Mafia Berkeley di Pintu Istana

Boediono dikhawatirkan jadi pintu masuk kepentingan ekonomi Amerika-Yahudi
di Indonesia. Melabrak UUD 45.

ImageSAAT awal-awal berkuasa, Soeharto dikerumuni tim khusus bidang ekonomi
jebolan Universitas Berkeley, California, AS. Mereka, seperti Prof Widjojo
Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh Sadli, JB Soemarlin, dan
Adrianus Mooy, bertugas menyusun sistem perekonomian di Indonesia.

Saking besarnya dominasi mereka dalam menerapkan konsep ekonomi liberal gaya
AS, tim ini akhirnya mendapat julukan miring: mafia Berkeley. Bahkan, tak
hanya doktor ekonomi lulusan Berkeley yang masuk dalam jaringan ini, tapi
beberapa  alumni universitas papan atas di AS juga dituding ikut membawa
misi hegemoni AS di Indonesia.

Kini, meski Soeharto dan Orba-nya telah tumbang, jaringan mafia Berkeley
tetap bercokol. Beberapa doktor ekonomi yang dituding masuk jaringan ini
antara lain Sri Mulyani, Moh Ikhsan, Chatib Basri, dan Boediono. Makanya,
ketika SBY memilih Boediono sebagai cawapresnya, lontaran penolakan langsung
menggema. Doktor ekonomi jebolan Universitas Pennsylvania, AS itu
dikhawatirkan membawa kepentingan ekonomi Amerika.

"Kita bertahun-tahun mengkhawatirkan tim ekonomi kita lagi-lagi dikuasai
oleh Mafia Barkeley dengan paradigma ekonomi neoliberalnya. Ternyata
sekarang SBY tidak hanya melanggengkan praktik ekonomi neoliberal dengan
cara memilih tim ekonomi di kabinetnya saja, tapi malah menunjuk
cawapresnya, Boediono yang sudah jelas-jelas garis ekonominya neoliberal,"
cetus ekonom Indef (Institute for Development of Economics and Finance),
Hendri Saparini kepada Indonesia Monitor, Sabtu (16/5).

Kekhawatiran Hendri cukup beralasan. Sebab, runtuhnya perekonomian nasional
tak  bisa dilepaskan dari peran mereka. Di sisi lain, Amerika akan
menghalalkan berbagai cara untuk mengamankan kepentingannnya di Indonesia
dengan power ekonomi Yahudi-nya yang dikenal ambisius itu. Presiden AS
Barrack Obama yang memiliki ayah tiri orang Indonesia, juga tak menjami
negerinya tidak akan mencapuri  urusan dalam negeri Indonesia.

ImageBahkan, awal Mei lalu, saat mendeklarasikan bulan Mei sebagai bulan
Yahudi-Amerika (May Jewish American Heritage Month), Obama secara implisit
mengakui bahwa negara AS adalah negara Yahudi. Ia mengatakan bahwa, "AS
tidak akan menjadi negara yang kita kenal sekarang tanpa keberhasilan yang
diraih kaum Yahudi Amerika."

Meski warga Yahudi di AS kurang dari tiga persen, tapi dominasinya sangat
luar biasa. Terbukti, dengan populasi sekecil itu, mereka berhasil
memenangkan 25 persen hadiah nobel. Selain itu, bangsa Yahudi menguasai 20
persen eksekutif di AS dan 22 persen anggota mahasiswa jenius di AS adalah
Yahudi.

Apakah tangan-tangan mereka ikut "bermain" di Pilpres 2009 dengan mendukung
terpilihnya Boediono sebagai tandem SBY? "Kita juga khawatirkan itu," ujar
Hendri.

Namun, di mata pengamat hukum tatanegara Irman Putra Sidin, yang perlu
dikhawatirkan justru komposisi caprescawapres yang mengabaikan keterwakilan
Jawa dan non-Jawa. Padahal, UUD 45 mengisyaratkan perlunya komposisi yang
adil dalam pemerintahan.

 "Soal Jawa non-Jawa, itu memang ada konstitusional base-nya. Dalam pasal 6a
ayat 3 UUD, disebutkan bahwa presiden yang terpilih, yang dilantik sebagai
pasangan calon presiden, dia harus menang 50 persen lebih," kata Irman Putra
Sidin kepada Indonesia Monitor, Jumat (15/5).

Bahkan, menurut Irman, tidak cukup 50 persen lebih. Ke depan, lanjut Irman,
jika  ada dua pasangan calon presiden, orang berpikir hanya satu kali
putaran, padahal belum tentu. "Dia harus menang di lebih dari 50 persen
provinsi di seluruh Indonesia. Dan minimal dia mendapatkan suara 20 persen
di setiap provinsi. Dalam konteks ini, Jawa luar Jawa menjadi penting. Sebab
mereka harus mendapat legitimasi di 33 provinsi, sehingga mitos Jawa luar
Jawa sebenarnya memang memiliki basis konstitusional," paparnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi,
mengatakan, Boediono diperkirakan sulit menjalankan tugas wakil presiden
karena memiliki sifat tertutup. Sifat ini akan menghambat koordinasi menteri
di kabinet mendatang bila SBY terpilih lagi sebagai presiden.

"Boediono memang pintar dan menguasai ekonomi. Tapi dia akan kesulitan untuk
melakukan koordinasi dengan menteri-menteri lainnya," ujar Sofjan Wanandi,
Senin (11/5).

 ■  Moh Anshari, Sri Widodo
==


-- 
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang yang murah dangan prospect yang
besar.. Berminat Hubungi [email protected]
=============================
(Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
=============================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
=============================
Space Iklan
=============================

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke