> Rekan-rekan sekalian, 
> 
> 
> Berikut ini saya postingkan dua artikel
> Gali Kata Alkitab 
> 
> (Edisi 61): "Menjauhi"
> Kejahatan; dan
> (Edisi 62): Tuhan
> "Sendiri"  Menuntun UmatNya
> 
> 
>   
> 
> Kami mohon maaf terjadi keterlambatan
> pengiriman, karena ada hambatan dari Yahoo!Mail. 
> 
>   
> 
> Harap artikel ini menjadi berkat bagi
> kita sekalian.  
> 
>   
> 
> Artikel ini dan artikel sejenis dapat Anda
> akses di alamat berikut ini:  
> 
> http://herysa.blog.friendster.com/
> 
> 
> http://www.sabdaspace.org/menjauhi_kejahatan_gali_kata_alkitab_dalam_tinjauan_tulisan_ibrani_kuno
> 
> 
> http://www.sabdaspace.org/tuhan_sendiri_menuntun_umatnya_gali_kata_alkitab_dalam_tinjauan_tulisan_ibrani_kuno
> 
> 
> Apabila Bapak/Ibu ingin mengetahui
> lebih lanjut tentang pelayanan ini, dapat menghubungi
> melalui email. 
> 
>   
> 
> Tuhan Yesus memberkati.
> Salam,  
> 
> herysa  
> -------------------------------------------------
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Gali Kata
> Alkitab 
> 
> Rubrik 
> ini menyediakan artikel yang berisi makna
> suatu kata dalam Alkitab yang diteliti dengan menggali akar
> kata dalam bahasa
> Ibrani Kuno. Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan
> pengembangan dari
> artikel pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang
> disebarkan setiap hari
> Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari
> telepon selular
> nomor  085294397157,
> 08987403198,
> dan 08986864954
> atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata
> Alkitab” –yang disebarkan
> melalui e-mail ini -- mempostingkan satu artikel seminggu
> sekali setiap hari
> Kamis. Artikel yang sama disebarkan juga melalui blog
> dengan alamat:  http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata  dan 
> http://www.sabdaspace.org/blog/hery_setyo_adi
>  Harap artikel-artikel ini
> menjadi berkat
> bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati. 
> 
> Pelayanan via E-mail  
> 
> Edisi 61: Kamis, 7 Mei
> 2009 
> 
> “Menjauhi”
> Kejahatan 
> 
> Dalam
> Alkitab, ada julukan khusus yang diberikan Allah kepada
> Ayub. Julukan itu dua
> kali disampaikanNya, yaitu dalam Ayub 1:8 dan 2:3.
> Sedemikian kuatnya julukan
> yang diberikan Allah kepada Ayub itu, sehingga penulis
> kitab Ayub pun, yaitu
> Ayub sendiri, memperkenalkan dirinya dengan julukan yang
> Allah berikan itu
> (1:1). “Menjauhi kejahatan” adalah salah satu julukan
> itu, di samping julukan
> lain: “saleh”, “jujur”, dan “yang takut akan
> Allah.” 
> 
> Apa makna kata
> “menjauhi” ditinjau dari tulisan Ibrani
> kuno? 
> 
> Kata “menjauhi”
> berpadanan dengan kata sur  (dibentuk dengan susunan konsonan dan
> tanda
> bunyi hidup Ibrani: Samekh-Sureq-Resh atau Sin-Sureq-Resh).
> Kata sur ini diturunkan dari akar-kata induk
> SR (Samekh-Resh). Sebelum menjadi tanda bunyi seperti
> sekarang ini, setiap
> huruf Ibrani merupakan suatu gambar dan melambangkan ide
> tertentu, termasuk
> huruf Samekh dan Resh. Hal ini dapat dilacak melalui sistem
> tulisan-gambar
> (piktograf) Ibrani kuno. 
> 
> Huruf Samekh dalam
> piktograf Ibrani kuno adalah gambar duri yang melambangkan
> suatu putaran atau
> belokan, sedangkan huruf Resh adalah gambar kepala.
> Gabungan dua gambar
> tersebut berarti “memutar kepala”. Putaran kepala ke
> arah lain. Atau, kesadaran
> memutar pandangan. 
> 
> Dalam lapangan kehidupan
> petani-peternak, masyarakat Ibrani 
> akrab
> dengan tanaman berduri. Tanaman tersebut antara lain
> dipakai sebagai pelindung
> ternak dari serangan binatang buas. Jika binatang buas mau
> menyerang ternak
> yang ada di dalam kawasan yang berpagar tanaman berduri,
> maka ia akan mencari
> celah untuk masuk. Tapi, ia tidak menemukannya. Karena itu,
> ia hanya
> mengitarinya dan pergi dari kawasan itu. Jika binatang buas
> itu nekat menerobos pagar tanaman berduri
> itu, maka ia akan mengalami luka-luka pada tubuhnya. Itu
> berbahaya bagi
> dirinya. 
> 
> Dengan demikian kata sur, yang diterjemahkan “menjauhi”,
> berarti memutar pandangan (dan arah berjalan) 
> karena ada bahaya di depannya. 
> 
> Frase “menjauhi
> kejahatan” berarti memutar pandangan dan arah berjalan
> terhadap kejahatan,
> karena kejahatan yang ada di depannya itu berbahaya.
> Seorang yang “menjauhi
> kejahatan” berarti ia tidak mau menerobos masuk ke dalam
> kejahatan. Ia memutar
> arah atau berbelok dari jalan kejahatan. 
> Ayub adalah orang yang dikatakan Allah “menjauhi
> kejahatan” itu. 
> 
> Alkitab menjelaskan
> bahwa menjauhi kejahatan adalah akal budi (Ayub 28:28),
> ciri orang bijak (Amsal
> 14:16), akibat orang yang takut akan Tuhan (16:6), dan
> identitas orang jujur
> (16:17). Di sini jelas, seorang yang menjauhi kejahatan ada
> di pihak Allah.
> Menjauhi kejahatan adalah menjauhi bahaya. 
> 
> Memang tidak dipungkiri,
> seorang yang menjauhi kejahatan bukannya tanpa resiko.  Ia bisa menjadi 
> korban di tempat yang hukum dan kebenaran
> tidak berlaku (Yesaya 59:15). Ia menjadi musuh bagi orang
> yang berdosa.
> Sehingga, orang yang menjauhi kejahatan pun mendekati
> bahaya dalam pandangan
> orang berdosa.  Bukankah kita
> membaca
> berita atau menonton film tentang seorang yang keluar dari
> mafia obat bius
> justru ia menemukan ajalnya di tangan para mafia itu?
> Betapa berbahayanya menjauhi
> kejahatan itu!  Sekalipun
> demikian,
> menjauhi kejahatan adalah benar dalam pandangan
> Allah. 
> 
> Belajar dari
> Ayub 
> 
> Ayub secara bertubi-tubi
> mengalami penderitaan dan kesusahan hidup akibat pencobaan
> iblis. Iblis mau
> membuktikan bahwa Ayub takut akan Allah karena Allah
> memberinya kekayaan (Ayub
> 1:9-11). Setelah Ayub kehilangan semua harta benda dan
> anak-anaknya (ayat
> 13-19),  ia sujud menyembah
> Allah (ayat
> 20). Ia memberikan pernyataan yang sangat mengesankan:
> Katanya: "Dengan telanjang aku
> keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan
> kembali ke
> dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil,
> terpujilah nama
> TUHAN!" (ayat 21).  
> 
> Penulis
> kitab Ayub ini memberikan kesimpulan: “Dalam kesemuanya
> itu Ayub tidak berbuat
> dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut”
> (ayat 22). Iblis salah
> menilai Ayub.   
> 
> Iblis
> tidak puas dengan pencobaannya terhadap Ayub. Ia lanjutkan
> dengan meminta
> Tuhan: “Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah
> tulang dan dagingnya,
> ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu" (Ayub 2:5).
> Dan Tuhan mengijinkan
> iblis:”Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah,
> ia dalam kuasamu;
> hanya sayangkan nyawanya" (ayat 6). 
> 
> Ayub
> memang mengalami penderitaan fisik (2:7-8). Istrinya yang
> mestinya menjadi
> penolong, ternyata tidak meneguhkan penilaian Ayub terhadap
> tindakan Allah. “Maka
> berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah
> engkau dalam
> kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (ayat 9).
> Dalam perkara ini
> pun Ayub tetap berkata benar: Jawab Ayub kepada istrinya:
> "Engkau berbicara
> seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik
> dari Allah, tetapi
> tidak mau menerima yang buruk?" (ayat 10a).
>  
> 
> Penulis
> kitab Ayub kembali memberikan kesimpulan: “Dalam
> kesemuanya itu Ayub tidak
> berbuat dosa dengan bibirnya” (ayat 10b). Dan, akhir dari
> kisah ini pun, Ayub
> dinilai benar oleh Allah (bandingkan 42:7). Iblis terbukti
> salah dalam menilai
> Ayub. Sebaliknya, Allah benar dalam menilainya. JulukanNya
> bahwa Ayub “menjauhi
> kejahatan” di samping julukan-julukan lain, terbukti
> benar. 
> 
> Seorang “menjauhi
> kejahatan” karena ia berakal budi (Ayub 28:28), bijak
> (Amsal 14:16), dan takut
> akan Tuhan (16:6). 
> 
> (Artikel ini ditulis
> oleh Hery Setyo Adi 
> yang menggunakan berbagai sumber
> sebagai bahan  
> 
> rujukan)
> 
> 
> 
> ---------------------------
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Gali Kata
> Alkitab 
> 
> Rubrik 
> ini menyediakan artikel yang berisi makna
> suatu kata dalam Alkitab yang diteliti dengan menggali akar
> kata dalam bahasa
> Ibrani Kuno. Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan
> pengembangan dari
> artikel pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang
> disebarkan setiap hari
> Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari
> telepon selular
> nomor  085294397157,
> 08987403198,
> dan 08986864954
> atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata
> Alkitab” –yang disebarkan
> melalui e-mail ini -- mempostingkan satu artikel seminggu
> sekali setiap hari
> Kamis. Artikel yang sama disebarkan juga melalui blog
> dengan alamat:  http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata  dan 
> http://www.sabdaspace.org/blog/hery_setyo_adi
>  Harap artikel-artikel ini
> menjadi berkat
> bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati. 
> 
> Pelayanan via E-mail  
> 
> Edisi 62: Kamis, 15 Mei
> 2009 
> 
> Tuhan “Sendiri” Menuntun
> UmatNya 
> 
> “Demikianlah
> TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing
> menyertai dia” (Ulangan
> 32:12). 
> 
> Kata “sendiri”
> diterjemahkan dari  kata dalam
> bahasa
> Ibrani badad (dibentuk dengan susunan
> konsonan dan tanda bunyi Ibrani: Bed dagesh
> lene-Qames-Dalet-Patah-Dalet). Kata
> badad diturunkan dari akar-kata induk
> BD (Bed-Dalet). 
> 
> Apa makna kata badad
> ditinjau dari akar kata induknya
> dalam tulisan Ibrani kuno? Pada awalnya, huruf-huruf
> Ibrani  bukanlah lambang bunyi
> sebagaimana yang
> dikenal dalam sistem tulisan Ibrani modern. Huruf-huruf
> tersebut, yang semula
> berupa gambar (piktograf), merupakan simbol dari suatu
> benda kongkret,
> tindakan,  atau pun ide
> abstrak.  Huruf Bed dan Dalet
> juga merupakan suatu
> gambar yang masing-masing melambangkan sesuatu. 
> 
> 
> Huruf Bed adalah gambar
> denah ruang bagian dalam tenda. Gambar denah ini antara
> lain melambangkan tenda
> atau rumah. Sedangkan huruf Dalet adalah gambar pintu tenda
> dan antara lain
> melambangkan tenda. Gabungan dua gambar tersebut berarti
> “pintu tenda.” 
> 
> Apa
> hubungan antara kata “sendiri” dengan “pintu
> tenda”? Dalam budaya Ibrani masa
> lalu, seorang ayah atau bapak seringkali duduk sendiri di
> pintu tenda. Di sini
> ia dapat berteduh  dari terik
> matahari,
> mengamati rumah tangganya dan mengamati jalanan terhadap
> orang asing yang
> mendekat. Hanya seorang ayahlah yang biasa (atau mungkin
> yang berhak) duduk di
> tempat itu. Ia duduk sendirian di situ. Abraham, misalnya, duduk di
> pintu kemahnya pada waktu hari panas terik ketika Tuhan
> menampakkan diri di
> dekat pohon tarbantin. Di situ juga ia melihat tiga orang
> berdiri di depannya,
> sehingga ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka
> (lihat Kejadian
> 18:1-2). 
> 
>    
> 
>    
> 
> Dengan demikian kata
> “sendiri” (badad) pada awalnya
> berarti seseorang yang berada pada posisi seorang diri dan
> terpisah dari
> keseluruhan untuk melakukan sesuatu hal. Bahkan, orang
> itulah yang paling
> berhak menempati posisi itu. 
> 
> Tuhan tidak
> Mewakilkan PenyertaanNya 
> 
> Ulangan 32 mengajar dan
> menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah mewakilkan atau bahkan
> menyerahkan kepada
> pihak lain penyertaan bagi umatNya. Namun demikian, umat
> itu memberontak dan
> menimbulkan cemburuNya. Musa mau bangsa itu menghormati
> Tuhan dan mengajar
> anak-anaknya agar taat kepada Taurat Tuhan. 
> 
> Marilah kita 
> melihat ayat 9-11!  
> 
> 9
> Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang
> ditetapkan
> bagi-Nya.  10
> Didapati-Nya dia
> di suatu negeri, di padang gurun, di
> tengah-tengah ketandusan dan auman padang 
> belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya
> sebagai biji
> mata-Nya.  11 Laksana
> rajawali
> menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas
> anak-anaknya,
> mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya
> di atas
> kepaknya,   
> 
> Musa
> memberi kesimpulan terhadap perbuatan Tuhan itu:
> “Demikianlah TUHAN sendiri
> menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia”
> (ayat 12). 
> 
> Tuhan
> berada dalam posisi sendiri menuntun umatNya. Ia tidak
> mewakilkan atau bahkan
> menyerahkan kepada pihak lain penyertaanNya. Sebagaimana
> seorang bapak yang
> mengamati sendiri rumah tangganya, begitulah Tuhan menuntun
> umatNya. Ia
> mengelilinginya, mengawasinya, dan menjaganya sebagai biji
> mataNya. Seperti
> juga seorang bapak yang berhak duduk di pintu kemahnya
> mengawasi miliknya,
> begitu juga Tuhan menuntun sendiri umatNya karena ia
> milikNya. 
> 
> Karena
> itu menjelang matinya, Musa membekali Israel dan meminta
> agar mereka
> menghormati Allah (ayat 3). Dia mau agar bangsa itu setelah
> memasuki tanah yang
> dijanjikan Tuhan dapat mengajarkan TauratNya itu kepada
> anak-anaknya agar lanjut
> umurnya di negeri itu (ayat 46-47). 
> 
> Mengapa?
> Sebab Musa tahu persis kelakukan orang tua mereka, yakni
> berlaku busuk,
> bernoda,  angkatan yang bengkok,
> dan
> berbelat-belit (ayat 5). Mereka adalah bangsa yang bebal
> dan tidak bijaksana
> (ayat 6).Mereka meninggalkan Allah (ayat 15). Mereka
> mempersembahkan korban
> kepada roh-roh jahat (ayat 17), Mereka anak-anak yang tidak
> mempunyai kesetiaan
> (ayat 20). 
> 
> Implikasi 
> 
> Kita
> yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan
> Juruselamat secara pribadi
> adalah milikNya. Karena itu percayalah bahwa Dia tidak
> mewakilkan penyertaanNya
> kepada pihak lain. Tuhan sendirilah yang menuntun kita.
> Bukankah Matius 28:20
> Tuhan Yesus sendiri menegaskan : “…Aku menyertai kamu
> senantiasa sampai kepada
> akhir zaman”? 
> 
> (Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi  yang
> menggunakan berbagai sumber
> sebagai bahan  
> 
> rujukan) 
>


      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke