Thank's to Om Budhi 





Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran
By Republika Newsroom
Senin, 13 Juli 2009 pukul 13:53:00 

Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah 
Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan 
bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran 
tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah 
Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak 
Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang 
sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang 
selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya 
oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di 
Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam 
penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik 
bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L'Eveque, Prancis, pada 
19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 
sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter 
keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota 
keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk 
dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan 
ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La 
Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia 
mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. 
Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, 
mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh 
kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja 
Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam 
yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah 
mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian 
dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang 
profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang 
lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang 
diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun 
dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan 
judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, 
Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima 
penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari 
Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie 
Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara 
rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ''Jangan 
tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang 
tenggelamnya mumi ini''. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan 
keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui 
kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang 
mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini 
umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian 
diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan 
bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi 
tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada 
ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal 
tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa 
Alquran--kitab suci umat Islam--telah membicarakan kisah Firaun yang 
jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan 
tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak 
membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus 
memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ''Apakah masuk akal mumi di depanku ini 
adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad 
mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?''

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat 
(Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ''Airpun 
kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh 
tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak 
tertinggal satu pun di antara mereka''.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak 
membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. 
Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis 
mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan 
yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak 
ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa 
kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat 
tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari 
kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan 
peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan 
yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam 
dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya 
membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang 
artinya: ''Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat 
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya 
kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.'' (QS 
Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran 
tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan 
getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya 
menyeru dengan lantang: ''Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan 
Alquran ini''.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada 
saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk 
meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern 
dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan 
Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, 
Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La 
Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi 
best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan 
ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu 
pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. 
Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan 
penurunannya diragukan. dia/sya/berbagai sumber


http://www.republika.co.id/berita/61915/Maurice_Bucaille_tak_Ragu_dengan_Kebenaran_Alquran

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<image/jpeg>>

Kirim email ke