> Gali Kata
> Alkitab
>
>
> Rubrik
> ini menyediakan artikel yang berisi makna
> suatu kata dalam Alkitab yang diteliti dengan menggali akar
> kata dalam bahasa
> Ibrani Kuno. Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan
> pengembangan dari
> artikel pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang
> disebarkan setiap hari
> Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari
> telepon selular
> nomor 085294397157 atas nama Hery
> Setyo
> Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang
> disebarkan melalui e-mail ini
> -- mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari
> Kamis. Artikel yang
> sama disebarkan juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata..
> Harap artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua.
> Tuhan Yesus
> memberkati.
>
> Pelayanan via
> E-mail
>
> Edisi 70:
> Kamis, 9 Juli 2009
>
> “Mendambakan”
> Firman Tuhan
>
> Kata
> “mendambakan” diterjemahkan dari kata Ibrani y’b (disusun dari huruf-huruf
> Ibrani
> Yod-Alef-Bet; dapat dibaca yaab), yang
> diturunkan dari akar-kata
> induk ’b (Alef-Bet). Dalam piktograf
> Ibrani kuno, huruf Alef adalah lambang kekuatan, sedangkan
> huruf Bet adalah
> lambang tenda. Gabungan dua gambar tersebut berarti
> “kekuatan rumah.”
>
> Tiang tenda atau
> rumah menyangga tenda atau rumah itu agar tidak roboh,
> sebagaimana peran bapak
> menyangga keluarga atau rumah tangga. Jadi makna
> “mendambakan” sangat penting seperti
> tiang penyangga yang menjadi sumber “kekuatan rumah”
> itu, atau kekuatan seorang
> bapak yang menjadi penopang utama dalam keluarga agar tetap
> berdiri. Seorang
> yang “mendambakan” sesuatu pasti ia mengumpulkan
> segenap tenaga atau kekuatan
> untuk mendapatkannya.
>
> Mendambakan
> Firman Tuhan (Mazmur 119:129-136)
>
> Mazmur
> 119:131: “Mulutku
> kungangakan dan megap-megap, sebab aku
> mendambakan perintah-perintah-Mu.”
>
> “Mulutku kungangakan dan
> megap-megap”, itulah ungkapan
> dramatis Pemazmur sebagai ekspresi kesungguhannya dalam
> mendambakan perintah
> Tuhan. Dalam bagian ayat 129-135, beberapa istilah dipakai
> untuk menunjuk
> maksud yang sama, Taurat Tuhan (bandingkan ayat 136),
> yaitu:
> peringatan-peringatan (ayat 129), firman-firman (ayat 130),
> perintah-perintah
> (ayat 131), janji (ayat 133), titah-titah (ayat 134), dan
> ketetapan-ketetapan
> (ayat 135).
>
> Mengapa ia sampai pada tingkat
> pendambaan seperti
> itu? Dalam ayat 129 Pemazmur
> menyatakan
> bahwa peringatan-peringatan Tuhan itu ajaib. Dalam ayat
> berikutnya (ayat 130)
> tertulis, bahwa bila firman Tuhan itu tersingkap, ia
> memberi terang dan
> pengertian kepada orang-orang bodoh. Keajaiban, terang, dan
> pengertian itulah
> yang membuat Pemazmur mendambakan perintah-perintah Tuhan
> itu, sehingga
> “jiwanku memegangnya” (ayat 129).
>
> Bagi Pemazmur, pemahaman tentang
> firman Tuhan itu
> ternyata tidak hanya pengakuan bahwa firman itu ajaib. Rasa
> empatinyapun terbangun
> tatkala ia melihat orang tidak berpegang kepada Taurat
> Tuhan itu. Ia menangis.
> Tulis Pemazmur: “Air mataku berlinang seperti aliran air,
> karena orang tidak
> berpegang pada Taurat-Mu” (ayat 136).
>
> Dengan demikian ada alasan mendasar
> bagi sang Pemazmur
> “mendambakan” firman Tuhan, bahwa firman Tuhan itu
> ajaib, memberi terang, dan
> pengertian, serta membawanya rasa empati kepada orang
> lain. Mendambakan firman menjadi
> kekuatan jiwa sang
> Pemazmur, karenanya jiwanya memegangnya.
>
> Implementasi
>
> Seorang nenek yang berusia sekitar
> 70 tahun di kampung
> saya di Salatiga, Jawa Tengah, tidak dapat membaca tulisan
> satu katapun, karena
> ia buta huruf. Namun karena kerinduannya untuk dapat mengerti firman Tuhan,
> ia belajar membaca
> sendiri
> pada usia yang tua renta. Saya melihat sendiri usahanya
> itu. Ia mengerahkan
> tenaga dan pikirannya untuk belajar membaca. Setiap hari,
> ia menghabiskan waktu
> berjam-jam untuk belajar membaca Alkitab. Pada mulanya, ia
> mengeja tiap huruf
> dalam setiap kata di Alkitab. Akhirnya, setelah
> menghabiskan waktu beberapa
> tahun, ia lancar membacanya. Sekarang, ia tidak dapat
> membaca Alkitabnya lagi
> karena pandangannya kabur.
>
> Nenek itu memiliki dambaan yang
> kuat, sehingga usahanya
> itu dilakukan dengan sekuat tenaga. Dambaan itulah yang
> menjadi penopang kekuatannya.
> Saya rasa, bukan sekedar karena ia memiliki dambaan, tapi
> ia memiliki dambaan
> yang tepat, yaitu firman Tuhan. Karena dambaan itulah ia
> mengumpulkan segenap
> daya dan upaya, sehingga ia mampu mencapainya, yaitu dapat
> membaca firman Tuhan
> sendiri.
>
> Sudahkan saya dan Anda memiliki
> dambaan yang tepat, yaitu
> firman Tuhan? Jika kita tidak mendambakannya, maka kita
> tidak akan menikmati
> firman Tuhan itu. Mendambakan firman Tuhan berarti memiliki
> kekuatan penopang
> untuk senantiasa memegangnya.
>
> Sudahkah saya dan Anda memiliki
> alasan yang tepat untuk
> mendambakan firman Tuhan itu? Apakah kita sudah mengalami
> keajaibannya,
> terangnya, dan pengertian yang disingkapkannya?
>
> Kalau kita sudah menikmati semua
> itu, apakah kita juga
> akan memiliki empati kepada orang lain yang tidak memegang
> firman Tuhan?
>
> (Artikel ini
> ditulis oleh Hery Setyo Adi,
> yang menggunakan rujukan dari berbagai
> sumber)
>
>
>
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.