Waddoooohhh..Dah berkali2 baca ini tetep bikin gw Sedih..
Ga ada duanya dah Sang Bunda...
  ----- Original Message ----- 
  From: PJ 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, December 22, 2009 2:46 PM
  Subject: ~ aga ~ Delapan kebohongan ibu


    *Delapan kebohongan ibu*



  Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
  membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
  ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya
  dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari
  penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum
  bunga yang paling indah di dunia.



  Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir Sebagai seorang anak
  laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
  seringkali kekurangan.

  Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil
  memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
  "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA



  Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
  senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap
  dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi
  untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar
  dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di
  sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang
  yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu
  seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan
  memberikannya kepada ibuku.
  Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak
  suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA



  Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku,
  ibu pergi ke koperasi untuk Membawa sejumlah kotak korek api untuk
  ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk
  menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari
  tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan
  gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api.
  Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja."
  Ibu tersenyum dan Berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidakcapek"
  ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA



  Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi
  ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang
  tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa
  jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu
  dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam
  botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat
  dibandingkan dengan kasih saying yang jauh lebih kental.
  Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
  ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak
  haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT



  Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
  sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia
  harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun
  semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi
  keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang
  tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun
  masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita
  yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi.
  Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
  ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA



  Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
  bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
  mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur
  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
  Kakakku dan Abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit
  uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak
  mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu
  berkata :
  "Saya punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM



  Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
  memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat
  sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di
  perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa
  ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,
  bermaksud tidak mau
  merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak
  terbiasa"----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH



  Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung,
  harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra
  atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
  melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
  operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh
  kerinduan. Walaupun senyum
  yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang
  ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh
  ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap
  ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat
  ibuku dalam kondisi seperti ini.

  Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku,Aku tidak
  kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

  Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup
  matanya untuk yang terakhir kalinya.

  Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
  tersentuh dan ingin sekali mengucapkan :

  " Terima kasih ibu ! "

  Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah
  ibu kita?
  Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang
  dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini,
  kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu
  kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di
  rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, pasangan kita, anak kita,
  kita pasti lebih peduli dengan mereka dibandingkan ayah dan ibu kita.

  Buktinya, kita selalu cemas akan kabar orang-orang tersebut, cemas
  apakah mereka sudah makan atau belum, cemas apakah mereka bahagia bila
  di samping kita.
  Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
  Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
  sudah bahagia atau belum?

  Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi....
  Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,
  lakukanlah yang terbaik.

  Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari...



  Selamat hari ibu

  I love you mom



  --
  you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
  to post emails, just send to :
  [email protected]
  to join this group, send blank email to :
  [email protected]
  to quit from this group, just send email to :
  [email protected]
  if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
  or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
  thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke