Ayah Rasul; Abdullah Impian Abdul Muthalib akhirnya menjadi nyata dengan lahirnya anak yang ke-10, Abdullah . Setelah sang ayah menceritkan nazarnya, yaitu menyembelih salah satu anaknya di depan Ka’bah, sedikitpun tidak ada ketakutan menyelimuti wajah anak-anak Abdul Muthalib . Meskipun hal itu sangat berat dan pilihan yang sangat sulit. Abdul Muthalib kemudian melakukan Qur’ah ( mengundi:untuk menentukan siapa yang harus disembelih diantara anak-anaknya). Caranya dengan menulis satu persatu nama anak-anaknya kemudian diletakan dalam satu wadah, lalu dikocok oleh seorang yang ditunjuk, yaitu orang “pintar.” Keluarlah nama Abdullah, nama anaknya yang paling kecil dan sangat disayangi oleh bapaknya. Seperti halnya orang tua, tentulah hati Abdul Muthalib hancur ternyata anak yang harus disembelih adalah anaknya yang ketika itu lucu dan membuat gemas. Namun janji adalah janji apalagi janji kepada Allah dan tidak ada cara lain yang bisa diperbuat kecuali melaksanakan semua janjinya.
Undian itu sebelumnya dilakukan di hadapan para pemuka suku Quraisy dan bahkan semua masyarakat kota termasuk orang miskin sekaligus. Mereka menyarankan untuk menunggu beberapa waktu dan jangan melaksanakan sembelihan saat itu. Mereka memutuskan untuk berkonsultasi dahulu dengan seorang wanita yang dianggap bijak yang sering mereka datangi di daerah Khaibar. Setelah wanita itu mendengar kisah itu dengan cermat, ia bertanya diyat (tebusan) apa yang biasa dilakukan ketika ada yang terbunuh di masyarakat Quraisy?. Mereka menjawab, “ Sepuluh ekor unta.” Diyat menurut tradis Arab ialah tebusan yang harus dibayar oleh keluarga yang membunuh seseorang dari keluarga lainnya apabila mereka setuju untuk menganti hukum Qisas (darah dibayar darah). Wanta bijak ini menyuruh rombongan pemuka Quraisy untuk mengundi lagi antara Abdullah dan diyat ini. Apabila keluar lagi nama Abdullah, maka harus dilipatgandakan diyat nya sampai keluar kata diyat Sampailah cerita pada qur’ah kedua kalinya dan ternyata yang keluar tetap nama Abdullah. Kemudian mereka menambah lagi 10 ekor unta hingga menjadi 20 ekor unta yang harus disembelih. Dan seterusnya tetap yang keluar nama Abdullah sampai pada jumlah 100 ekor unta barulah undian itu keluar nama Diyat. Merekapun bersorak gembira pada hasil undian yang terakhir ini. Mereka bersuka cita karena berhasil menghentikan sembelihan seorang pemuda yang dianggap baik dan mulia diantara mereka. Namun Abdul Muthalib belum sepenuhnya gembira karena dianggapnya janji yang pernah diucapkannya dulu adalah janji antara Allah dengan dirinya. Jadi undia harus dilakukan lagi antara nama Abdullah dengan 100 ekor unta. Setelah undian dilakukan, dan yang keluar tetap 100 ekor unta. Abdul Muthalib masih bersikeras agar undian dilakukan ketiga kalinya, dan tetap saja yang keluar 100 ekor unta. Setelah undian yang terakhir ini, yakinlah ia bahwa ia sebenarnya tidak mau melanggar janjinya ini kepada Allah, bahwa ia akan meyembelih salah satu anaknya dulu. Dan dia hanya ingin menyatakan bahwa ia adalah orang yang jujur dan dia siap mengorbankan semuanya untuk membuktikan kejujurannya ini dangan cara terus mengundi yang telah dilakukannya beberapa kali. Kisah ini mengingatkan kita kepada cerita Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail. Ketika sang ayah hendak mengorbankan anaknya untuk menunjukan rasa cinta dan ketaatanya kepada Allah. Pernikahan Abdullah dengan Aminah dan Wafatnya Abdullah Setelah selamat dari penyembelihan, Abdullah tumbuh kembang dengan baik. Ia dikenal dengan wajah tampan dan banyak wanita jatuh hati melihatnya. Sehingga banyak sekali gadis-gadis Quraisy berlomba mendekatinya dan berharap agar Abdullah mau meminangnya. Namun cinta Abdullah terpaut pada seorang seorang gadis rupawan, baik peragainya, yaitu Aminah binti Wahhab . Setelah itu diadakan pesta pernikahan yang meriah yang dihadiri oleh seluruh lapisan mayarakat Quraisy. Sekitar 6 bulan setelah pernikahan, berangkatlah Abdullah dalam sebuah ekspedisi menuju Syria untuk menjual beberapa prodak dan mengimpor barang-barang kebutuhan dan kebutuhan pasar dan lainnya, khususnya kebutuhan bagi para penziarah dari seluruh penjuru menuju Mekkah , untuk bertawaf di Ka’bah dan melaksanakan haji (ritual haji adalah ibadah tua yang telah dilakukan semenjak Nabi Ibrahim ribuan tahun yang lalu. Namun tata caranya kemudian dirubah sesuai aslinya oleh Rasulullah kelak). Kebiasaan berdagang ini biasa dilakukan oleh masyarakat Quraisy ke daerah Syiria (Syam ketika itu) dengan membawa beberapa macam prodak yang akan dijual disana, kemudian membawa beberapa barang yang akan dijual pula di Mekkah nantinya, baik untuk menyediakan bagi penduduk setempat atau barang dagangan untuk keperluan para penziarah di musimnya nanti. Dan kebiasaan ini dilakukan pula oleh Rasulullah kelak sebelum menikah nantinya. Kebiasaan ini diabadikan oleh Qur’an dalam salah satu surat dalam Qur’an. Dalam perjalanan pulang menuju Mekkah, Abdullah tiba-tiba sakit di Yastrib (kota Madinah sekarang). Ia dirawat di rumah bibinya dari suku. Bani Najjar Namun akhirnya Abdullah wafat akibat sakit yang dideritanya. Mendengar kematian suaminya, hancurlah hati Aminnah, suaminya yang baru dinikahi beberpa bulan yang lalu. Kesedihan melanda pula Abdul Muthalib dan semua lapisan masyarakat Quraisy, dan mereka tidak menyangka bahwa Abdullah yang dulunya pernah diselamtatkan dengan peristiwa yang hampir disebut “mustahil”. Karena nyawanya diselamatkan oleh 100 ekor unta dengan melakukan undian yang membuat hati orang-orang berdebar-debar ketika meyaksikannya, ternyata meninggal dalam perjalanan pulang dengan cepat. Namun tidak ada seorangpun yang mampu menolak mati dan ketika datang kematian tidak ada satupun yang bisa diperbuat dan tidak ada satupun penawarnya. Begitu pula dengan Aminah, meskipun hatinya hancur lebur, namun berita kematian suaminya dia terima dengan lapang dada meskipun usia perkawinanya belum genap 1 tahun. Dan ada yang membuat ia bisa bertahan, bahwa ia ternyata sedang mengandung. Gembiralah hatinya bahwa ada teman lainnya yang akan mendampingi hidupnya, yaitu anak yang akan dilahirkannya kelak. Aminah sendiri adalah wanita biasa dan ia tidak tahu dan bahkan mungkin tidak menyadari bahwa anak yang dikandungnya adalah kelak menjadi seorang Nabi dan Rasul. Rasul terakhir pengemban risalah terakhir. Pelajaran Penting 1. Kejujuran adalah salah satu sifat yang harus kita miliki, karena kejujuran menunjukan kemuliaan kita baik di depan orang ataupun di hadapan Allah Swt. Menunaikan janji adalah ajaran Islam dan ia terus dituntut kemanapun kita berada seperti yang terdapat dalam sebuah ayat dan hadist: “Dan orang-orang yang memelihara amanah (yang dipikulnya) dan janjinya”. (QS. Al-Mu’minun : 8). “Empat hal, jika keempat-empatnya terdapat pada diri seseorang, berarti ia benar-benar murni seorang munafik. Sedangkan orang yang menyimpan salah satunya, berarti terdapat pada dirinya salah satu tanda orang munafik, sampai ia meninggalkannya. Jika diberi amanah ia berkhianat, jika bicara berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika bermusuhan ia keji”. (HR.Bukhari dan Muslim). 2. Janji kepada Allah mutlak harus dilakukan, karena janji kepada Allah berarti bisa mengundang kemarahan atau kemurahan-Nya. sebuah pertanyaan kepada ruh-ruh setiap manusia sebagai anak cucu Adam agar selalu beriman bahwa Allah Swt merupakan bukti janji manusia dengan Allah Swt; “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi (tulang rusuk) mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman)” Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab “ betul” (Engaku tuhan kami) (QS: Al-A`râf: 172) 3. Allah Swt menjelaskan bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke dunia sudah membawa janji untuk beriman dan selalu mengakui bahwa Allah Swt adalah Tuhannya yang harus dipatuhi dan disembah dengan segala upaya dan potensi yang telah dikaruniakan Allah Swt. Selalu berusaha untuk memegang keimanan dan selalu beribadah kepada-Nya adalah wujud menepati janji kita kepada Allah Swt. 4. Termasuk janji kepada Allah Swt, adalah mempelajari ilmu agama, taat kepada perintahnya dan jauh dari perbuatan buruk. Salam, Rochmad Sigit --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] or add me in Yahoo Messenger at [email protected] thanks for joinning this group. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
