Balada Susno <http://politikana.com/baca/2009/11/05/balada-susno.html>
18<http://politikana.com/baca/2009/11/05/balada-susno.html#komentar>

Penting +10 <http://politikana.com/login.html> [image: Rusdi Mathari]
<http://politikana.com/profil/rusdi.html> Rusdi
Mathari<http://politikana.com/profil/rusdi.html>

19 jam yang lalu

Susno  dikabarkan, akhirnya mengundurkan diri tapi kenapa dia tetap dicap
sebagai orang kuat di Polri? Benarkah dia tahu banyak kebobrokan rekan-rekan
sejawatnya, termasuk soal nama-nama perwira Polri yang rekeningnya menerima
aliran dana puluhan juta hingga ratusan miliar rupiah? Lalu apa hubungan
Susno dengan Hatta Rajasa dan SBY?

oleh *Rusdi Mathari*
HARAPAN untuk membenahi moral dan perilaku polisi itu, sebetulnya pernah
dinyalakan oleh Susno Duadji. Dia ketika itu baru menjabat sebagai Kapolda
Jawa Barat. Dikumpulkannya suatu hari, seluruh jajaran perwira di Satuan
Lalu Lintas dari tingkat Polres hingga Polda. Tak sampai 10 menit memberikan
sambutan, Susno lalu meminta mereka meneken pakta kesepakatan bersama.

Isinya mereka harus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat tepat waktu,
tepat mutu, dan tepat biaya. Susno memberi waktu sepekan kepada para
bawahannya, untuk berbenah, menyiapkan dan membersihkan diri mereka dari
pungutan luar alias pungli, sejak pertemuan hari itu, 30 Januari 2008.
"Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan
jabatan," kata Susno (lihat "Susno Duadji, Harapan Baru Polisi,"  *Rusdi
GoBlog<http://rusdimathari.wordpress.com/2008/02/16/susno-duadji-harapan-baru-polisi/>
*, 16 Februari 2008).

Dalam sambutannya, Susno sebelumnya meminta kepada para perwira itu agar
tidak ada lagi setoran dari bawahan kepada atasan. Kata dia kalau ingin kaya
jangan jadi polisi, tapi jadilah pengusaha. "Ingat, kita ini pelayan
masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," kata Susno.

Hampir dua tahun silam, setelah pertemuan di Mapolda Jawa Barat itu, Susno
kini menjadi bulan-bulanan ejekan opini publik. Pengandaiannya tentang buaya
dan cicak, yang seolah menggambarkan posisi Polri dan KPK yang kemudian
menggelembung menjadi balon raksasa ketidakpercayaan kepada Polri, membuat
semua energi telah melupakan tekad Susno membersihkan institusi Polri dari
korupsi.

*Besan SBY?*
Lahir di Pagar Alam, Sumatra Selatan, 55 tahun yang lalu, Susno adalah anak
kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya seorang sopir, dan ibunya, Siti Amah
seorang pedagang kecil. Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno yang
menghabiskan sebagian karirnya di jalan, sebagai perwira polisi lalu lintas,
sudah mengenyam banyak pendidikan dan kursus termasuk di Amerika Serikat
(2000), Malaysia (2001), dan Korea Selatan (2003). Dia sudah juga
mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi.

Karirnya mulai moncer ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan
berturut-turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang.
Susno mulai ditarik ke Jakarta, ketika ditugaskan menjadi kepala pelaksana
hukum di Mabes Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK, enam tahun
silam. Setahun kemudian, dia ditugaskan di Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan atau PPATK.

Sekitar tiga tahun di PPATK, Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda Jabar
dan sejak Oktober 2008, dia menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes
Polri menggantikan Bambang Hendarso Danuri. Kode Susno sejak itu dikenal
dengan Truno 3, atau orang nomor tiga paling berpengaruh di Polri setelah
Kapolri dan Wakapolri.

Lalu hari ini, Kamis 5 November 2009, suami dari Herawati itu dikabarkan
mengundurkan diri, menyusul terjangan opini dan tergerusnya kepercayaan
publik kepada Polri. Sebagian orang mengusulkan agar dia ditahan, juga Abdul
Hakim Ritongan, Wakil Kepala Kejaksaan Agung yang juga mengundurkan diri.
Sebelum pengunduran diri itu, banyak spekulasi yang menganggap Susno sebagai
orang kuat di Polri.

Anggapan itu antara lain muncul dari Adnan Buyung Nasution, Ketua Tim
Independen Kasus Bibit-Chandra, dan juga dari Ruhut Sitompul, anggota DPR
dari Partai Demokrat. Dalam rapat dengar antara KPK-Komisi III, DPR-RI, Rabu
kemarin, Ruhut menyalahkan KPK yang dianggapnya tidak punya keberanian
menangkap Susno.

"Siapa Susno Duadji? Mengapa Anda tidak punya nyali untuk menahan dia kalau
dia terlibat dalam skandal Bank Century? Mengapa dia begitu kuat?" tanya
Ruhut.

Pertanyaan Ruhut itu, tentu saja adalah juga pertanyaan banyak orang. Tapi
benarkah Susno orang kuat?

Rumor di kalangan wartawan menyebutkan, Susno memiliki kedekatan dengan
Hatta Rajasa, Menko Perekonomian. Hatta, politisi PAN itu, sejauh ini
dikenal sebagai salah seorang kepercayaan Presiden SBY dan memiliki hubungan
dekat. Putra bungsu SBY, Edhie Baskro dikabarkan juga menjalin hubungan
khusus dengan putri sulung Hatta, Aliya Radjasa.

Ketika Susno dipromosikan menjadi Kabareskrim setahun silam, konon itu juga
berkat jasa Hatta yang waktu itu Mensesneg meski itu dibantah oleh Susno.
Sesaat sebelum dilantik menjadi Kabareskrim, Oktober tahun lalu, Susno
mengaku tidak mengenal Hatta.

"Itu benar-benar fitnah. Kami bahkan bukan berasal dari desa yang sama. Dia
adalah seorang menteri, sementara aku seorang Kepala Polisi Jawa Barat. Aku
dan dia tidak mengenal satu sama lain," kata Susno.

*Rekening Haram*
Pengakuan Susno itu boleh jadi benar, bisa jadi juga salah. Satu hal yang
pasti ketika dia bertugas di PPATK, lembaga itu menemukan 15 rekening
perwira Polri yang memiliki dana tidak wajar, dan diduga menampung uang
haram. Disebut tidak wajar, karena jumlah uang di rekening mereka mencapai
miliaran rupiah, yang sebetulnya mustahil terkumpul hanya dari gaji bahkan
kalau hal itu dilakukan seumur hidup menjadi polisi.

Terungkapnya 15 rekening perwira Polri itu disampaikan oleh Kepala PPATK
Yunus Husein dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR-RI, Senin 19
September 2005. Kata Yunus, dari 15 rekening itu, empat di antaranya berasal
dari Mabes Polri, satu dari Polda Sumatra Utara, dua dari Polda Metro Jaya,
satu dari Polda Jawa Tengah, dua dari Polda Jawa Timur, satu dari Polda
Bali, satu dari Polda Sulawesi Utara, dua dari Polda Maluku dan satu dari
Polda Papua.

Beberapa contoh dari transaksi keuangan mencurigakan yang terekam oleh PPATK
antara lain, ada anggota polisi yang menyetorkan dana dalam jumlah relatif
besar di luar profilnya sebagai anggota polisi. Jumlahnya bisa mencapai
antara Rp 10 juta - Rp 700 juta.

Ada juga perwira Polri, yang menerima aliran dana rutin setiap bulan antara
Rp 10 juta - Rp 20 juta dari seorang pejabat di daerah. Perwira lainnya,
menerima dana dalam jumlah besar antara Rp 1 miliar- Rp 3 miliar tanpa
asal-usul yang jelas.

Kata Yunus, ada anggota Kepolisian RI yang diduga terlibat dalam kasus 
*illegal
logging* alias pembalakan liar atau penyelundupan kayu gelondongan. Ada juga
anggota Polri yang diduga menerima aliran dana dari hasil tindak pidana
penipuan yang dilakukan di luar negeri dan yang diduga terlibat dalam kasus
pemalsuan uang dan pita cukai.

Menurut versi David Ridwan Betz, Direktur Eksekutif Aliansi Masyarakat
Independen Pemantau Kinerja Aparatur Negara, ada yang luar biasa: ada
perwira polisi sempat punya saldo sampai Rp 800 miliar.

"Saya rasa jumlah 15 rekening anggota Polri yang dilaporkan PPATK, terlalu
sedikit. Kami memperkirakan ada 300 perwira yang mestinya diperiksa. Jumlah
rekening mereka di bank bervariasi, ada yang punya rekening Rp 3 miliar, ada
yang sampai Rp 800 miliar. Kami sendiri telah melaporkan 40 perwira Polri,"
kata David ketika itu (lihat "Tak Asal Bunyi, Tak Dompleng
PPATK<http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=117490>,"
*Suara Karya*, Minggu 7 Agustus 2005).

Di mana peran Susno? Karena saat itu bertugas di PPATK, Susno niscaya tahu
semua nama-nama perwira Polri itu. Apalagi 15 rekening yang mencurigakan
itu, seluruhnya menggunakan nama asli perwira Polri yang bersangkutan.
Kapolri Jenderal Sutanto waktu itu memang pernah berjanji akan mengusut
tuntas kasus 15 rekening mencurigakan dari perwira Polri itu. Namun hingga
Sutanto menjabat Kepala BIN, kasus 15 rekening perwira Polri itu tak pernah
ada kelanjutannya.

Dengan kata lain Susno sebetulnya memegang kartu mati semua kebobrokan para
perwira Polri pemilik rekening, yang bisa jadi, mereka sekarang justru
menjabat posisi penting. Artinya pula, tanpa dukungan Hatta pun, posisi
Susno di Polri memang cukup kuat kecuali kemudian memang ada tawar-menawar
lain untuknya, sehingga hari ini, dia dikabarkan bersedia mengundurkan diri.

*Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi
GoBlog<http://rusdimathari.wordpress.com/2009/11/05/balada-susno/>
.*





CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke