Alfin arifin 














السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass...zainal
AMBISI AKHIRAT

 
Dunia dengan berbagai keindahan dan kelezatannya memang sangat menggiurkan 
dan menjanjikan, maka tak ayal orang yang lemah pondasi imannya akan 
terseret bahkan menjadi budaknya, semuanya demi dunia. Agar dapat lolos 
dari jerat ini, maka seorang Muslim hendaklah membekali dirinya dengan 
keimanan dan ketakwaan serta memompa dirinya agar memiliki ambisi akhirat 
yang sangat tinggi. 
 
Karena, siapa saja yang ambisinya akhirat, maka ia akan selalu 
mengingatnya dalam setiap kondisi di dunia. Anda akan mendapatinya tidak 
bergembira, tidak bersedih, tidak ridha, tidak marah dan tidak berusaha, 
kecuali untuk akhirat. Ia akan selalu mengingat akhirat dalam mencari 
rizki, berjual beli, bekerja,memberi, dan dalam semua urusannya. Siapa 
saja yang demikian kondisinya, maka Allah subhanahu wata’ala akan 
menganugerahinya tiga kenikmatan yaitu: 
 
Pertama, Anugerah Persatuan. 
 
Allah subhanahu wata’ala akan menganugerahinya ketenteraman dan 
ketenangan, menghimpun pikirannya, mengurangi kelupaannya, menyatukan 
keluarga nya, menambah rasa kasih antara dia dan mereka, memudahkan mereka 
untuknya, mempersatukan semua kerabatnya, menghindarkannya dari perpecahan 
dan pemutusan hubungan rahim. Dengan begitu, seluruh dunia bersatu 
untuknya. Dunia bersatu untuk kepentingannya dan semua apa yang 
diinginkannya di dalam berbuat ta'at kepada Allah subhanahu wata’ala. 
 
Ke dua, Anugerah Kaya Hati. 
 
Ini merupakan nikmat yang amat besar yang dianugerahkan Allah subhanahu 
wata’ala khusus bagi hamba yang dikehendaki-Nya. Allah subhanahu wata’ala 
berfirman, "Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang 
baik." (QS. An-Nahl:97). 
 
Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan keridhaan dan kepuasan hati 
yang tidak lain adalah kaya diri dan kepuasannya dengan apa yang 
dianugerahkan melalui doa yang sungguh-sungguh. 
 
Kekayaan bukan segala-galanya, bahkan terkadang ada orang yang dibuat 
letih oleh hartanya. Sedangkan orang yang menjadikan akhirat sebagai 
ambisinya, kita dapati dia selalu ridha, puas diri, bahagia, ceria dan 
baik jiwanya. Ia tidak tamak kepada dunia dan bekerja sesuai dengan sabda 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Bertakwalah kepada Allah dan 
perbaguslah di dalam mencari (rizki)." Yakni, berusahalah dengan usaha 
yang diterima, yang dibolehkan di dalam mendapatkan dunia. Janganlah 
seseorang menjadikannya sebagai ambisi yang menyibukkan dirinya yakni ia 
habiskan semua waktunya untuk dunia. 
 
Ke tiga, Dunia Datang dan Cinta Kepadanya. 
 
Dunia ini memang aneh; bila anda kejar, ia akan lari tetapi bila anda 
berpaling darinya, ia akan mengejar anda, dan ini sesuatu yang sudah 
terbukti. Banyak orang shalih menyebut kondisi mereka dengan dunia, "Kami 
sibukkan diri dengan urusan dien, lalu dunia pun menyongsong kami." 
 
Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan dunia sebagai ambisinya dan segala 
sesuatu ia jadikan demi dunia; seperti ridha, marah, senang, benci, ceria, 
bicara, mencela dan sebagainya, maka orang yang kondisinya demikian akan 
diberi hukuman oleh Allah subhanahu wata’ala dengan tiga hukuman yang 
disegerakan: 
 
Pertama, Mencerai-beraikan Persatuannya. 
 
Ia akan menjadi orang yang hatinya tercerai-berai, pikirannya kacau, 
banyak cemas terhadap urusan-urusan dunia, sekalipun hanya sepele. Harta, 
keluarga dan tanggungannya membuatnya terpisah, sekalipun mereka berada di 
hadapan matanya, sebagai akibat dari mementingkan dunia saja. 
 
Ke dua, Dilanda Kefakiran. 
 
Ia tidak pernah merasa puas, sehingga membuatnya selalu berhajat di balik 
kesenangan dunia dan perhiasannya. Ini tentu saja membuat nya semakin 
letih, sedih dan cemas. Ia boros terhadap kesenangan dunia dan hal yang 
bersifat hura-hura, namun amat bakhil di dalam bersedekah dan berbuat 
kebajikan. 
 
Ke tiga, Dunia Lari Darinya. 
 
Ia mencarinya namun dunia menjauhinya. Ia berlari mengejar dan meminum 
darinya seperti orang yang menimba air di laut untuk diminum; namun setiap 
diminum, ia semakin merasakan haus dan dahaga. 'Utsman bin 'Affan 
radhiyallahu ‘anhu berkata, "Ambisi dunia adalah kegelapan di hati, 
sedangkan ambisi akhirat adalah cahaya di hati." 
 
Dalam masalah ini, manusia terbagi kepada tiga jenis: 
 
Pertama, Orang-orang yang dikalahkan oleh ambisi akhirat sehingga mereka 
bekerja untuk dunia menurut kacamata akhirat dan menyadari bahwa dunia 
hanyalah jembatan yang membawa mereka sampai ke akhirat. 
 
Ke dua, Orang-orang yang dikalahkan oleh cinta dunia hingga akhirat 
terlupakan oleh mereka, dan ambisi dunia telah menyibukkan hati mereka. 
 
Ke tiga, Orang-orang yang disibukkan oleh dunia dan juga akhirat. Mereka 
ini adalah para pencampur-aduk urusan, dan betapa banyaknya manusia tipe 
seperti ini di zaman sekarang. Mereka berada dalam posisi yang tidak aman 
bahkan dalam bahaya. 
 
Kriteria Orang yang Memiliki Ambisi Akhirat 
 
 
Memiliki Rasa Takut dan Sedih. 
 
Sekalipun mereka berharap akan rahmat Allah subhanahu wata’ala dan ta'at 
kepada-Nya, hanya saja mereka tidak terpaku pada hal itu saja. Mereka 
dilanda kesedihan atas segala hal yang telah disia-siakan dan menyesali 
dosa yang dilakukan sekalipun hanya sepele. Mereka selalu dalam kondisi 
sadar dan ingat. Mereka bersedih atas kezhaliman, kekerasan, 
keterlantaran, keterhinaan dan semua kondisi yang dialami kaum muslimin. 
Dan yang paling mereka takutkan adalah buruknya akhir hidup (Su`ul 
Khatimah). 
 
Sufyan ats-Tsaury berkata, "Aku takut kalau tercatat di Lauh al-Mahfuzh 
sebagai orang yang sengsara, aku takut terampas iman ketika akan mati." 
 
Kesedihan itu membawa mereka untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala 
dan menyucikan diri dari segala dosa. Mereka selalu sedih bila melakukan 
suatu perbuatan dosa hingga dapat melakukan suatu kebaikan yang 
menghapusnya. Namun orang yang gandrung dengan dunia, semua 
kesedihan-kesedihan dan ambisinya hanyalah demi dunia. 
 
 
Terus Beramal untuk Akhirat. 
 
Kesedihan mereka karena ambisi akhirat, rasa takut dan ingat mati tidak 
pernah menahan tangis di rumah-rumah mereka atas diri mereka. Rasa takut 
mendorong mereka untuk menambah frekuensi amal shalih. Sedangkan orang 
yang merasa aman, tergoda dan terpedaya dengan amalannya, dikuasai oleh 
sifat malas dan berandai-andai serta kurang memiliki sifat wara' karena 
mengandal kan perma'afan Rabb-nya semata. 
 
 
Tersentuh dengan Pemandangan Kematian dan Selalu Mengingatnya. 
 
Kondisi ini menyebabkan hati mereka hidup sebab mereka mengaitkan semua 
apa yang mereka lihat di dunia dengan akhirat. Hal yang paling menyentuh 
hati mereka adalah pemandangan kematian dan saat-saat sekarat. 
 
Lain halnya dengan orang-orang yang ambisinya hanya dunia dan hati mereka 
sudah keras, mereka tidak mau mendengar kematian disebut bahkan merasa 
terganggu karena mengira dapat lolos dari kematian. Al-Qur'an menolak 
anggapan orang yang berpikiran seperti ini,(baca: QS. Al-Jumu'ah:8).
 
 
Faktor-Faktor yang Menghalangi Perhatian terhadap Akhirat 
 
 
Mengejar Dunia dan Antusias Terhadapnya. 
 
Tidak dapat diragukan lagi bahwa sibuk dengan urusan dunia merupakan 
faktor paling besar yang dapat menyebabkan lemahnya persiapan untuk 
melakukan amalan setelah mati. Yang dicela dari hal ini bilamana 
kesibukan-kesibukan duniawi itu semata-mata menjadi tujuan; dicinta dan 
dipatuhi selain Allah subhanahu wata’ala. 
 
 
Tidak Mau Mengingat Kematian dan Dahsyatnya Kiamat. 
 
Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiran orang-orang yang gandrung 
dengan dunia ini pemandangan akhirat, mengingat mati dan setelahnya. Hal 
ini membuat mereka menyia-nyiakan waktu dan umur. 
 
 
Terpedaya dengan Kesehatan Jasmani. 
 
Di antara orang-orang yang gandrung dengan dunia ada yang terpedaya dengan 
kesehatan jasmani dan masa mudanya. Mereka tidak menyadari bahwa kesehatan 
itu hanya pinjaman dan barangkali pinjaman itu harus dikembalikan, 
sementara ruh masih berada di dalam jasad. Bila yang terpedaya dengan 
kesehatannya ini adalah orang yang memiliki jabatan dan kekayaan, tentu ia 
akan bertambah lupa terhadap akhirat dan lalai untuk meraih perbekalannya. 

 
Sumber: “Takwîn Hamm al-Akhirah” karya Asma` binti Râsyid ar-Ruwaisyid. 
(Abu al-Hârits)

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke