Alfin arifin 







السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat...
salam 
zainal

Bencana Azab atau Ujian? 
Oleh: Mochamad Bugi 
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah 
suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, 
melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. 
Ahmad)
Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah ‘berlakukan’ terhadap 
hamba-hamba-Nya di muka bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari 
Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.
1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk mengungkap keimanan seseorang; 
apakah ia benar-benar beriman atau tidak.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) 
mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan 
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka 
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia 
mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)
2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari kehidupan manusia di dunia.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa 
atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji 
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa 
lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)
3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran agar manusia dapat 
lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt.
Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka 
ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. 
(Al-Qashas: 40)
4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketakwaan seseorang kepada 
Allah swt.
Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai 
Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau 
menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, 
kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah 
berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat 
cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan 
keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba 
hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak 
memiliki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).
5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk cinta Allah terhadap 
hamba-hamba-Nya.
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Besarnya suatu pahala 
adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah 
swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka. Jika (dengan 
ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan 
siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun marah terhadapnya.” (HR. 
Turmudzi dan Ibnu Majah)
Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab
Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan kerugian yang besar 
–seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– 
sering muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan dari Allah?
Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika 
Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang 
Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. 
Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya 
mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.
Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. 
Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau 
beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa 
banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang 
dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).
Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang 
jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau 
mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar 
Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya 
(Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, 
anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada 
Allah swt.
Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan 
kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi 
yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi 
orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.
Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena 
dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan 
anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang 
tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman 
di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi 
Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.
Sebab-sebab Terjadinya Bencana
Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang 
menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang 
pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait 
dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. 
Silakan simak beberapa data di bawah ini.
Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang 
tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun 
yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh 
(Asyu’ara’: 118). 
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. 
Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah 
mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota 
mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92). 
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, 
bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata 
dengan tanah (Hud: 82). 
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. 
Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67). 
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke 
dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136). 
Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga 
kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah 
swt. (Al-Qashash:81). 
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait 
dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, 
ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan 
adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya 
(Ar-Rum: 41-42).
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan 
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari 
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 
Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana 
kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah 
orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana 
atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.
Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat 
Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu 
keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96) 
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia 
menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa 
Allah memiliki anak. 
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” 
Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. 
Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan 
gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah 
mempunyai anak. (Maryam: 91)
Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan 
kepada orang-orang dzalim di antara mereka. 
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang 
yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras 
siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)
Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber 
dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya 
adalah perbuatan zina dan riba. 
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah 
suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, 
melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. 
Ahmad)
Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang 
sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di 
atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa 
yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik 
riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan 
ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.
Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang tengah kita alami saat 
ini, seharusnya kita mawasdiri: apakah ini azab akibat kemaksiatan yang 
kita lakukan, ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita? Yang 
pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak segera bertaubat. Jangan 
sampai menunggu bencana yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita. 
Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat diterima!


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke