----- Original Message ----- 
From: Mujiarto Karuk 





      Assalamualaikum Wr Wb




      Bismillahirrohmaanirrohiim


       


      Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan 
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini 
justru sebaliknya. 





      Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini 
justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah 
energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. 

       

      Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak 
laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali 
kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil 
memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" 






      KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA 

       

      Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu 
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan 
hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. 





      Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang 
selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan 
sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang 
ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu 
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat 
menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" 

       

        
      KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA 

       


      Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, 
ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, 
dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan 
hidup. 





      Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu 
masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya 
menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi 
ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku 
tidak capek" 







      KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA 

       

      Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi 
ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar 
dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. 





      Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan 
segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang 
dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih 
sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera 
memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah 
nak, aku tidak haus!" 

       

        
      KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT 

       

      Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap 
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus 
membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah 
dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. 





      Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik 
hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun 
masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang 
begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu 
yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya 
tidak butuh cinta" 

       

        
      KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA 

       

      Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan 
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia 
rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi 
kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering 
mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu 
bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang 
tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" 





      KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM 

       

      Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian 
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah 
beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. 
Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati 
hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan 
anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" 

       


      KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH 

       

      Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, 
harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik 
langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang 
terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan 
sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. 





      Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit 
yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh 
ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku 
sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam 
kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis 
anakku, aku tidak kesakitan" 

       



      KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN 

       

      Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup 
matanya untuk yang terakhir kalinya. 

       

      Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa 
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba 
dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? 
Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan 
ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu 
mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. 
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah 


      Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar 
kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah 
makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. 





      Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas 
apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia 
atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di 
waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah 
yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.




      Dan Semoga dapat menjadikan nasehat dan bermanfaat untuk kita semua.

     



__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Database | Calendar 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
  a..  4New Members
Visit Your Group 
Give Back
Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar
Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups
Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.
. 

__,_._,___
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke