Ada Jalan Ke Surga Di Angkot
oleh Abdul Mutaqin Jumat, 20/11/2009 14:04 WIB 
Naik kendaraan umum semisal Angkot memberikan kekayaan pengalaman untuk 
disikapi. Dari pengalaman yang menjengkelkan, menyenangkan bahkan mengharukan. 
Bagi siapa saja yang sanggup menangkap kesan dari semua itu, maka bertambahlah 
khazanah kearifan atas dirinya. Inilah karakter seorang mukmin, yaitu orang 
yang mampu menangkap hikmah yang berserakan di mana saja ia menjumpainya. Bagi 
yang menganggapnya hal biasa atau bahkan tak peduli, maka semua pengalaman itu 
menguap begitu saja tanpa kesan dan forgetted.

Di atas Angkot kita belajar kesabaran. Bayangkan, antara penumpang dan sopir 
memiliki jalan yang sama tetapi dengan kepentingan yang berbeda. Penumpang yang 
karyawan menginginkan cepat sampai di kantor agar tidak dimarahi atasan karena 
terlambat. Guru dan anak sekolah ingin cepat sampai di sekolah dan hadir di 
kelas tepat waktu. Pedagang ingin cepat sampai di pasar agar tidak kehilangan 
pembeli dan langganannya pindah ke pedagang lain. Maka, biarpun jok Angkot baru 
hanya satu dua penumpang yang mendudukinya, mereka menginginkan Angkot tetap 
berlari melaju mengejar waktu.

Tapi tidak bagi sang sopir. Hanya sisa satu celah penumpang yang belum terisi, 
Angkot masih enggan bergerak. Yang penting baginya setoran cukup dan ada sisa 
untuk anak isteri di rumah. Ia seperti tidak peduli dengan kegelisahan 
penumpang. Belum lagi setiap gang atau perempatan ia berhenti dan berharap ada 
penumpang baru.

Kadang sopirpun dibuat jengkel dengan sikap sebagian orang. Dari jauh ia sudah 
melambaikan tangan menawarkan tumpangan. Tapi orang yang ditawarinya tidak 
sedikitpun memberi respon "ya" atau "tidak". Ia terus saja mendekati Angkot. 
Dan setelah ia sampai di bibir aspal, barulah ia menggelengkan kepala. Di sini 
bukan hanya sopir yang jengkel, tetapi juga penumpang. Maka tumpahlah umpatan 
kejengkelan:

"Bilang dari tadi kalo ga mau naik. Susah amat bilang ya atau tidak!", mulut 
sang sopir meninggi.

"Sama Bang, tadi juga waktu ngetem Abang bilang langsung berangkat. Tapi lebih 
dari sepuluh menit kita naik, Abang baru jalan", penumpang menimpali.

Booom!. Gas diinjak dengan keras. Semua penumpang terguncang. Ada yang 
berteriak. Lalu umpatan berlompatan dari setiap bibir penumpang. Ada yang 
istighfar sambil mengurut dada.

Situasi kisruh seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi asalkan semua pihak 
sama-sama sabar. Sama-sama mengerti kepentingan masing-masing. Penumpang harus 
sabar serta cermat menghitung waktu keberangkatan dan selisih waktu ngetem 
Angkot sehingga tidak khawatir terlambat. Jika perlu tambahkan waktu berangkat 
lebih awal lima atau sepuluh menit dari kalkulasi waktu normal. Dan jangan 
pelit sekedar memberi isyarat "ya" atau "tidak" pada ajakan tumpangan sopir 
Angkot. Sopir Angkotpun demikian. Jika janjinya berangkat, ya berangkat.

Satu waktu, Saya pernah tertegun dengan perbincangan sopir dan penumpang Angkot 
hingga ke dasar hati. Bukan persoalan waktu dan uang setoran antara mereka yang 
sulit dikompromikan. Tapi perbincangan soal iman walau entah seberapa besar 
kadar penjiwaan mereka masing-masing. Biarlah itu soal diri mereka dengan 
Tuhan. Yang jelas, pengalaman saya di Angkot waktu itu seperti perjalanan 
ruhani yang mengharukan. Hingga saat ini, saya masih mengoleksi kisah itu dan 
menjadikannya hiasan abadi di dinding ingatan untuk seumur hidup.

Sejak pertama kali melangkahi pintu Angkot itu, saya sudah diberi kesan ramah 
oleh seorang wanita yang duduk persis di belakang sopir. Saya heran, baru kali 
itu menurut saya, wanita etnik bersikap demikian. Saya akui, perasaan heran 
seperti demikian bukanlah sikap yang arif. Keramahan tidak mengenal etnik. Ia 
milik siapa saja meskipun kadarnya berbeda-beda. Walau kemudian nalar saya 
bekerja sendiri setelah mendengar isi perbincangan di tengah Angkot yang melaju.

"Masih julan Ci?".

"Ya,kalo engga jualan, makan dari mana. Sekolah anak-anak siapa yang bayarin".

"Tapi, sekarang cari uang susah ya Ci. Saya narik dari pagi, sisanya pas buat 
nutupun kebutuhan hari ini. Enci sih enak, Cuma nungguin toko, uang datang 
sendiri".

"Alhamdulillah, tapi sama saja. Kalo rezeki lagi banyak ya banyak. Kalo lagi 
sepi ya, pas-pasan".

Haa ..., alhamdulillah?. Kalimat itulah yang membuat saya terkesima. Padahal 
lafadz amat biasa saya ucapkan dan saya dengar. Namun kala itu, ungkapan pujian 
yang menjadi kebiasaan bagi kita orang Islam, terdengar begitu istimewa dan 
surprise. Diam-diam saya surprise. Namun semakin jauh perbincangan itu saya 
ikuti, semakin lazim tahmid yang keluar dari mulut wanita itu. Saya menjadi 
paham. Bahkan lebih dari sekedar paham. Sesudahnya Saya bahkan kagum.

"Ci maaf ya, saya dengar katanya, mantan suami ingin rujuk?", sopir Angkot itu 
melanjutkan perbincangan.

"Tahu dari mana?".

"Denger-denger aja. Di pangkalan sih santer kabarnya".

Wanita itu tidak lagi menanggapi. Sepertinya ia tidak ingin masalah pribadinya 
diketahui orang lain. Saya lihat ia hanya tersenyum. Entah apa arti di balik 
senyumnya itu. Tapi akhirnya ia bercerita lebih panjang dan lebih substantif.

Menurutnya, mantan suaminya bukan sekedar mengajak kembali berkumpul sebagai 
suami isteri. Tapi mengajak pula kembali pada agama yang dulu dianutnya. Dengan 
Tegas ia menolak. Baginya mendapat hidayah Islam setelah sebelumnya ia kafir, 
adalah hadiah Allah yang tidak ternilai harganya. Ia sudah menentukan jalan 
hidup dengan memilih Islam sebagai keyakinannya. Ia akan tetap menjadi Islam 
sampai mati.

Keteguhannya pada Islam yang ia pilih, tidak bergeming dengan fasilitas yang 
dimiliki mantan suaminya. Bahkan ia berani menganjurkan agar suaminya bertaubat 
karena telah mempermainkan agama. Kembali memeluk Islam seperti beberapa waktu 
lalu dan sungguh-sungguh menjadi muslim yang taat. Apabila syarat itu dipenuhi, 
ia bersedia kembali ke rumah yang ditinggalkan dulu untuk menjadi pasangan dan 
orang tua bagi anak-anaknya.

"Keyakinan saya pada Islam sudah harga mati. Saya tidak akan mungkin menjualnya 
dengan apapun. Dengan begini saya sudah bahagia. Saya tidak akan memilih jalan 
yang belum jelas setelah saya mendapatkan petunjuk dan keselamatan".

Bulu kuduk saya berdiri. Ya Allah Ya Rabb, Maha Benar Engkau dalam sabdaMu:

"Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat 
petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang 
yang merugi". (terjemah QS. Al-A'raf [7] : 178).

Iman memang tidak dapat dibeli. Tidak juga diwariskan dari ayah yang beriman. 
Iman adalah kearifah Allah kepada siapa yang dikehendakiNya. Tetapi hidayah 
juga harus dicari dan diupayakan. Sebab begitu banyak Allah memberikan hidayah 
kepada orang yang telah berjuang keras untuk mendapatkannya. Maka, 
mempertahankan hidayah yang telah digenggam, menjadi lebih berarti bagi yang 
menghabiskan hidup di jalan Allah. Apapun taruhannya. Kali ini saya temukan 
tidak di masjid atau majlis ta'lim, tapi di jok Angkot.

Bisa jadi, orang seperti wanita di Angkot itu lebih merasakan manis dan 
lezatnya iman ketimbang kita yang dilahirkan dengan hidayah yang terpelihara. 
Mungkin pula mereka lebih keras ujian dan cobaannya ketimbang kita yang sejak 
semula telah "nyaman" hidup di bawah atap hidayah. Tidak jarang mereka harus 
kehilangan keluarga karena diasingkan bahkan dibuang dari komunitas 
silsilahnya. Tidak sedikit pula yang dilukai fisiknya dan di teror mentalnya. 
Maka, bersyukurlah berlipat-lipat bagi siapa yang menjadi manusia pilihan Allah 
dan hidup di bawah bangunan Iman, Islam dan Ihsan sampai ia menutup kelopak 
mata.

***

"Selamat pagi, Pak".

"Pagi. Ada yang bisa kami bantu?".

Pagi sekali, seorang lak-laki mengetuk pintu ruang guru. Saya baru saja 
meletakkan tas dan membuka layar notebook. Jam baru menujuk angka 06.20 menit. 
Suasana masih sepi. Tadinya saya menduga laki-laki itu adalah wali murid.

"Pak, saya sopir Angkot. Saya hanya ingin mengembalikan handphone yang saya 
temukan di jok belakang mobil saya", katanya membuka percakapan.

"Tapi, mengapa diantar ke sini?", tanya saya.

"Tadi pagi ada sms, isinya menyebut kelas 7 D Madrasah Pembangunan. Nama 
pengirimnya juga jelas tertera sebagai siswa sekolah ini".

Untuk yang kesekian kali, Saya bersyukur bertemu dengan sopir Angkot yang 
budiman. Saya sampaikan terima kasih. Segera saya persilahkan untuk menunggu 
dan saya tunjukkan kepada siapa ia harus berhubungan.

Alhamdulillah. Masih tersisa orang-orang baik di sekeliling kita. Masih ada 
Iman dan jalan ke surga meskipun di atas Angkot. Tinggal kita, bisakah 
memelihara Iman di manapun kita berada?



Ciputat, November 2009.

Abdul.



CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke