--

Alfin arifin 













 

  السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها

semoga bermanfaat....
wass....zainal

Mengapa Hidup Semakin Sulit ?

Hidup semakin sulit, fakta yang sulit untuk dibantah karena kenyataan 
memang berbicara demikian, beberapa kalangan merasakan hal itu. 
Harga-harga terus merangkak naik, kebutuhan-kebutuhan hidup semakin mahal 
bahkan terkadang langka. Lapangan pekerjaan semakin sempit kerena 
diperebutkan oleh banyak orang, sudah sempit yang menginginkannya banyak 
lagi, mencari uang tidak mudah, giliran dapat, uang di tangan, dengan 
mudah ia melayang karena harus dipakai untuk menutupi ini dan itu. 

Penulis tidak membeberkan fakta lapangan dalam hal ini karena pembaca bisa 
melihat atau mendengar sendiri secara langsung. Penulis juga tidak akan 
mengulas masalah ini dengan kaca mata ekonomi, karena penulis bukan 
seorang ekonom. Yang paling penting bagi penulis secara pribadi sebagai 
muslim adalah mengkaji masalah ini dari sudut pandang agama. Mengapa 
sampai terjadi seperti ini? Apa jawabannya ditilik dari sudut pandang 
agama? Sebagai seorang muslim, sudut pandang agama dalam menimbang sesuatu 
adalah lebih penting daripada yang lain, perkara yang lain hanyalah akibat 
atau imbas dari sudut ini. 

Dari sisi pandang agama, penulis melihat kesulitan hidup yang menimpa bisa 
terjadi karena berbagai macam sebab, di antaranya: 
A.     Minim Takwa 
Takwa berarti menjaga diri dari azab Allah dengan menaatiNya. Karena orang 
yang bertakwa adalah orang yang dekat kepada Allah, mempunyai kedudukan 
tinggi di hadapanNya, memiliki derajat terhormat di mataNya, maka tidak 
mengherankan jika Allah Ta'ala care (memperhatikan) kepadanya. Dia akan 
memudahkan hidupnya, melapangkan pintu rizkinya, melindunginya dari 
marabahaya, mengentaskannya dari kesulitan dan menghilangkan kesedihannya, 
sehingga kehidupannya menjadi kehidupan yang tenang, tenteram dan 
berhagia. 

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya 
jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
” (Ath-Thalaq: 2-3). Dua janji mulia dari Allah kepada orang yang 
bertakwa, jalan keluar, solusi, problem solving dari apa? Dari apa yang 
kita ingin keluar darinya, dari kesulitan hidup, dari mahalnya 
harga-harga, dari kemiskinan dan dari… dari yang lainnya. Ibnu Abbas 
berkata, “Dari segala kesulitan dunia dan akhirat.” Ini satu. Kedua, rizki 
yang tidak terduga, rezki nomplok kata orang, tidak terbayang di benak, 
tidak terlintas dalam pikiran, tiba-tiba ia datang menghampiri. 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah 
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi, 
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka 
disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96). Perhatikanlah, “Barakaat.” 
dengan kata jamak yang menunjukkan jumlah besar, di samping itu kata ini 
mengandung makna kebaikan, artinya apa yang Allah buka untuk mereka 
membawa kebaikan bagi mereka, di samping itu kata ini mengandung tetapnya 
kebaikan itu dan kelanggengannya, tidak mudah dicabut. Perhatikanlah, “
Dari langit dan bumi.” Ini berarti ia mengalir dan mengucur dari segala 
arah. Rizki yang datang dari atas turun dan yang datang dari bawa pun 
muncul, kemakmuran merambah segala segi, kehidupan menjadi mudah dan 
keberkahan mengelilingi. 
B.     Minim Syukur 

Syukur adalah mengakui nikmat dari Allah dengan hati dan lisan dan 
membuktikannya dengan perbuatan. Siapa yang tidak mengakui nikmat dari 
Allah dengan hatinya maka dia belum bersyukur. Siapa yang mengakui dengan 
hatinya namun menolak mengungkap dengan kata-kata maka dia belum 
bersyukur. Siapa yang mengakui nikmat dengan hatinya dan mengungkapkan 
dengan kata-katanya, namun dia tidak membuktikannya dengan perbuatan maka 
dia belum bersyukur. 

Lawan syukur adalah kufur (nikmat), kufur nikmat ini mencabut dan 
melenyapkannya, bahkan terkadang tidak terbatas pada mencabut dan 
melenyapkan, ia bisa lebih dari itu yaitu mendatangkan dan menghadirkan, 
maksud penulis azab dan murka dari Allah Ta'ala. Sejarah membuktikan apa 
yang penulis katakan. Qarun dengan kemewahannya, akhirnya amblas ditelan 
bumi karena kekufurannya terhadap nikmat Allah. Tiga orang laki-laki Bani 
Israil, orang yang terkena penyakit lepra, orang botak dan orang buta, 
semuanya disembuhkan oleh Allah lalu diberi harta kesukaannya yang 
akhirnya berkembang melimpah, namun dua orang pertama tidak lulus ujian, 
alias tidak punya syukur, maka Allah mencabut apa yang telah Dia berikan 
dan mengembalikan mereka seperti sediakala. 

Bangsa Saba` dengan negeri yang makmur, bumi yang subur, hidup berkalang 
nikmat, hal ini berbalik seratus delapan puluh derajat manakala mereka 
berpaling dari Pemberi nikmat “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda 
(kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di 
sebelah kanan dan di sebelah kiri. Kepada mereka dikatakan, ‘Makanlah 
olehmu dari rizki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kamu 
kepadaNya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan yang 
Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada 
mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua 
kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan 
sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka 
karena kekafiran mereka dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian 
itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba`: 
15-17). 

Bukti-bukti sejarah dari al-Qur`an dan sunnah serta realita kehidupan 
berjumlah besar dalam hal ini, kalau kita menyinggungnya satu demi satu 
niscaya halaman ini menjadi panjang lebar, apa yang disebutkan sudah 
mewakili yang lain. Yang penting dan perlu diingat adalah bahwa minim 
syukur membuat hidup ini semakin kabur alias tidak jelas dan sulit. 
Sebaliknya sebaliknya. Mahabenar Allah Ta'ala yang telah berfirman, "
Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) 
kepadamu akan tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya 
azabKu sangat pedih." (Ibrahim: 7). 

Realita kehidupan kita secara umum masih menunjukkan minim syukur kalau 
tidak kufur, banyak bukti yang menguatkan hal ini. Sebagian besar dari 
kita tidak pernah terlintas di benaknya pada saat dia mendapatkan rizki 
atau anugerah dari Allah bahwa hal itu semata-mata pemberianNya. Sebagian 
besar dari kita ketika mendapatkan rizki dan kemudahan hidup tidak 
menggunakannya dalam rangka meraih ridha Allah sebagai Pemberi, justru 
sebaliknya dia menggunakannya untuk hal-hal yang mengundang murkaNya, 
berfoya-foya, menghambur-hamburkan dan menyiakan-nyiakannya. Sikap seperti 
inilah yang membuat hidup semakin sulit. Seandainya orang-orang yang 
dilimpahi kenikmatan oleh Allah itu sedikit mau bersyukur dengan 
menggunakan hartanya demi kebaikan niscaya hidup ini akan lebih mudah dan 
lebih ringan. 
 
C.     Minim Tawakal 

Tawakal menurut Imam al-Ghazali adalah menyandarkan hati hanya kepada 
al-Wakil (yang ditawakali), yaitu Allah. Penulis menambahkan, dengan 
mengikuti atau mengambil sebab-sebabnya. Jadi dalam tawakal terdapat dua 
sisi di mana tawakal belum sempurna tanpa keduanya. Penyandaran hati 
kepada Allah dan mengambil sebab-sebab. Menyandarkan hati saja tanpa 
mengambil sebab-sebab bukan tawakal akan tetapi kelemahan. Mengambil 
sebab-sebab semata dengan tidak menyandarkan hati kepada peletaknya bukan 
tawakal akan tetapi keangkuhan. Seorang muslim yang baik jangan menjadikan 
kelemahannya sebagai tawakal, dan tawakalnya sebagai kelemahan, jangan 
menjadikan keangkuhannya sebagai tawakal dan tawakalnya sebagai 
keangkuhan. 

Dalam wacana kehidupan, yang banyak terjadi adalah lemahnya atau minimnya 
sisi penyandaran diri kepada Allah Ta'ala, di mana orang-orang hanya 
menengok kepada sebab-sebab dan menjadikannya sebagai pegangan, yang 
dibahas dalam forum-forum adalah sekedar teori, penulis tidak antipati 
dengan hal itu, namun menurut hemat penulis apalah arti dari semua itu 
jika orang-orangnya berhati kosong dari tawakal dan bersandar kepada 
Allah? Ini yang terlihat. Alangkah bagusnya jika tawakal ini benar-benar 
diwujudkan dalam arti yang sebenarnya, ia akan mengurai banyak benang 
kusut yang tidak jelas ujung pangkalnya. 

“Sungguh, seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, 
niscaya kamu akan diberi rizki seperi burung itu diberi rizki, ia pergi 
pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. 
At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). 

Yang jelas apa yang penulis paparkan merupakan janji dari Allah dan Allah 
tidak menyelisih janjiNya, kalau pun belum terwujud maka tengoklah diri 
sendiri, karena di sana pasti terjadi ketimpangan dalam takwa atau sukur 
atau tawakal sehingga janjiNya belum terwujud.
 
D.    Minim Taubat 

Hal ini berarti banyak maksiat dan dosa, otomatis dan jelas, karena jika 
taubat melimpah dalam jumlah besar niscaya dosa dan maksiat menurun, 
sebaliknya adalah sebaliknya. Jika taubat menghadirkan kelapangan dan 
kemudahan hidup, maka dosa dan maksiat mendatangkan kesempitan dan 
kesengsaraan hidup. Kesulitan dan kesusahan yang menimpa suatu masyarakat 
bisa hadir melalui pintu dosa-dosa. Jika kemungkaran mewabah, kemaksiatan 
merajalela maka Allah Ta'ala akan murka, akibatnya kesulitan dan 
kesempitan hidup bisa menjadi sebuah hukuman dariNya. 

Perhatikan ucapan Nabi Nuh alaihis salam kepada kaumnya, “Maka aku katakan 
kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha 
Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan 
menambahkan harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan 
mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12). 

Janji kemakmuran dan kemudahan hidup begitu kentara dari balik permohonan 
ampun kepada Allah. Pertama, hujan lebat, deras dan melimpah sehingga 
sungai mengalir, telaga melimpah dan bendungan penuh, semua itu multiguna 
bagi kemudahan hidup manusia. Kedua, tambahan harta dan anak-anak sebagai 
tanda kemakmuran. Ketiga, kebun sebagai penghasil bahan makanan pokok dan 
sungai sebagai penopang bagi kebun. Penulis yakin jika ketiga perkara ini 
terwujud pada sebuah masyarakat maka taraf kehidupan masyarakat tersebut 
berangsur-angsur membaik dan selanjutnya menjadi masyarakat yang makmur. 

Asy-Sya’bi berkata, “Umar bin al-Khatthab keluar meminta hujan bersama 
orang-orang, dan dia tidak lebih dari mengucapkan istighfar, setelah itu 
dia pulang, seseorang berkata kepadanya, ‘Aku tidak mendengarmu memohon 
hujan.’ Umar menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan kunci-kunci 
langit yang dengannya hujan diharapkan turun.’ Lalu Umar membaca ayat di 
atas. 

Imam al-Qurthubi menyebutkan tentang al-Hasan al-Bashri, bahwa seorang 
laki-laki mengadukan kekeringan kepadanya, maka dia berkata, “Perbanyaklah 
istighfar.” Lalu datang laki-laki kedua mengadukan kesulitan hidup, maka 
dia berkata, “Perbanyaklah istighfar.” Lalu datang laki-laki ketiga 
mengadukan kemandulan, maka dia berkata, “Perbanyaklah istighfar.” Maka 
seorang hadirin berkata kepadanya, “Orang-orang itu mengadukan 
perkara-perkara yang tidak sama namun jawaban Anda hanya satu.” Dia 
berkata, “Aku tidak menjawab dari diriku sendiri, akan tetapi Allah telah 
berfirman.” Maka al-Hasan membaca ayat di atas. 

Kisah ini juga diriwayatkan dari cucu Nabi saw al-Hasan bin Ali semoga 
Allah meridhainya. 

Nabi saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada 
Allah) niscaya Allah memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, solusi 
dari setiap kesempitan dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak 
terduga.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim,dan dia menshahihkannya. Syaikh Ahmad 
Syakir dalam tahqiq al-Musnad IV/55 berkata, “Sanadnya shahih.”) 

Minimnya taubat atau berkurangnya istighfar yang berarti menjamurnya 
dosa-dosa adalah fenomena yang merebak di sekeliling kita. Hampir tidak 
ada sisi kehidupan yang steril dari penyimpangan dan pelanggaran. Bahkan 
dalam beberapa kondisi pelanggaran sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Yang 
ma’ruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi ma’ruf. Kalau sudah begini 
kesulitan hidup rasanya sulit untuk terangkat. 

E.     Minim Perhatian Terhadap Agama 

Kurangnya perhatian kepada agama dan haL-hal yang berkaitan dengannya, 
dakwah dan pendidikan agama, perjuangan Islam dan kaum muslimin bisa 
menjadi penyebab kesulitan hidup. Pemilik agama, Allah Ta'ala 
memperlakukan kita seperti kita berperilaku kepadaNya. Jika kita tidak 
menolong agamaNya, tidak memperjuangkannya, tidak membelanya, tidak 
perhatian kepadanya, tidak mendukungnya maka Allah Ta'ala tidak akan 
menaungi kita dengan pertolongan dan rahmatNya, dalam kondisi demikian 
tidak mengherankan kalau hidup terasa berat dan sukit. Perhatian dari 
Allah Ta'ala mungkin diraih dengan memberikan perhatian kepadaNya. Kita 
menolong Allah maka Allah menolong kita. Dengan itu hidup berubah menjadi 
ringan dan mudah. “In tanshurullaha yanshurkum.” (Muhammad: 7). 

Di antara bentuk perhatian yang bisa kita berikan kepada agama Allah, :
 
§  Infak di jalanNya 
Menyisihkan sebagian rizki halal pemberian Allah untuk dibelanjakan di 
jalan-jalan kebaikan demi menolong agama Allah. Infak di jalan Allah, 
karena ia merupakan bukti perhatian kepada agama Allah, mengundang 
perhatian dari Allah dengan memberi ganti yang sepadan bahkan lebih baik, 
lebih banyak dan lebih berkah. 

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan 
Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Saba`: 39). Janji penggantian 
dari Allah terhadap apa yang diinfakkan terwujud jika infak dilaksanakan, 
dan penggantian dalam konteks ini bisa dengan yang sebanding dan bisa pula 
dengan yang lebih baik, yang kedua ini lebih sering. Jika pembicaraan 
dibalik maka hasilnya, orang yang tidak berinfak tidak meraih penggantian 
sekalipun hartanya lenyap, sedangkan orang yang berinfak, hartanya lenyap 
tetapi meraih penggantian. Perkara lenyapnya atau habisnya harta adalah 
perkara pasti, dunia termasuk harta tidak ada yang abadi. Silakan pilih, 
lenyap tanpa janji diganti atau lenyap dengan janji diganti? 

Harta yang kita pegang sejatinya adalah bukan harta kita, ia sekedar 
pinjaman, pemilik sejatinya adalah Allah Ta'ala, jika pemilik sejatinya 
memberikan jaminan akan mengganti jika kita membelanjakannya di jalanNya, 
lalu mengapa hati kita terasa berat melaksanakannya, di samping harta itu 
bukan hak milik kita? 

“Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, ‘Wahai Bani Adam, berinfaklah niscaya 
Aku berinfak kepadamu.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah). 

Anda berharap Allah Ta'ala berinfak (memberi rizki) kepadamu, syaratnya 
mudah, berinfaklah di jalanNya dan Dia menjanjikan hal itu. Mudah bukan? 
Seorang hamba berinfak di jalan Allah lalu Allah pemegang perbendaharaan 
langit dan bumi, pemilik hak atas segala sesuatu akan berinfak kepadanya. 
Dijamin. 

“Tidaklah para hamba mendapatkan pagi hari kecuali padanya terdapat dua 
malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah pengganti 
kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lain berkata, ‘Ya Allah, 
berikanlah kebinasaan harta kepada orang yang menahan.” 


Sebuah kenyataan yang memprihatinkan, manusia lebih antusias membelanjakan 
hartanya buka di jalan Allah tetapi di jalan setan. Bandingkan, betapa 
sulitnya mengumpulkan rupiah untuk menafkahi sebuah madrasah atau 
menyelesaikan pembangunan sebuah masjid, tetapi pada saat yang sama betapa 
mudahnya orang mendapatkan uang untuk konser musik atau untuk 
menyelesaikan gedung sandiwara. 
§  Perhatian kepada ilmu syar'i 

Ilmu syar'i atau ilmu agama, mempelajarinya dan mengajarkannya adalah 
salah satu bentuk perhatian kepada agama Allah, dengan ilmu syar'i agama 
akan tegak dan terjaga, para thullabul ilmi dan para ulama berperan sangat 
vital dalam hal ini, tanpa ilmu syar'i agama akan layu dan terpinggirkan, 
berganti dengan kebodohan dan ketidaktahuan. 

Ilmu memerlukan dukungan biaya dan dana, tanpanya ia berjalan di tempat 
alias tidak berkembang, para penyandangnya juga memerlukan hidup, hasil 
maksimal bisa diwujudkan jika sesuatu pekerjaan diberi perhatian dan 
konsentrasi penuh, agar para penuntut ilmu dan para ulama bisa fokus 
sepenuhnya kepada tugasnya, maka diperlukan pihak-pihak penopang finansial 
mereka, dibutuhkan para muhsinin yang menunjang aktifitas mereka dan para 
muhsinin tersebut meraih peluang kemudahan dan kelapangan hidup. 

Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pada 
zaman Rasulullah saw ada dua laki-laki bersudara. Salah seorang dari 
mereka mendatangi Nabi saw (untuk belajar), sedangkan yang lain bekerja. 
Saudara yang bekerja mengadu kepada Nabi saw maka Nabi saw bersabda, “
Mudah-mudahan kamu diberi rizki karenanya.” Maksud hadits ini, kamu 
bekerja dan saudaramu menuntut ilmu, kamu menafkahi saudaramu, tidak 
menutup kemungkinan rizkimu dari pekerjaanmu itu adalah berkah dari apa 
yang kamu nafkahkan kepada sudaramu yang menuntut ilmu itu. 

Abdullah bin al-Mubarak selalu mengkhususkan pemberiannya kepada para 
pemerhati ilmu syar'i, suatu hari dia ditanya, “Mengapa engkau tidak 
memberikannya kepada orang-orang umum?” Dia menjawab, “Aku tidak 
mengetahui kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan 
para ahli ilmu. Jika hati para ahli ilmu itu sibuk mencari kebutuhan 
hidupnya, niscaya dia tidak bisa memberi perhatian kepada ilmu sepenuhnya 
dan tidak bisa belajar dengan baik. Memberi mereka membuat mereka bisa 
mempelajari ilmu dengan sepenuhnya dan itu lebih utama.” 

Dewasa ini peluang meletakkan kebaikan di lahan ilmu syar'i sangat terbuka 
lebar, kecenderungan masyarakat kepadanya cukup menggembirakan, 
lembaga-lembaga yang menanganinya bermunculan, mereka semua memerlukan 
perhatian finansial. Jika Anda berminat dan bertindak maka pintu kemudahan 
dan cela kemakmuran akan terbuka dalam hidup Anda. Wallahu a'lam.
(oleh : Izzudin Karimi)
 





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke