-

السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها

semoga bermanfaat....
wass....zainal
Kezaliman Adalah Kegelapan diHari Kiamat
Banyak diantara umat Islam yang tidak menyadari bahwa dirinya telah 
melakukan suatu perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan hal 
itu berlalu begitu saja tanpa meminta ma’af kepadanya atas perbuatannya 
tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh ego yang terlalu tinggi, menganggap 
hal itu adalah sepele, kurang memahami ajaran agamanya sehingga tidak 
mengetahui implikasinya, dan sebagainya. Padahal sebenarnya amat berbahaya 
dan akan membebankannya di hari Akhirat kelak karena harus 
mempertanggungjawabkannya. Perbuatan tersebut tidak lain adalah 
kezhaliman. 

Kezhaliman adalah sesuatu yang dibenci baik di muka bumi ini maupun di 
akhirat kelak dan pelakunya hanyalah mereka yang menyombongkan dirinya. 

Banyak bentuk kezhaliman yang berlaku di dunia ini, yaitu tidak jauh dari 
definisinya ; “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Betapa banyak 
orang-orang yang seenaknya berbuat dan bertindak sewenang-wenang. Sebagai 
contoh: Sang suami sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya 
dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak 
memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Sang pemimpin sewenang-wenang 
terhadap rakyat yang dipimpinnya; diktator, tangan besi, berhukum kepada 
selain hukum Allah, loyal terhadap musuh-musuh Allah, tidak menerima 
nasehat, korupsi dan sebagainya. Tetangga berbuat semaunya terhadap 
tetangganya yang lain; membuat bising telinganya dengan suara tape yang 
keras dan lagu-lagu yang menggila, menguping rahasia rumah tangganya, 
usil, membicarakan kejelekannya dari belakang, mengadu domba antar 
tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanahnya 
tanpa hak, berapapun ukurannya. Dan banyak lagi gambaran-gambaran lain 
yang ternyata hampir semuanya dapat dikategorikan “perbuatan zhalim” 
karena “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. 

Oleh karena itu, pantas sekali kenapa Allah mengecam dengan keras para 
pelakunya dan bahkan mengharamkannya atas diri-Nya apatah makhluk-Nya. 

Dan pantas pula, ia (kezhaliman) merupakan tafsir lain dari syirik karena 
berakibat fatal terhadap pelakunya. 

Maka, bagi mereka yang pernah berbuat zhalim terhadap orang lain – sebab 
rasanya sulit mendapatkan orang yang terselamatkan darinya sebagaimana 
yang pernah disalahtafsirkan oleh para shahabat terkait dengan makna 
kezhaliman dalam ayat “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan 
iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang 
mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat 
petunjuk”. (Q,.s. al-An’âm/6: 82). Mereka secara spontan, begitu ayat 
tersebut turun dan sebelum mengetahui makna dari ‘kezhaliman’ yang 
sebenarnya berkomentar: “Wahai Rasulullah! siapa gerangan diantara kita 
yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya?”. Tetapi, pemahaman ini 
kemudian diluruskan oleh Rasulullah dengan menyatakan bahwa maksud ayat 
tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya yang lain: 
“Sesungguhnya syirik itu merupakan kezhaliman yang besar” (Q.,s. 
Luqmân/31: 13) – maka hendaknya mereka segera meminta ma’af kepada yang 
bersangkutan dan memintanya menghalalkan atas semua yang telah terjadi 
selagi belum berpisah tempat dan sulit bertemu kembali dengannya serta 
selama masih di dunia. 

Hanya keterkaitan dalam kezhaliman terhadap sesama makhluk ini yang tidak 
dapat ditebus dengan taubat sekalipun. Taubat kepada Khaliq berkaitan 
dengan hak-hak-Nya; maka, Dia akan menerimanya bila benar-benar taubat 
nashuh tetapi bila terkait dengan sesama makhluq, maka hal itu terpulang 
kepada yang bersangkutan dan harus diselesaikan terlebih dahulu dengannya 
; apakah dia mema’afkan dan menghalalkan kezhaliman yang terlah terjadi 
atasnya atau tidak. 

Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui lebih lanjut apa itu kezhaliman? 
apa implikasinya di dunia dan akhirat? bagaimana dapat terhindarkan 
darinya? Perbuatan apa saja yang memiliki kaitan dan digandeng dengannya?. 

Insya Allah, kajian hadits kali ini berusaha menyoroti permasalahan 
tersebut, semoga bermanfa’at. 

Naskah Hadits
1. عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله 
عليه وسلم: « الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ». متّفق عليه
Dari Ibnu ‘Umar –radhiallaahu 'anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 
'alaihi wasallam bersabda: “Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di 
hari Kiamat”. (Muttafaqun ‘alaih) 
2. عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّ رَسُولَ اللّهَ صلى الله عليه وسلم 
قَالَ: «اتَّقُوا الظُّلْمَ. فَإِنّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ. وَاتَّقُوا الشُّحَّ. فَإِنّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ 
قَبْلَكُمْ ». رواه مسلم
Dari Jâbir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi 
wasallam bersabda: “berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman 
adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat. Dan jauhilah 
kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum 
kamu”. (H.R.Muslim) 

Definisi kezhaliman (azh-Zhulm) 

Kata “azh-Zhulm” berasal dari fi’l (kata kerja) “zhalama – yazhlimu” yang 
berarti “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Dalam hal ini sepadan 
dengan kata “al-Jawr”. 

Demikian juga definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan 
para ulama. Dalam hal ini, ia adalah lawan dari kata al-‘Adl (keadilan) 

Hadits diatas dan semisalnya merupakan dalil atas keharaman perbuatan 
zhalim dan mencakup semua bentuk kezhaliman, yang paling besarnya adalah 
syirik kepada Allah Ta’âla sebagaimana di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya 
syirik itu merupakan kezhaliman yang besar”. 

Di dalam hadits Qudsiy, Allah Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaku! 
Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap diriku dan menjadikannya 
diharamkan antara kalian”. 

Ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar tentang keharaman perbuatan 
zhalim dan penjelasan tentang keburukannya banyak sekali. 

Oleh karena itu, hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan 
zhalim, memerintahkan mereka agar menghindari dan menjauhinya karena 
akibatnya amat berbahaya, yaitu ia akan menjadi kegelapan yang berlipat di 
hari Kiamat kelak. 

Ketika itu, kaum Mukminin berjalan dengan dipancari oleh sinar keimanan 
sembari berkata: “Wahai Rabb kami! Sempurnakanlah cahaya bagi kami”. 
Sedangkan orang-orang yang berbuat zhalim terhadap Rabb mereka dengan 
perbuatan syirik, terhadap diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat 
atau terhadap selain mereka dengan bertindak sewenang-wenang terhadap 
darah, harta atau kehormatan mereka; maka mereka itu akan berjalan di 
tengah kegelapan yang teramat sangat sehingga tidak dapat melihat arah 
jalan sama sekali. 

Klasifikasi Kezhaliman 

Syaikh Ibn Rajab berkata: “Kezhaliman terbagi kepada dua jenis: Pertama, 
kezhaliman seorang hamba terhadap diri sendiri : 

Bentuk paling besar dan berbahaya dari jenis ini adalah syirik sebab orang 
yang berbuat kesyirikan menjadikan makhluk sederajat dengan Khaliq. Dengan 
demikian, dia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. 

Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai 
macamnya; besar maupun kecil. 
Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, 
baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan. 

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda ketika berkhuthbah 
di haji Wada’ : “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian 
diharamkan atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan 
haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini”. 

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah dari 
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang 
pernah terzhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan 
(ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil 
(dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan 
saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) 
kepadanya”. 

Penyebab terjadinya 

Ibnu al-Jauziy menyatakan: “kezhaliman mengandung dua kemaksiatan: 
mengambil milik orang lain tanpa hak, dan menentang Rabb dengan melanggar 
ajaran-Nya… Ia juga terjadi akibat kegelapan hati seseorang sebab bila 
hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah mengambil i’tibar 
(pelajaran)”. 

Barangkali, penyebabnya juga dapat dikembalikan kepada definisinya 
sendiri, yaitu tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan hal ini 
terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama sehingga tidak 
mengetahui bahwa :
Hal itu amat dilarang bahkan diharamkan 
Ketidakadilan akan menyebabkan adanya pihak yang terzhalimi 
Orang yang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan 
merendahkan orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya 
Orang yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas dengan apa yang 
dimilikinya sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu yang bukan 
haknya 
Orang yang memiliki sifat iri dan dengki selalu bercita-cita agar 
kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain segera berakhir atau mencari 
celah-celah bagaimana menjatuhkan harga diri orang yang didengkinya 
tersebut dengan cara apapun 
Terapinya 

Diantara terapinya –wallâhu a’lam- adalah: 
Mencari sebab hidayah sehingga hatinya tidak gelap lagi dan mudah 
mengambil pelajaran 
Mengetahui bahaya dan akibat dari perbuatan tersebut baik di dunia maupun 
di akhirat dengan belajar ilmu agama 
Meminta ma’af dan penghalalan kepada orang yang bersangkutan selagi masih 
hidup, bila hal ini tidak menimbulkan akibat yang lebih fatal seperti dia 
akan lebih marah dan tidak pernah mau menerima, dst. Maka sebagai 
gantinya, menurut ulama, adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya 
Membaca riwayat-riwayat hidup dari orang-orang yang berbuat zhalim sebagai 
pelajaran dan i’tibar sebab kebanyakan kisah-kisah, terutama di dalam 
al-Qur’an yang harus kita ambil pelajarannya adalah mereka yang berbuat 
zhalim, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang lain. 
Kikir/Bakhil 

Hadits tersebut (hadits kedua) memberikan peringatan terhadap perbuatan 
kikir dan bakhil karena merupakan sebab binasanya umat-umat terdahulu. 
Ketamakan terhadap harta menggiring mereka bertindak sewenang-wenang 
terhadap harta orang lain sehingga terjadilah banyak peperangan dan fitnah 
yang berakibat kebinasaan mereka dan penghalalan terhadap isteri-isteri 
mereka. Kebinasaan seperti ini baru mereka alami di dunia . 
Belum lagi di akhirat dimana tindakan sewenang-wenang terhadap harta orang 
lain, terhadap isteri-isterinya dan menumpahkan darahnya merupakan 
kezhaliman yang paling besar dan dosa yang teramat besar. 
Perbuatan-perbuatan maksiat inilah yang merupakan sebab kebinasaan di 
akhirat dan mendapat azab neraka. 

Diantara Nash-Nash Yang Mencelanya 

Banyak sekali nash-nash yang mencela dan mengecam perbuatan kikir/bakhil, 
diantaranya: 
Firman Allah Ta’âla: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, 
mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Q,.s.al-Hasyr/59: 9) 
Firman Allah Ta’âla : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil 
dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, 
bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah 
buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak 
di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang 
ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. 
(Q,.s. Âli ‘Imrân/03: 180)] 
Firman Allah Ta’âla : “Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah 
kikir terhadap dirinya sendiri…”. (Q,.s. Muhammad/47: 38) 
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad dan Imam 
at-Turmuzy di dalam kitabnya dari hadits Abu Bakar bahwasanya Nabi 
Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidak masuk surga seorang yang 
bakhil”. 
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmuzy dan an-Nasâ-iy dari hadits 
Abu Dzar bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: 
“Sesungguhnya Allah membenci tiga (orang): (1) orang yang sudah tua tetapi 
berzina, (2) orang yang bakhil/kikir yang selalu menyebut-nyebut 
pemberiannya, (3) dan orang yang musbil (memanjangkan pakaiannya hingga 
melewati mata kaki) yang sombong”. 
Penyebab timbulnya 

Sifat Bakhil merupakan penyakit yang disebabkan oleh dua hal: 

Pertama, cinta terhadap hawa nafsu yang sarananya adalah harta. 
Kedua, cinta terhadap harta yang diakibatkan oleh hawa nafsu, kemudian 
hawa nafsu dan semua hajatnya tersebut terlupakan sehingga harta itu 
sendiri yang menjadi kekasih yang dicintainya. 

Terapinya 

Terapi yang dapat memadamkan hawa nafsu tersebut diantaranya: 
Merasa puas dengan hidup yang serba sedikit 
Bersabar dan mengetahui secara yakin bahwasanya Allah Ta’âla adalah Maha 
Pemberi rizki 
Merenungi akibat dari perbuatan bakhil di dunia sebab tentu ada 
penyakit-penyakit yang sudah mengakar pada diri penghimpun harta sehingga 
tidak peduli dengan apapun yang terjadi terhadap dirinya. 
Klasifikasi Prilaku Manusia Di Dunia 

Prilaku manusia di dunia ini terdiri dari tiga klasifikasi: 
Boros 
Taqshîr (Mengurang-ngurangi) alias Bakhil 
Ekonomis (berhemat/sedang-sedang saja) 
Klasifikasi pertama dan kedua merupakan prilaku tercela sedangkan 
klasifikasi ketiga adalah prilaku terpuji. 

Klasifikasi pertama, Boros (isrâf) adalah tindakan yang berlebih-lebihan 
di dalam membelanjakan harta baik yang bersifat dibolehkan ataupun yang 
bersifat diharamkan; ini semua adalah keborosan yang amat dibenci. 

Klasifikasi kedua, Taqshîr (mengurang-ngurangi) alias bakhil; orang yang 
bersifat seperti ini suka mengurang-ngurangi pengeluaran baik yang 
bersifat wajib ataupun yang dianjurkan yang sesungguhnya sesuai dengan 
tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri). 

Klasifikasi ketiga, ekonomis dan sistematis; orang yang bersifat seperti 
ini di dalam membelanjakan harta yang bersifat wajib yang terkait dengan 
hak-hak Allah dan makhluk melakukannya dengan sebaik-baiknya; apakah itu 
pengeluaran-pengeluaran biasa ataupun utang piutang yang wajib. Demikian 
pula, melakukan dengan sebaik-baiknya pengeluaran yang bersifat dianjurkan 
yang sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri). Allah Ta’âla 
berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka 
tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan 
itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Q,s.al-Furqân/25: 67) 

Inilah yang merupakan salah satu kriteria dari sifat-sifat yang dimiliki 
oleh ‘Ibâd ar-Rahmân (hamba-hamba Allah).Wallahu a’lam. 

DAFTAR PUSTAKA: 
‘Abdul Bâqy, Muhammad Fuâd, al-Mu’jam al-Mufahris Li Alfâzh al-Qur’ân 
al-Karîm 
Mausû’ah al-Hadîts asy-Syarîf (CD) 
al-Bassâm, ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahmân, Taudlîh al-Ahkâm Min Bulûgh 
al-Marâm, (Mekkah al-Mukarramah: Maktabah wa mathba’ah an-Nahdlah 
al-Hadîtsah, 1414 H), Cet. II 
ad-Dimasyqiy, al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh, Zainuddîn, Abi al-Faraj, 
‘Abdurrahmân bin Syihâbuddîn al-Baghdâdiy, Ibnu Rajab, Jâmi’ al-‘Ulûm wa 
al-Hikam fî Syarh Khamsîna Hadîtsan Min Jawâmi’ al-Kalim, (Beirut: 
Muassasah ar-Risâlah, 1412 H), Cet. III, Juz. II 
ar-Râziy, Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Abdul Qâdir, Mukhtâr ash-Shihâh, 
(Lebanon: al-Markaz al-‘Arabiy Li ats-Tsaqâfah wa al-‘Ulûm, tth) 
ad-Dimasyqiy, Abu al-Fidâ’, Ismâ’il bin Katsîr al-Qurasyiy, Tafsîr 
al-Qur’ân al-‘Azhîm, (Riyadl: Maktabah Dâr as-Salâm, 1414 H), Cet. I, Juz. 
VII 
al-Jazâ-iry, Abu Bakar, Jâbir, asy-Syaikh, Minhâj al-Muslim, (Madinah: 
Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, 1419 H), Cet. VI 
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke