--

Alfin arifin 















السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 
semoga bermanfaat.....
wass......zainal
 
Khutbah Jum'at 
RAHASIA SYAHADAT
Oleh: Izzudin Karimi, Lc 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ 
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ 
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ 
وَرَسُوْلُهُ 

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ 
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. 

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ 
تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ 
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا 
وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ 
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا 
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ 
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ... 

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ 
مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، 
وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي 
النّارِ.
 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Membangun sebuah bangunan dimulai dengan meletakkan pondasinya, pondasi 
ini harus baik dan kokoh karena ia penopang bagi apa yang diletakkan di 
atasnya. Jika pondasinya kokoh, maka bangunannya akan tegak dengan kokoh 
pula, sebaliknya jika pondasinya rapuh maka tidak perlu menunggu lama 
bangunan terse-but akan roboh. Islam bisa diibaratkan sebuah bangunan. 
Jika tegak-nya bangunan mesti ditopang dengan pondasi yang kokoh, maka 
tegaknya dinul Islam pun mesti didasari dengan pondasi yang kuat. Jika 
bangunan roboh dengan cepat tanpa pondasi yang kokoh maka dinul Islam pun 
demikian. 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Tahukah kita apakah pondasi Islam? Ia adalah syahadat. Di atas syahadat 
inilah bangunan Islam ditegakkan. Oleh karena itu ketika Nabi menjelaskan 
pilar-pilar Islam, beliau mengawalinya dengan syahadat.

بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ 
وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ 
الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ. 
"Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat, bahwa tiada tuhan yang 
berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, 
mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan." (HR. 
al-Bukhari dan Muslim, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 8 dan Mukhtashar 
Shahih Muslim, no. 62, dari Ibnu Umar). 
Disebutkannya syahadat dalam urutan pertama berarti apa yang sesudahnya 
berpijak kepadanya, lebih tegasnya apa yang sesudahnya yaitu mendirikan 
shalat, membayar zakat, haji, dan puasa tidak sah dan tidak diterima tanpa 
pijakan syahadat. Maka di dalam al-Qur`an di dalam banyak ayat, Allah 
selalu mengindukkan amal shalih kepada iman. Benar sekali Imam Muslim yang 
menulis sebuah bab dalam Shahihnya: Bab barangsiapa tidak beriman, maka 
amal shalih tidak berguna baginya. Selanjutnya dia menurunkan hadits 
Aisyah yang bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, Ibnu Jud'an semasa 
jahiliyah bersilaturahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu 
berguna baginya?" Nabi menjawab,

لَا يَنْفَـعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُـلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِـرْ لِيْ 
خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ. 
"Tidak berguna baginya, karena dia tidak pernah suatu hari pun berkata, 
'Ya Rabbi, ampunilah kesalahanku pada Hari Pembalasan'." (HR. Muslim. 
Mukhtashar Shahih Muslim, no. 41). 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Tidak hanya hadits tersebut yang mensyaratkan syahadat agar amal shalih 
diterima, sebelumnya ayat-ayat al-Qur`an telah menetapkan hal yang sama. 
Salah satunya adalah Firman Allah,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ 
كَفَرُواْ بِاللّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلاَ يَأْتُونَ الصَّلاَةَ إِلاَّ وَهُمْ 
كُسَالَى وَلاَ يُنفِقُونَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُونَ 
"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka 
nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya 
dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak 
(pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.." 
(At-Taubah: 54). 
Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya terhadap ayat ini, "Amal shalih 
hanya sah dengan iman." (Tafsir Ibnu Katsir 4/162). Oleh karena itu, 
ketika Nabi mengutus Mu'adz bin Jabal sebagai hakim dan da'i ke kota 
Yaman, beliau berpesan kepadanya agar memulai berdakwah dengan syahadat. 
Sabda beliau,

اُدْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنِّيْ 
رَسُوْلُ اللّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ 
اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ 
وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللّهَ 
افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ 
أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ. 
"Ajaklah mereka kepada syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah 
kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, jika mereka telah 
mematuhimu dalam hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah 
mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam, jika mereka telah 
mematuhimu dalam hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah 
mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka, yang diambil dari 
orang-orang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin dari 
mereka." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas. Mukhtashar Shahih 
al-Bukhari, no. 666 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 501). 
Dari sini kaum Muslimin mengetahui dan memahami untuk selanjutnya bahwa 
mengikrarkan dan memegang syahadat dengan teguh dalam kehidupan adalah 
perkara yang tidak bisa ditawar lagi. 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Apa itu syahadat? Syahadat adalah persaksian dengan dasar keyakinan yang 
kuat di dalam hati. Syahadat ini terbagi menjadi dua: Syahadat tauhid 
yaitu ucapan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dan syahadat risalah yaitu ucapan 
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّهِ. Yang pertama berarti tidak ada apa pun atau 
siapa pun yang berhak disembah kecuali Allah semata. La ilaha meniadakan 
hak penyembahan dari selain Allah dan illallah menetap-kannya untuk Allah 
semata. Dua perkara inilah yang dikenal de-ngan rukun syahadat. Syahadat 
ini menuntut pemurnian ibadah semata-mata untuk Allah, dan membuang syirik 
yang berarti men-duakan Allah dalam beribadah. 
Firman Allah Ta’ala,

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ 
يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ 
الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah 
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa 
yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia 
telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. 
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.." (Al-Baqarah: 256). 
Adapun syahadat yang kedua, maka akan khatib jelaskan pada khutbah kedua. 
AKIBAT HUKUM DARI SYAHADAT 
Di dunia, barangsiapa bersyahadat, maka dia adalah seorang Muslim, baginya 
hak yang sederajat dengan kaum Muslimin dan atasnya kewajiban yang 
sederajat dengan kaum Muslimin, terlin-dungi darah, harta, dan 
keluarganya. 
Firman Allah Ta’ala,

قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ 
وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ 
الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ 
عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ 
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) 
kepada Hari Kemudian, dan mereka tidak mengharam-kan apa yang diharamkan 
oleh Allah dan RasulNya dan tidak ber-agama dengan agama yang benar (agama 
Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai 
mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." 
(At-Taubah: 29). 

Sabda Nabi,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا 
اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ، 
وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ 
دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ 
عَلَى اللّهِ. 
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa 
tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah 
Rasulullah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka 
melakukan itu, mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, 
kecuali dengan hak Islam dan hisabnya atas Allah." (Muttafaq 'alaihi, dari 
Ibnu Umar. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 24 dan Mukhtashar Shahih 
Muslim, no. 5). 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Dari sini, maka Nabi sangat mengingkari pelanggaran terhadap darah orang 
yang mengucapkan 'La ilaha illallah'. Usamah bin Zaid berkata, "Rasulullah 
mengutus kami dalam sebuah pasukan, maka kami menyerang beberapa kelompok 
orang dari suku Juhainah. Aku sendiri berhadapan dengan seorang laki-laki, 
dia mengucapkan 'la ilaha illallah', maka aku menusuknya. Karena hal itu 
mengganjal di dalam hatiku, maka aku pun menyampaikannya kepada 
Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Dia mengucapkan 'la ilaha illallah' dan 
kamu membunuhnya?" Aku membela diri, "Ya Rasulullah, dia mengucapkannya 
karena takut senjata." Rasulullah bersabda, "Mengapa kamu tidak membelah 
hatinya agar kamu mengetahui apakah dia demikian atau tidak?" Usamah 
berkata, "Nabi terus mengulang-ulang perkataannya kepadaku sehingga aku 
berharap baru masuk Islam pada hari ini." (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih 
Muslim, no. 7). 
Adapun akibat dari syahadat di akhirat, maka khatib katakan bahwa kunci 
bagi gerbang Akhirat adalah 'la ilaha illallah' di mana Rasulullah 
memerintahkan mentalqin orang yang menghadapi ajal dengan kalimat 'la 
ilaha illallah'. Sabda beliau,

لَقِّـنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. 
"Talqinlah orang yang hendak meninggal di antara kamu dengan la ilaha 
illallah." (HR. Muslim dari Abu Sa'id, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 453). 

Di alam akhirat terdapat dua janji utama yang menggembirakan bagi orang 
yang mengikrarkan diri dengan kalimat syahadat: 
Pertama: Jaminan Surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ 
الْجَنَّةَ. 
"Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak 
disembah selain Allah, maka dia masuk Surga." (HR. Muslim dari Usman, 
Mukhtashar Shahih Muslim, no. 9). 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ 
اللّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ. 
"Barangsiapa bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah 
dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah mengharamkan Neraka 
atasnya." (HR. Muslim dari Ubadah bin Shamit, Mukhtashar Shahih Muslim, 
no. 11). 
Kedua: Jaminan tidak kekal di Neraka. 
Orang yang bersaksi 'la ilaha illallah' meskipun dia masuk dan diazab di 
Neraka, pasti dia akan dikeluarkan darinya dan dipindahkan ke Surga, baik 
dengan syafa'at atau tanpa syafa'at. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي 
قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيْرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ 
قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ 
خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، 
وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ. 
"Akan keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di 
dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji jewawut. Keluar dari Neraka 
orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat 
kebaikan seberat biji gandum. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la 
ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji 
dzarrah." (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik. Mukhtashar Shahih 
al-Bukhari, no. 41). .

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, 
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ 
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ 
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ 
وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Syahadat yang kedua adalah syahadat risalah, yaitu syahadat Muhammad 
Rasulullah. Makna dari syahadat ini adalah pengaku-an lahir batin bahwa 
Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Syahadat ini dilandasi oleh dua pilar 
pokok yaitu 'hambaNya' dan 'utusanNya'. Kata pertama berfungsi menutup 
peluang sikap ber-lebih-lebihan terhadap Rasulullah yang mungkin menyeret 
kepada pemberian hak rububiyah dan uluhiyah kepadanya, padahal hak 
tersebut hanyalah milik Allah semata, dan ini berarti mensejajarkan 
Rasulullah dengan Allah, dan inilah pembatal syahadat itu sendiri. Dalam 
beberapa ayat, Allah memberi gelar abdun (hamba) kepada NabiNya, karena 
inilah gelar termulia bagi manusia. Salah satu ayat tersebut adalah,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل 
لَّهُ عِوَجَا 
"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya al-Kitab 
(al-Qur`an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya." (Al-Kahfi: 
1). 
Dan Rasulullah sendiri telah menyatakan dirinya adalah abdullah (hamba 
Allah). Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا 
أَنَا عَبْدٌ فَقُـوْلُوْا: عَـبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ. 
"Janganlah kamu memujiku berlebih-lebihan seperti orang-orang Nasrani 
melakukan itu kepada putra Maryam. Aku hanyalah hamba, maka katakanlah, 
'Hamba Allah dan RasulNya'." (HR. al-Bukhari dari Umar, Mukhtashar Shahih 
al-Bukhari, no. 1373). 
Kata kedua adalah 'RasulNya' yang berarti bahwa beliau adalah utusan Allah 
kepada seluruh alam sebagai penyampai berita gembira dan pemberi 
peringatan. Firman Allah ta’ala,

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً 
"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai 
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (Al-Baqarah: 119). 
Kata ini menutup sikap meremehkan Rasulullah, dengan asumsi bahwa beliau 
adalah manusia biasa, bisa benar, bisa pula salah. Sikap dan asumsi ini 
tidak benar, ia menabrak kesaksian bahwa beliau adalah Rasul Allah, benar 
Rasulullah adalah manusia biasa akan tetapi,

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ 
إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. 
"Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang 
diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain 
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An-Najm: 2-4). 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Konsekuensi syahadat risalah ini adalah ittiba', yaitu mengikuti 
Rasulullah dengan beriman kepadanya, membenarkan perintahnya, menjauhi 
larangannya, menomorsatukan sabdanya dan mencukup-kan diri dengan 
mengamalkan Sunnahnya tanpa melakukan pe-nambahan ataupun pengurangan 
tehadap ajarannya dalam beribadah kepada Allah. Semua itu adalah hak 
beliau sebagai Rasulullah atas kita, jika kita mengakui beliau sebagai 
Rasul Allah. 
Kaum Muslimin Rahimakumullah 
Selanjutnya kita bershalawat kepada Rasulullah dengan dasar perintah dari 
Allah. Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا 
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً 
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai 
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah 
salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ 
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ 
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ 
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا 
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا 
عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ 
تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ 
اْلعَالمَِينَ.

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, 
Darul Haq Jakarta. Telp. (021)84998039. Diposting oleh: Abu Nabiel).
 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke