Tahun pertama saya di kantor yang baru, cukup berat. Fuiih ! bagaimana lagi, ini memang perusahaan baru, berdiri tahun 2006 di Indonesia. Tetapi memang, perkembangannya sangat siginifikan. Secara term of value, nilai selling per tahunnya cukup besar. Singkat kata, saya harus melakukan set-up di warehouse dan logistic, membenahi WMS (Warehouse management system), mulai dari manpower, cost dan budgeting, KPI dan lain sebagainya.
Saya pikir…hmm…this is good point. Saya benar-benar belajar mengambil keputusan dari sudut pandang manajerial dan operational. OK. Cukup ! **** Kemudian, minggu ini, target manpower requirement harus closed. Mbak HR sudah menyerahkan beberapa kandidat yang akan saya pilih. Ada beberapa orang yang menarik perhatian saya. Oh ya, posisinya? ini entry level dan posisi operational. Saya memerlukan beberapa orang untuk picking order dan receiving person. Sebelumnya, Mbak HR bilang ke saya: “Pak, kualifikasi dan jobs desc bisa dijelaskan ndak? Biar nanti kami ndak salah pilih orang?” “Ok” Jawab saya. Saya berikan nota kecil, saya tulis jobs desc. dan kualifikasi. Standar saja. Saya tidak terlalu muluk-muluk. Cukup minimal SMA, male (karena memang pekerjaan lapangan), bisa komputer dan saya prefer kalo dia sudah punya pengalaman bekerja di logistik/distribusi atau warehouse. Tapi, bagaimana bijaknya menyeleksi beberapa kandidat ini? Saya bukan orang HR dan tidak pernah belajar psikologi. Posisi saya jelas, saya bakal jadi user mereka. Kebetulan, di LinkedIn ada diskusi menarik terkait dengan ini, yakni perihal pertanyaan sederhana tapi point-nya penting sekali. Pertanyaannya adalah: “Ketika Anda merekrut karyawan baru, mana yang lebih anda dahulukan, skill ataukah attitude (sikap/kepribadian)?” Skill berkaitan dengan kemampuan teknis. Misalnya, bisa komputer, internet, mengerti konsep order picking, manufacturing oder, cycle count dan lain sebagainya. Skill bisa dilihat dari pengalamanya bekerja. Mungkin, di CV dicantumkan sejumlah project atau pencapaian yang diraih di tempat yang lama. Sedang attitude? Mungkin akan kelihatan ketika melakukan wawancara, sikapnya berbicara, intonasinya, keberanian, kemampuan mengungkapkan ide, argumentasi. Tapi, kadang-kadang itu semua kamuflase, bisa dipelajari. Lantas, setelah 2-3 bulan bekerja….kelihatan belangnya. Saya tidak pandai menganalisa hal-hal seperti ini. Saya tidak tahu bagaimana menganalisa pertanyaan ini secara psikologi sciences. Tapi, sederhana saja, besuk pagi: Saya akan mencari yang terbaik diantara mereka dengan cara saya sendiri. Menurut Anda bagaimana? Sumber: Nurhadi [image: ole0.bmp] -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] or add me in Yahoo Messenger at [email protected] thanks for joinning this group.
<<ole0.bmp>>
