السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها

SEMOGA BERMANFAAT,
wass....zainal

KETIKA MUSIBAH MENIMPA

Apabila musibah menimpa kita, maka kita harus segera mengambil sikap agar 
beban menjadi ringan bahkan menjadi rahmat. 
Pertama, apabila ditimpa musibah hendaknya kita membaca ’innaa lillaahi 
wainnaa ilaihi raaji’uun’ (“Sessungguhnya kita milik Allah dan 
kepadaNyalah kita akan dikembalikan”). Allah Ta’ala berfirman, “yaitu 
orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengucapkan “innaalillaahi 
wa-innaa ilaihi raaji’un”. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba 
ditimpa musibah lalu beristirjaa’ niscaya Allah Ta’ala akan memberi 
ganjaran pada musibahnya dan akan menggantikannya dengan yang lebih baik 
darinya”. (HR.Muslim) 
Ucapan istirjaa’ mengandung pengertian bahwa diri kita, keluarga dan harta 
benda adalah milik Allah Ta’ala. Ketika kita lahir, kita tidak memiliki 
apa-apa. Demikian pula sampai kita meninggal nanti kita tidak akan membawa 
apa-apa. Semua itu akan kita tinggalkan dan kita tidak akan membawa 
sesuatu, kecuali amal shalih kita. Karena itu, persiapan diri adalah 
mutlak untuk menghadapi hari tersebut. 
Kedua, hendaknya kita yakin dengan takdir Allah Ta’ala baik dan buruknya. 
Ini penting, karena keyakinan dengan rukun iman yang keenam ini akan 
meringankan beban kita. Iman kepada takdir memberi kita semacam ‘kekebalan 
dini’ dengan kesadaran sedalam-dalamnya bahwa segala sesuatu yang telah, 
sedang dan akan terjadi itu telah tertulis di lauh al-mahfuzh. Dengan 
demikian, apapun yang menimpa kita tetap berada di dalam bingkai 
kesadaran, sehingga musibah akan terasa lebih ringan. Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam do’anya yang terkenal, 
“…anugrahkanlah pada kami keyakinan yang menjadikan musibah terasa 
ringan…”. (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim). 
Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Tiada satu bencanapun yang menimpa di 
muka bumi dan tidak pula pada dirimu kecuali telah tertulis pada kitab 
sebelum kami menciptakannya. Sunggguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. 
Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan agar 
kamu tidak terlalu gembira dengan apa yang diberikan Allah padamu. Dan 
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri”. 
(QS. Al-Hadiid: 22-23) 
Ketika ada hal-hal yang luput, mengalami penderitaan, menghadapi 
kesulitan, kita tidak terlalu bersedih hati dan menjadikan kita 
berprasangka buruk kepada Allah. 
Ketiga, hendaknya kita bersyukur karena musibah yang menimpa kita tidaklah 
lebih besar dari yang menimpa orang lain. Begitu banyak orang yang 
mendapatkan musibah jauh lebih mengenaskan daripada kita. Seberat apapun 
musibah dunia yang menimpa kita, yakinlah masih ada lagi yang lebih berat. 
Tidak sedikit orang yang sebenarnya terkena musibah tapi dia tidak 
menyadarinya, yakni’ tertimpa musibah dalam agamanya. Yang mengherankan 
adalah tidak sedikit orang terjatuh pada musibah agama (musibah diniyah), 
namun ia sedikitpun tidak merasa sedih. Terjatuh pada perzinahan, makan 
riba, membunuh jiwa yang tidak halal, pergi ke dukun atau tukang ramal dan 
membenarkannya adalah di antara musibah diniyah, bahkan yang terakhir bisa 
menggelincirkan pelakunya dari Islam.. Itulah sebabnya Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita sebuah do’a agar kita tidak 
terjerumus musibah ini. Dalam do’anya beliau bersabda, “Ya Allah jangan 
engkau jadikan musibah kami dalam agama kami”. (HR. Tirmidzi dan Hakim) 
Keempat, hendaknya kita sedapat mungkin tidak berkeluh kesah, menggerutu 
atas musibah yang melanda kita. Sebab itu semua tidak akan mengembalikan 
apa yang telah hilang. Berkeluh kesah juga menunjukkan seseorang tidak 
ridha dengan takdir Allah Ta’ala. Bagi mereka yang menjaga shalatnya, 
menjaga kehormatannya, menunaikan zakat, beriman kepada Allah Ta’ala dan 
Hari Kemudian, maka tidak akan berkeluh kesah. Mengeluh kepada manusia 
juga tidak tidak memberi banyak manfaat, karena bisa menodai kesabaran dan 
keridhaan. Para salafus shalih jika mereka ditimpa musibah sekecil apapun, 
ia langsung mengeluhkannya kepada Allah. Bahkan di antara mereka ada yang 
mengeluh kepada Allah karena tali sendalnya putus. Kalau musibah mereka 
tergolong berat, seperti kematian anak, orang tua, kerabat dan lain-lain 
mereka berusaha menyembunyikannya dan tidak mengabarkannya kecuali untuk 
urusan memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya. 
Kelima, kita harus yakin bahwa apa yang menimpa jika kita sabar dan ridha, 
maka Allah Ta’ala pasti memberikan gantinya. Allah Ta’ala akan memberi 
kenikmatan, berkah, kelezatan, kebaikan yang berlipat ganda. Bahkan 
musibah yang melanda akan menghapuskan dosa-dosa dan akan menyucikan 
jiwa-jiwa kita. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Mereka itulah yang akan 
mendapatkan shalawat dari Tuhannya, rahmat dan mereka itulah orang-orang 
yang mendapatkan petunjuk” . (QS. al-Baqarah: 157).
 
Semoga kita menyikapi setiap bencana yang menimpa kita dengan baik dan 
benar. Sabar dan ridho serta selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, insya 
Allah kita akan mendapatkan kelezatan iman. 
Oleh : Fariq bin Gazim Anuz 
Sumber : Hikmah dibalik Musibah


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke