Nice one
Seru juga cerita Confusius
Lagi donk ^_~

Astrid Habie wrote:
> Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya 
> baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu 
> toko kain sedang dikerumunin banyak orang.
>
> Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
> Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24 ?"
> Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak 
> usah diperdebatkan lagi".
> Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata:
> "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke 
> Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".
>
> Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
> Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong 
> untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
> Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu". Keduanya sepakat 
> untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.
>
> Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada 
> Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan 
> jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan 
> gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya 
> topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
>
> Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan 
> Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia 
> merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi 
> belajar darinya.
>
> Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi 
> hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.Sebelum berangkat, Yan Hui 
> pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya 
> selesai, dan memberi Yan Hui 2 (Dua) nasehat : "Bila hujan lebat, 
> janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."
>
> Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan 
> tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan 
> lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat 
> nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya 
> sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.
>
> Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui 
> terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya 
> akan membunuh orang?
>
> Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu 
> tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. 
> Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi 
> kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau 
> menghunus pedangnya.
>
> Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat 
> Confusius, jangan membunuh.
> Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya 
> adalah adik istrinya.
>
> Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan 
> berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?" Confusius 
> berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan 
> petir,makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
> Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru 
> mengingatkanmu agar jangan membunuh".
>
> Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
> Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan 
> keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. 
> Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan 
> jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli 
> kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, 
> jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"
>
> Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang 
> lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid 
> benar2 malu." Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu 
> mengikutinya.
>
> Cerita ini mengingatkan kita:
>
> Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku 
> kehilangan kamu, apalah artinya.
> Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap 
> adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.
>
> Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an 
> untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah 
> terlambat.
>
> Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, 
> malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
>
> Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
> (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)
>
> Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
> (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
>
> Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
> (Istri tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself")
>
> Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
> (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).
>
> -- 
> best regards,
>
> Astrid
>
>
> "Hide the pain and fear far
> The one who's right will win
> Know that everything is in your hands"
>
> RISE ~ Yoko Kanno, Origa
> -- 
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
> or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
> thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke