah berkaitan atau tidak, tidak dimilikinya empati dalam acara mewah tersebut sejalan dengan konsep-konsep IMF yang sejak tahun 1998 menawarkan konsep-konsep yang banyak membunuh jutaan rakyat miskin di negeri ini. Walau Boediono membantah dirinya sebagai agen IMF, namun banyak konferens pers yang dia gelar sebagai pejabat Gubernur BI atau Menko Perekonomian dahulu menyatakan hal sebaliknya. Dalam artikel berjudul “Jalan Liberal Pak Boed” (Media Indonesia, 28 Febr 2007), ekonom UGM Revrisond Baswir menulis jika pidato pengukuhan Dr. Boediono sebagai guru besar ekonomi di UGM Yogyakarta, setebal 28 halaman dengan 24 sumber referensi ternyata mengacuhkan sistem perekonomian kolonial yang berjalan di negeri ini berabad-abad. Oleh Baswir, Boediono yang tengah menjabat sebagai Menko Perekonomian ini, ternyata melupakan era kolonial sebagai bagian integral dari sejarah perekonomian negeri ini. “Padahal, era kolonial ialah bagian teramat penting dari sejarah perekonomian Indonesia. Ia tidak hanya penting karena berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Ia juga penting sebab aspek ekonomi adalah aspek utama dari kolonialisme”, demikian Baswir. Sebab itu, demikian Baswir, Boediono telah melupakan kenyataan sejarah jika berakhirnya era Soekarno bukan semata-mata karena krisis ekonomi, namun lebih disebabkan intervensi Amerika Serikat (AS), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia dalam memicu krisis ekonomi Indonesia. Hal yang sama juga bisa ditarik pada peristiwa mundurnya Suharto. Namun Boediono hanya melihat hal itu sebagai rentetan sejarah, tidak slaing kait-mengkait. “Kepatuhan” Indonesia pada IMF, World Bank, dan sebagainya inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini dari tahun ke tahun menimbun utang yang kian banyak. Berbeda dengan keterangan rezim SBY yang mengklaim telah berhasil menurunkan utang bangsa ini dan telah melunasi utang IMF, namun kita juga tahu jika IMF bukan satu-satunya lembaga pengutang, selain IMF ada ADB, World Bank, dan sebagainya. Dalam artikel berjudul “Pernyataan SBY Soal Utang Luar Negeri Tidak Memihak Rakyat” (Koalisi Anti Utang, 7 April 2009), Ketua KAU Dani Setiawan memaparkan data-data valid yang dimilikinya yang ternyata menunjukkan jika utang Indonesia bukannya kian berkurang tapi malah membengkak di era SBY. “Outstanding Utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 – 2009 juga terus meningkat dari Rp1275triliun menjadi Rp1667 triliun (www.dmo.or.id). Ditambah dengan peningkatan secara signifikan total utang dalam negeri dari Rp662 triliun (2004) menjadi Rp920 triliun (2009). Artinya Pemerintah “berhasil” membawa Indonesia kembali menjadi negara pengutang dengan kenaikan 392 triliun dalam kurun waktu kurang 5 tahun. Atau peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per tahun. Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang di era Soeharto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun.”Ironisnya, kegemaran ngutang—yang didukung para Neolib di sekelilingnya—ini di era SBY tidak didukung oleh pembenahan pemerintahan yang bersih. Anti korupsi cuma pemanis bibir. Pemberantasan tindak pidana korupsi masih tebang-pilih. Sebab itu, hasil riset lembaga internasional The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang dirilis April 2009 kemarin memaparkan temuan jika Indonesia masih menjadi negara terkorup di Asia. Riset PERC tersebut dilakukan pada Maret 2009 terhadap 1.700 responden pelaku bisnis di 14 negara Asia, ditambah Australia dan Amerika Serikat. Acara Deklarasi SBY Boediono dalam bahasa simbol jelas menyampaikan pesan jika mereka sangat terobsesi oleh Amerika Serikat, panglima kapitalisme dunia yang melahirkan gerakan Neo Liberal dan juga tidak memihak kaum miskin. Mendapat serangan ini, dalam bebagai sorum SBY berkali-kali menolak jika Boediono dikatakan sebagai ikon Neo Lib. Namun ada pepatah, jika kita ingin melihat seseorang maka lihatlah siapa sahabat-sahabatnya. Nah, dalam dua peristiwa kemarin: Saat berangkat ke Bandung untuk menghadiri deklarasi, Boediono di kereta api didampingi oleh Muhammad Ikhsan yang duduk di sebelahnya, lalu ada pula M. Chatib Basri. Keduanya dikenal masyarakat luas sebagai pendukung Neo Lib. Dalam acara deklarasi juga hadir Sri Mulyani, mantan direktur IMF yang diangkat oleh SBY sebagai Menteri Keuangannya. Lalu di hari yang lain, saat menjenguk Taufik Kiemas—suami Megawati—yang sakit di Jakarta, Boediono juga tampak didampingi Rizal Mallarangeng. Sosok ini dikenal luas sebagai ekonom Neo Liberal sekaligus aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal). Mudah-mudahan rakyat Indonesia bisa melihat dengan jernih siapa sesungguhnya pasangan capres-cawapres ini, dan tidak terpengaruh serta tidak tertipu oleh bualan para tokoh partai politik pendukung kaum liberal ini. Kita tentu masih ingat, saat menjelang pemilu legislatif kemarin, para politisi “Islam” menyerukan agar umat memilih mereka dengan mengatakan jika umat Islam tidak memilih mereka, maka suara kaum sekuler dan kafir akan unggul.Namun ironis, di saat suara umat sudah berada di kantung mereka, dengan enaknya para politisi “Islam” ini malah bersekutu dengan orang-orang liberal dan kaum kafir untuk mendukung satu pemimpin, hanya dengan imbalan beberapa kursi menteri. Jika demikian tidak salah jika umat menyatakan bahwa orang-orang seperti ini sesungguhnya adalah Pedagang Umat, yang menjual agama dan umat-Nya demi kenikmatan dunia. Mudah-mudahan dalam Pemilu 2014 umat Islam tidak tertipu lagi oleh orang-orang seperti ini. Amien. (Tamat/rd) -- ********************************************* Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya http://reportermilist.multiply.com/ ********************************************** Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/ 5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh reportermilist, bayangkan peluang yang murah dangan prospect yang besar.. Berminat Hubungi [email protected] ============================= (Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com ============================= Search Engine Terpopuler Anak Bangsa http://djitu.com ============================= Space Iklan ============================= --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] thanks for joinning this group. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
