---

"Edwin " 





Subject
FW:  Lailatul Qadar dan I’tikaf






Lailatul Qadar dan I’tikaf
Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. 
Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu 
‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.
Bersemangatlah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan
Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. 
Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat 
yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di 
dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu 
suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu 
bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut 
dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.
Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha- 
berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ 
الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada 
sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di 
waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ 
مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir 
(bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para 
istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan 
membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Maka perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita! Lihatlah, 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah malah mengisi hari-hari 
terakir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk 
persiapan lebaran (hari raya). Yang beliau lakukan adalah 
bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al 
Qur’an, dzikir, sedekah dan lain sebagainya. Renungkanlah hal ini!
Keutamaan Lailatul Qadar
Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini 
terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah 
melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah 
Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala 
berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ 
(3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang 
diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam 
itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)
Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar 
sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” 
(QS. Al Qadar [97]: 1)
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ 
وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ 
حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun 
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur 
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. 
Al Qadar [97] : 3-5)
Catatan: Perhatikanlah bahwa malam keberkahan tersebut adalah lailatul 
qadar. Dan Al Qur’an turun pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah 
Ta’ala,
شَهْرُ رَمَضَانَ الذي أُنْزِلَ فِيهِ القرآن
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di 
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)
Maka sungguh sangat keliru yang beranggapan bahwasanya Al Qur’an itu turun 
pada pertengahan bulan Sya’ban atau pada 17 Ramadhan lalu diperingati 
dengan hari NUZULUL QUR’AN. Padahal Al Qur’an itu turun pada lailatul 
qadar. Dan lailatul qadar -sebagaimana pada penjelasan selanjutnya- 
terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Renungkanlah hal ini!
Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi ?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, 
sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” 
(HR. Bukhari)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan 
daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ 
مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di 
bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih 
memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – 
فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ 
الْبَوَاقِى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa 
keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” 
(HR. Muslim)
Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh 
tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun 
pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana 
dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi 
pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya 
berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi 
pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya 
terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah 
Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa 
sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ 
فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada 
sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)
Catatan: Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam 
lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang 
sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. 
Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan 
bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah 
agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian 
mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala 
yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh 
keberkahan ini. Amin Ya Sami’ad Da’awat.
Do’a di Malam Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih 
do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu 
‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau 
radhiyallahu ‘anha berkata,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ 
لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ 
عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »
“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui 
suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” 
Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa 
fa’fu anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha 
Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan 
Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Ash Shohihah)
Tanda Malam Lailatul Qadar
[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً 
تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu 
panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah 
dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan 
periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)
[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan 
tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan 
pada hari-hari yang lain.
[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi 
pada sebagian sahabat.
[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada 
sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 
bersabda yang artinya, “Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari 
terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” 
(HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)
I’tikaf dan Pensyari’atannya
Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan) 
untuk melakukan i’tikaf. Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada setiap 
Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf 
selama 20 hari. (HR. Bukhari)
Lalu apa yang dimaksud dengan i’tikaf? Dalam kitab Lisanul Arab, i’tikaf 
bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan 
dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut 
mu’takifun atau ‘akifun. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/150)
Dan paling utama adalah beri’tikaf pada hari terakhir di bulan Ramadhan. 
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai 
Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah beri’tikaf di 10 hari 
terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan 
Ramadhan. (HR. Bukhari & Muslim)
I’tikaf Harus di Masjid dan Boleh di Masjid Mana Saja
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah 
Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam 
masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)
Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu 
juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah 
sama sekali.
Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena 
keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam 
masjid”.
Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, “Tidak ada i’tikaf 
kecuali pada tiga masjid”, hadits ini masih dipersilisihkan apakah 
statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151)
Wanita Juga Boleh Beri’tikaf
Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk 
beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)
Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: [1] 
Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi 
laki-laki). (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151-152)
Waktu Minimal Lamanya I’tikaf
I’tikaf tidak disyaratkan dengan puasa. Karena Umar pernah berkata kepada 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku dulu pernah 
bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram?” 
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tunaikan nadzarmu.” 
Kemudian Umar beri’tikaf semalam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan jika beri’tikaf pada malam hari, tentu tidak puasa. Jadi puasa 
bukanlah syarat untuk i’tikaf. Maka dari hadits ini boleh bagi seseorang 
beri’tikaf hanya semalam, wallahu a’lam.
Yang Membatalkan I’tikaf
Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa 
alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya 
untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar 
masjid), [2] Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 
187 di atas. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/155-156)
Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan tatkala 
beri’tikaf seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an. Semoga Allah 
memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan 
amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu 
‘alaihi wa sallam.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala 
nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke