" Di Balik Fenomena FacebooK " (Rugi Kalau tidak dibaca)


 Tuesday, October 6, 2009 at 5:10pm


<http://www.facebook.com/photo.php?pid=30294106&op=1&view=all&subj=149359303894&aid=-1&auser=0&oid=149359303894&id=1301748730>
*
K*etika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah
episode infotainment setiap hari.

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam
berita-berita media massa.

*Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar
pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang ditunggu-tunggu ...’siapa
calon bapak si jabang bayi?’*

Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebrities yang belum
resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama
pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya
seperti itu, penuh sensasi.Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur
lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

*Wuiiih......ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu,
sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun
diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf ....’dilecehkan’
orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.*



*Fenomena itu bernama facebook*, setiap saat para facebooker meng update
statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja
hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi
kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya
ngapain ya.....?”------kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan
perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin
puas deh...”


Seorang wanita lainnya menuliskan “ Bangun tidur, badan sakit semua,
biasa....habis malam jumat ya begini...:” kemudian komen2 nakal
bermunculan...


Ada yang menulis “ bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....”,
----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.


Ada pula yang komen di wall temannya “ eeeh ini si anu ya ...., yang dulu
dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu....” ----lupa klu
si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis.


Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “habis minum jamu
nih...., ada yang mau menerima tantangan ?’----langsung berpuluh2 komen
datang.


Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit...”


Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman
lagi nih” .


Dan ribuan status-status yang *numpang beken dan pengin ada komen-komen *dari
lainnya.




*Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita,
telinga kita, bahkan pikiran kita.*

*Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan
hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang
semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.*


Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di upload
di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan
celana pendek.....padahal sebagian besar yg didalam foto tersebut sudah
berjilbab



Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah
dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah
bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....



Ada pula seorang pria meng upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu
yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah
berkeluarga dan hidup dengan tenang.




<http://www.facebook.com/photo.php?pid=30294142&op=1&view=all&subj=149359303894&aid=-1&auser=0&oid=149359303894&id=1301748730>


Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah....,
yaitu Muhammad SAW, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga
kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada
Aisyah r.ha

*“ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta,
sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “ Rasul, kekasih hatiku,
sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum
teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang
tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah....*



Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke
madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian
rumahnya,

maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya
tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan
menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah,
bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”. (Bukhari dan Muslim).



*Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni
‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’
ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas
semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.
*

Dan Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita

*“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).*



*Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah
mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak
bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.*

Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya
oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter
inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya
teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang
mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.

*Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu,
mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.*

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan
rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah
kita luntur tak berbekas.

catatan
***"Iffah (bisa berarti martabat/kehormatan) adalah bahasa yang lebih akrab
untuk menyatakan upaya penjagaan diri ini. Iffah sendiri memiliki makna
usaha memelihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal, makruh
dan tercela."

Sumber : 
FTJAI<http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=149359303894&h=6bcf1b4818a5f5a70e65d9649a96f9f2&url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fgroup.php%3Fgid%3D88154308162>

Judul Asli : Ketika Iffah mulai luntur (dibalik fenomena facebook)

Sumber artikel :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=149359303894&ref=nf


-- 
~efid. ---------------------------

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke