waduh .. tiap pagi saiia kan suka mum susu ... ?????

2009/6/25 mei soerjadi <[email protected]>

>
>
>
>
>
>
> CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
> individual or entity to whom it is addressed and contains information that
> is
> privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not
> the
> intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
> communication. If you have received this communication in error, please
> notify
> us immediately by return email and delete the original message.
>
>
>
>
>
> >
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: jenny andry <[email protected]>
> To: undisclosed recipients: ;
> Date: Wed, 24 Jun 2009 03:39:27 -0700 (PDT)
> Subject: FW: Jangan Minum Susu... !!!
>
>
> --- On *Wed, 6/24/09, Finkalia <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Finkalia <[email protected]>
> Subject: FW: Jangan Minum Susu... !!!
> To: "yohanes andri" <[email protected]>, "jenny andry" <
> [email protected]>, [email protected]
> Date: Wednesday, June 24, 2009, 10:54 AM
>
>
>
> --- On *Mon, 6/22/09, Haryati <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Haryati <[email protected]>
> Subject: FW: Jangan Minum Susu... !!!
> To: "Haryati" <[email protected]>
> Date: Monday, June 22, 2009, 2:50 PM
>
>
>
>
>
> [image: monkey]
>
> Regards,
>
> Haryati
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> The Miracle of Enzyme Self-healing Program (Hard cover)
>
> Oleh: Dr. Hiromi Shinya
>
> ISBN : 9789793269795
> Rilis : 2008
> Halaman : 304p
> Penerbit : Mizan
> Bahasa : Indonesia
> Harga : Rp.84.000
>
>
> Catatan Dahlan Iskan tentang Buku Miracle of Enzyme
>
> Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan untuk Manusia
>
> Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu
> -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah
> tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti
> menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
>
> “Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr
> Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme
> (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang
> sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk
> manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi
> yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia,
> katanya.
>
> Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi
> penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika
> masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi
> dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas
> usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal
> dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa
> mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat.
> Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan
> tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu
> mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.
>
> Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka
> di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan
> tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun.
> Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia
> sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika
> dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya
> sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.
>
> Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian.
> Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan
> dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti
> yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu
> itu antara lain susu dan daging.
>
> Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan
> makanan/minuman yang “jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul,
> bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet
> gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus.
> Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat
> bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
>
> Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan
> kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya
> kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya,
> pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel
> radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan,
> makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang
> menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan
> menimbulkan penyakit lagi.
>
> Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia
> hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan
> yang masuk ke perut.
>
> Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa,
> keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita
> menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak
> makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita.. Itu berarti
> bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari
> seluruh makanan yang kita perlukan.
>
> Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang
> kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak “lomba lari” oleh
> mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang
> tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.
>
> Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan
> itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang
> agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih
> penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna.
> Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik.
> Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah
> sempat diserap usus lebih dulu.
>
> Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan.
> Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah
> makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur
> itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya
> diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda,
> dan tidak akan gembrot.
>
> Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah
> diberi “modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang
> tersimpan di dalam “lumbung enzim-induk” . Enzim-induk ini setiap hari
> dikeluarkan dari “lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim
> sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke
> perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah
> habisnya enzim di lumbung masing-masing.
>
> Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan
> langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah
> dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan
> segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama
> terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau
> lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun
> demikian.
>
> Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah
> persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau
> makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau
> makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi,
> katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu
> memerlukan enzim yang banyak.
>
> Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah.
> Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi
> keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang.
> Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari
> lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu
> harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras
> lumbung enzim.
>
> Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu
> dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah
> sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga
> makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa.
> Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan “jelek” itu masuk ke
> dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.
>
> Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan “pengobatan” seperti itu.
> Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan
> dengan “pengobatan” alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta
> mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan.
> Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang
> sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara
> keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab
> pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis
> lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang
> sesungguhnya.
>
> Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa
> 50 persennya.. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi
> sebulan ke depan.
>
> Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan
> makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah
> senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa
> membuat enzim-induk bertambah.
>
>
>
>
>
>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image001.jpg>>

<<inline: moz-screenshot-1.jpg>>

Kirim email ke