> Gali Kata
> Alkitab
>
>
> Rubrik
> ini menyediakan artikel yang berisi makna
> suatu kata dalam Alkitab yang diteliti dengan menggali akar
> kata dalam bahasa
> Ibrani Kuno. Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan
> pengembangan dari
> artikel pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang
> disebarkan setiap hari
> Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari
> telepon selular
> nomor 085294397157 atas nama Hery
> Setyo
> Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang
> disebarkan melalui e-mail ini
> -- mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari
> Kamis. Artikel yang
> sama disebarkan juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata..
> Harap artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua.
> Tuhan Yesus
> memberkati.
>
> Pelayanan via
> E-mail
>
> Edisi 73:
> Kamis, 30 Juli 2009
>
> Pertanda
>
> Kata “pertanda”
> atau “tanda” merupakan padanan dari kata Ibrani ‘ot (disusun dari huruf-huruf
> dan tanda baca Ibrani: Alef-Holem
> Waw-Taw).
> Akar-induk kata tersebut adalah AT
> (Alef-Taw). Dalam piktograf Ibrani Kuno huruf Alef adalah
> sebuah gambar kepala
> sapi jantan, sedangkan huruf Taw adalah gambar dua tongkat
> menyilang yang
> digunakan untuk membuat sebuah tanda. Gabungan dua gambar
> tersebut melambangkan
> “seekor sapi jantan yang bergerak ke arah suatu
> tanda.”
>
> Ketika membajak tanah
> dengan sapi, pembajak mengemudikan sapi ke arah suatu tanda
> yang berada di
> kejauhan. Pembajak mengarahkannya dengan menjaga alur bajakan tetap lurus.
> Seorang musafir tiba
> di
> tempat tujuan dengan mengikuti suatu tanda. Bepergian ke
> arah suatu tanda,
> tujuan, atau seseorang. Sebuah panji-panji atau bendera
> dengan cap atau tanda
> keluarga menggantung sebagai simbol keluarga. Begitu juga,
> suatu perjanjian
> atau persetujuan oleh dua orang ditandai dengan suatu tanda
> sebagai peringatan
> bagi kedua belah pihak.
>
> Sesekali saya
> mengantar anak saya ke sekolah. Kami melewati persawahan
> dan suatu kali saya
> memperhatikan petani yang sedang membajak sawah itu. Bajak dengan dua kerbau
> dikendalikannya
> dengan tenang membentuk alur-alur sejajar. Indah dan rapi
> alur bajakan itu.
> Pembajak bergerak ke arah tertentu, tidak sembarangan. Ia
> mengarahkan kerbaunya
> ke arah yang ia tuju. Seolah di benaknya, ada titik yang ia
> tuju.
>
> “Tanda” atau “pertanda”
> sebagai penentu arah bagi seseorang dalam perjalanan,
> peringatan bagi kedua
> belah pihak yang melakukan perjanjian, dan simbol keluarga.
>
>
> Yesaya
> 7:14
>
> “Sebab itu Tuhan sendirilah yang
> akan memberikan kepadamu
> suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda
> mengandung dan akan
> melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan
> Dia Imanuel”
>
> Ucapan Yesaya
> ini disampaikan kepada Ahas, raja Yehuda yang sedang
> mengalami krisis. Kerajaan
> Yehuda diserang Rezin, raja Aram dan Pekah, raja Israel.
> Kedua raja itu marah
> terhadap Ahas, sebab ia tidak mau bergabung dengan mereka
> untuk membentuk persekutuan
> anti Asyur (2 Raja-raja 16:5). Akibat serangan itu, di
> pihak Yehuda banyak
> jatuh korban dan orang-orangnya menjadi tawanan. Sekalipun,
> akhirnya, tawanan
> itu dapat kembali lagi ke Yehuda lantaran peran nabi Oded
> (2 Tawarikh 28:9-15).
>
> Tuhan, melalui
> nabi Yesaya, berfirman kepada Ahas, bahwa Yehuda akan
> diselamatkan dari ancaman
> Aram dan Israel yang menyerangnya. Raja Ahas dan rakyatnya
> memang gemetar
> ketakutan. Tapi, Tuhan berfirman, supaya
> mereka meneguhkan hati dan tenang, tidak takut dan
> kecut (Yesaya 7:4).
> Bahkan, Tuhan berfirman supaya raja Ahas meminta tanda
> untuk meneguhkan yang
> dijanjikan Tuhan itu (ayat 10).
>
> Bagaimana sikap
> Ahas? Apakah jawabnya dalam ayat 12, yaitu ia tidak mau
> meminta dan tidak mau
> mencobai Tuhan merupakan kesalehannya di hadapan Allah?
