*Ironis, Kekayaan Mantan Jenderal dengan Kondisi Alutsista TNI
*KOMPAS/PRIYOMBODO

Senin, 25 Mei 2009 | 20:59 WIBLaporan wartawan KOMPAS Wisnu Dewabrata
JAKARTA, KOMPAS.com — Minimnya alokasi anggaran bidang pertahanan dinilai
teramat kontras jika dibandingkan dengan nilai kekayaan serta kemampuan
finansial dari para mantan pimpinan TNI masa lalu, yang sekarang saling
bertarung dalam pemilihan umum presiden (Pilpres) 2009, baik sebagai
kandidat, maupun sebagai tim sukses.

Perbandingan tersebut diyakini juga menciptakan ironi tersendiri, apalagi
jika mengingat minimnya kemampuan negara mengalokasikan anggaran pertahanan
yang layak berdampak pada rendahnya kemampuan peralatan utama sistem
persenjataan (alutsista) TNI serta tingkat kesejahteraan prajurit TNI.

Penilaian itu disampaikan Direktur Eksekutif Propatria Institute Hari T
Prihartono, Senin (25/5), saat dihubungi Kompas.
Hari berseloroh, mungkin justru akan lebih terhormat dan elegan jika para
jenderal purnawirawan TNI tadi bersikap peka dan lebih memikirkan bagaimana
menyelamatkan TNI yang kondisinya semakin memprihatinkan.

"Sekarang Indonesia benar-benar dalam kondisi yang sangat berduka setelah
sekian kali para putra terbaiknya di TNI berguguran akibat keterbatasan
kemampuan keuangan negara dan akibat tidak cukup andalnya manajemen
organisasi pertahanan sendiri," ujar Hari.

Kendati begitu, Hari mengusulkan agar semua pihak berani mencari terobosan
dan solusi atas persoalan yang sekarang dialami. Dia mengusulkan untuk
diadakan semacam gerakan nasional untuk menyelamatkan TNI. Hari menegaskan,
perlu juga dibuka peluang atau kemungkinan untuk membuat aturan pendukung
atau mengamandemen berbagai produk hukum yang menghambat, terutama terkait
kebijakan anggaran pertahanan.

"Saya kira dalam kondisi macam sekarang bisa saja, misalnya, para mantan
jenderal TNI yang berkemampuan finansial dan kekayaan besar tadi menyumbang
setidaknya 10 persen kekayaan mereka untuk membantu TNI. Namun ke depan
perlu juga dicari solusi lain sehingga semua pihak bisa serius menyelesaikan
persoalan yang dihadapi TNI itu," ujar Hari.

Lebih lanjut, Hari juga meminta pemerintah dan Markas Besar TNI bisa dengan
jujur menelaah sekaligus memetakan kondisi riil pertahanan Indonesia, mulai
dari kekuatan dan kelaikan persenjataan yang ada, tingkat kesejahteraan
prajurit TNI, hingga berbagai sarana dan prasarana pertahanan yang ada.

Setelah itu, baru kemudian dilakukan perubahan besar-besaran terhadap
berbagai kebijakan yang tidak mendukung atau bahkan menghambat langkah
perbaikan sekaligus dukungan macam apa yang diperlukan dan bisa diberikan
oleh seluruh warga negara Indonesia.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: clip_image002.jpg>>

Kirim email ke