*RASA MEMILIKI

*
Eileen Rachman & Sylvina Savitri EXPERD

*ASESSMENT CENTER***

*Ditayangkan 4 Juli 2009*

Dalam sebuah rapat di perusahaan klien, terjadi ketegangan menghadapi
kerugian yang tidak bisa terelakkan. Pelanggan menuntut ganti rugi,
sementara perusahaan harus mengeluarkan banyak uang bila meluluskannya. Saat
tanggung jawab terasa tidak seratus persen di tangan diri pribadi atau
divisi, semua orang diam, tidak berinisiatif mengambil risiko. Tidak ada
yang berusaha mengambil kendali yang pada dasarnya adalah akuntabilitas
bersama.

Pada saat-saat seperti ini, barulah terasa bahwa seringkali  ada beban
tanggung jawab yang lebih besar dan lebih luas menghadang di depan mata.
Kita punya pilihan: Apakah akan diam di saat perusahaan terancam? Apakah
pada saat perusahaan krisis, kita sekedar ingin menjadi komponen atau
berdiri di depan? Apakah anak buah korupsi, ada atasan muncul dan
mengakuinya sebagai kesalahan dirinya yang kurang pengawasan? Apakah saat
terjadi ambruknya jembatan, ada pejabat yang tidak sekedar membuat alasan
dan penjelasan, tapi langsung menyatakan rasa bersalah? Kekuatan memilih
untuk memperbesar beban tanggung jawab dan memperluas jangkauan
akuntabilitas inilah yang sering disebut-sebut orang sebagai ‘rasa memiliki’
atau ‘*sense of belonging*’.

*Menguji Sense of Belonging*

‘Rasa memiliki’ bisa terasa dan teruji dalam banyak situasi. Melalui
kampanye dan kelompok-kelompok yang punya kesamaan rasa dan pemikiran
misalnya, kita lihat beramai-ramai orang mendukung aksi: “Aku bangga jadi
orang Indonesia”. Di perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi dan
produktivitas, banyak pihak bersuara lantang dalam meeting dan *
brainstorming* mengenai solusi, inovasi, kebijakan dan cara bagi tim dan
perusahaan untuk bisa tetap kompetitif. Ini memang ekspresi rasa memiliki.
Namun, rasa memiliki yang lebih jauh, justru teruji bila kesalahan,
kerugian, resiko besar juga “dimiliki” individu secara konkrit, dalam bentuk
tindakan.

Slogan-slogan  perlu teruji dengan realita betapa kita langsung menyingsingkan
lengan baju membantu korban bencana tanpa banyak analisa dan komentar. Dalam
situasi keuangan perusahaan yang seret, apa reaksi kita saat gaji dipangkas
dan fasilitas dipotong? Saat dibutuhkan untuk berkorban, misalnya anggaran
unit dipotong, fasilitas dipangkas, terkadang keluar pernyataan: ‘Kenapa S
aya?’. Individu yang punya *ownership* yang baik, sebetulnya akan spontan
berkata: ‘Kalau bukan saya, siapa lagi?’ Di sinilah kebesaran jiwa,
keberanian akan tercermin dalam akuntabilitas yang otomatis, tanpa pikir
panjang.

*Haruskah Menyalahkan Cuaca?*

Sebuah perusahaan yang sedang menggalakkan program kepemimpinan, mengeluhkan
macetnya program pengembangan karyawan. Saat didiskusikan akar
permasalahannya, banyak karyawan menyebutkan bahwa pimpinan perusahaan yang
sangat dominan, cerdas, jeli namun tidak banyak mengayomi-lah yang
menyebabkan buruknya situasi. Banjir keluhan bahkan komentar sinis yang
sedikit-sedikit ditujukan ke pimpinan perusahaan, akhirnya berdampak buruk
terhadap pengembangan individu  sendiri. Dengan berfokus pada buruknya
situasi, pusat kontrol dalam diri individu terhambat. Individu cepat merasa
tidak berdaya. Sebagai akibat, motor yang menggerakkan diri untuk merasakan
‘*sense of urgency*’ serta ambisi untuk menjadi lebih baik, lumpuh.

Kita memang bisa menyalahkan cuaca, membaca ‘angin’ dan mencium atmosfir,
tetapi motor penggerak dalam diri kita sebagai individu perlu kita hidupkan
bahkan kita optimalkan agar tidak aus. Mencari kambing hitam dalam situasi
bekerja ataupun dalam hubungan suami isteri, justru menutup kemungkinan kita
untuk mengembangkan diri secara jangka panjang.

*Mengaku Salah, bukan Mengaku Kalah*

Saat Alan Greenspan didesak di hadapan Kongres Amerika dan secara langsung
ditanya: “*Apakah Anda bersalah*?” atas terjadinya krisis global, ia
menjawab: “*Ya**,** sebagian saja*”. Kita lihat betapa pamornya yang
bertahun-tahun dikagumi dunia karena pemikiran-pemikirannya yang cemerlang,
sirna karena jawabannya yang seakan berusaha tidak mengalokasikan
kesalahannya lebih lebar daripada tindakan kongkritnya. Andaikan saja
seorang bernama  besar seperti itu bisa mengambil tanggung jawab dan
menganggap bahwa krisis sebagian besar adalah kesalahannya, dunia justeru
akan lebih bersimpati dan menghormatinya. Pengakuan atas kesalahan pribadi
atau kelalaian, tidak sekonyong-konyong menjatuhkan pamor, malahan bisa
menjadi tindakan ksatria yang bisa membangun kredibilitas, rasa percaya dan
bisa membawa tim untuk mengambil tindakan perbaikan diri bersama. Rasa
memiliki bukan saja terasa kalau lembaga atau Negara sedang aman-aman saja,
tapi justru pada saat seseorang memilih untuk  maju dan mengatakan :”Ini
salah saya”.

Mengaku salah, kadang berat karena seolah-olah mengaku kalah. Namun, pasang
badang mengaku salah, sebenarnya sangat erat hubungannya dengan ‘*sense of
belonging*’ yang sering didengung-dengungkan orang. Kita lihat betapa banyak
pimpinan atau mantan pimpinan berlomba-lomba mengklaim sukses yang ia buat
di masanya, namun saling lempar tanggung jawab bila diangkat mengenai
kesalahan kebijakan atau pengambilan keputusan yang ia buat.

Bila seseorang bisa mengakui kesalahan, ia secara otomatis akan lebih
berupaya mengambil tindakan atas masalah yang berada dalam ‘jangkauannya’,
lebih bebas mengalokasi perbaikan dan mengganti arah untuk sukses
selanjutnya. Tentu saja permintaan maaf juga tidak kita harapkan tanpa
penghayatan, tanpa ketulusan atau bahkan sebagai suatu alat untuk
menghindari terbukanya kesalahan yang lebih dalam. Permintaan maaf, terutama
yang keluar dari seorang pemimpin adalah bukti atau praktik penalarannya.
Dibuka dengan pernyataan pengakuan atas tanggung jawabnya, seorang pemimpin
sebetulnya lebih mudah mengelola resiko, membuka pikiran orang di
sekitarnya, membuka diskusi yang lebih dalam, terbuka dan jujur demi
“*corrective
actions*”.

EXPERD CONSULTANT
*Adding value to business results*
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
*http://www.experd.com*



**

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: clip_image002.jpg>>

Kirim email ke