> Ayat berikutlah (13) jawabnya,
> bahwa Ahas dinilai bersalah. Ia, “melelahkan orang,
> sehingga ia melelahkan
> Allahku juga.” Memang, kesaksian
> penulis
> kitab Tawarikh dan Raja-raja menyebutkan, bahwa Ahas tidak
> melakukan apa yang
> benar di mata Tuhan (2 Tawarikh 28:1 dan 2 Raja-raja 16:2).
>
>
> Rupanya, raja
> Ahas tidak percaya kepada Allah. Hal ini terungkap jelas
> dalam 2 Raja-raja
> 16:2. Ahas lebih memilih mencari perlindungan kepada
> manusia. Ia datang kepada
> raja Asyur, Tiglat-Pileser. Ahas
> mengirim emas dan perak sebagai persembahan kepada raja
> Asyur yang diambil dari
> rumah Tuhan dan dalam perbendaharaan istana raja.
> Ketidaktaatan Ahas tidak
> hanya dalam hal melakukan persekongkolan politik dengan
> Asyur. Ia pun
> menjadikan ilah Damsyik menjadi alahnya (ayat 10-18).
> Memang, Raja Asyur
> bersedia dan berhasil mengalahkan raja Aram (7-9).
>
>
> Tapi, apa yang
> terjadi di kemudian hari? Yehuda harus mengalami serangan
> Asyur (Yesaya 8:5-10),
> negeri yang sebelumnya menjadi pelindungnya. Pertolongan
> Asyur, rupanya, hanya
> bersifat sementara. Pada gilirannya, penolongnya itu tidak
> setia, dan malah
> menyerangnya. Itulah persekongkolan politik.
>
>
> Bagaimana dengan
> Allah? Penolakan Yehuda melalui Ahas, rajanya itu, tidak
> membuat Allah mengendurkan
> niatNya untuk menolong Yehuda. Sekalipun pertolongan Allah
> ditolak Ahas, Ia
> malah memberikan pertolongan yang bersifat jauh ke masa
> yang akan datang dan
> meliputi seluruh manusia. Semua itu dilakukan Allah melalui
> Yehuda: “…Tuhan
> sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda:
> Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan
> melahirkan seorang
> anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia
> Imanuel.”
>
> Imanuel sebagai “pertanda”,
> berarti menjadi penentu arah dalam sejarah pertolongan
> Allah kepada manusia. Allah
> membuktikannya! Sekalipun di kemudian hari pengganti raja
> Ahas, yaitu Hizkia,
> mengalami sakit parah dan belum memiliki anak (sehingga
> mengancam generasi
> penerus keturunan Daud yang akan melahirkan Yesus), Tuhan
> mengabulkan doanya,
> sehingga sembuh. Bahkan, umurnya diperpanjang 15 tahun.
> Pada masa itulah,
> Hizkia memiliki anak, yaitu Manasye. Kelahiran Manasye ini
> memiliki dua peran: melanjutkan
> tampuk kekuasaan dinasti Daud dalam kerajaan Yehuda (2
> Raja-raja 21:1; 2
> Tawarikh 33:1)dan melanjutkan garis keturunan Daud untuk
> melahirkan Yesus (Matius
> 1:10). Garis keturunan Daud tidak lenyap, sekalipun Yehuda
> pada akhirnya
> dibuang ke Babel. Pada masa pembuangan dan paska pembuangan
> garis keturunan
> Daud itu tidak terputus, sehingga Tuhan Yesus dilahirkan oleh keturunan Daud
> itu (Matius
> 1:11-16).
>
> Betapa luar
> biasa “pertanda” yang diberikan Allah itu, yaitu
> Imanuel. “Pertanda” itu direalisasikan
> tujuh ratus tahun kemudian. Dia sungguh setia menepati
> janjiNya, sekalipun Ahas,
> menolak pertolongan Allah. Bahkan, Ahas, raja yang jahat di
> hadapan Allah itu, dicatat
> oleh Matius sebagai nenek moyang Tuhan Yesus Kristus
> (Matius 1:9).
>
> Implikasi
>
> Allah sungguh
> setia terhadap janjiNya untuk memberikan “pertanda”
> bagi Yehuda dan seluruh
> umat manusia untuk menjadi penolongnya. Bahkan, sejarah
> bangsa-bangsa pun
> dikendalikan olehNya demi janjiNya itu. Adakah yang harus diragukan dari
> Allah,
> bahwa
> Dia mau menolong manusia dari kegelapan karena kejatuhannya
> ke dalam dosa?
>
> Datanglah kepada
> penolong yang setia dan teruji, yaitu Allah, guna
> mendapatkan pertolongan yang
> kekal melalui Tuhan Yesus Kristus. Kasih setiaNya telah
> teruji, sekalipun
> manusia tidak setia kepadaNya.
>
> (Artikel ini
> ditulis oleh Hery Setyo Adi,
> yang menggunakan rujukan dari berbagai
> sumber)
>
>
>
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.